
Lagi-lagi Anisa harus mengikuti keinginan mereka walau hatinya menolak. Mengikuti sang suami pindah kekantor pusat, dan mindahkan tempat tugasnya juga ke tempat yang sama. Nisa tidak melakukan apapun, semua Fatih yang melakukan. Mulai dari mengemas barang apa saja yang akan di bawa hingga persiapan mengurus kepindahannya ke tempat baru.
Nisa tidur lebih awal, di lelah secara bathin. Tidur adalah caranya menghindari percakapan dengan mereka. ada Abang dan iparnya di bawah. Nisa tidak ingin terlibat topik apapun. Masuk kamar lebih awal dan tidak keluar lagi setelahnya. Nisa tidak bisa membantah ucapan ibu tadi siang, yang pada ahirnya membuat dirinya menerima keputusan ini.
“Apa jadinya suami istri tinggal terpisah. Ibu tahu jaman sekarang teknologi sudah mempu mengikis jarak. Tapi apa Nisa mampu berpisah dengan suami dalam waktu lama. Kemarin ditiggal sehari saja sudah kayak orang linglung” Untuk kesekian kalinya Nisa merutuki kebodohannya. Secepat itu rasa nyaman dalam dirinya datang ketika berdekatan dengan suaminya. Bahkan kemarin ketika Fatih pulang kantor dia tidak jadi menumpahkan rasa kesalnya hanya demi ingin menghirup aroma tubuh Fatih. Yang dilakukannya hanya pura-pura tidur. Tapi dia dengan sadar masih merasakan kecupan lembut di keningnya, usapan di pipinya setelah itu. Anisa membuka mata, ketika suaminya mulai terlelap dengan memegang tangannya erat. Hanya begitu saja hatinya meleleh. Semua tabungan kalimat penuh amarah itu hilang entah kemana, menguap di terpa angin begitu saja. Yang ada hanya keinginan untuk memeluk tubuh tegap sang suami, tapi harga diri membawanya ketempat tidur.
“Lebih sabar lagi ya” Kalimat yang sama, Ibu sudah mengulang kesekian kali. “Ibu yakin, dia akan tahu setelah kalian tinggal berdua. Selama ini ibu yang terlalu memanjakannya. Ibu yakin Fatih mampu melakukan semua dengan baik. Membimbing Nisa, mengubah sikap kekanak-kanakannya dengan perlahan” Menyesap tehnya dengan perlahan
“Satu hal yang belum saya pahami, Nisa salalu menganggap hubungan kami seperti mimpi. Mulai dari pernikahan hingga…”kalimatnya menggantung. Fatih tidak mungkin menceritakan peristiwa indahnya di pantai waktu itu. kejadian yang sampai sekarang masih melekat jelas dalam ingatannya, bahkan terkadang membuatnya tersenyum sendiri.
“Sejak kejadian Ayahnya meninggal banyak hal yang berubah dalam diri Anisa” Ibu memulai cerita “waktu kejadian kami menjemputnya di sekolah, dia tidak menangis ketika itu. Karena menganggap apa yang terjadi pada Ayahnya hanyalah mimpi. Nisa menangis ketika Ayahnya sudah di tutup dengan tanah, kami sengaja membawanya agar dia sadar bahwa Ayahnya meninggal itu bukan mimpi. Nisa menangis tidak mau di bawa pulang. Amir yang menggendongnya dengan paksa hingga dia tertidur karena lelah sampai suaranya habis. Kami pikir masalahnya sudah selesai. Nyatanya tidak, ketika bangun Nisa mencari Ayahnya lagi, karena lagi-lagi dia menganggap semua itu mimpi” Ibu mengahiri ceritanya dengan suara pelan. Kejadian itu sudah lama tapi rasa sakit karena kehilangan itu rasanya masih menyesakkan.
“Hubungan mereka begitu dekat, hingga Nisa sulit menerima kenyataan pahit. Sampai sekarang dia menganggap semua perubahan besar dalam dirinya itu mimpi. Ketika di terima tes PNS, Abangnya menikah lagi. Dan pernikahan kalian” Lanjutnya lagi.
“Saya ingin membuat Anisa bahagia, tapi saya tidak tahu caranya. Pola pikirnya tidak bisa di baca. Saya hanya bisa mengikuti kemauannya asal Nisa bahagia, apapun itu” Suara lembut Fatih mampu mengangkat wajah Ibu.
__ADS_1
“Jangan terlalu manjakan dia. Suatu saat menghadapi masalah besar dia tidak akan bisa mmengatasi Cukup ajari anakku dengan caramu hidup sebelum ini. Ajari dia sedikit mengenal dunia yang keras, ibu tidak mau Anisa lemah. Ibu dan Abangnya tidak mampu melakukan itu. ibu harap kamu sebagai suami mampu melakukannya. Jaga dia dengan baik sesuai janji Abang sama Ibu” Ruang keluarga itu menjadi sepi. Semua orang sudah terlelap. Fatih sengaja menemui Ibu demi bertanya perihal sang Istri, sekarang Fatih sudah paham. Dan dia tahu harus melakukan apa setelahnya.
