MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
PERJALANAN PERTAMA


__ADS_3

Fatih terlihat sibuk memasukkan barang kedalam koper dan beberapa keperluan kecil kedalam tas hitam miliknya. Anisa masih tertidur ketika dia pulang dari masjid. Dia yang sibuk sendiri memasukkan baju sang istri ke koper yang lain. Sekali lagi memeriksa kembali takut ada yang lewat.


“Abang mau pergi lagi?” Anisa duduk, dia bingung sesaat setelah matanya terbuka melihat Fatih memasukkan baju kedalam koper.


“Bukan abang, tapi kita” Ucapnya tanpa menghentikan kegiatannya.


“Kita?” Dengan separuh kesadaran yang belum terkumpul penuh, Anisa menatap Fatih, tapi yang menerima tatapan masih sibuk dengan pekerjaannya.


“Shalat dulu, habis ini kita berangkat. Perjalanannya memakan waktu lama” menatap istrinya sejenak. Kemudian melanjtkan pekerjaannya lagi.


“Abang sudah bilang Ibu” Tanya masih enggan beranjak dari tempat tidur.


“Sudah, malah Ibu yang nyaranin” Masih santai diantara kebingungan Anisa


“Kok Abang nggak ngasih Tahu Nisa dulu” Masih protes dengan suara serak.


“Rencananya abang berangkat sendiri, tapi kasihan kamu kalau abang tinggal lagi. Bisa-bisa nggak enak makan sama diam di kamar seharian, sampai Rania di cuekin” jawab nya berjongkok di bawah kasur. Tatapan tajamnya ke arah Anisa ingin mencari penyangkalan jika yang dikatakan Rania itu tidak benar.


“Cerita apa saja bocah itu” Dengan kesal Anisa bertanyaa, wajahnya tertunduk menyembunyikan rona merah. Tentu saja dia malu setelah kemarin membohongi suaminya.


“Banyak, mau abang ceritakan lagi?” Godanya, tatapannya masih menelisik wajah istrinya. Dari cara Anisa menghindari tatapan Fatih, ahirnya mengerti kalau yang dikatakan Rania itu benar.


Tanpa kata Anisa buru-buru berjalan ke kamar mandi. Menghindari percakapan yang hanya membuatnya malu itu pilihan yang tepat. Bahkan dia sendiri heran dengan hatinya mengapa sampai kehilangan mood ketika ditinggal padahal hanya satu hari saja. Hanya belum terbiasa ataukah hatinya sudah mulai melunak. Melawan perasaannya sendiri hanya akan sia-sia tapi di turuti juga bukan pilihan yang tepat karena waktunya terlalu singkat. Belum sepenuhnya mengenal Fatih, masih menjaga perasaannya takut kalau ternyata pernikahan mereka hanya sandiwara. Dan masih banyak lagi kemungkinan lain yang memenuhi otak Anisa.


“Sudah siap?” Ibu menyapa mereka setelah melihat dua koper di ruang tamu.


“Ibu beneran nggak ikut?” Fatih balik bertanya, sudah menawarkan Ibu untuk ikut bersama tapi, Ibu menolak karena liburan ini Rania memilih tidur dengannya.


“Nanti Ibu sama siapa disini? ” Anisa mendekati Ibu, menggelayut manja di lengan wanita yang melahirkannya.


“Ada kakak sama Abangmu, ada Mbak Mina juga” Memegang tangan Anisa di bahunya, mengusapnya pelan. “ Jangan banyak tingkah di rumah orang, nurut sama suamimu. Satu lagi jangan lupa bawa oleh-oleh. Ini pertama kalinya kalian berkunjung, tidak boleh tangan kosong” Anisa menatap wajah sang Ibu, dia bingung. Bukannya akan pergi liburan.


“Kok rumah orang, memangnya Nisa mau kemana?” tatapannya bergantian dari Fatih ke Ibu mencari jawaban disana.


“Kerumah mertuamu, suamimu belum ngasih tahu?” Anisa menggeleng, di tatapnya Fatih dengan muka penuh amarah yang tertahan.


“Ya bagus kan, kalian butuh saling mengenal. Sudah waktunya kamu tahu Fatih dan keluarganya. Berkunjung kerumah mertua itu kewajiban istri. Sudah sana berangkat nanti keburu siang” Ibu memegang kedua tangan anak bungsunya. Memeluk erat setelahnya.


“Abang sama kakak, kapan datang? ”


“Nanti siang, Syafira masih mau ngecek swalayannya, sekalian cek laporan keuangan sama gaji karyawannya. Baru kesini” Ibu menjelaskan.


“Kalau ada apa-apa Ibu kabari Nisa ya” Berjalan keluar, tangannya masih menggelayut manja di bahu sang Ibu.


