
Orang sesempurna Fatih masih butuh kekuatan, apa yang terjadi dengan hidup pengusaha muda ini sebenarnya. Bagaimana dengan orang yang selalu menempel pada Fatih. Laki-laki yang seolah selalu menjadi bayangan dimanapun Fatih berada.
“Reno” tanpa sadar kalimat itu keluar. Hadiah tatapan bingung dari fatih menghujam. “Ada yang salah dengan pertanyaan saya” lanjutnya setelah melihat kebingungan dari wajah Fatih.
“Dia hanya orang yang bekerja untuk saya, ada batasan yang tidak bisa Dia lampui. Sekarang sedang di kantor pusat kalau kamu ingin tahu” Pantas saja mereka tidak terlihat sepasang.
“saya masih punya tugas di kantor cabang. Misi menaklukkan kerasnya hati seorang wanita karena ketakutan yang tidak jelas” melepaskan pergelangan tangan Anisa dengan perlahan. Semakin lama memegang tangan itu hatinya semakin berdebar. Mungkin iblis sedang menari erotis di atas kepala Fatih. Menggoda pemuda itu untuk berbuat lebih. Melepaskan pegangan itu adalah jalan terbaik demi menghindari akal sehatnya melemah.
Wanita itu menatap tangan yang sudah ada di pangkuannya, ada sedikit kecewa kala tidak ada lagi pegangan, perasaan nyaman itu hilang. Seandainya tidak tahu malu ingin rasanya dia meminta tangan itu kembali di tautkan. Percayalah ego perempuan lebih tinggi dari keinginannya.
“Tanganmu dingin, mungkin terlalu lama saya pegang” kembali senyum usil terbit dari wajah Fatih. Dia tahu Anisa sedang gugup hanya karena sentuhannya.
“Mungkin pendingin ruangannya terlalu rendah” mencoba menghilangkan ke gugupan di dadanya. Sejak tadi memang debarannya tidak beraturan. Hembusan nafas berat anisa seolah ingin melonggarkan himpitan sesak di dadanya. kondisi tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Dia tidak ingin tergoda terlalu jauh.
“Apakah aku orang pertama yang memegang tanganmu” tatapan Fatih bagai pedang yang menghunus jantung Anisa. “Terima kasih karena sudah menjaganya” lanjutnya lagi dengan suara pelan setengah berbisik.
“Saya menjaga setiap yang ada dalam diri saya untuk calon suami saya kelak, jadi jangan terlalu percaya diri” walau nadanya sinis, wajah bersemu Anisa tidak dapat disembunyikan. Fatih tersenyum. meskipun sekilas dia melihatnya. Pipi yang memerah seperti tomat sudah menjawab semuanya.
“ Terima kasih, saya merasa mendapatkan kehormatan” sekarang kepalanya miring, demi melihat wajah Anisa yang terlihat semakin menunduk menyembunyikan rasa malu.
“Kita hanya berdua, godaannya terlalu berat. Saya permisi pulang” berdiri, percayalah hanya ingin menghilangkan kegugupan di hatinya. Tatapan Fatih mulai melumpuhkan sebagian syaraf Anisa. Entah mengapa dirinya merasa tiba-tiba menjadi lemah. Keinginan untuk marah seperti tujuan awal kedatangannya, sirna.
“Kita akan makan malam, saya akan menyuruh orang membawa motormu. Berikan kuncinya” Fatih menadahkan tangannya.
“Tapi saya tidak bisa, ibu akan cemas” tiba-tiba Fatih mendial ponselnya.
Tanpa perintah laki-laki itu meminta ijin membawa Anisa makan malam.
__ADS_1
“selesai" memasukkan gawai kedalam sakunya. "Berikan kuncinya” kembali tangannya menadah. Dengan berat hati Anisa mengulurkan benda dengan gantungan stroberry warna pink.
Berdiri hendak keluar ruangan dengan beriringan, Fatih menghentikan langkahnya tiba-tiba. “Berjalan disebelahku” perintahnya tanpa melihat kearah Anisa. Perubahan wajah Fatih menjadi dingin membuat Anisa sedikit mengerutkan dahinya.
Benar saja gedung yang tadinya sepi sekarang mulai ramai, karyawan terlihat berlalu lalang. Anisa baru manyadari kalau ini jam pulang kantor. Pantas saja wajah Fatih berubah.
Semua orang yang berpapasan dengan mereka menunduk dengan hormat. Anisa melakukan hal yang sama. Gadis itu menunduk tak lupa senyum ramah menghiasi bibirnya sepanjang langkah mereka.
