MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
KELUARGA


__ADS_3

Masuk kedalam rumah dengan hati yang panas, Nisa merasa direndahkan. Enak saja laki-laki itu bisa datang dan pergi sesuka hatinya. Dia pikir dirinya akan tergugah. tentu saja tidak.


"Datang mukanya ditekuk, ada apa nak" sapaan sang ibu terdengar ketika melewati meja makan.


"Nisa mandi dulu bu, gerah" tanpa menoleh Nisa berlalu


"Nis, duduk dulu kalau diajak ngomong sama orang tua" suara lembut itu mencoba menghentikan langkah Nisa, tapi gadis itu terlalu cepat berlalu hingga masuk ke kamarnya


"kalau ibu setuju kamu jemput dia Mir, bawa pulang jelaskan semuanya. jangan biarkan kesalah pahaman ini berlanjut. Kasihan Rania" sayup suara itu terdengar di telinga Nisa ketika hendak keluar kamar. Nisa tahu siapa yang dibicarakan ibunya.


"saya akan bantu sebisa saya bu, tapi saya tidak bisa menjanjikan apapun" suara berikutnya yang membuat Nisa terkejut.


"tidak mungkin, untuk apa dia disini" gumamnya.


Rasa penasaran menarik pelan kakinya menuju ruang makan. Bagai ada, yang menyiram dengan es, Nisa terkesiap. netranya tidak salah. Laki-laki itu duduk disana menyantap hidangan di meja makan dengan tenang.


Dia mengintip dari celah pembatas ruang makan dan ruang keluarga. Secepat kilat berlari kembali masuk ke dalam kamarnya. Dadanya berdetak kencang, bukan karena sedang bahagia. Detakan ketakutan, laki-laki di ruang makan itu menceritakan apa yang telah mereka lalui selama ini. Tentang pertemuan, dan niatnya untuk melamarnya waktu itu.


"Nis, ada nak Fatih, keluarlah temui dia" ketukan disertai panggilan sang ibu, semakin membuat Nisa cemas.


apa yang harus dia lakukan sekarang, Pura-pura tidak mendengar rasanya tidak mungkin, kamarnya bukan kedap suara.


"Hargai tamu nak, cepatlah" Nisa yakin kalau dia tidak segera ke luar. maka ketukan berikutnya akan semakin terdengar lebih keras.


"kan cukup ibu sama abang saja, kenapa harus Nisa" protesnya. Gadis itu tidak punya alasan untuk tidak membuka pintu.

__ADS_1


"kalian kan saling kenal waktu dirumah sakit, temuilah sekedar menyapa kan tidak ada salahnya" Tidak akan sekedar menyapa, Nisa yakin laki-laki itu sekarang merasa diatas angin, karena mendapatkan sambutan hangat dari ibunya.


"Apa kabar Nisa" kalimat pembuka setelah Nisa duduk di meja makan.


"baik" menjawab tanpa menoleh. Mencari aman, Nisa tidak sudi ber ramah tamah dengan Fatih. laki-laki yang telah mengikatnya dengan hutang tidak masuk akal. Hutang yang dia mampu bayar, tapi tidak mau dibayar. Apa namanya kalau bukan untuk menyengsarakannya.


"Saya baru tahu kalau masakan ibu se enak ini, mungkin saya akan sering mampir nanti. bolehkan bu" ucapan itu mampu mengangkat wajah Nisa. menatap tajam pada pemilik suara. senyum kemenangan terlukis disana


"oh, tentu dengan senang hati ibu akan menyambut, katakan saja mau di buatkan masakan apa kalau nak Fatih mampir kesini" jawaban ibunya menambah kegusaran hati Nisa. Nisa menyimpan rasa kesal itu sendiri, bagaimana bisa laki-laki ini bertamu ke ruang makan. Bukannya duduk manis di ruang tamu. benar-benar kelakuannya semakin menambah gulungan benci di hati Nisa.


"apa tidak ada yang marah nantinya" lihatkan, tatapan mengejek itu Nisa tangkap. kembali menunduk karena dia tidak suka ber sitatap dengan laki-laki sombong di hadapannya.


"Santai lah, anggap rumah sendiri" apa-apaan ucapan abangnya. Kalau itu terjadi artinya Fatih akan keluar masuk dengan seenaknya dirumah ini. Tidak bisa dibiarkan. Nisa harus mencari cara.


"enggak bisa gitu bang, orang luar tidak bisa dibiarkan masuk dengan seenaknya di rumah ini. Nisa nggak nyaman" protesnya. memang begitu bukan.