“Jangan cemas, ada abangmu. Kamu baik-baik disana. Jangan dibiasakan tidak betah di rumah orang. Mereka sekarang keluargamu. Sayangi Ibu sama bapak mertuamu, adik-adik Iparmu juga. Kalau ada yang tidak kamu sukai, atau tidak enak dipikaranmu jangan bilang langsung ke orangnya. Bilang melalui suamimu dulu. Jangan membuat orang tersinggung” Panjang lebar nasehat Ibu hanya mendapat anggukan.


“Abang, bawa mobil sendiri. Pak danang mana?” Ibu menatap Fatih yang sibuk memasukkan barang ke garasi. Bisanya pekerjaan itu pak Danang yang lakukan.


“Ada acara keluarga katanya, tidak apa-apa. Fatih sudah biasa” Jawabnya santai.


“Tidak bawa orang satu saja buat gantikan kamu kalau capek nyetir, atau mana asistenmu itu. masak Cuma berdua” Ibu mulai khawatir. Melihat sang menantu yang terbiasa keman-mana dengan asisten atau paling tidak membawa orang dari GLOBAL. Sejak menikah dengan Anisa, terlalu banyak kebiasaan Fatih yang berubah. Tidak ada asisten bahkan orang dari kantor cabangpun yang biasa mengikuti Fatih tidak pernah terlihat lagi.


“Fatih, mau pulang Bu. Apa kata mereka kalau bawa Asisten. Saya datang sebagai Fatih si anak pesisir bukan sebagai pemilik GLOBAL” Tetap saja, tidak mengurai ke khawatiran Ibu.”Ibu melarang saya membawa kebiasaan di kota ke rumah. Takutnya, saudara sama tetangga malah tidak mengenali saya, dikira Sandiaga Uno lagi” menghibur Ibu dengan membuat lelucon. Berhasil Ibu mengerti dia ikut tertawa mendengar penuturan sang menantu.

__ADS_1


“Tetap rendah diri di manapun berada” mengusap bahu menantunya, karena kalau mengusap kepala Ibu harus berjinjit, dan itu sangat menyulitkan.


“Hati-hati di jalan” Melambaikan tangan melepas kepergian mereka, dan berhenti setelah mobil tidak terlihat lagi.


“Abang nggak bilang Nisa kalau mau ngajak pulang kerumah” Kata mertua tidak Nisa lanjutkan, rasanya masih sungkan dia mengucapkan itu.


“Ibu yang larang, katanya takut kamu cari-cari alasan buat nolak” Tatapan lurus ke jalan.


“Berapa jam perjalanan?”


“Empat sampai lima jam, kalau macet bisa lebih lagi”


“Nisa nggak bawa mukenah, bagaimana ganti bajunya nanti”


“Sudah abang packing semua di koper, abang taruh di bagasi belakang”


“Kok bawa mobil ini, bukan yang biasanya?”


“Pulang kerumah itu harus menjadi pribadi yang sederhana, ibu melarang Abang membawa barang-barang mewah. Keluarga Abang sederhana semua”


“Nisa harus gimana nanti disana?”


“Jadi Nisa seperti sekarang, bersikap biasa saja”


“Apa yang disukai dan tidak disukai Ibu sama Bapak?”


“Semua yang ada di Nisa mereka suka, apapun yang Nisa lakukan mereka pasti suka. Jangan khawatir” Fatih tidak berbohong, setiap kali mereka bicara lewat telepon selalu Nisa yang jadi pertanyaan, selalu menantunya yang di prioritaskan menasehati untuk tidak menyakiti, jangan ditinggal-tinggal seperti kebiasaan waktu bujang dan masih banyak lagi. Kadang Fatih bingung bisa berubah secepat itu wanita yang melahirkannya. Tapi dia bahagia, mereka menyayangi Nisa seperti anak sendiri.


“Abang ngasih tahu kalau kita mau pulang?” Ini kunjungan pertama bukan, sebagai istri dan menantu dia bingung apa yang harus di lakukannya nanti.


“Ooo...” Diam sejenak, Nisa bingung harus bertanya apalagi “Nisa tidak bisa masak mereka tahu?”


“Tahu, nanti Nisa tidak perlu ngapa-ngapain. Duduk manis, kalau mau bantu ibu tidak apa-apa”


“Apa, Abang tidak malu punya istri tidak bisa masak?”


