
Nisa mengemudikan mobilnya lebih cepat dari biasanya, dia cemas melihat darah yang tidak berhenti dari pelipis Refan, seorang siswa Nisa bawa untuk mendampingi. Dia duduk di jok belakang memegang tisu dikepala Refan dengan warna yang sudah tidak putih lagi. Bau anyir tercium dalam mobil. Nisa tak menghiraukannya. Bagi sang guru muda itu keselamatan anak didiknya adalah prioritasnya sekarang. Memarkirkan mobilnya didepan IGD setelah memberitahu Satpam bahwa dia membawa pasien darurat.
Turun tergesa, membuka pintu belakang setelahnya. Seorang perawat membawa brankar menyambut kedatangan Nisa setelah satpam memberi tahu petugas IGD.
“Kami lihat lukanya dulu ya bu, mohon maaf yang bisa menjaga hanya satu orang” kata petugas itu, membuat teman Refan yang mendampingi berjalan keluar. Tinggalah Nisa yang mendampingi Refan sekarang.
“ibu tidak mengerti apa yang kalian ributkan, yang ibu tahu kalian berdua sekarang yang rugi” membuka pembicaraan setelah dari tadi mendiamkan Refan. Wajah Nisa terlihat kesal sekarang.
“Kalau sandi yang tidak memulai saya tidak akan memukulnya” Refan membuang wajahnya, jangan lupakan seragam putihnya yang berubah menjadi merah.
“kekerasan bukan satu-satunya jalan yang bisa menyelesaikan masalah, kalian sudah besar bukan bocah TK kan” Tatapan Nisa lurus pada Refan meskipun laki-laki itu membuang mukanya Nisa tidak peduli, antara malu dan takut Nisa tidak tahu.
“Maaf,,,” hanya itu yang terdengar dari Refan. Membut Nisa gusar
“bukan hanya maaf, berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi. Masalahnya tidak akan selesai dengan kata maaf. Setelah ini kalian berdua akan mempertanggung jawabkan dihadapan BK, terima saja hukuman kalian nanti” Nisa sedikit menyesalkan kelakuan anak didiknya, karena diapun akan ikut di dalam ruang BK nantinya. Hah, melelahkan rasanya. Dia belum berkeluarga, tapi rasanya sudah menjadi orangtua sepenuhnya.
“Maaf bu, apa anda keluarganya” tanya petugas dengan baju biru
“Dia anak didik saya”jelasnya. Melihat seragam yang dikenakan Anisa petugas itu tidak bertanya lagi.
“ibu kebagian pendaftaran dulu, ini berkasnya” Nisa membawa kertas dari perawat bergegas menuju bagian pendaftaran di lobi utama Rumah sakit.
“tolong kamu jaga didalam ibu mau mengurus ini dulu” perintahnya pada teman yang mendampingi Refan, sambil menunjukkan berkas ditangannya
Duduk di kursi tunggu setelah memasukkan berkas, menunggu nama siswanya dipanggil. Ada beberapa panggilan tak terjawab di gawainya. Beberapa teman gurunya mungkin ingin tahu kondisi Refan. Nisa mulai membalas pesan itu satu persatu mengabarkan kalau kondisi refan baik-baik saja.
Terlihat beberapa orang berjalan dari kejauhan, berbicara dengan serius yang lain mengikuti dibelakang dengan berkas ditangannya. Seorang dari mereka menghentikan langkahnya.
“Nisa... Nisa kan?” seorang laki-laki asing dengan kemeja warna biru dan jas putih melingkar dilengannya menyapa Anisa
“kahirunnisa kan?” ulangnya memastikan dia tidak salah mengenali orang, kalau sampai itu terjadi bisa malu dilihat pengunjung yang sedang Ramai di rumah sakit ini.
Nisa berdiri menatap bingung laki-laki didepannya. Dengan dahi berkerut Nisa mencoba mengenali laki-laki tinggi yang menatapnya dengan senyum cerah.
Seketika matanya berbinar, senyum tak kalah cerah menghiasi wajah gadis memaki baju warna cokelat ini.
“Wisnu, wisnu pradana” ucapnya, dengan telunjuk mengarah ke lawan bicaranya. Laki-laki yang bernama Wisnu mengangguk antuias.
“apa kabar Anisa” sambil mengulurkan tangan,
”aku baik, kamu gimana. Aku dengar dari chika. Katanya ngambil spesialis” Nisa merapatkan tangannya di depan dada tidak menyambut uluran tangan Wisnu. Mereka tidak bersalaman seperti kebanyakan orang, Wisnu paham gadis didepannya ini masih seperti dulu.
Ada tatapan tidak suka dengan kedekatan mereka dari kejauhan.
