
“Membangun kepercayaan, sesulit mengumpulkan kepingan rasa yang tidaklah mudah. Ada banyak hal yang akan terlibat. Hati dan pikiran akan berada di urutan paling atas untuk di korbankan”
“Kamu bawa kemana istriku Wisnu?” Setelah putus asa mencari, Fatih pulang kerumah tapi jawaban Mbok Sa, seakan memukul dadanya. Bahwa Anisa tidak pulang kerumah. Bahkan Fatih menghubungi pihak hotel siapa tahu istri kembali kesana. Lagi-lagi dirinya harus menelan kekecewaan. Tidak ada Anisa disana. Wisnu, adalah orang pertama yang ada dipikirannya. Laki-laki itu yang membawa istrinya pergi. Fatih terngiang kembali ucapan Reno. Wisnu akan punya kesempatan dalam keretakan hubungan dirinya dan Anisa.
“Saya tidak tahu Bang, ini juga nyari. Sampai di luar Anisa sudah menghilang. Saya terlambat mengejar” Jawaban Wisnu membuat Fatih geram. Tidak mungkin secepat itu Anisa menghilang Pasti Wisnu sedang berbohong.
“Katakan dengan benar, dimana kamu menyembunyikan istriku Wisnu. Kalau sampai aku tahu kamu tidak jujur. Ancamanku tetap sama” Fatih meremas telepon yang ada di genggamannya. Hatinya panas. Anisa tidak tahu jalan. Bagaimana kalau dia tersesat.
“Saya tidak bohong Bang, ini masih muter nyari. Lagian kenapa bukan Abang yang ngejar tadi. Lemah sekali jadi suami. ditinggal beneran, nyesel tahu rasa” Wisnu balik mengumpat Fatih.
Dia mengakui kesalahan yang Wisnu lontarkan, seharusnya dia yang mengantar istrinya pulang. Fatih menutup teleponnya dengan segera. Dia menguhubungi beberapa anak buahnya untuk mancari istrinya. Tangannya terkepal. Berkali-kali setir mobil menjadi sasaran kemarahannya.
“Kamu dimana, Hpmu tidak aktif. Tuhan, selamatkan dia, lindungi dia, saya hanya punya dia untuk saat ini. aku mencintainya Tuhan. Sangat mencintainya” Penyesalannya masih merundung. Seharusnya Anisa tidak pergi sendiri.
“Bagaimana Ren?” Menjawab telepon Reno dengan segera. Dia ingin mendengar kabar baik. Nyatanya dia harus kembali kecewa. Reno menjawab belum menemukan istrinya.
Fatih melirik jam di pergelangan tangannya, jam sepuluh malam dan istrinya masih ada di luar jangkauannya. Bahkan keberadaannya dia tidak tahu. Fatih menjambak rambutnya dengan kuat. Menghantamkan tangannya yang terkepal pada setir mobil berkali-kali.
Fatih tidak tahu harus mencari kemana, dia tidak ingin pulang sebelum dia tahu keberadaan istrinya. Hatinya hancur, sekali lagi dirinya melakukan kesalahan. Seharusnya dia mengejar Anisa. tapi dia juga harus menyelesaikan masalahnya. Fatih tidak mau ibu angkatnya mencampuri urusan pribadinya lagi. Dia pikir caranya benar memperjuangkan istrinya. Ternyata sekali lagi dia mengulang kebodohan yang sama sampai harus kehilangan istrinya.
Masuk kedalam hotel tempatnya memeluk istrinya tadi sore. Kehangatan itu masih terasa nyata. Bahkan Fatih bisa mencium aroma tubuh wanitanya dengan jelas. Di kasur yang sama dia mengcapkan kalimat yang memang dia ingin ucapkan dari dulu. Bisikan di telinga istrinya di jawab dengan anisa menutup mulutnya karena tidak yakin. Hingga dia ingin membuktikan. Tapi, semua terasa sia-sia
.
Hampa, dia memindai sekeliling ruangan, tercetak jelas dalam ingatannya bagaimana Anisa menyuapinya daging iga bakar, senyum mereka seolah akan selamanya. Nyatanya mendung itu kembali tanpa di undang.
Fatih membaringkan tubuhnya dengan meringkuk. Memeluk baju kerja sang istri yang masih tertinggal aroma tubuhnya. Menenangkan tapi tidak menghangatkan seperti biasa.
__ADS_1
“Maaf,,,” Kata itu meluncur seperti dzikir, berulang-ulang tanpa jeda. Dengan hati yang di penuhi rasa bersalah.
Jam dua dini hari, tapi matanya masih terbuka lebar. Tidak ada kantuk. Hanya rindu, dia ingin memeluk istrinya sekarang. rencananya tidak berjalan mulus, dia tidak menduga kalau Nyonya Maura akan membuat istrinya tersinggung. Terlepas itu hanya sandiwara Mamanya.
Dia sudah merencanakan ahir pekannya bersama Anisa, menikmati waktu berdua didalam kamar hotel. Tanpa gangguan. Dirinya ingin memeluk wanitanya seharian tanpa jedah. Tertidur dalam dekapan sang istri adalah cara yang dia rancang untuk melepas penatnya seminggu berkutat dengan laporan dan rapat yang menguras tenaga.
Badannya tersentak, dia terbangun dari tidurnya yang terlelap. Sudah berkali-kali mencoba untuk memejamkan mata. Tapi, sekali lagi dia tersentak bangun dengan hati yang masih terasa kosong. Memeriksa gawainya. Berharap hari ini, pagi ini dia mendapat kabar keberadaan sang istri. Dengan berat Fatih harus menelan kekecewaan berkali-kali. Tidak ada notifikasi apapun yang memberitahu perkembangan perihal keberadaan Anisa.
