MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
PENEBUS HUTANG


__ADS_3

“Halo Nis, sombong ya. Enggak kasih tahu aku. Kejam banget sih jadi teman. Tapi tidak apa-apa aku ikut senang, selamat ya. Nyonya Fatih” suara disebrang yang begitu panjang, Anisa tidak bisa menjawab, bagaimana sahabatnya tahu tentang pertunangannya.


“Tahu dari siapa chik, tapi janji jangan kasih tahu yang lain ya. Oiya Wisnu tahu nggak?” senyum Nisa mengembang, ngobrol dengan chika memang tidak akan ada bosannya, akan ada banyak tema yang mereka bicarakan, mulai dari gosip teman-temannya, makanan, baju aksesoris tas, memang apalagi yang menarik bagi cewek selain hal itu semua.


“Justru Aku tahu dari Wisnu, seminggu lagi kan. Aku seneng banget dengernya. Selamat sayang jangan lupa undangannya di tunggu” Mungkin Chika belum tahu kalau pertunangannya sudah di lakukan. Nisa merasa bersalah belum ngasih tahu Chika.


“Maaf ya chik, aku belum sempat cerita. Sebenarnya sudah kemarin waktu Dia jemput aku di cafe waktu bareng kalian, masih ingatkan. Aku nggak tahu kalau mereka sudah nunggu aku. Sederhana saja sih, Cuma ngasih cincin sebagai pengikat udah selesai” Raut wajah Anisa penuh rasa bersalah. Dirinya merasa tidak enak sama chika. Untuk hal sepenting itu bagaimana Dia bisa lupa.


“Ck, bukan itu" Chika berdecak "Kalau acara itu kan kamu sudah cerita sama aku, yang malam telpon aku nangis-nangis bilang belum siap, siapa hayo, masak lupa, aneh deh” Nisa menepuk keningnya, bagaimana bisa lupa, kalau orang yang pertama dia kasih tahu hanya Chika. Dengan nangis pula. Terus yang chika maksud seminggu lagi apa?


“Kenapa baru ngucapin sekarang, seminggu lagi emang ada apa?” wajah Anisa bingung bahkan sekarang banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.


“Aduh, Aduh Nisa, sandiwara mu basi banget. Atau emang kamu sengaja nggak ada niat ngundang aku. Mau diam-diam lagi kayak acara lamaran kemarin, tega kamu ya” Nisa tambah bingung. Apa yang harus Dia katakan kalau memang dirinya tidak ada rencana apapun seminggu kedepan.


“Sumpah Chik, minggu depan aku nggak ada rencana apa-apa” sebenarnya Anisa tidak yakin dengan ucapannya. Mendengar kemarahan chika disebrang dia merasa bingung.


“Sandiwaramu basi tahu nggak” sekarang nada disebrang sudh mulai gusar. Nisa frustasi chika menuduhnya bersandiwara untuk apa?


“Aku beneran nggak ada rencana apa-apa, percaya deh. Aku kan selalu cerita apapun sama kamu, tapi yang sekarang aku bener-bener nggak tahu” Nisa sama frustasinya dengan chika.


“Masak Wisnu bohong, buat apa?”


“Emang Wisnu bilang apa?


“Minggu depan kamu mau nikah sama Abangnya”


“Hah, hahaha” Nisa terbahak dengan keras, di segera menutup mulutnya dengan tangan. Dia sadar ini ruang guru, tidak ingin mengganggu teman-temannya, yang lain sedang kerja.” Si Wisnu kamu percayai, sejak kapan. Kamu kenak prank sama Dia” memegang perutnya yang mulai kram karena menahan tawa.

__ADS_1


“Dia nggak bercanda, wajahnya stress banget tadi waktu ketemuan di cafe, dia yang ngundang aku buat bicarain ini”


“Kalian ketemu, bukan telponan”


“iya, kirain ada apa tiba-tiba wisnu minta ketemuan sama aku di cafe biasa” Chika menjelaskan “Dia, kayak nggak rela gitu, emang kamu nggak tahu beneran atau mau ngasih kejutan lagi kayak kemarin”lanjutnya.