“Bawa motor ini, kerumahnya. Biarkan saya membawa mobil sendiri” perintahnya pada laki-laki yang menunggu didepan pintu mobil yang sudah terbuka. Laki-laki itu mengambil kunci dari tangan Fatih, setelahnya menunduk dan berlalu dari hadapan mereka.
“Mereka terkesan, kamu mendapat banyak pengagum hari ini” tanpa menoleh karena pandangan Fatih fokus pada jalanan.
“Mereka, siapa?” Anisa bingung. Dia tidak melakukan apapun bagaimana bisa ada orang yang kagum.
“Kamu tidak mendengar mereka berbisik dibelakangmu?” tentu saja Anisa tidak tahu. “ Aku memang tidak salah memilih, bahkan kalimat itu terdengar dengan jelas” senyum mengembang dari wajah Fatih. Untuk kesekian kalinya laki-laki itu merasa tidak salah menentukan pilihan bahkan karyawannya pun memuji sifat rendah diri wanitanya.
Anisa menoleh, tatapannya penuh haru. Malu, tapi rasa hangat itu tak bisa dicegahnya. Apakah dirinya sudah mulai jatuh cinta atau hanya kekaguman sesaat. Bahkan berkali-kali pertanyaan itu di ajukan pada dirinya. Tidak pernah Anisa menemukan jawaban pasti. Secepat itukah dia jatuh cinta pada laki-laki ini. Begitu gampangnya tembok kokoh yang dia bangun runtuh hanya karena Fatih memperlakukannya dengan lembut.
Hari ini Anisa tidak punya pilihan, hatinya menolak keras untuk membenci Fatih. Untuk saat ini akalnya tidak bisa diajak berpikir untuk mencari kelemahan Fatih. Justru dadanya berdebar indah, pelan tapi mampu melumpuhkan syaraf-syaraf di tubuhnya. Seolah ada jutaan kupu-kupu mengelilingi hatinya. Mengapa rasa ini dia rasakan sekarang. Bahkan, ketika bersama Aldo pun dia tidak pernah merasakan hal seindah ini.
“Aku rindu kamu memakiku, berkata kasar, bahkan rindu tatapan penuh kebencian. Beberapa hari ini kehilangan semuanya” lantunan kata itu semakin menambah getaran di hatinya. Ada rasa hangat merambah di kedua pipi gadis itu. Percayalah Fatih hanya ingin menggoda gadisnya. Seolah ingin menunjukkan keberhasilannya mengubah wanita keras kepala menjadi wanita lembut seperti kodrat yang sesungguhnya.
Seindah inikah orang jatuh cinta, jangankan membenci untuk berkata saja lidahnya tidak mampu. Bahkan jutaan kupu-kupu itu masih mengelilingi hatinya, mungkin jumlahnya semakin banyak sekarang. Kemana perginya rasa benci. Anisa tidak tahu. Hatinya melemah, bahkan jantungnya ikut berdegup dengan indah. Manisnya rasa cinta itu baru Nisa rasakan sekarang.
“Apakah saya akan kehilangan segalanya ketika mencintai. Maksudnya, apakah tuan akan meninggalkan saya ketika saya menyerahkan hati saya untuk Tuan?” Nisa tidak tahu dari mana datangnya kalimat yang baru saja keluar dari bibirnya. Dia menutup mulutnya tiba-tiba, bahkan matanya tertutup, menyesal dan rasanya ingin kembali menarik kalimatnya.
Sayangnya sudah terlambat. Jarak mereka terlalu dekat, sehingga kemungkinan Fatih tidak mendengar terlalu kecil. Walaupun suaranya sudah di buat sepelan mungkin.
__ADS_1
Fatih menginjak rem, kakinya reflek menekan kuat benda dibawah kakinya setelah mendengar kalimat Anisa. Dia memutar badannya menghadap wanita disebelahnya. Wajah menggemaskan, karena matanya tertutup rapat setelah kalimatnya tadi. Apakah wanita ini sadar dengan kalimatnya. Mengakui bahwa dirinya jatuh cinta. Di tatapnya lekat wajah yang masih merapatkan matanya. Menunggu terbuka, Fatih ingin mencari kejujuran disana.
