
Author ajak jalan-jalan ke tempat Bang Fatih yuk. Sekalian kenalan sama tempat wisata disana
Namanya kabupaten Sumenep, kota paling timur di ujung pulau madura. Dengan slogan SUMEKAR. Yang artinya sumenep keraton, karena memang peninggalan kerajaan majapahit. kepemimpinan berbentuk kerajaan pada masanya.
Ada beberapa bangunan bersejarah yang masih kental dengan khas bangunan hindu Budha. Salah satunya Masjid agung sumenep atau masjid jamik kota sumenep. Letaknya di pusat kota berhadapan langsung dengan alun-alun kota sumenep atau lebih di kenal dengan taman bunga. Terdapat bangunan menyerupai stupa di beberapa bagian.
Bernama taman bunga karena dahulu, tempat itu taman bunga pada jaman kerajaan arya wiraraja. Berhadapan. Terdapat juga museum peninggalan kerajaan. Seperti tempat pemandian putri raja jaman dahulu. Keris, dan senjata serta alat perang juga masih terawat dengan rapi. Tempat tidur dan kereta kencana yang digunakan raja pada masanya juga masih berdiri dengan kokoh menyambut pengunjung di museum kota.
Itulah sekilas cerita yang Nisa dengar dari Ibu setelah sarapan tadi. Bahkan tempat wisata yang indah juga tak kalah menarik perhatian Anisa. Pantai lombang dengan ciri khas cemara udangnya, slopeng dengan bukit pasirnya yang indah. Pantai sembilan dengan keindahan pantai yang eksotik, pulau gili yang dengan kadar oksigen nol, terbaik di dunia. Dan masih banyak lagi yang Nisa tidak hapal. Ibu menceritakan dengan penuh antusias.
Wanita itu tidak mengijinkan Anisa keluar hari ini, istirahat satu hari. Esok baru ibu mengijinkan jalan-jalan.
“Abang itu kalau pulang jarang dirumah, ketemu teman-teman TK sampai SMA. Kalau sudah bosan baru pulang. Karena sekarang sudah ada kamu mudah-mudahan berubah” Setelah tadi berpamitan Nisa tidak melihat Suaminya lagi. Mereka sedang duduk di sebuah tempat berbentuk panjang terbuat dari kayu dengan jejeran bambu diatasnya. Sangat nyaman, ditambah angin sepoi-sepoi dari pohon mangga yang terlihat lebat dengan buahnya.
Ida dan Indira berangkat ke rumah makan, tempat usaha mereka. satu hal yang Nisa kagum, mereka tidak lantas menggantungkan hidup dari anaknya yang sudah mapan. Tetap mencari nafkah dengan jalan mereka sendiri. Untuk hari ini Ibu benar-benar menemani Nisa di rumah. ibu belum mengijinkan sang menantu melihat rumah makan mereka.
“Orang sini ngasih nama lencak” ibu menepuk tempat duduk. Lagi-lagi ukiran di pinggirnya membuat Anisa kagum. “Kalau duduk disini kaki boleh dinaikkan atau bersila biar lebih enak” Lanjutnya lagi. Menggeser posisinya mundur, kemudian bersila. “Lebih enakkan” sembari tersenyum. Nisa mengikuti. Benar ternyata lebih enak duduk dengan posisi kaki ditekuk.
“Boleh Ibu tanya sesuatu?” tiba-tiba hati Anisa tidak enak. “ Apa Nisa bahagia Nikah sama Abang”. Kalau Anisa boleh jujur dia akan menjawab tidak tahu, karena memang belum merasa benar-benar bahagia seperti cerita mereka yang sudah hidup berumah tangga di awal. hanya saja, dia sudah mulai harinya diisi Fatih, pikirannya mulai dirasuki laki-laki tampan itu. Lebih dari itu Nisa merasa takut ditinggal Fatih dalam waktu lama. Entahlah, dia tidak bisa mengartikan rindu seperti apa, tapi rasanya berat ketika terbentang jarak dengan sang suami.
“Nis, kok diam. Kamu bahagia nak?” Suara Ibu mengembalikan Nisa ke alam sadar.
“Nisa bahagia, Bu” Meskipun ragu paling tidak Nisa tidak sedang berbohong. Karena belum pernah Suaminya membuatnya sedih.
“Apa Nisa sedang menutupi sesuatu?” Nisa menatap Ibu mertuanya. Tatapan mereka beradu, Nisa buru-buru menunduk. Dia takut rasa ragu tertangkap Ibu mertuanya.
