
Rencana pernikahan yang di rancang Ibu dan Fatih ternyata benar-benar matang, bahkan sangat matang. Semua persiapan sudah dilakukan. Meskipun sederhana tapi tidak benar-benar sederhana seperti bayangan Anisa. Pelaminan, dekor, desain undangan yang sudah disebar , semua masih terlihat mewah dimatanya. Kata sederhana menurutnya dan menurut Fatih mungkin berbeda makna. Gaun pengantin yang sudah di cobanya kemarin, tidak bisa dibilang sederhana.
Butik tempat Fatih memesan kebaya bukan di tempat biasa, Nisa tahu butik itu punya pelanggan kalangan atas. Dia tidak bisa atau bahkan tidak mau menebak berapa harga kebaya dengan model sederhana yang di pesan Fatih. Tapi memang benar-benar pas di tubuh Nisa. Bagaimana laki-laki itu memesannya. Padahal tidak pernah bertanya apapun sebelumnya termasuk ukuran badannya. Bahkan model payet dan taburan manik-manik di sepanjang kain brokat itu tidak terlalau mencolok, tapi mampu membuat siapapun yang melihatnya akan punya pendapat yang sama dengannya, sangat bagus dan elegan.
Begitupun dengan jas yang di coba Fatih, warnanya putih. Karena memang temanya hanya akad saja biar berkesan sakral. Seluruh keluarga dan undangan yang hadir di suruh memakai baju dengan warna yang sama.
Tidak banyak yang mereka undang, hanya kerabat dekat dan teman teerdekat Fatih. Nisa pastikan tidak ada satupun rekan gurunya yang akan hadir, karena memang Anisa tidak mengundang mereka. tidak ada keinginan Anisa untuk mempublish acara pentingnya. Dia tidak yakin bahwa pernikahan itu tidak akan berjalan lama. Mengundang sedikit orang artinya mempersempit kemungkianan malunya ketika ke gagalan dalam rumah tangganya benar-benar terjadi. Hanya sedikit orang yang akan membicarakan keburukannya nanti.
“Maafkan Abang dek” Suara abangnya memaksa Anisa menoleh ke sumber suara. Entah sejak kapan Dia duduk di pinggir ranjangnya. Bahkan Anisa tidak mendengar suara pintu kamarnya diketuk dan terbuka, apa memang dirinya lupa tidak menutupnya tadi.
“Untuk apa” di putar badannya menghadap laki-laki yang akan menjadi walinya nanti. Nisa duduk di meja rias, memandang wajahnya, mananyakan kesiapan dirinya sendiri untuk mejalani semuanya sebelum abangnya datang.
“Untuk semua kesalahan Abang” Amir menunduk menatap ke dua tangannya yang saling bertaut. Rasa bersalah yang menggumpal membuatnya malu untuk menatap wajah Adik satu-satunya “Abang pernah mengecewakan kalian, Abang memang laki-laki bodoh, Abang pikir hanya Fira yang sakit. Tapi nyatanya Abang meninggalkan trauma yang mendalam buat kamu” masih dengan tatapan kebawah.
“Sudah lama kan, buat apa di bahas” tidak ada keinginan Anisa untuk mengungkit kejadian lama, kalaupun ada mungkin ketakutan dalam dirinya terlalu berlebihan. Mau trauma atau nggak toh suatu saat dia akan menikah juga. Mungkin memang waktunya sudah tiba, garis takdirnya harus menikah secepat ini dengan lelaki yang Dia sendiri tidak yakin akan mencintainya. Bisa saja karma itu sedang berjalan menghampiri dirinya. Karma karena Abangnya pernah berhianat.
"Lupakan semuanya, kesalahan yang pernah abang buat, besok kamu akan menikah. menjadi seorang istri. Abang bangga kamu bisa bersanding dengan sahabat Abang, Dia laki-laki yang baik percaya sama abang" dipegangya ke dua bahu Anisa. Berusaha meyakinkan adiknya bahwa dia jatuh pada laki-laki yang tepat.
"Abang juga baik, Nisa dulu bangga sama Abang. Tapi Abang nyakitin kak Fira tanpa belas kasihan. Nisa kecewa, malu" Tiba-tiba tenggorokan nya terasa kering. Matanya panas, tidak apa-apa. laki-laki di depannya ini sudah minta maaf. sekalian akan Nisa beritahu bagaimana kondisi kakak Iparnya setelah penghianatan itu.
"Dua hari Nisa nemenin tidur Kak Fira setelah Abang pergi dengan wanita itu, pergi untuk mempersiapkan pernikahan. Selama itu juga Kak Fira tidak makan, semua yang masuk dengan paksaan. kalau bukan Karena Rania istri Abang tidak akan mau memasukkan apapun kedalam lambungnya. setiap setengah jam Ka Fira terbangun dari tidurnya dengan tersentak. Setelah itu menangis. berat badannya turun drastis. Abang tidak akan pernah tahu, karena Abang sedang bahagia kan" ucapan Adiknya bagaikan sayatan sembilu yang kembali mengirisnya. Membuka luka lama yang sudah dia pendam.
__ADS_1
Dia tidak tahu bahwa wanita yang dicintainya sedemikian menderitanya. .
"Sekarang Nisa tanya, bagaimana perasaan Abang kalau Nisa nanti mengalami apa yang dialami Kak Fira?" Amir tidak bisa menjawab, Dia tidak bisa membayangkan orang yang begitu di cintainya harus terluka karena penghianatan.
