MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
MULAI TERASA NYAMAN


__ADS_3

Beranjak ke tempat tidur setelah membersihkan diri, malam pertamanya tinggal di rumah Fatih. Dia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Untuk hari ini dia ingin tidur lebih awal. Besok pagi dia kan menanyakan tempat mengajarnya yang baru. Nisa juga penasaran dengan perubahan apa besok di rumah ini.


Fatih sudah meminta ijin menyelesaikan beberapa pekerjaan dengan Reno. NIsa paham, laki-laki yang dia nikahi bukan sesederhana yang ada di benaknya dulu, tentang kriteria calon pendamping hidup. Laki-laki rumit dengan segala protokoler yang entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Sebab Nisa tahu kehidupan keluarga Fatih sangat sederhana. Mungkinkah limpahan materi dan kesuksesan berperan penting dalam merubah karakter seseorang. Tentang pola pikir yang berubah seperti mereka yang terbiasa hidup dalam gelimangan harta. Bahkan kehormatan dan harga diri seseorang juga bisa dibeli.


Pandangannya menerawang, berputar kembali pada awal mula pertemuannya dengan sang suami. Ternyata takdir terkadang lucu. Pacaran, putus. Dia datang dengan segala kepercayaan diri, di tolak berkali-kali hingga ahirnya menikah. Nisa pikir hubungan mereka tidak akan sampai sejauh ini. nyatanya lagi-lagi takdir menyatukan mereka. salut dengan usaha Fatih kadang Anisa merasa kasihan, laki-laki itu belum pernah menyakiti hatinya. Tapi dia sendiri yang selalu ragu.


Semua keburukan tentang Fatih yang selama ini dia pikirkan nyatanya tidak terjadi, dan sampai saat ini Anisa belum menemukan keburukan itu. tapi mengapa Fatih memilihnya menjadi istri dari sekian banyak wanita, dan menikah secara tiba-tiba. Itu yang masih mengganjal. Mendengar percakapan Fatih dengan ibunya ketika itu membuatnya kembali terhempas pada kenyataan setelah dia pernah merasakan bahagia walau sesaat. Mereguk manisnya cinta, setelah menunaikan kewajibannya sebagai istri.


Satu hal yang tertinggal dari peristiwa itu, nyaman dengan pelukan, rindu dengan kehangatan. Tapi, ada rasa sesal yang tertinggal, mengapa justri dirinya seketergantungan itu sekarang, kemana Anisa yang selama ini tidak membutuhkan itu semua. Hatinya mulai berhianat. Bukan, bahkan semua yang ada pada dirinya mulai melawan egonya. Dia sangat membutuhkan Fatih, hatinya sudah bertekuk lutut dengan sempurna.


Oke, dia akui semua itu. lakukan tugasnya sebagai istri, tapi untuk mengulang kembali melakukan aktifitas sebagai suami istri dia belum bisa, mencegah mana tahu pernikahan mereka tidak samapai pada tujuan ahir, memikirkan tentang anak belum waktunya. Jika Fatih merasa bosan, atau tujuannya tercapai dengan pernikahan mereka. jika perpisahan ahirnya terjadi, tidak akan ada anak yang kekurangan kasih sayang ayahnya. Dia akan memulai kehidupan baru tanpa beban setelahnya.


Gawainya berdering, menaiknya keluar dari lamunanya. Ibu, meminta panggilan video. Senyumnya mengembang, dia lupa mengabari Ibu kalau sudah sampai. Menggeser aplikaksi berwarna hijau.


“Assalamulaikum bu” wajahnya ceria, setelah melihat wajah ibunya di layar.


“Waalaikum salam, bagaimana betah?” Ibunya pun sama bahagianya, senyum mereka mengembang sempurna.


“Nggak tahu, baru nyampek juga kan. Oiya Bu, maafin Nisa lupa ngasih kabar kalau Nisa sudah nyampek tadi” jawabnya jujur. NIsa memang tidak tahu apakah nanti betah atau tidak kalau pertanyaan itu diajukan sekarang dia tidak tahu.


“Tidak apa-apa. Suamimu sudah ngabari Ibu”.


“Suamimu mana?” Tanya Ibu karena memang tidak melihat sang menantu.

__ADS_1


“Ada kerjaan sama Reno. Tadi sudah ijin kok. Nisa di suruh tidur duluan”


“Kamu di kamar, masih pakai kerudung. Buat apa?” Ah,, iya Nisa lupa. Dia kan tidak mungkin bilang sama ibu kalau itu kebiasaannya ketika tidur dengan suaminya. Mengapa ibubhaeus melihatnya, nisa merutuki kebodohannya sendiri.


“Habis dari bawah, ketemu pelayan. Banyakan laki-laki. Ini juga mau dilepas ibu sudah telpon” Mencari alibi, agar tidak berbuntut panjang.