”nanti laporannya saya kirim kembali setelah direvisi pak, senang bisa bekerja sama dengan Anda” laki-laki gagah dengan stelan jas berwarna Navy itu tudak sabar mengakhiri percapakan mereka. Sesekali lirikan itu masih mengarah pada dua orang yang sedang bernostalgia itu dari kejauhan. Setelah mengantar rekan bisnisnya pergi, Fatih segera bergegas masuk lagi. Mereka bersalaman dan sang tamu berpamitan setelahnya.
__ADS_1
Melihat Anisa tertawa dengan bahagia, tepatnya tertawa lepas tawa yang belum pernah ditunjukkannya pada Fatih selama ini selain wajah marah dan sinis.
“kamu masih belum berubah Nis, malah aku lihat kamu tambah cantik, apalagi dengan seragam itu” puji Wisnu tulus. Memang itu kenyataannya bukan
“Ah, kamu bisa saja. Aku masih belum ada apa-apanya dari gebetanmu hahaha...” tawa lepas mengurai dari keduanya
“aku sudah melepas mereka semua, aku bukan Wisnu yang dulu. Entahlah, aku belum dapat yang cocok sampai sekarang” ucapnya, menatap Anisa penuh kagum
“seorang Wisnu jomblo, aneh tau nggak” jawab Nisa heran. Wisnu yang terkenal dengan segela kesempurnaannnya sebagai cowok di SMA dulu Jomblo. Rasanya sulit dipercaya.
“Oh, iya. Kamu ngapain disini” Wisnu penasaran, bahkan pertanyaan yang harusnya dilontarkan di awal dia lupakan, karena sibuk mengagumi Anisa
“Ngantar muridku luka di pelipisnya, sepertinya lukanya serius, harus dijahit” wajah cemas itu kembali tergambar menggantikan senyum cerah ketika bertemu wisnu tadi.
“Nggak usah cemas gitu, itu ringan. Luka di kepala memang banyak mengeluarkan darah. Asalkan pasien masih sadar semua akan baik-baik saja” Wisnu menjelaskan
“Aku bahkan lupa kalau berhadapan dengan dokter” kembali senyum itu hadir. Kata-kata wisnu sedikit melegakan dirinya sebagai orang yang awam tentang medis.
“Aku jadi ingin tahu muridmu, Di IGD kan boleh kita kesana sekarang” meminta ijin hanya sebagai pengantar saja. Bahkan tanpa ijinpun Wisnu bisa melakukan apa saja di Rumah sakit ini sebagai seorang dokter sekaligus pemilik.
“Berkas pendaftarannya masih diproses, tunggu sebentar” Nisa beranjak menanyakan berkas pendaftaran yang mamsih dalam proses. Diikuti wisnu dibelakang
Semua petugas yang ada di sana menunduk dengan senyum penuh hormat kearah Nisa, lebih tepatnya pada laki-laki tinggi dibelakang Nisa.
“Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?” sapa petugas itu yang tiba-tiba menjadi ramah. Nisa bingung, bahkan ketika dia tadi menaruh berkas tidak seramah ini. Gadis tu paham bahwa mereka begitu karena Wisnu, ada dibelakangnya. Pantas saja, pikir Nisa.
“sudah, ini” menyerahkan berkas itu kembali ke tangan Anisa.
Baru saja mereka akan melangkah ke IGD seseorang berdiri dihadapan Anisa. Mata gadis itu membuka lebar, bahkan matanya mengerjap beberapa kali demi memastikan pandangannya tidak salah.
“selamat siang Nisa” sapanya dengan suara lembut. Lemas sudah Nisa. Bagaimana bisa Fatih berdiri dihadapannya. Bahkan laki-laki ini seolah ada di semua tempat. Nisa gusar ingin rasanya dia pergi dari hadapan fatih. tapi apa kata Wisnu. Pura-pura tidak kenal lebih tepatnya Nisa bersikap biasa saja
“Selamat siang Tuan” jawabnya dengan nada sesopan mungkin.
“kalian saling kenal?” itu suara wisnu. Dokter tampan itu matanya melebar, tidak percaya bagaimana Fatih bisa mengenal Anisa
“kami sudah sangat dekat satu sama lain” jawab Fatih dengan tatapan ke arah Anisa, bahkan dia tidak menatap pada orang yang bertanya.
“Abang dekat sama Anisa, bagaimana bisa” Wisnu masih bingung. Rasanya dia belum percaya. Seorang Fatih dekat dengan perempuan, bahkan perempuan itu Nisa. Perempuan yang Wisnu tahu sulit dekat dengan laki-laki asing.
“Mengapa kamu tidak percaya” Fatih gusar, melihat kedekatan Nisa dengan Wisnu saja dia sudah tidak suka. Ditambah ketidak percayaan dokter muda itu padanya
“Saya kira Abang tidak suka perempuan” mendengar kalimat itu Nisa tidak percaya, bagaimana Wisnu bisa memanggil Fatih dengan panggilan Abang, bahkan Nisa menahan untuk tidak tertawa keras ketika Wisnu mengatakan Fatih tidak suka perempuan.