“Hahaha...”Tertawa keras sambil menggelengkan kepala tatapannya beralih pada sitrinya sejenak. Kemudian menatap lurus kedepan. Wajah cemas istrinya sangat menggemaskan. Mengigit kuku seperti seorang anak yang akan mengahadapi sidang Ibunya karena melakukan kesalahan. “Abang bangga punya istri Nisa, apapun itu”


Sekarang Anisa yang menatap suaminya, dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan Fatih barusan. Pertama kali melihat suaminya terbahak didepannya. Anisa tidak menampik deretan gigi putih dan bersih Fatih menambah katampanannya. Dengan baju casual hitam di padu jeans warna dark blue. Sejak keluar dari rumah, baru sekarang dia memperhatikan penampilan suaminya. Aromanya jangan lupakan, wangi parfum yang selalu Nisa rindukan. Wangi pinus terhidu segar.


“Makan dulu?” Memecah keheningan, Nisa terlihat sibuk dengan pikirannya. Bayangan bertemu dengan mertuanya, apa yang harus dilakukaknnya nanti, ini bukan hal yang sepele. Dia takut melakukan kesalahan. Meskipun Nisa tahu kalau kedua mertuanya sangat menyayanginya. Pertemuan demi pertemuan, pembicaraan lewat telepon. Mereka selalu bersikap baik. Apakah sikap baik itu akan berubah, atau kah dirinya yang akan membuat masalah nanti.


“Hei, mikirin apa?” Tanya Fatih melambaikan tangannya didepan wajah Anisa. “Kita makan dulu, disini lalapan bebeknya enak” Anisa menoleh keluar jendela benar saja, rumah makan dengan nuansa bambu itu sudah mulai terlihat ramai, yang antri juga mengular. Nisa menatap Fatih, meminta persetujuan, dia ragu.


“Tidak apa-apa meskipun antriannya banyak pelayanannya cepat kok” Ahirnya Anisa percaya, dia melepas seatbelt kemudian turun setela Fatih membuka pintu.


“Kita cari tempat duduk dulu, biar Abang yang pesan” menggandeng tangan sang istri melewati sesaknya pengunjung. Tempat duduk lesehan dekat jendela, adalah pilihan yang tepat. Karena cuaca panas pulau Madura tidak main-main. Anisa belum terbiasa. “Tunggu sebentar Abang mau antri” Nisa bingung dia hanya menunduk. Bingung tidak tahu berbuat apa. Ini pengalaman pertamanya melihat rumah makan dengan antrian tidak wajar, dan Nisa lebih penasaran dengan rasa bebek gorengnya, se enak apa. Sampai orang rela antri berdesakan.


Gawainya berdering, dia membuka tasnya, mengaduk-aduk mencari menda yang bergetar.


“Assalamualaikum Bu?” setelah melihat nama yang tertera di telepon.


“Waalaikum salam, sudah sampai dimana. Sudah makan apa belum?” Wanit yang melahirkannya itu terdengar cemas, itu sangat wajar mengingat tadi mereka belum sempat sarapan sebelum berangkat.

__ADS_1


“Nggak tahu sampai mana, Nisa di restoran, Abang masih pesan makanan” Dengan gawai yang masih menempel Anisa menoleh kekanan dan kekiri mencari petunjuk daerah mana yang dia datangi.


“Tidak apa-apa ibu senang dengarnya. Oiya, kabari kalau sudah sampai jangan lupa sampaikan salam Ibu buat mertuamu. Ibu juga minta maaf belum bisa ikut” Anisa hanya mendengarkan pesan Ibunya. Dan hanya terdengar jawaban “Iya” berkali-kali.


“Ayo makan” Setelah beberapa saat, Fatih datang membawa dua porsi makanan. Bebek goreng dengan nasi, serta sambel pencet, sambel lalapan dengan campuran mangga muda. Bebek goreng yang berwarna hitam dengan taburan parutan lengkuas goreng diatasnya.


Nisa menatap Fatih, bahkan dia tidak yakin dengan menu di hadapannya. Daging bebek goreng yang berwarna hitam membuat Nisa ragu. Hanya dengan menu yang terlihat aneh orang mengantri sedemikian ramai. Nisa tahu rasanya makan bebek goreng, ketika temannya mengajak untuk mencoba menu lalapan satu itu. Keras, dan bau khas bebek masih tercium, itulah yang menyebabkan Anisa tidak ingin mencobanya lagi.


“Menu yang lain ada nggak” Tanyanya pada Fatih dia bahkan belum menyentuh makanannya.


“Ini menu andalan disini, coba dulu kalau tidak suka abang ganti ayam” Tetap saja Anisa masih menatap piring makanannya.


Fatih melihat keraguan di wajah sang istri, dengan cepat dia mengambil daging bebek, mencampurnya dengan sedikit sambal lalapan, menyuapkan ke mulut isrinya. Anisa dengan enggan terpaksa membuka mulut. Mengunyah dengan ragu.


Fatih menunggu istrinya memberikan reaksi. Jika nanti lidah Anisa tidak cocok dia akan mengganti menunya dengan ayam goreng.