“Tidak, Nisa benar-benar bahagia nikah sama Abang, dia baik” Baik dalam arti tidak pernah bersikap kasar atau membuat hati Nisa tersinggung. Sejauh ini hanya rasa nyaman dengan perlakuan sang suami yang Nisa terima
“Ibu harap secepatnya mendapat cucu, kalian sedang tidak menunda kan?” Ya, Tuhan. Tiba-tiba hati Nisa berdetak dengan cepat. Bagaimana ini, padahal dia sudah berusaha menghindari pembahasan tentang hal yang bersifat pribadi, nyatanya Ibu menyinggung soal anak juga. Nisa belum menyiapkan jawaban. Dia terdiam, karena hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini.
“Tuhan masih memberikan kami kesempatan untuk bulan madu Bu, makanya belum dikasih kepercayaan. Sebentar lagi, Abang janji akan berusaha lebih keras lagi. Iya kan Sayang?” Sayang, sejak kapan suaminya memanggilnya sayang. Tiba-tiba muncul entah dari mana datangnya.
“Tumben sudah pulang Bang, biasanya nanti malam baru dirumah” Bukan kebiasaan anaknya pulang kerumah ketika masih siang. Dia kan pulang biasanya hingga larut. Tapi Ibu bersyukur, Anisa sudah merubah banyak hal pada anaknya.
“Kangen istri Bu” Nisa membuka matanya lebar. Kenapa suaminya jadi lebay. Selama mereka menikah belum pernah Fatih bertingkah seperti ini.
“Syukurlah, ibu senang melihat kalian bahagia. Jaga Nisa dengan baik Ya, Bang” Mengusap bahu anaknya. Hati ibu mana yang tidak bahagia melihat pernikahan mereka yang terlihat sempurna. Semoga bukan hanya di awal. Tapi juga hingga nanti sampai mereka tua. Harapan orang tua memang selalu sama. “Ahirnya ada perempuan yang bisa merubah kelakuanmu, pertahankan Anisa Bang, dari sekian banyak perempuan hanya dia yang membuat Abang ingat rumah” Sang Ibu tersenyum jahil, kemudian berlalu. Memberikan ruang pada anak dan menantunya untuk berdua.
“Bang, Ibu mau nyusul Bapak. Nanti kalau Abang mau nyusul habis Ashar saja, biar tidak terlalu panas. Nisa mau ikut Ibu atau bareng sama Abang?” Tanyanya, sebelum berlalu. Setelah tadi pagi Anisa mengutarakan niatnya melihat rumah makan tempat usaha mereka.
“Ibu duluan, Nisa sama Abang nanti” Fatih yang jawab, dia yang ingin dibicarakan dengan sang istri.
“Iya, Ibu paham. Yang semangat Bang, mumpung rumah sepi. Biar cepet...” Tangan Ibu memperagakan tangannya menggendong bayi. Berlalu tanpa menunggu jawaban. Ibu tertawa sampai bahunya bergoyang.
Wajah Anisa memanas, dia baru tahu bahwa Ibu mertuanya bisa menggodanya dengan hal-hal yang sangat pribadi. Bahkan dia tidak berani menatap suaminya. Seharusnya bukan hal yang tabu dibicarakan kalau saja mereka seperti pasangan lain yang sedang berusaha mewujudkan keinginan calon nenek untuk membuatkan cucu. Tidur masih pakai jilbab, bagaimana dia akan membahas perkara anak, dibikinnya saja belum.
“Ada omongan Ibu yang tidak berkenan?” Fatih khawatir Ibunya membicarakan hal yang tidak Nisa sukai.
“Tidak ada, cerita tentang tempat-tempat indah disini. Nisa jadi tertarik ingin ke pantai sembilan unik kayaknya. Ibu paling bisa membuat gambaran yang indah”
“Bukan Ibu yang pandai, tapi memang tempatnya yang benar-benar indah. Kalau ada waktu nanti kita kesana, senja disana paling indah diantara semua pantai yang ada di disini” menyetujui keinginan Sang istri. Sesuai rencananya, dia akan membawa Anisa mengunjungi beberapa tempat wisata, itupun kalau istrinya tidak kelelahan.
“Sekarang kita mau ngapain?” Anisa menatap tajam ke arah suaminya, Fatih membalas tatapan itu tanpa rasa bersalah. Anisa cepat membuang muka, kalau tidak rona merah di wajahnya bisa membuat suaminya salah paham. “Anisa mau istirahat dulu?” Tanyanya dengan suara lembut.
“Nanti kita nyusul kesana, Abang khawatir Nisa bosan. Tidak ada yang menarik di tempat usaha Ibu, selain pelanggan yang datang silih berganti. Ida sama Indira juga Pasti sangat sibuk Nisa mau ngapain”
“Siapa tahu Nisa bisa bantu mereka”
__ADS_1
“Abang yang temani takut Nisa bosan”
“Ada Ibu sama mereka Bang, tidak perlu”
“Oke, telepon Abang kalau bosan”
“Iya, kita berangkat sekarang?”
