MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
TAMU TAK DIUNDANG


__ADS_3

Pintu di rumah utama tiba-tiba terbuka dengan lebar, kepanikan melanda beberapa orang yang mengawal di belakang. Bahkan pengawal laki-laki yang bertiga di depan pintu terlihat menundukkan kepala setelah wanita itu berjalan dengan angkuh melewati pintu utama.


Sepi, tidak ada tanda-tanda seorangpun yang berada di dalam rumah. badannya berbalik dengan cepat setelah mendengar pintu di tutup dengan segera bahkan ketika dirinya baru beberapa langkah masuk.


“Atas perintah siapa mereka menutup pintu ketika aku masih berada di dalam” Gumamnya dengan wajah penuh amarah. Ini bukan seperti kebiasaan yang dia ajarkan pada Fatih. Pemandangan ini bukan sesuatu hal yang terjadi sebelum dirinya meninggalkan rumah ini dalam waktu yang lama.


Satu langkah saja dia masuk kedalam rumah beberapa orang sudah menyambutnya dengan hormat berbaris didepan pintu. Lengkap dengan kepala yang menunduk. Tapi hari ini, semua itu tidak dia dapatkan.


“Assalamualaikum, Nyonya siapa?” Sapaan lembut terdengar ketika kakinya hendak melangkah ke ruang utama. Wanita cantik dengan hijab warna teh susu di padu rok dan baju motif dengan warna dasar yang sama. Cukup menarik, wajahnya bersih sangat natural.


“Dimana suamimu?” Memasang wajah angkuh, karena menganggap wanita di depannya bukan levelnya.


Bagaimana bisa Fatih belum memperkenalkan dirinya pada istrinya. Wanita dengan wajah lugu ini terus menatapnya dengan senyum ramah.


“Suami saya belum pulang, biasanya jam enam baru tiba di rumah. apa Nyonya mau menunggu?” Anisa berusaha tenang. Walaupun wanita di depannya ini tidak memperkenalkan diri, dia harus tetap ramah bukan. “Saya buatkan minum, tunggu sebentar. Silahkan duduk” Sampai lupa mempersilahkan tamunya duduk.


Apapun yang terjadi di rumah ini dia harus menghandlenya sendiri. Kalau di rumahnya dulu, semua urusan tamu Ibunya yang turun tangan, Nisa akan keluar kalau tamu itu dia kenal. Tapi hari ini dia yang akan menyambut tamu, karena itu tugas tuan rumah.


“Dimana semua pelayan di rumah ini?”


Anisa menghentikan langkahnya sebelum mencapai ruang tengah, dia bingung bagaimana seorang tamu bisa tahu semuanya. “Mereka istirahat, sudah kembali ke tempatnya”


“Istirahat, masih sore mereka istirahat. Bagaimana bisa mereka bekerja sesantai ini” Suara Nyonya Maura meninggi mendengarkan pelayan sudah beristirahat sementara tuannya masih terjaga dan hari masih sangat sore.


“Saya yang menyuruh mereka istirahat, kasihan. Pasti lelah setelah bekerja seharian” Ucapnya menundukkan wajah. Setelah melihat tatapan mengintimidasi lawan bicaranya.


“Mereka bekerja di bayar mahal untuk melayani, bukan untuk istirahat. Panggil mereka, katakan saya datang” dengan nada yang lebih tinggi dan wajah angkuhnya dia berucap.


“Maaf nyonya siapa?” pertanyaan Anisa mendapat tatapan tajam dari


“Bahkan suamimu tidak memberitahumu siapa aku, mengenaskan?” cibirnya, dengan senyum yang sinis. “Katakan pada mereka Nyonya Maura datang?” Lanjutnya dengan wajah angkuh.


“Nyonya Maura, kayak pernah dengar tapi di mana ya?” Gumamnya sambil matanya melirik ke atas mengingat di mana dia pernah mendengar orang menyebut perempuan di depannya.


“Panggil saja mereka, suruh buatkan minuman” Suaranya memecah ingatn Anisa.


“Maaf Nyonya, biar saya yang membuat minuman , kasihan mereka baru saja istirahat “ Jawabnya hendak berlalu.

__ADS_1


“Kamu, mau membuat minuman untuk saya. Saya tidak yakin kamu tahu selera saya”


“Bagaimana kalau jus wortel jeruk di mix” Anisa hanya mencari ide untuk membuat tamunya menunggu suaminya pulang.