Dia bangkit dengan terpaksa. Kakinya diseret dengan hati tanpa semangat. Kewajiban pada Rabbnya tidak boleh dia lewati. Panggilan itu menyentak jiwanya. Keheningan masih terasa, hingga kemudian suara kucuran air terdengar. Tempat dia menyucikan beberapa bagian anggota tubuhnya, sebagai syarat mensucikan diri untuk menghadap sang pemilik hidup.
Seandainya bisa saat ini dia ingin berlari menembus keheningan dan kegelapan, berpacu dengan dinginnya embun. Memeluk kekasihnya erat tanpa celah. Mengatakan bahwa cinta itu benar, perasaan ingin memiliki dan melindungi bukan hanya rekayasa. Akan dia bisikkan bahwa dia seudah menyerahkan seluruh bagian dari dirinya untuk sang kekasih. Tapi angannya tak dapat dia rengkuh. Tubuh yang ingin dia dekap tidak diketahui keberadaannya.
Masih satu malam dia kehilangan, bahkan dirinya tidak bisa membayangkan malam-malam berikutnya tanpa menghirup aroma tubuh itu, candunya, yang akan menenangkannya dan menjadi penanda bahwa dia ada disini bersamanya.
“Buat apa Ren?” tanyanya malas. Setelah melihat kedatangan Reno membawa sarapan. Bukan petugas room service yang datang tapi Reno dengan wajah sendu melihat kondisi dirinya yang tak terbaca.
“Apa istriku bisa menemaniku seperti kemarin?” Tanpa minat untuk melihat aroma yang tercium dari menu yang sudah tertata dengan rapi. Fatih masih memringkan tubuhnya diatas Sofa. Dia tidak mau tidur diatas kasur. Karena itu hanya kan semakin menyiksanya.
“Pasti Bang, tapi nanti” Suaranya lirih, melihat Fatih masih bergeming.
“Kapan?” Dan suara itu tertangkap penuh keputusasaan
“ Jika waktunya tiba, sekarang waktunya untuk introspeksi dulu. Mengambil keputusan tidak bisa buru-buru. Biarkan hati memberi ruang kemana hubungan kalian ujungnya. Sejalan atau berpisah dipersimpangan” Reno dengan kalimat bijaknya tidak mampu membuat Fatih menoleh padanya.
“Kemarin dia masih menyuapiku dengan tangannya, mengatakan iga bakarnya enak, Ren” Ahirnya Fatih menghampiri meja makan. Tapi tatapannya sekali lagi tanpa minat. Tampilan dan aroma makanan tidak menggugah seleranya. “Kebahagiaanku hanya sementara. Sekarang aku sadar kalau Anisa duniaku” Suaranya lemah putus asa. Senyuman wanita itu seperti menari indah dalam ingatannya. Suara lembut ketika bertanya apakah makanan yang disuapkan kemulutnya itu rasanya enak.
“Kalau begitu Abang makan dulu, saya akan temani mencari Nona” Berhasil, Fatih menatap Reno dengan penuh semangat. Senyumnya terbit. Dengan segera dia menyendok makanan ke mulutnya. Menelan habis tanpa sisa. Dengan tergesa ke kamar mandi. Semua gerakan tuannya tidak luput dari tatapan Reno.
__ADS_1
Tarikan nafas lega terlihat jelas, senyum bibirnya melengkung. Seorang petugas masuk membersihkan tempat hingga terlihat seperti semula. Pandangan Reno terpaku pada satu titik, dia membeku.
“Cih, kekanak-kanakan” Desisnya lirih. Baju Anisa terlihat diatas kasur. Reno tahu apa yang dilakukan laki-laki yang dipanggilnya Abang itu. melihat baju yang bertumpuk tidak beraturan tepat dibawah Fatih tidur. Baju cokelat khas andi negara teronggok di sana .
“Ayo” Suara Fatih mengalihkan pandangan Reno. Dia melihat laki-laki itu sudah segar. sangat berbanding terbalik dengan kondisinya ketika dia datang tadi.
“Masih terlalu pagi” Jawbanya santai, yang dihadiahi tatapan tajam dari Fatih.
“Apa masalahnya?”
“Nona NIsa orang pintar dia tidak akan keluar pagi-pagi buta”
“Bagaimana kalau dia tersesat sendirian di jalan. Terus kedinginan belum sarapan”
“Di dompetnya masih ada uang dan kartu kredit dan ATM. Hotel juga banyak bertebaran di ibukota”
“Apa yang harus aku lakukan”
“Saya sudah membekukan kartu ATM Nona. Tersisa kartu yang dari Abang. Kalau dia melakukan transaksi laporannya akan masuk ke ponsel Abang. Itupun kalau istri Abang tidak menyadari”
Sekali lagi Fatih mengakui kecerdasan Reno, dia tersenyum bangga sampai ahirnya Fatih menyadari sesuatu. “ Bagaimana kalau dia pakai uang cash” Wajahnya panik sejalan dengan pikirannya yang mulai ketakutan.
“Istri Abang tidak pernah menaruh uang cash lebih dari satu juta” Masih menjelaskan dengan gayanya yang tenang, Reno beranjak ke sofa. Dia meluruskan kakinya dengan tenang matanya tertutup perlahan.
Untuk hari ini laki-laki tinggi itu harus bekerja dua kali lipat. Memimpin rapat yang tiba-tiba ditinggal tuannya. Menyelesaikan laporan karena sudah dealine lagi-lagi laporan itu seharusnya Fatih yang memeriksa. Semua pekerjaan di tumpahkan di pundaknya.
Sekarang dia harus datang ke hotel setelah sempat tidur hanya dua jam, laporan dari pihak hotel bahwa Fatih tidak makan malam dengan keadaan yang kusut ketika datang tadi.
__ADS_1