Sekarang Nisa mulai percaya dengan apa yang dikatakan sahabatnya, ini bukan candaan seperti dugaan sebelumnya


“Aku beneran nggak tahu Chik, ya sudah aku tutup dulu ya” hatinya mulai tidak nyaman. Dia tidak ingin percaya dengan Chika tapi apa yang dijelaskannya seolah membenarkan semuanya.


Tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Kepalanya berdenyut kencang. Apa yang harus dilakukan kalau semua yang di katakan chika memang benar.


“Permisi saya pulang duluan pak, tiba-tiba badan saya tidak enak” Pamitnya pada kepala sekolah. Bukan hanya badannya yang tidak enak, tapi psikisnya lebih sakit lagi. Kabar yang datang tiba-tiba menyangkut dirinya justru Dia tahu dari orang lain.


Nisa tidak ingin berburuk sangka sebelum kebenarannya terungkap. Bisa saja Wisnu niat bercanda atau ingin mengusili chika. Tapi, kalau memang benar, seharusnya Dirinya orang yang pertama tahu, bukankah ini menyangkut masa depannya. Tidak ingin pikirannya berkembang liar dengan menebak secara acak, pulang adalah jalan terbaik. Menanyakan semua pada ibunya. Nisa yakin wanita yang melahirkannya itu sudah tahu, atau bisa juga bernasib seperti dirinya yang tidak tahu apa-apa.


“Bu,,,” panggilannya berulang dia berkeliling ke dapur, ruang belakang. Kamar, mungkin saja ibunya sedang istirahat. Nisa tidak tahu kebiasaan ibunyai di siang hari ketika dia bekerja.


Membuka pintu tanpa mnegetuknya, nafasnya memburu. Nisa berdiri diambang pintu. Netranya beradu dengan wanita paruh baya yang terpaksa bangun karena suara pintu yang terbuka dengan keras.


“Ada apa, kenapa wajahmu panik gitu” Dahi sang ibu berkerut, rambut yang berantakan, mata merah. Karena terbangun dengan kesadaran yang belum sempurna. Pikirannya pun tambah bingung melihat putriny masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu.


“Ibu tidur?” mengangguk dengan lembut. Tangannya terulur memanggil Anisa untuk duduk di ranjang.


“Tumben sudah pulang, kamu sakit?” memegang kening putrinya. Tapi suhunya normal. Mengapa wajah Anisa pucat. “ Wajahmu juga pucat. Ada masalah” di pegangnya bahu Anisa.


“Bu, apa benar kalau...” Nisa tak mampu melanjutkan kalimatnya. Dadanya berdebar, takut jawaban ibunya tidak sesuai dengan harapannya saat ini. Lidahnya seperti tak mampu untuk digerakkan. Teggorokannya tiba-tiba susah untuk menelan.

__ADS_1


“Nisa mau tanya apa?” wajah teudh itu mengelus kepala putrinya. Dia sudah punya rencana untuk menyampaikan berita itu waktu makan malam. Menunggu Anisa tenang. Bukan sekarang apalagi Anisa memang sengaja pulang untuk memastikan semuanya. Entah siapa yang lebih dulu menceritakan pada putrinya.


“Apa yang dikatakan Chika itu benar” Oh, rupanya chika yang menyampaikannya pada Anisa.


Mengangguk lemah, di tundukkannya wajah itu kebawah tidak ingin beradu dengan mata putrinya. Dia sudah bisa menduga apa yang akan terjadi setelahnya.


“Kenapa Bu, kenapa justru Nisa tahu dari orang lain, kenapa bukan ibu yang bilang ke Nisa, kenapa secepat ini?” terlalu banyak pertanyaan yang bergemuruh di dadanya


Pandangannya mengabur terhalang air mata yang mulai menggenang. Nisa tak kuasa mengangkat wajahnya. Merasa dipermainkan orang disekitarnya rasanya terlalu menyakitkan. Untuk hal sepenting ini, tidak ada yang memberi tahu.


