
Setelah memikirkan banyak hal, terutama kemungkinan terburuk tentang kesehatan ibunya, pagi ini Anisa memutuskan pulang. Mungkin chika benar berbicara jauh lebih baik dari pada diam, komunikasi dua arah dianggap mampu menyelesaikan masalah. Mencari jalan keluar dari rencana pernikahan dadakan yang di cetuskan Fatih yang entah mulai kapan.
Langit sedang kelabu ketika Nisa duduk didepan sebuah pusara.
“Yah, seandainya ayah tahu Nisa sedang tidak baik-baik saja. Nisa pengen cerita Tapi nggak ada yang mau mendengar. Ibu sudah berubah, hanya karena laki-laki asing yang sudah mengambil hati Ibu”
Diam sejenak. Tangannya mengusap batu nisan berwarna hitam. Air matanya mulai menggenang. Kebiasaan Anisa setiap ada masalah selalu datang menceritakan apapun pada Ayahnya. Meskipun dia tahu kalau yang di dalam sana tidak pernah mendengarkan atau bahkan tidak bisa memberikan solusi, setidaknya Nisa akan merasa lega setelahnya.
“Nisa yakin, kalau Ayah masih ada, Ayah akan mendengarkan Nisa seperti biasa kan, Ayah akan melakukan apapun yang membuat Nisa bahagia seperti janji Ayah dulu. Sekarang dengarkan Nisa mau cerita. Nisa yakin setelah mendengar ini ayah akan menangis” Di adukan semua beban dalam hatinya, harapannya hanya satu. Pikirannya menjadi lega, pulang kerumah tanpa membawa beban. Tekadnya sudah bulat untuk berdamai dengan wanita yang melahirkannya.
“Dia laki-laki yang sudah membantu keluarga kita, semua orang mengatakan Dia baik, entah kebaikan apa yang mereka bicarakan. Apakah orang baik itu suka memaksa. Nisa tidak tahu, Dia tiba-tiba datang ngajak nikah, orang Aneh. Ayah, istrimu berubah. Dia memaksaku menikahinya, menikahi laki-laki yang Nisa ceritakan tadi. Sebagai penebus hutang, apa itu tidak menjual anak namanya. Dia laki-laki kejam yang berpura-pura baik. Ayah tahu, dibelakang Ibu Dia menyembunyikan banyak hal, topengnya sungguh sempurna untuk menarik simpati”
seorang laki-laki yang dari tadi berdiri di bawah pohon kamboja, menahan tawa, matanya terbuka lebar, dahinya berkerut, beberapa kali menggelengkan kepalanya. Tangannya memegang Payung hitam yang tertutup.
Orang yang tidak mengerti akan mendengar curhatan Anisa dengan perasaan iba, tapi tidak dengan Fatih, wajahnya memerah, tawanya hampir meledak mendengar curhatan Anisa. Entah sampai kapan dia akan menunggu gadisnya selesai Curhat. Fatih membayangkan dirinya joker yang menyembunyikan wajahnya dengan make up tebal dan senyum palsu untuk menyembunyikan kejahatan. Dia geli membayangkan itu semua. Bagaimana gadis itu bisa berhayal sejauh itu. Apa yang ada dipikirannya. Fatih kembali menahan tawanya. Ternyata ada kesenangan tersendiri mendengar curhatan wanita di depannya.
Angin berhembus dengan kencang, membawa angin dan tetesan air yang tidak terlalu kencang. Ahirnya mendung menumpahkan isinya, menimpa tubuh Anisa. Perempuan itu tidak bergeming, masih dengan posisi duduk hendak melanjutkan cerita konyolnya.
Hujan yang turun seharusnya membasahi kepala dan badannya bukan, tapi Nisa tidak merasakan air menimpa tubuhnya. Kepalanya terangkat, sebuah payung menaunginya, wajahnya terlihat kesal setelah melihat pemiliknya.
“Hujan” Ujar Fatih dengan wajah datar
“Sudah tahu” jawab Anisa dengan ketus, buat apa dibilang air turun dari langit ya namanya hujan bathinnya menggerutu.
