
Cinta sejati hanya ada satu kali. Kita tidak akan pernah tahu kepada siapa dia akan jatuh. Perjuangan akan menjadi bukti seberapa besar pengorbanan kita untuk meraihnya. Jangan membayangkan cinta akan berahir indah. Terkadang cinta hanya dijadikan alasan untuk menuntaskan ambisi.
Hakekatnya cinta tidak pernah mengikat apalagi mengekang. Tetapi cinta tentang perasaan dan keikhlasan. Tidak semua rasa ingin memiliki adalah cinta. Obsesi dan ambisi terkadang mengambil peran tanpa kita sadari.
Setiap rumah tangga ada badainya sendiri. Pribadi yang tangguh tercipta karena tempaan cobaan hidup. Dan setiap rumah tangga yang kuat, karena merasakan lebih banyak kepahitan dari pada manisnya hidup. Bersabarah, karena di ujung perjuangan Tuhan telah menyiapakan reward terbaikNya bagi mereka yang lulus.
“Siapkan semua sampai saya datang, kantor pusat akan saya selesaikan. Waktunya hanya tiga hari, setelahnya saya kembali ke cabang dan akan cuti seminggu. Untuk urusan pribadi” satu tangannya berada dalam saku celana hitam, tangan sebelahnya lagi memegang gawai. Entah siapa yang diajaknya bicara. Berdiri didekat jendela dengan tirai yang sedikt tersibak. Melihat jalanan kota yang begitu ramai. Tatapannya menerawang, pikirannya tidak fokus, tatapan kosong itu menerawang jauh. Fatih tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang dia ucapkan. Tapi hatinya sudah mantap bahwa rencananya harus berjalan.
Sekarang laki-laki itu mengerti perasaan Nisa, kebencian hanya tembok kokoh yang dibangun untuk menutupi hatinya yang mulai melunak. Dia tidak yakin bahwa misinya telah berhasil, tapi lampu hijau sudah menyala dengan terang, waktunya untuk maju tanpa ada yang perlu di takutkan.
Meletakkan kembali gawainya di meja setelah percakapan dengan seseorang usai, duduk dengan menyandarkan badannya di kursi, bergerak pelan kekanan dan kekiri seiring dengan tatapan yang mengarah kelangit-langit ruangan. Di usapnya wajah itu berkali-kali. Hatinya masih bimbang, tapi di sisi lain keyakinan itu menguat untuk melanjutkan apa yang menjadi tujuan hidupnya.
Senyum bahagia tercetak setelah kedua tangan yang menutupi wajahnya terbuka, sekarang Fatih sudah ingin memantapkan langkahnya. Di mulai dari rencana pertama menyelesaikan pekerjaan di kantor pusat. Mewujudkan masa depan adalah tugas selanjutnya.
Seminggu berlalu setelah pembicaraan mereka di dalam mobil waktu itu, sampai sekarang Nisa masih sering merutuki kebodohannya, bagaimana bisa dia mengakui tentang hatinya pada Fatih meskipun tidak langsung, Fatih bukan laki-laki polos yang tidak bisa menangkap maksud dari ucapannya waktu itu. Pikiran untuk menyangkal sirna sudah, lidahnya seolah tidak bisa diajak kerjasama ketika mengungkapkan semua tentang ketakutannya.
“Bu Nisa, laporan nilai matematika kelas dua belas IPA 2 saya minta sekarang ya bu” Bu Widya, wali kelas IPA . membawa Anisa ke alam sadar, menghentaknya dari lamunan.
“Oh, iya bu. Nanti saya kirim ke email ibu, Saya juga minta nilai bahasa inggris untuk IPA 1 ” Begitulah kesibukan setelah ujian, wali kelas di tuntut berkejaran dengan waktu, hanya seminggu waktu yang tersisa sebelum rapot di bagikan. Pengisian rapot yang menuntut ketelitian dan konsentrasi penuh. Nilai dalam rapot sekarang terbagi dalam dua penilaian. Pengetahuan dan keterampilan, dan setiap nilai deskripsi sesuai kemapuan setiap siswa. Bukan waktu singkat yang di butuhkan, terkadang mereka harus lembur menggadaikan waktu istirahat demi berkejaran dengan waktu.