“Bagaimana kamu tahu kalau saya suka minum jus?” Ini menarik. Dia belum mengatakan apapun tapi wanita didepannya sudah tahu minuman kesukaannya. Nyonya Maura memang penyuka minuman jus buah tanpa tambahan gula, apapun buahnya dia sangat suka.


“Saya hanya menebak, dengan tubuh Nyonya yang sangat bagus begini tidak mungkin minum dengan tambahan gula”


“Saya ingin tahu seperti apa jus buatanmu”


“tunggu disini sebentar”


“Kamu mau kemana, bukankah saya tamu?”


“Saya akan membuatkan minumannya”


“Mengapa kamu mau susah turun ke dapur, padahal suamimu sudah membayar mahal pelayan di rumah ini”


“Melayani suami termasuk kewajiban istri, bukan”


“Saya tahu, tapi terlihat cantik di depan suami tanpa harus susah payah dengan bau asap kompor dan bumbu dapur yang menyengat juga termasuk kewajiban yang bisa menyenangkan suami”


Anisa tersenyum mendengar jawaban lawan bicaranya. Dia memang tahu kalau latar belakang yang jauh berbeda mengakibatkan cara berpikirnya juga berbeda.


“Minuman buatan istri dengan pelayan akan mempunyai rasa yang berbeda bagi suami sekalipun diracik dengan takaran bahan yang sama persis” Jawabnya santai.


“Apa maksudmu?” Semakin penasaran dengan jawaban Anisa.


“Ketika kita datang membawa segelas minuman dengan tersenyum ketika suami lelah setelah pulang bekerja, percayalah ada kebahagiaan yang tidak bisa diungkap . Mereka akan merasa kita memberikan perhatian lebih walaupun hanya segelas air putih. Ada cinta yang kita suguhkan lewat gelas itu, ada kehangatan yang menyambut lelahnya setelah berjuang di luar sana” ucapnya dengan senyuman tulus.


“Siapa yang mengajarimu tentang itu semua?”Tanyanya penasaran


“Ibu saya, beliau mempekerjakan orang hanya untuk membantu membersihkan rumah. bukan untuk mengambil alih semua tugas istri” Memasukkan potongan wortel dan perasan jeruk kedalam blander.


Suara alat penghalus buah itu terdengar menghentikan pembicaraan mereka sesaat. Masing-masing terdiam hanyut dalam pikirannya sendiri. Menuangkan ke gelas setelah alat penghapus buah berhenti. Mengambil tatakan dan nampan. Nisa membawanya ke meja makan, temoat tamunya duduk dengan diam.


“Saya tidak pernah menemui tamu di dapur. Rasanya kurang sopan bagi saya sebagai tuan rumah” meletakkan gelas di hadapan Nyonya Maura.

__ADS_1


“Terima kasih” Menerima dengan sisi berwarna orange di hadapannya.


berbicara tentang kelas dan status sosial Nyinya Maura akan mengakui kalau dialah pemenangnya. Tapi berbicara tentang suami dan dapur dia mengaku kalah. Bahkan dirinya lupa kapan terahir kali turun ke dapur hanya untuk mengambilkan air putih untuk suaminya. baginya uang sudah sangat membantu. Cukup hanya dengan satu teriakan, maka seorang pelayan akan datang membawakan apa yang diminta suaminya.


Dia merasa tertampar dengan kenyataan, bahwa tidak semua hal bisa di lakukan dengan uang. Limpahan materi tidak serta merta membuatnya bangga telah mempekerjakan pelayan yang begitu banyak. Tapi demi gengsi dirinya tidak akan pernah mengakui apapun di hadapan Anisa.


“Silahkan di minum” Anisa mempersilahkan setelah menaruh nampan kembali ke belakang. “ Jadi, ada perlu apa Nyonya datang kesini?” Tanyanya lagi, kalau hanya mencari suaminya Anisa yakin kalau wanita di hadapannya ini pasti tahu jam kantor.


Nyonya Maura tidak bisa berbohong, jus buah ini rasanya sangat segar, aroma menyengat dari wortel melebur dengan aroma segar buah jeruk. rasa manis yang alami membuat perpaduan rasa yang sempurna.