“Karena Ibu sayang sama kamu” dari sekian deret pertanyaan yang memerlukan jawaban panjang, justru jawaban itu yang keluar dari wanita yang amat di sayanginya. Bukan, ini hanya alasan menurut Nisa bukan jawaban.


"Apa bentuk sayang Ibu sekarang berubah jadi pemaksaan. Katakan, bagaimana caranya Nisa mengembalikan ibu yang dulu. Ibu yang tidak pernah mencampuri urusan Anak-anaknya sebelum kedatangan laki-laki itu" Nadanya naik, Nisa seolah tidak mengenal wanita didepannya. terlalu banyak berubah dan Dia tidak suka perubahan yang terlalu tiba-tiba..


"Semua ini demi kebaikan kamu, Ibu yakin Fatih orang yang tepat. Ibu tidak tahu sampai kapan ibu bisa menjagamu, kita tidak akan selamanya sama-sama. Abangmu sudah punya keluarga dia tidak akan bisa melindungimu. Ibu sudah tua, sewaktu-waktu Tuhan bisa memanggil Ibu. sebelum itu terjadi Ibu ingin ada yang menjagamu, menyayangimu dan melindungimu dengan tulus" Suara ibu melemah, menyampaikan keresahan nya selama ini.


ketakutan seorang ibu ketika usia tidak lagi muda, meninggal kan anaknya ketika belum terlepas sepenuhnya dari tanggung jawabnya.


"Nisa bisa jaga diri, tidak perlu orang lain, Nisa baru mencoba membuka hati, Nisa takut apa yang terjadi sama Rumah tangga abang terjadi juga sama rumah tangga Nisa. Ibu rela lihat Nisa terluka seperti kak Fira?" Mereka berhadapan, mencoba meyakinkan satu dengan yang lain. mempertahankan apa yang mereka anggap benar menurut pandangannya. "Kita tidak tahu seperti apa laki-laki itu di masa lalu. apakah ada urusan yang belum selesai, atau ada wanita yang tersakiti dengan pernikahan kami nanti " Selalu itu yang Anisa takutkan. Itu juga yang sudah disampaikannya pada Fatih.


"Ibu rasa tidak, buang jauh pikiran burukmu. Mau sampai kapan kamu mengungkit masalah rumah tangga Abangmu. Lihat, mereka sudah bahagia sekarang" Dia seorang ibu, naluri nya kuat mengatakan Fatih laki-laki yang berbeda. tatapannya, caranya menghormati siapapun, tidak pernah berlaku tidak sopan.


"Nisa sedang berusaha, beri waktu buat meyakinkan kalau pilihan ibu tepat. lagian kenapa buru-buru" Ternyata berusaha meyakinkan diri itu tidak mudah, bathinnya berperang antara percaya atau tidak dengan pilihan ibunya. Dia juga ingin ini menjadi pilihan hatinya.


"Ibu tidak bisa nolak, ketika Fatih bilang sama ibu mau nikahnya dipercepat. Dia sudah banyak bantu keluarga kita, biaya rumah sakit Abangmu tidak sedikit. Mudah-mudahan ini yang terbaik buat kamu"


"Jadi ibu mengiyakan karena ibu tidak enak, pikirkan hati Nisa juga Bu. Tega banget menjadikan Nisa sebagai penebus hutang Abang, sudah Nisa duga dari awal kalau dia bukan laki-laki yang tulus" Nisa marah, air mata yang mulai mereda kini berderai lagi. Hatinya sakit mengetahui alasan sebenarnya. " Lakukan semau Ibu, Nisa tidak bisa menolak bukan, anggap ini sebagai bakti Nisa sebagai penebus hutang ibu buat laki-laki itu" dengan perasaan kesal Nisa berlalu.

__ADS_1


Menyisakan ibunya dengan tatapan tidak percaya, bagaimana Nisa bisa berpikir kalau dia dijadikan penebus hutang. Bu Ratih menarik nafas panjang. keras kepala putrinya tidak mudah di tundukkan.


__ADS_2