“Nggak aneh-aneh kan Nis” Ibu mulai curiga


“Aneh-aneh gimana maksud Ibu” Mencoba tetap tenang, meskipun sudah ketahuan.


“Kamu tidak melakukan itu didepan suamimu kan” Mencari kebenaran dari kecurigaannya.


“Nggak, ini Nisa buka kalau Ibu nggak percaya” Membuka kerudung yang menutupi kepalanya, karena Nisa takut perbuatanya kali ini membuat ibunya akan membahas panjang lebar.


Pembicaraan mereka semakin ramai karena Rania sama Adam berebutan mau ngobrol dengan Anisa. Nisa tertawa melihat kelakuan dua ponakannya. Adam yang memerkan mainan robot terbaru yang dibelikan ayahnya. Rania dengan gaun barunya, karena ada undangan pernikahan teman ayahnya. Keduanya tidak ada yang mau mengalah.


“Ajak bunda sama ayah kerumah ounty. Nanti dibelikan mainan yang banyak, sama gaun yang lebih cantik, yang mirip princes Elsa”


“Mau, mau” keduanya melompat girang. Anisa tertawa lepas.


Fatih masuk setelah menutup pintu, dilihatnya Anisa masih duduk diatas kasur, membelakangi pintu. Entah apa yang dilakukannya. Bukankah tadi bilang mau istirahat karena kelelahan setelah perjalanan jauh. Perlahan mendekat. Darahnya berdesir, Fatih bahagia. Istrinya tidak memakai kerudung lagi. Itu artinya hubungan mereka sudah mulai mencair lagi.


“Ngapain, asik kayaknya sampai suami masuk nggak tahu” Memeluk Anisa dari belakang, kemudian mencium kepala. Fatih sangat bahagia, dia bisa mencium aroma itu lagi. Fatih tahu istrinya kaget. Dia merasakan tubuh NIsa membeku seketika.

__ADS_1


Anisa tercekat, dia tidak menyangka suaminya tiba-tiba memeluknya dari belakang. Bahkan dirinya tidak tahu kapan laki-laki ini berada di bekangnya.


“Aduh, Bang ada anak kecil lho disini. Kalau mesra-mesraan nanti saja. Mentang-mentang pengantin baru” Suara di layar mengalihkan pandangan Fatih, tapi di bereaksi biasa saja tidak terlihat kaget. Emang dasarnya Fatih orangnya santai.


Sumpah Nisa malu, menunduk tidak berani melihat kakak Iparnya. Bagaimana bisa Fatih melakukan itu dengan santai, padahal selain dia merasa malu, jantungnya masih saja belum siap menerima sentuhan suaminya. selalu berdebar tidak karuan.


“Muka Nisa merah Bang” Suara Fira menambah besarnya rasa malu Anisa. kalau saja bisa dia ingin menghilang dari hadapan mereka saat ini.


Fatih mengarahkan HP ke wajahnya. “Hai, apa kabar. Apa istriku sudah merindukan kalian?” Tanyanya. Tatapannya beralih pada Anisa. kembali mengusap rambut hitamnya dengan lembut.


Bisa Fatih mengeluarkan nada sesantai itu sementara istrinya seperti disiram air dingin di bagian wajah ketika suaminya mencium dia secara tiba-tiba, tanpa sadar kalau kamera mengarah pada mereka. dan Nisa yakin semua yang ada di sana, termasuk ibunya juga pasti melihat adegan tadi.


“Om, Abang kangen. Kapan balik lagi kerumah uti” suara Rania melengking khasnya dia.


“Kan, baru nyampek. Nanti kalau Rania ada waktu ajak ayah sama bunda liburan kesini” menggeser duduk mengambil Hp yang tadi hanya di senderkan pada ranjang.


Obrolan mereka pun berlanjut, Anisa duduk terpaku di tepi ranjang. Hanya sebagai pendengar suaminya yang berbicara cukup akrab dengan keluarganya. Perlahan merebahkan tubuhnya. Membiarkan suaminya melanjutkan obrolannya dengan kakak kandungnya. Obrolan khas laki-laki yang Nisa sendiri tidak paham.


Matanya mulai berat, sudah dua kali dia menguap sejak menunggu suaminya menelpon. Menarik selimut berbalik menghadap kekanan. Dia sudah tidak kuat menahan matanya yang mulai terasa perih. hingga ia tidak tahu, Entah kapan mulai terlelap.


“Ngantuk banget ya, temani abang ngobrol dulu” sayup suara Fatih masuk ke indranya. Tapi matanya tidak mau terbuka.


Mengusap kepala NIsa lembut, menciumnya berkali-kali. Anisa hanya menggeliat. Fatih menyerah membangunkannya, merapatkan badan memeluk dari belakang. Dihirupnya aroma rambut berkali-kali. Segar, Fatih menemukan mood boosternya saat ini. kesempatan langka, sang istri tidak menutup auratnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2