“Saya sengaja datang ingin bertemu dengan kamu” Wajahnya sudah tidak sinis seperti pertama kali datang. Tapi tatapannya belum ramah. Dia tidak ingin mengakui kalau jus buatan wanita didepannya ini benar-benar nikmat.


“Ada hal penting apa yang ingin disampaikan hingga anda bersusah payah datang ke sini. Saya yakin waktu bagi orang seperti Nyonya ini sangat berharga”


“Kamu tahu, belum pernah ada orang asing yang berani manatap wajah saya ketika berbicara, saya acungi jempol atas keberanianmu”


“Saya tuan rumah dan anda adalah tamu. Sangat tidak sopan kalau saya harus berbicara dengan memalingkan wajah”


“Saya tahu semua hal tentang rumah ini dan semua isinya sebelum kamu datang. Bahkan saya yang mengatur semua yang berjalan disini”


“Saya adalah Nyonya di rumah ini” jawab Anisa penuh keyakinan. Karena perintah suaminya bahwa semua yag terjadi di rumah utama dirinyalah yang harus mengatur dan semua pelayan dan orang yang bekerja disanaa harus patuh.


“Kamu terlalu yakin Anisa. apakah suamimu mencintaimu, apakah kamu tahu mengapa dia menikahimu?” Anisa di sambar kenyataan pahit. Dia yang berusaha tidak mengingatnya lagi harus di hempaskan pada kenyataan bahwa dia tidak menemukan jawaban wanita didepannya.


“Apapun alasannya saya tidak peduli, yang jelas sekarang saya adalah istri sah seorang Fatih Gilang Wiryawan” Dia adalah pemilik semuanya, Anisa tidak ingin menampakkan wajah lemah di hadapan tamunya yang dari tadi dia tahu memang tidaklah ramah.


Menyembunyikan cengkraman kuat di dadanya, sakit yang tidak bisa di bilang sederhana. Nyonya Maura telah memukul telak harga dirinya sebagai wanita dan sebagai istri, menghempaskan pada titik terendah dalam hidupnya.


Seharusnya dia sudah bisa memperhitungkan keadaan ini, nyatanya dirinya tidak siap dengan pertanyaan yang tiba-tiba. Dengan susah payah dia menyembunyikan rasa sakit ketika tahu Fatih tak pernah mengatakan cinta padanya, bahkan tidak di depan siapapun. Dia hanyalah istri bukan wanita yang dicintai Fatih. Kedoknya menjalankan peran sebagai istri yang baik hampir runtuh dihadapan wanita dengan rambut sebahu itu.


“Saya harap kamu tidak akan kecewa setelah nanti mengetahuinya. Satu lagi, jangan katakan apapun pada suamimu kalau saya datang kesini, saya yakin kamu akan melakukan perintah saya dengan baik” Lanjutnya dengan dagu terangkat.


“Di rumah ini dilengkapi banyak CCTV, suami saya pasti sudah tahu kedatangan Nyonya kesini tanpa saya beritahu” Menantang tatapan itu dengan santai. Padahal hatinya sedang bergemuruh setelah pukulan telak kalimat yang di lontarkan Nyonya Maura.


“Tidak ada CCTV di rumah utama setelah kedatanganmu ke rumah ini, rupanya kamu belum mengenal suamimu Anisa” Di tatapnya Anisa dengan wajah mencibir.


Dia berdiri setelah menandaskan minumannya dengan tegukan panjang. Melangkah dengan langkah pasti menuju ruang utama dan ahirnya sampai di pintu keluar. Dilihatnya pintu itu setelah pengawal menutupnya kembali.

__ADS_1


Kalimat pedas, tabungan kalimat dengan penuh cacian harus dia telan kembali setelah mengetahui seperti apa wanita yang dinikahi anak angkatnya. Tidak berkelas seperti dirinya tapi mempunyai atitude dan harga diri yang patut di banggakan. Satu lagi, dia sudah menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan baik. Harga dirinya baru saja tertampar, tapi wajah angkuhnya sudah mampu menutupi kekalahannya di depan Anisa. bahkan dia lupa kapan terahir kali turun ke dapur sekedar membuatkan teh hangat untuk suaminya.


“Akan sangat sulit memisahkan Fatih dari wanita itu, sekarang aku baru tahu mengapa Fatih memperjuangkan wanita itu dengan gigih. Tapi aku tidak boleh menyerah” Gumamnya setelah keluar dari pintu.


__ADS_2