Terlihat senyum mengembang di wajah Anisa. Fatih bernafas lega


“Enak, ini beneran enak, pake banget malah.” Anisa dengan cepat menyuapkan menu di piring kemulutnya. Dagingnya lembut bau amis khas daging bebek tidak terasa. Bercampur dengan bumbu yang sangat kuat. Sekarang dia paham mengapa antrian restoran ini mengular.


Tanpa kata mereka mengosongkan piring, memindahkan isi piring mereka kedalam lambung dengan cepat. Anisa menghabiskan jus jeruknya sekali dalam tegukan terahir. Fatih tersenyum melihat tungkah istrinya. Wajah puas tergambar disana. Setelahnya beranjak untuk melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba Anisa berhenti, dia ingat satu hal.


“Abang nggak bayar, jangan bilang nanti kita main kejar-kejaran lagi. Nisa nggak ikutan, perut nisa kenyang Bang” Sumpah wajah polos istrinya membuat Fatih tertawa geli. Dia tidak mungkin melakukan itu di siang hari terik begini. Bisa jadi tontonan warga nanti.


“Ambil pesanan langsung bayar tadi” Mengusap Kepala istrinya “Maafin Abang, janji nggak gitu lagi” Anisa pasti mengira Fatih akan melakukan hal yang sama karena tadi dia tidak melihat suaminya ke kasir.


“Siap melakukan perjalanan lagi?” Melihat Anisa masih terdiam


“Siap” Menjawab dengan penuh keyakinan. Tidak terlihat wajah cemas seperti tadi di awal.


Fatih memasang seatbelt Anisa, kemudian mengubah posisi jok sang istri menjadi agak berbaring.


“Kenapa di rubah?” Bertanya dengan tatapan bingung.


“Biasanya orang habis makan itu ngantuk” Tanpa melihat wajah istrinya Fatih berjalan keluar mobil, membuka bagasi dan membuka tas entah apa yang dilakukannya. Masuk kembali dengan selimut berwarna hitam kombinsai putih bergambar panda sedang makan bambu.


“Buat apa?” Tanya Nisa masih dengan wajah bingung.


“Biar lebih nyenyak”


“Tapi Nisa nggak mau tidur”


“Oke, simpanlah” melipat selimutnya kembali, dan memberikan pada sang istri.


“Bang, kok bisa ya ada bebek goreng dagingnya lembut gitu. Terus nggak ada bau amis,sambel mangga mudanya enak juga” Mulai membuka pembiacaraan setelah mobil melaju dengan kecepatan sedang. “Chefnya hebat” lanjut Nisa, rasanya dia ingin makan lagi nanti.


“Bukan Chef, itu hanya orang biasa yang masak, usaha kecil yang dirintis dengan penuh kesabaran. Hasilnya luar biasa kan. Kalau tidak salah yang meracik bumbu dan mengolah daging bebeknya itu masih satu keluarga, mulai dari Ibunya, dibantu bibi dan keluarga dekat yang lain” penjelasn Fatih panjang lebar. Hanya mendapat anggukan kepala dari Anisa.


Percayalah, kepalanya semakin berat. Entah itu karena kenyang atau bisa jadi karena lelah perjalanan tiga jam yang ditempuhnya. Atau bisa jadi perpaduan keduanya. Anisa menguap berkali-kali. Tapi dia berusaha menahan kantuk. Takut suaminya meminta sesuatu nanti.


“Abang kalau capek gantian sama Nisa, nggak apa-apa lho” Tawarnya.


“tidak usah nanti nyasar lagi, Nisa kan belum tahu jalan” Tatapan mereka bertemu, Nisa malu sok menawarkan padahal dirinya tidak tahu jalan, bahkan tujuanya kemana juga dia belum tahu.

__ADS_1


Mobil masih berjalan dengan kecepatan sedang, Anisa masih menceritakan rasa takjubnya pada restoran tadi, mulai dari penyajian, kondisi pengunjung. Terdegar beberapa kali Fatih menimpali. Menjawab dan menjelaskan daerah dan tujuan mereka sekarang. Dan beberapa pemandangan laut yang mereka lintasi juga tidak luput dari rasa takjub sang istri, ini pertama kalinya Anisa mengunjungi kota tempat tinggal Fatih.


Sepi, tak terdengar lagi ocehan Anisa. Fatih menoleh. Dilihatnya wanita itu terlelap. Menghentikan mobil, memasang selimut hingga menutupi badannya yang terlihat hanya kepalanya saja. Fatih juga membetulkan posisi kepala Anisa yang terlihat miring. Mengusap kepala yang tertutup hijab hitam, kemudian menciumnya perlahan takut membangunkan sang empunya. Percayalah adegan itu hanya di lakukan ketika Anisa terlelap.


__ADS_2