Fatih sudah bertemu banyak orang dengan berbagai macam karakter, tapi menemui wanita seperti istrinya ada tantangan tersendiri baginya. Moodnya yang tidak gampang di baca, diamnya yang tidak bisa di tebak. Wanita dengan karakter manja mungkin Fatih masih punya stok cara mengatasi, yang matrealistis, yang pura-pura cinta setengah mati. Hingga yang mengejarnya sedemikian rupa hingga menghalalkan segala cara. Tapi Anisa tidak termasuk semua kriteria itu. manja tidak, matre juga tidak. Bahkan dia yang mengejar wanita itu setengah mati. Mengubah gaya hidup , pola pikir hingga kebiasaannya agar wanita itu terkesan. Nyatanya seolah semua usahanya mental begitu saja.
Baru saja dia merasa memangkan hati sang istri, malam penuh cinta tidur berdua tanpa penghalang. Saling meluapkan rasa lewat sentuhan. Dia pikir usahanya berhasil, perjuangannya sudah sukses. Tapi perubahan sikap Anisa membuatnya harus kembali mencari cara untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sebelum pulang. Malam dimana Fatih melihat wajah sang istri matanya sendu dengan sisa air mata yang masih terlihat. Dirinya tidak yakin itu karena merindukan Ibu. Karena setelah bertemu pun wajahnya masih sama.
Fatih seolah kembali ke awal, tidur tanpa pelukan seperti kemarin. Dia harus rela menahannya walau kadang bathinnya berperang melawan keinginan itu. Bahkan Nisa kembali menutup aurat di hadapannya. Seperti pagi tadi sebelum berangkat, dia harus rela menerima tatapan kemarahan dari sang istri.
Dadanya sesak mengingat semua kejadian satu hari ini. menghela nafas panjang, menghembuskannya perlahan. Mencari udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi oksigen di paru-parunya.
Langkahnya gontai kembali ke tempat tidur, menatap wajah teduh dalam lelap. Mengecup kening seperti biasa, dan mengusap pipi itu lembut. Hanya sebatas itu tidak lebih. Dia tahu batasannya walaupun pernah melewati dengan sengaja. Matanya terlelap dengan tangan yang menggenggam tangan sang istri. Dia ingin memegang tangan halus Anisa hingga nanti. Tidur seranjang, tanpa sentuhan itu adalah cobaan terberat bagi seorang laki-laki. Kalau ada yang bertanya apakah mampu, Fatih orang yang akan menjawab mampu dengan tegas. Nyatanya cinta mampu menahan segala nafsu yang bergejolak dalam dirinya.
“Surat perjanjian”
“Untuk apa?”
__ADS_1
“Untuk mencegah takut ada yang khilaf”
“Kita sudah pernah melakukannya, untuk apa lagi”
“Satu kali, dan aku tidak ingin ada yang kedua”
“Ya Tuhan, kamu kenapa. Bukankah hubungan kita sudah pernah sejauh itu” Suaranya meninggi
“Aku hanya tidak ingin dimanfaatkan, demi memenuhi keinginanmu. Laki-laki dan libidonya tidak bisa dipercaya”
“Tatap Abang” menarik lengan istrinya, mendekatkan wajahnya. Mata mereka beradu dengan saling menatap tajam ”Pernahkah Abang memaksamu melakukan yang tidak Nisa inginkan. Kalau Abang bejat sudah dari kemarin Abang membuka semua pakianmu. Kita lakukan seperti kemarin. Nyatanya Abang berusaha menahan diri, dan itu berhasil. Kalaupun Abang melakukan itu tidak masalah, toh kita sudah sah menjadi suamu istri” Sekali ini biarkan Fatih mengeluarkan kekesalannyan. Dia pikir surat perjanjian yang dibuat Anisa sudah tidak berlaku. Anisa membawanya. Apa yang ada di kepala sang istri.
“Menjaga kemungkinan terburuk, ini hanya sebagai pengingat. Kalau peraturan yang sudah kita sepakati bersama masih berlaku” Membalas tatapan Suaminya denga lebih tajam.
Entah mengapa setiap menatap wajah Anisa amarahnya luruh, rasa kesalnya menguap entah kemana. Memeluk dan mencium kepala yang hanya bisa dilakukannya sekarang. berdebat dengan Anisa tidak akan pernah ada habisnya. Fatih akan membiarkan apapun yang Anisa lakukan.
__ADS_1
“Abang harap, surat perjanjian itu tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari, simpan baik-baik jangan sampai ada yang tahu” Jangankan marah, yang keluar justru suara lembut tanpa tekanan.
Anisa terkesan, tentu tidak. Baginya semua yang dilakukan Fatih hanya rasa menutupi niat buruknya. Menyembunyikan semua rahasia yang Nisa sendiri tidak tahu. Waspada tidak ada salahnya, kan.