Dengan sengaja Fatih ikut duduk disebelahnya tanpa rasa sungkan
Kepalanya tertunduk dengan hikmad, tatapannya sendu ke arah pusara didepannya. Seharusnya Dia sedih melihat Anisa datang dan menceritakan semua pada Ayahnya, Dia tahu betapa gadis itu sangat merindukan sosok laki-laki kebanggaannya untuk saat ini. Fatih tidak tahu seperti apa hubungan mereka di masa lalu, tapi setelah mendengar cara Anisa bercerita, Dirinya Yakin hubungan mereka sangat dekat.
Fatih terdiam, matanya terkatup rapat, bibirnya bergerak, merapalkan do’a. Matanya matanya terbuka sambil tangan kanannya mengusap wajahnya perlahan
__ADS_1
“Assalamualaikum Ayah, semoga Allah menampuni semua dosa dan menerima semua amal baik Ayah” di tatapnyan Pusara itu dengan wajah sendu.
Mata Anisa melotot, pendengarannya sedang tidak bermasalah bukan, laki-laki itu membuat panggilan yang sama dengan dirinya, apa haknya melakukan itu semua. Dasar laki-laki tidak tahu malu, hardiknya dalam hati.
“Kita belum pernah bertemu sebelumnya, tapi saya yakin Ayah laki-laki yang baik bahkan sangat baik” Fatih tahu, yang dilakukannya sangat konyol, berbicara pada orang sudah tiada itu memang sia-sia. Tapi tidak ada salahnya dia melakukan itu untuk menyindir calon istrinya. Fatih melihat Anisa melalui ekor matanya, dia tersenyum senang. Niatnya menggoda Anisa semakin besar. Dia sengaja mengeraskan suaranya.” Saya Fatih, calon menantu Ayah, bolehkan saya menyebut begitu, karena sebentar lagi kami akan menikah, kami minta restu Ayah. Terima kasih sudah memberikan putri ayah, saya berjanji, akan menjaga Anisa, menyayanginya seperti yang Ayah lakukan dulu, Ayah percayakan sama saya. Saya orang baik, semua orang tahu itu” kata terahirnya dinaikkan nadanya, Fatih tahu Anisa sekarang menatapnya penuh kebencian. Dia puas melihat itu semua.
Berdiri setelah berpamitan pada pusara di depannya, tangan kirinya masih memegang payung. Untunglah hujan tidak terlalu deras, rintik itu masih kecil seperti pertama turun.
“Tubuhmu sedang kurang baik untuk menerima air hujan. Saya tidak mau kamu sakit, berdiri kita pulang sekarang” ucapnya dengan wajah di buat se datar mungkin. Ini sulit karena Fatih masih menahan tawa, melihat kebencian di wajah Anisa.
“Apa pedulimu” jawabnya dengan nada tegas
“Sangat peduli, karena kamu calon istriku” di tatapnya wajah Anisa, tapi wanita itu membuang muka
“Masih calon, belum sah” jawabnya dengan tatapan lurus kedepan.
“Sebentar lagi bukan, Saya khawatir kamu sakit setelah kita sah, tentu itu akan sangat merepotkan” wajah Anisa semakin merah, Fatih membuang muka, hampir saja dia melepas tawanya di hadapan Anisa.
“Bagus, sayangnya semua orang akan menilai saya sebagai suami tidak becus mengurus istrinya. Itu bisa merusak reputasi saya” kembali tatapannya mengarah pada Anisa.
“Apa maumu!” Dia menantang, tatapan mereka beradu. Wajah diliputi kemarahan, dan wajah datar yang sedang menahan tawa.
“Pulang, sebelum hujan tambah deras, saya tidak mau jok mobil saya basah perawatannya mahal”
“Kenapa isi kepala Anda hanya ada untung rugi, sedikit saja berpikir kemanusiaan”
“Saya seorang pebisnis, saya harus memperhitungkan apapun yang menguntungkan saya, dalam hidup saya belum mengenal kata rugi, apa sekarang kamu sudah tahu wajah saya tanpa topeng?” Nisa tercekat, jadi dari tadi dia cerita di depan Pusara ayahnya laki-laki ini mendengarnya.