“Nggak istirahat dulu”
“Terlalu banyak tidur badan Nisa pegal Nanti”
“Berangkat sekarang” Berlalu sambil menggandeng tangan sang istri. Tidak ada penolakan, sudah menjadi kebiasaan Fatih menggenggam tangan istrinya, rasanya sudah tidak sedingin dulu.
Rumah makan yang cukup besar, bahkan halamannya juga di sediakan tempat duduk. Dua lantai, nuansa coklat kayu, dengan beberapa ornamen dan beberpa dinding terbuat dari kayu dengan ukiran yang indah. Beberapa kursi tampak sudah terisi. Jam makan siang, kebanyakan pengunjungnya karyawan berseragam keki, baju khas pegawai negeri yang berwarna coklat. Tidak terlihat ada yang berdiam diri. Beberapa pelayan sibuk mengantar pesanan pelanggan.
Fatih menarik tangan Anisa untuk masuk, semakin kedalam kursi-kursi terlihat penuh. Beberapa pengunjung memilih duduk di dalam karena cuaca siang yang cukup terik. Beberapa dari mereka melihat kedatangan Fatih. Ada yang sekedar menyapa, ada juga yang sampai menghampiri sekedar berbasa-basi menanyakan kabar. Tentu saja mereka kenal, bukankah Fatih pemilik tempat yang mereka kunjungi.
“Siapa dia, berani sekali kau pegang tangan anak orang” Seorang laki-laki memakai batik nuansa maroon menggoda Fatih. Radit namanya, sahabat dari jaman putih abu-abu.
“Halal dong” jawabnya santai, senyuman bahagia terukir dari bibir Fatih
“Kamu gila, kapan?” matanya melebar tidak percaya, nadanya naik satu oktaf.
“Sebulan yang lalu” Merangkul bahu sang istri, Anisa hanya diam walaupun dirinya merasa risih.
“Kalau bohong jangan berlebihan, bahkan aku belum menerima undangan”
“Tidak ada surat undangan, tapi surat nikah ada, mau lihat?”
“Pamer pastinya, biar cepat nyusul”
“Aku perlu bicara sama Bibi Rukayah, karena mulutmu itu kalau berbohong aktingnya lumayan bagus” Masih belum percaya dengan apaa yang di lihatnya. Tapi dia tidak menampik gestur tubuh Fatih menunjukkan kebahagian yang sesungguhnya.
“Jangan. Nanti shock dengar jawaban Ibu” Dengan raut muka yang dibuat se sombong mungkin.
“Ini serius?” Mencoba mencari kebohongan di wajah Fatih.
“Iyalah, kapan kamu pernah lihat aku jalan pegangan gini sama cewek” semakin, mempererat pegangan tangannya.
“Bang, bawa masuk. Nisa kepanasan itu, malah diajak ngobrol. Kamu juga, bukannya makan, temanmu nunggu” Ibu Fatih menghampiri Anisa setelah melihat Anisa dibiarkan berdiri terlalu lama.
Menarik tangan Nisa menuju kedalam.
“Mereka kalau sudah ngobrol sampai subuh juga betah kalau nggak diingetin” ucapnya sambil melangkah masuk
“Pantas saja nikahnya diam-diam. Istrinya modelnya begitu. Ada lagi stocknya. Adiknya mungkin?”
“Dia anak terahir” Berdiri dengan kedua tangan di saku celana.
“Cantik dan beruntung” Radit memuji wanita yang tampak anggun dengan jilbab biru motif bunga itu.
“Siapa?” Tatapannya tajam pada Radit .
“Wanita itu” menunjuk dengan dagunya.
“Bukan dia tapi aku. Butuh tiga tahun aku menaklukkannya. Sebelum ahirnya keberuntungan berpihak padaku” Jeda, dengan tatapan lekat pada wanita yang di gandeng Ibunya“Dia seorang guru cerdas, dan berkepribadian kuat” Lanjutnya lagi melihat punggung wanitanya yang semakin menjauh.
__ADS_1
“Suatu saat kau akan merasakan perjuangan yang sesungguhnya, bahkan rasa sakit dan gengsi tidak akan kamu hiraukan lagi. Ketika saat itu datang kau tidak akan mengenali dirimu. Berhenti mempermainkan wanita berkedok seleksi, doa buruk dan sumpah serapah dari perempuan yang kamu sakiti sedang menunggumu dengan karmanya”
“Terdengar istimewa sekali dia” Tatapan mereka beradu,
“Sangat istimewa” Fatih dengan percaya diri menjawab.