Kembali tatapan Anisa fokus pada laptop di depannya. Memasukkan angka satu persatu dalam kotak. Mengecek kembali demi menghindari kesalahaan. Matanya mulai panas, pandangannya sedikit mengabur. Dipijitnya keningnya pelan, lelah tak di hiraukannya. Mengangkat tangan ke atas merenggangkan ototnya yang mulai pegal.
“Waktunya istirahat Bu Nisa, jangan terlalu di paksa” Nisa menurunkan tangannya yang terangkat dengan segera, kepalanya memutar ke sumber suara. laki-laki itu tersenyum ramah dihadapannya.
Pak Hamid, guru olahraga dengan badan dan tampang nyaris menyamai artis indonesia. Banyak di gilai siswi di sekolahnya. Pada awalnya Nisa menyangka Hamid bukan laki-laki seperti tampilannya,terlalu lembut untuk pemilik badan kekar dan berotot.
__ADS_1
“Sedikit lagi pak, nanggung kalau ditinggal” jawabnya tanpa menoleh. Risih yang dirasakan Anisa jika bersitatap dengan Hamid. Status mereka yang sama-sama single sering di jodohkan sama teman-teman mengajarnya, cocok katanya.
“Tapi kita hanya berdua disini bu, yang lain sudah duluan tadi” ucap laki-laki itu lagi. Nisa mengarahkan pandangannya berkeliling ruangan. Sepi, bahkan pekerjaannya sudah mengalihkan perhatian dari sekitarnya.
Segera berdiri mengambil dompet dalam tas, bergegas mendahului Hamid menuju kantin. Tidak ingin berjalan berdampingan, sebisa mungkin dirinya menghindari tatapaan curiga teman-temannya.
Awalnya Nisa beranggapan Hamid mempunyai orientasi yang menyimpang, dari saking lembutnya dia pada murid yang kelewat bandel. Bahkan bicaranya pun terlalu halus untuk seorang laki-laki dengan otot yang menonjol. Sampai ahirnya Nisa menyadari bahwa yang di bayangkannya itu salah.
Siswi disekolahnya bahkan dengan terang-terangan mencari perhatian sang guru olahraga. Mulai dari membawakan minuman, makanan bahkan yang lebih parahnya lagi ada yang pura-pura terkilir, hingga pura-pura pingsan. Semua itu tidak pernah membuat hamid menarik perhatian Hamid.
Sampai hari ini tidak seorang pun yang tahu tentang pertunangannya dengan Fatih, cincin yang pengikat mereka masih Nisa lepas kalau di sekolah.
Aroma bakso tercium, menggugah lbung mereka yang memang waktunya untuk diisi. Siang yang cukup terik, menu bola daging berkuah itu selalu menjadi favorit, dengan segelas es teh dan potongan lontong diatasnya. Cukup untuk mengisi perut yang kosong.
“Ahir-ahir ini saya lihat Bu Nisa tidak bawa motor lagi, kenapa?” tanyanya penuh selidik, sesaat setelah duduk menunggu pesanan datang.
“Motor saya masuk bengkel pak” Jawabnya pelan, mencari alasan yang sekiranya tidak mengundang pertanyaan lagi.
“Mobil kan masih ada?” Sesuai dugaannya, Anisa akan menerima pertanyaan panjang lagi. Hamid bertanya dengan wajah tenang, tangannya masih mengaduk es teh di depannya. Gelasnya mulai mengembun, entah apa yang dia pesan untuk makan, Anisa hanya melihat minuman saja di depan mereka.
Duduk mereka berhadapan, rasanya terlalu dekat karena meja di depannya ini hanya memiliki lebar satu meter saja. Hal itu tidak luput dari tatapan tajam laki-laki kekar yang duduk tidak jauh dari tempat mereka duduk, tatapannya tajam mengarah pada dua orang yang saling berhadapan.
“SIM saya mati, belum sempat ngurus lagi” mungkin alasan ini lebih masuk akal bagi Nisa. Demi menghindari pertanyaan lanjutan laki-laki di depannya ini.
“Bukannya masih enam bulan lagi ya” Bahkan laki-laki didepannya ini tahu tanggal lahirnya. Apa yang harus Nisa katakan sekarang, untuk saat ini dia ingin ada seseoarng membawanya pergi dari hadapan Hamid. Dia tidak punya alibi lagi untuk meyakinkan laki-laki ini.