"Tidak akan ada yang menyakiti Nisa, tidak akan ada laki-laki bodoh seperti Abang" Amir memeluk erat adiknya, menumpahkan segala gundah dan ketakutannya di masa depan. Air matanya menetes, tanpa isakan karena Amir laki-laki. Dia tidak ingin terlihat rapuh didepan Anisa.
Ini hari terakhir dirinya memeluk adik kesayangannya, besok Dia akan melepaskan tanggung jawab itu untuk orang lain. Hadapannya besar untuk Fatih, Dia yakin Fatih tidak akan melakukan kebodohan yang pernah diperbuat nya dulu.
"Lepasin Bang, Nisa sesak nggak bisa nafas" Anisa mendorong dada Amir, tapi laki-laki masih enggan melepas pelukannya.
"Bentar dek, setelah ini Abang nggak akan bisa peluk kamu lagi. Bisa keluar tuh biji mata suamimu kalau Abang masih belum kamu didepan Dia" Ada sedikit rasa tidak rela Amir melepas Anisa, Anisa masih kecil dimatanya.
" Emang Dia berani begitu sama Abang, awas saja kalau nanti Dia bikin peraturan yang nggak masuk akal, Nisa tinggal ajah sekalian"
"Ya Allah, kamu di cari Rania di bawah, bukannya bantuin malah ganggu adikmu" ibunya tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu. melihat Anisa yang berusaha melepas kan pelukan Abangnya. "Nanti dekornya rusak, turun Mir, kasihan yang kerja g selesai nanti. Sudah rapi gini malah di senderin. Ayo kaluar" perintah ibunya dengan nada tegas. sayang rasanya melihat dekor berhias bunga warna putih dengan kombinasi warna peah harus berantakan setelah Anir bersandar di sana.
"Nisa jadikan tidur sama ibu" ucap ibunya mengingat kan Anisa. "Ayo istirahat, besok pagi kamu harus bangun kan mau di rias" dengan senyum bahagia yang tidak terlepas dari wajah Ibu.
***
Suara sah menggema, di seluruh ruangan yang di sulap menjadi acara pesta pernikahan sederhana ala Fatih. Tidak sesederhana menurut Anisa.
__ADS_1
Setelah Fatih mengucap ijab kabul dalam satu tarikan nafas. Doa pernikahan terdengar memenuhi ruangan, doa Nabi ketika menikah kan putrinya.
Tangan Fatih menjabat tangan Amir, ini sangat lucu. mereka sahabat justru sekarang harus berjabat tangan sebagai mempelai pria dan wali mempelai wanita.
Sangat sakral dan penuh haru, Amir yang bertindak sebagai wali, tiba-tiba harus meneteskan air mata. setelah ini tanggung jawabnya sudah usai menjaga Adiknya, Ibu pun terlihat sama bahunya terguncang karena tidak bisa menahan isakan. Haru, sedih dan bahagia bercampur menjadi satu.
Fatih berdiri menyambut sangat mempelai wanita. Dadanya berdebar kencang, debaran yang sama yang dirasakannya sesaat sebelum mengucap ijab kabul. Disamping nya Amir berdiri.
" Titip Nisa, jangan sakiti Dia. Dia adikku satu-satunya. Bahagiakan Dia. jika suatu saat dia melakukan kesalahan yang tidak mampu di maafkan atau kamu sudah tidak bisa menjaganya lagi. kembalikan dia pada Kami dengan baik, seperti kamu memintanya pada kami dulu. Jangan lakukan kebodohan yang pernah akun lakukan. Nisa sangat rapuh, dia lebih percaya dengan apa yang ada di pikirannya daripada mendengarkan penjelasanpenjelasan orang lain" tenggorokan Amir tercekat.
Dia mengerti bahwa hari ini akan tiba, melepaskan Anisa untuk menjadi istri
"Saya akan dengar semua nasehatmu, aku janji tidak akan pernah menyakitinya. Aku sangat mencintai adikmu. meskipun Dia membenciku, ck menyebalkan! " Seru Fatih, mengingat perempuan itu membencinya.
Tiba-tiba Fatih terdiam, matanya tidak melotot. Anisa keluar dari kamar bersama Fira yang membimbingnya. mereka tidak bertemu hanya tiga hari. Bagi Fatih Anisa cantik, bukan sangat cantik. Riasan natural, tidak berlebihan.
ingatkan Fatih untuk berterima kasih sama MUA yang sudah bekerja keras membuat istrinya berubah.
"Usap liurmu, berhenti melihatnya begitu. Dia istrimu sekarang kalau kamu lupa. Setelah ini kalian akan sering bertemu, membuka dan menutup harimu akan bertemu dengannya" ucap Amir. " yang disebelahnya tak kalah cantik kan. dia istriku, sangat cantik bahkan paling cantik diantara semua undangan yang hadir" lanjutnya lagi menatap kagum pada wanita yang memberinya dua orang anak itu.
Fatih tidak mendengar, saat ini indra nya hanya satu yang berfungi, matanya benar-benar terpaku. Sungguh dia tidak bohong Anisa telah mengalihkan dunianya. Matanya memanas. air mata itu mengalir, bahagia. Jantungnya memompa lebih cepat.
__ADS_1
"Kamu nangis, Ck. CEO macam kamu ternyata cengeng" Goda Amir, dia tidak memungkiri. Dulu, dia pun mengalami hal yang sama. melihat wanita sebagai istrinya untuk pertama kali matanya berair. Tidak ada jawaban, justru Fatih sedang Sibuk mengusap ujung matanya yang basah.