“Aku percaya, bahkan ini pertama kalinya kamu memuji wanita dengan tatapan penuh kekaguman, kau bukan Fatih yang ku kenal. Laki-laki yang tidak pernah peduli dengan perempuan secantik apapun bentuknya” Menatap laki-laki di depannya tidak percaya “Ahirnya kamu benar-benar menemukannya” Suaranya lirih.
“Di tempat kita tinggal, pakai seragam sepertimu tinggal tunjuk wanita mana yang akan kamu nikahi, jika anaknya tidak dapat diraih, paling tidak kamu akan mengantongi restu mertua” Fatih tidak berbohong, di lingkungan tempat tinggalnya sebagian besar orang tua akan sangat bangga kalau anaknya mendapat pasangan yang berstatus PNS.
“Seharusnya begitu, kenyataannya. Sampai sekarang telunjukku belum benar-benar terarah pada satu wanita” Suara rendah, seolah dia sedang membicarakan hal yang tidak boleh di dengar orang lain.
“Berhenti bermain-main, paling tidak jangan membuat dosa lagi” Fatih memang sangat tahu tentang Radit. Dengan tampang dan seragam yang di pakainya justru dia gunakan untuk menggaet banyak wanita dengan tujuan tidak jelas.
Banyak dari wanita itu rela melemparkan diri kedalam pelukan Radit. Sayangnya laki-laki yang punya jabatan kasi di dinas tempatnya bekerja itu, bukan laki-laki yang tahan dengan suara merdu wanita. Belum pernah terdengar penyesalan dari bibirnya sampai detik ini. Dengan alasan suka sama suka dia akan lari dari tanggung jawab. Entah apa yang di cari Radit dengan kesenangan sesaat. Nasehat berdatangan bukan hanya dari Fatih, bahkan teman mereka yang sudah lebih dulu berumah tangga, tidak ada satupun yang didengar.
“Tuhan belum mengetuk pintu hati ku Bro” Jawabnya santai.
“Karena kamu tidak punya keinginan” Jawab Fatih sambil berlalu. Dia harus menyusul istrinya segera.
Fatih takjub, langkahnya terhenti. Melihat Anisa dengan wajah berbinar duduk di meja kasir dengan senyum ramah menyapa pelanggan yang berdiri didepannya. Di pandu sang adik di meja sebelah kasir. Mengapa senyum itu selalu membuat jantungnya berdetak kencang. Fatih melangkah medekat.
“Kak Nisa cepat belajarnya, hebat dia” Ucap Indira kagum. Melihat Abangnya sudah berdiri didekatnya.
“Indira yang ngajari kan” Membalas senyuman adik iparnya. Senyummya merona setelah matanya beradu pandang dengan sang suami.
“Kak ada yang bayar lagi” Nisa berdiri melihat seorang laki-laki yang tadi berbicara dengan Fatih mendekat. Nisa bersiap hendak menyambut.
Fatih berdiri di sebelah Anisa dengan cepat
“Untuk hari ini kamu tidak usah bayar, pulanglah” Usirnya dengan wajah tidak ramah.
“Tidak apa-apa hari ini aku mau bayar”
“Kalau aku bilang tidak usah jangan maksa" Suara Fatih meninggi.
“Kenapa sih, orang mau bayar juga” Radit memaksa mendekati kasir
“Niat bayarnya hanya setengah. Lihat matamu itu, seperti mau lompat saja” Fatih tidak berbohong, mata laki-laki itu terlihat lain ke arah istrinya
“Sekalian mau kenalan sama kakak Ipar “
“Sudah terbaca dari jauh, pergi” Usirnya dengan tidak sopan.
“Ck, sombong kau sekarang”
Fatih keluar dari meja kasir menarik tangan Radit menjauh. Mereka menjadi tontonan sebagian pengunjung. Tapi melihat wajah senyum Radit mereka paham bahwa pertikaian itu hanya gurauan saja.
“Abang kenapa?” Nisa bingung mencari jawaban dengan menoleh ke belakang, tatapanny penuh tanya pada Indira.
“Bang Radit itu playboy cap teri, asal wanita saja pasti dia taksir” Keduanya terbahak.
" Dia tidak bayar, gimana dong" Tanya Nisa, padahal tadi sudah bersemangat mau melayani Radit. Anisa sambat antusias menjadi kasir. Rasanya dia punya pengalaman baru ketika berada didepan orang dengan senyum ramah.
"Yang bayar masih banyak, kan" Indira menjawab santai. Sungguh dia sangat menyukai kakak Iparnya. Sekarang dia tahu mengapa Anisa di pilih abangnya untuk mendampingi, bahkan dengan pernikahan yang terkesan buru-buru.
Wanita yang menyenangkan, dan Abangnya yang terlihat mulai bertingkah aneh, seperti laki-laki yang takut kehilangan istrinya.
__ADS_1