Sempurna, baginya jalan itu sudah terbuka semakin lebar. Hatinya semakin jatuh terlalu dalam pada gadis dihadapannya sekarang. Fatih sekarang tahu, seperti apa wanita idamannya dibesarkan. Dalam keluarga bahagia penuh kehangatan.


Fatih tersenyum bahagia melihat wajahnya masam Anisa. saat ini Anisa tidak punya pilihan selain mengiyakan Jawaban sang ibu.


"Tidak ada ikatan darah jadi tidak bisa dikatakan saudara, orang luar ya tetap tidak bisa masuk terlalu jauh di keluarga ini" jawaban ketus Anisa. memaksa semua mata menatap tajam ke arahnya. kecuali Fatih, yang tersenyum dengan tatapan penuh kekaguman pada gadis yang sedang merajuk saat ini.


"Ada apa sama kamu nak, aneh sekali. tidak pernah sekalipun kamu tidak sopan pada tamu ibu, tapi ini apa yang terjadi sama kamu? " ibunya merasa heran. Nisa yang dikenal nya baik dan sopan, bisa mengeluarkan kata- kata se sarkas itu di hadapan Fatih.


"Sebenarnya begini bu, saya dengan Anisa... " Fatih angkat bicara

__ADS_1


" oiya, maaf bu, Nisa banyak pikiran. jadi Nisa tidak bisa berpikir jernih" potong nya cepat. Nisa khawatir laki-laki itu menceritakan bagaimana hubungan mereka akhir-akhir ini.


"silahkan lakukan apa yang menurut ibu Baik" jalan tengahnya pasrah. menghindari kecurigaan orang dirumahya.


"Terima kasih karena ibu sudah menerima saya dengan baik, saya juga suka ayam balado buatan ibu, rasanya enak" Setelah hari semakin sore, berpamitan dengan bahagia. Fatih mendapatkan banyak kebahagiaan pada hari ini.


"tidak usah berlebihan itu hanya menu biasa untuk nak Fatih, ibu tadi bingung mau masak apa, jadi ibu coba menu itu. kebetulan itu juga masakan kesukaan Anisa" berjalan beriringan menuju pintu keluar.


Fatih menghentikan langkah


"oyah, mulai hari ini saya akan memasukkan ayam balado buatan ibu ke daftar makanan kesukaan saya" nah kan, ngelunjak jadinya. baru bertamu satu kali saja. Fatih sudah mengambil perhatian dengan cara norak. itu menurut pemikiran Anisa


"biar aku yang berangkat dulu, setelahnya aku serahkan sama kamu mir, tapi kalau kamu butuh bantuan jangan sungkan. aku tahu betul karakter Syafira. Wanita kerasa kepala yang tidak mudah goyah. Kalau ada kesulitan kita akan cari cara bagaimana dia mau pulang, mungkin dengan sedikit paksaan" Tatapan serius Fatih untuk Amir.


"apa itu tidak terlalu berlebihan" ada nada cemas dari Amir. Dia khawatir istrinya akan semakin membencinya nanti


"Dengan cara yang halus, sehingga mereka tidak menyadarinya" Fatih meyakinkan. mendapat anggukan setuju dari Amir. Dia tidak bisa terlalu lama lagi menunggu. setelah mengetahui keberadaan sang istri. Rindu yang terpendam itu harus segera terobati dengan pertemuan.


Tekad Fatih bulat untuk membawa pulang Syafira dan Rania. Karena dia tidak ingin menunda waktu lebih lama lagi untuk memiliki Anisa Seutuhnya. meskipun rencana itu masih dia simpan dalam hatinya. Toh, wanita pujannya itu sekarang sedang tidak terikat hubungan apapun dengan siapapun.


Fatih tidak ingin egois, mengedepankan kepentingannya, sementara kemelut keluarga calon Iparnya masih belum tuntas.


"Saya permisi dulu bu, Terima kasih" Pamitnya sekali lagi. berjalan keluar. Ada yang menarik menurut Anisa, Laki-laki sombong itu datang sendiri tanpa asisten tanpa sopir.


" Hati-hati, kalau ada waktu sempatkanlah mampir" ucapan sang ibu mendapat lirikan tajam dari Anisa. Dan pemandangan itu tidak luput dari pantauan Fatih. Sebisa mungkin dia menyimpan senyuman itu.

__ADS_1


Sampai akhirnya Fatih masuk kedalam mobil, membunyikan klakson dan mobil melaju pelan setelah mendapat lambaian tangan dari ibu Anisa


" Nyetir sendiri bisa, mengapa kemana-mana harus di kawal. manja!!! " sungut Anisa dalam hati.


__ADS_2