“Apa menguping juga hobimu sekarang, selain memaksa orang tentunya” tatapan tajam Anisa menghujam, membuat getaran merambat halus didadanya. Segera Dia membuang muka, menghilangkan debaran hatinya yang mulai tidak karuan.
__ADS_1
“Tidak sengaja dengar ada orang curhat” santai sekali jawaban Fatih
“Di kuburan Anda bilang tidak sengaja, tidak masuk akal” dengan kemarahan yang ingin Nisa tuntaskan.
“Saya datang kesini untuk menjemput calon istri saya, ternyata mendengar ada orang curhat. Apa salahnya, namanya juga tidak sengaja” masih dengan nada santai, hobi lamanya keluar, memancing kemarahan Anisa memberikan kepuasan tersendiri baginya.
Anisa membisu, Dia tidak ingin berdebat dengan Fatih sekalipun ingin, dia akan menahannya.
Berjalan beriringan keluar area pemakaman, menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan, Anisa didepan sedang Fatih di belakang masih memegang payung. Baju belakangnya basah, tidak dia hiraukan. Baginya asal Anisa tidak kehujanan, dia takut gadis itu akan sakit. Walau Fatih tidak tahu seberapa jauh daya tahan tubuh Anisa mampu menahan cuaca saat ini. Yang Fatih tahu, gadis di depannya ini sedang dalam kondisi yang kurang fit, setelah lembur ber hari-hari untuk mengisi rapot.
Membukakan pintu untuk Anisa, setelahnya dia berjalan kesamping, menutup payung sebelum ahirnya duduk di kursi kemudi. Hening, sangat terasa di dalam mobil. belum ada yang membuka suara, Fatih melirik kesebalahnya, wajah kesal masih mendominasi, gadis sebelahnya menatap keluar jendela.
Anisa tahu, mobil yang di pakai Fatih bukan mobil biasanya. Ini adalah mobil biasa, orang menyebutnya mobil sejuta umat. Model MPV tapi tetap keluaran terbaru. Setidaknya bukan mobil mewah seperti biasanya. Dia ingin membuka mulut, menanyakan alasan Fatih mengganti mobil, tapi egonya lebih besar dari rasa ingin tahunya.
“Kira-kira Ayah sudah merestui kita apa belum ya” Itu suara Fatih, dia hanya ingin mengurai keheningan. Di tatapnya Anisa sekilas.
“Yang Anda lakukan tadi itu sangat konyol, bagaimana mungkin Ayah mendengarnya” tatapannya masih lurus kedepan.
“Oh, jadi Ayah tidak mendengar ya, sayang sekali padahal aku sudah berbicara panjang lebar tadi” wajah usil Fatih keluar, bibirnya melengkung ke bawah, dahinya berkerut.
“ Anda sedang menyindir” Anisa menatap Fatih tajam, dia tidak terima laki-laki disebelahnya ini mempermainkannya.
“Apa kelihatan begitu, saya memang tidak pandai berpura-pura”
“Jadi Anda benar menyindir Saya, keterlaluan”
“Mau turun atau kita lanjut cari makan, kamu belum sarapan kan”. Biarkan Anisa menuntaskan amarahnya sekarang. Dia tidak terima Fatih mempermainkannya dari tadi. Laki-laki ini sedang menguji kesabarannya. Dia menoleh, bahkan emosi membuatnya tidak sadar kalau mobil sudah berhenti di depan rumahnya. Dengan kesal Anisa membuka pintu mobil, dan menutupnya dengan membanting keras.
“Dia sangat menggemaskan” ucapnya tersenyum lebar.
__ADS_1
Ingatkan Fatih untuk tidak menampakkan senyum itu didepan wanita lain. Kalau tidak , Dia akan mendapatkan kesulitan nanti.