“Kami hanya berteman Nu, aneh kamu” jawab nisa santai. Tapi jawaban itu Fatih tidak suka. Tatapannya tajam bergantian dari Nisa ke Wisnu seolah ingin memindai seperti apa perasaan mereka berdua. Ini tidak bisa dibiarkan. Fatih menangkap kekaguman Wisnu terhadap Anisa.
__ADS_1
“Kita akan makan malam, nanti aku jemput kamu di rumah. Sekalian minta ijin sama Ibu” Wisnu tidak percaya dengan pendengarannya. Tentang makan malam dan panggilan ibu, yang jelas ditujukan untuk wanita yang melahirkan Anisa.
“kenapa tidak ngasih tahu sebelumnya” jawaban sinis Anisa mendapat tatapan tajam dari Wisnu. .
“ ini sudah ngasih tahu” wisnu bingung dengan perdebatan mereka. Sekarang wisnu paham bahwa ini bukan kedekatan biasa
“saya tidak bisa maaf” jawab Anisa gusar. Dia tidak suka diperintah pada saat yang tidak tepat seperti sekarang. Bahkan Fatih tidak tahu kalau sekarang Nisa sedang megurus muridnya. Seolah Fatih tidak mau tahu, dia hanya mengedepankan egonya
“Harus bisa, saya akan tetap jemput jam delapan malam” ingin rasanya Nisa berteriak di hapan Fatih. kalau sekarang dirinya menghadapai masalah yang tidak bisa dianggap sepele.
“terserah...!!!” Nisa berjalan tergesa, berlalu dari hadapan Fatih adalah jalan terbaiknya saat ini. Menuju IGD tempat Refan di rawat.
“Abang, ada apa ini sebenarnya” wisnu bingung, dia tidak pernah melihat laki-laki yang di panggilnya abang itu memperlakukan perempuan sedemikian rupa
“memang ada apa” jawaban fatih semakin membuat Wisnu bingung
“Mengapa abang maksa Nisa makan malam” masih belum puas dengan jawaban Fatih yang menurutnya itu bukan jawaban tapi pertanyaan yang semakin membuat otak Wisnu berpikir keras.
“Ada hal yang harus kami bicarakan” jawabannya sambil berlalu, Wisnu menyusulnya dengan langkah lebar
“Bahkan Abang tidak tahu kalau Nisa sekarang ada masalah, dia kesini mengantar siswanya yang terluka parah” kata-kata Wisnu mampu menghentikan langkah kakinya. Menatap tajam ke arah Wisnu. Tajam kearah netranya memastikan Wisnu tidak berbohong.
“kenapa tidak ngasih tahu dari tadi”
“Abang nggak nanya, datang-datang langsung ngajak makan malam” Wisnu memang benar. Fatih merutuki kebodohannya sendiri. Dia yakin sekarang gadis itu semakin membencinya.
“IGD kan” hanya itu kalimat yang terucap, disertai langkah buru-buru menuju IGD tanpa menunggu jawaban Fatih
“sudah selesai, lukanya cukup dalam. Jangan lupa minum obatnya teratur, agar tidak infeksi. Kalau ada keluhan lain atau kondisinya belum membaik selama tiga hari, biasanya disertai demam, periksa lagi. Mungkin ada lukanya yang terkena infeksi” penjelasan dokter yang menangani Refan
“tapi saya yakin ini tidak apa-apa. Laki-laki harus kuat bukan”lanjut laki-laki muda memaki baju putih itu. Sambil merapikan lakban yang terpasang di pelipis Refan.
Berjalan keluar dari ruang IGD
“Maaf” dengan suara lembutnya Fatih mengucapkan itu. Tidak bagi Wisnu. Ini pertama kalinya dia mendengar abangnya berkata lembut dengan merendah dihadapan perempuan. Dan itu Anisa.
“untuk...?” Nisa menjawab dengan gusar
“saya tudak tahu kalau kamu ada masalah” Nisa menari nafas panjang
“sekarang sudah tahu kan. Saya permisi” Nisa berlalu menyusul siawanya yang sudah ada di dekat mobilnya, menunggu Nisa membukakan pintu.
Wisnu tertawa keras, bahkan dia memegang perutnya karena kram. Ini pertama kalinya melihat Abangnya di acuhkan setelah merendah dihadapan Perempuan. Tawa itu seketika merede. Tatapan tajam Fatih menghentikan tawa kerasnya
“Maaf bang, saya tidak kuat” kembali tertawa lebih keras lagi
__ADS_1
“Puas-puasin kamu tertawa. Karena setelah ini aku pastikan Anisa akan menjadi Istriku” sebaris kalimat itu benar-benar menghentikan tawa Wisnu. Dia mengejar Fatih. namun terlambat, laki-laki itu sudah masuk kedalam mobil yang dari tadi menunggunya. Tatapan wisnu panjang melepas kepergian sang Abang tanpa penjelasan apapun.