__ADS_1
Nisa juga tidak mungkin mengatakan kalau sekarang ada yang mengantar jemput nya kesekolah, itu sama saja membuka rahasia yang dengan keras di tutup.
“Sepertinya Bu Anisa kepanasan duduk disini, sebelah sana ada kipas besar Bu” suara seseorang mengalihkan perhatian Anisa, seolah dirinya mendapatkan dewa penolong hari ini jadi tidak perlu cari alasan lagi untuk kabur dari sana, senyumnya mengembang, namun seketika meredup demi melihat siapa yang berbicara. Tidak apa, yang penting bisa pergi dari sana.
“Lho, kamu kenal sama robot ini?” Nisa hampir saja terpingkal mendengar Hamid memanggil pria kekar ini dengan sebutan “robot”. Tidak heran Hamid memanggilnya begitu, Wajahnya yang kaku tanpa senyuman bahkan tanpa ekspresi sama sekali.
Dibanding menjawab pertanyaan Hamid, Nisa lebih memilih pergi membawa es tehnya, lebih baik menunggu pesanannya dengan duduk sendirian, dari pada sibuk menjawab pertanyaan Hamid.
Berdiri dengan tatapan tajam di gerbang sekolah menyambut setiap yang datang, tanpa melakukan pemeriksaan hanya satpam sekolah saja yang melakukannya setiap pagi dan setiap pulang sekolah. Tanpa kata, tanpa ekspresi wajahnya datar dan tegas. Menjawab pertanyaan dengan ya dan tidak hanya itu tidak lebih. Lebih mirip robot mainan yang sudah diseting sesuai program jawabannya.
“Apa Tuanmu menyuruh mengawasi saya” bukan pertanyaan sebenarnya, lebih kepada menebak. Karena bagaiamana bisa dia datang kekantin sekolah tanpa keperluan.
“Hari ini panas sekali Bu, es teh sepertinya cocok menghilangkan haus” bukan jawaban itu yang Nisa mau. Cukup ya atau tidak seperti biasa.
“Ternyata Anda manusia juga, saya kira robot yang ditugaskan mengawasi saya” Pria itu masih berdiri tapannya lurus kedepan. “Tidak usah di jawab, saya sudah disini tidak duduk dengan laki-laki, bukankah ini meringankan tugas anda, Tuan” senyum sinis terbit dari bibirnya, memancing emosi pengawal ini sepertinya bisa menjadi hiburan baginya.
“Apa perlu saya hubungi Tuan Fatih kalau Anda sedang makan siang disini, saya yakin lima menit dari sekarang Tuan akan duduk di hadapan Anda, sepertinya Tuan akan senang, baiklah” mengambil gawai dari saku celananya. Sebelum itu terjadi Nisa harus mencegahnya. Dia tidak ingin mengundang perhatian seluruh warga disekolahnya. Cukup sudah kerja kerasnya untuk menutupi identitasnya selama ini.
“baiklah, saya akan makan dan diam. Berhenti mengancam saya” Anisa gusar, hidupnya sudah tidak sesantai dulu. Ada perubahan yang terlampau besar baginya, hanya saja dia belum mampu menyesuaikan diri atau lebih tepatnya tidak ingin menyesuaikan diri.
“Saya permisi Nona selamat makan, jangan terlalu banyak berfikir terima saja keberuntungan Anda, banyak wanita ingin berada di posisi Anda saat ini, jangan mengundang teman anda curiga siapa saya, kecuali Nona ingin mereka tahu siapa Anda sebenarnya.” Kalimat peringatan atau bahkan ancaman. Bagi Nisa sama saja, dia tidak menginginkan ini semua.
“Berhenti Memanggil saya Nona, saya tidak suka” tidak bisakah Fatih bersikap biasa, sudah berapa kali dia katakan agar jangan terlalu mencampuri urusan yang menyangkut Profesinya.
Hilang sudah selera makannya, yang ada dipikirkannya sekarang datang di hadapan laki-laki itu demi menegaskan apa batasannya yang tidak boleh di lampui.
__ADS_1
Hai, saya kembali lagi mudah2an kalian tidak bosen menunggu atau jangan bosan... author minta maaf karena baru bisa up. setelah huru-hara di dunia nyata sekarang waktunya kembali ke dunia halu. Happy Reading kakak yang baik