“Apakah kamu mencintaiku” pertanyaan Fatih mampu membuka mata Anisa. Dengan malu kelopak itu melebar, menutup mulut seolah Anisa sedang salah berucap. Dia ingin menarik semuanya. Namun terlambat, bahkan untuk kali ini pun isi kepalanya seolah tidak mau diajak kerja sama
“saya tidak tahu, tapi saya takut ketika semuanya terjadi Tuan akan meninggalkan saya begitu saja. Menyakiti tanpa perasaan. Menghianati kepercayaan saya, meninggalkan luka yang mungkin saya tidak akan mampu menanggungnya” sudah terlanjur, biarkan Dia mengutarakan apa yang menjadi ketakutannya saat ini.
“Apakah saya terlihat seperti itu, laki-laki kejam seperti yang kamu sebutkan” menjawab pertanyaan dengan pertanyaan bukan kebiasaan Fatih. Tapi wanita disebelahnya membuatnya bingung dengan ketakutannya.
“Bang Amir mencintai Kak Fira setengah mati, bahkan dari awal menikah semua hal Abang lakukan untuk Kak Fira. Melarangnya bekerja, cemburuan. Kerja keras dari Nol demi kebahagiaan Kak Fira. Pada ahirnya Abang menghianati melukai wanita yang dia cintai sedemikian rupa” kalimatnya terjeda nafasnya di tarik demi menghilangkan sesak di dadanya mengingat bagaiman terluka dan pasrah kakak iparnya setelah penghiatan laki-laki yang di panggilnya suami itu. “Saya bukan wanita yang kuat seperti kakak ipar, ketika disakiti masih akan bertahan dalam satu atap dengan sumber rasa sakitnya. Bahkan dia bertahan karena cintanya pada Abang. Berdalih demi status. Percayalah lidah wanita mampu menutupi rasa sakit dengan kalimat “tidak apa-apa”. Tapi tidak dengan hatinya. Suatu saat ketika lelah itu datang. Kalian laki-laki sekalipun merangkak dan meraung hingga menangis darah. Semuanya tidak akan kembali lagi. Jangan menorehkan luka terlalu dalam. Bisa sembuhin tapi tidak dengan bekasnya. Selamanya akan kami ingat” Amarahnya hampir tak terkendali. Anisa menahannya dengan menekan nafas hingga suaranya bergetar.
“ Dan laki-laki, tidak terlihat setegar itu setelah menyakiti belahan jiwanya, bahkan rasa sakit itu kami rasakan lebih menyayat di setiap tetesan air mata yang kalian keluarkan. Ego kami lebih tinggi. Itulah yang menyebabkan kaum kami terlihat lebih tegar. Padahal hancurya jauh lebih berserakan. Dan kamu ingat apa yang terjadi dengan abangmu setelah ditinggalkan belahan jiwanya. Ruang ICU menjadi tempatnya untuk memperjuangkan kesempatan hidup yang telah punah” Fatih ingin memberitahu gadis disebelahnya, bahwa luka setelah kesalahan yang mereka lakukan tidak serta merta mengantarkannya pada kebahagiaan.
Ada sisi kehancuran yang coba mereka tutupi dengan sempurna. Tapi tidak dengan rasa kesepian dan kehilangan. Dan yang terahir hanya kata penyesalan yag mereka dapatkan setelah semuanya terlambat. Tidak ada laki-laki yang benar-benar bahagia setelah Dia berhianat percayalah.
“kita tidak akan membahas orang lain, aku akan berusaha menjadi orang pertama yang menghapus lukamu ketika itu terjadi”
“sekalipun luka itu anda penyebabnya” tamparan keras bagi seorang Fatih. Dia baru menyadari bahwa ketakutan Anisa karena trauma dengan rumah tangga Abangnya bukan hal yang bisa disepelekan.
“Tapi mereka lebih bahagia setelah badai itu datang” mencari pembelaan demi mengahous ketakutan Anisa
“Apa saya akan terluka terlebih dulu, sebelum bahagia. Apa memang begitu konsep berumah tangga” mengungkapkan semua sebelum Fatih ingin melanjutkan niatnya lebih jauh.
Karena tidak semua wanita menerima penghianatan, seberapa keras pengorbanan laki-laki untuk mengembalikan itu semua. Cukup wanita tahu bahwa mencintai pasangan hidup dengna tulus tidak serta merta akan membuat mereka bahagia dan menciptakan rumah tangga yang sempurna. Seharusnya, perasaan cinta laki-laki jauh lebih kuat, maka semua cobaan kehidupan rumah tangga bisa di lalui dengan ringan.
***
mohon maaf kakak, tidak bisa Up tiap hari, sibuk ngurus perpisahan anak saya happy reading 😍
__ADS_1