
Kesibukan yang sama berulang di pagi hari, mbak Mina dan ibunya berkutat di dapur. Suara denting sendok dan piring beradu. Semua peralatan masak itu seolah membuat irama indah dipagi hari. Aroma masakan tercium sampai hidung. Ini masih pagi, bahkan adzan subuh baru saja berkumandang. Ini diluar kebiasaan. Ibunya akan masuk kedapur saat jam lima pagi. Ini masih jam empat. Karena disini adzan subuh jam empat kurang lima belas menit.
“cepetan sholat, terus bantu ibu. Masih banyak yang harus dimasak” Anisa berdiri di tempatnya tanpa bergeser. Dia bingung, penghuni dirumah ini hanya tiga orang, setelah abangnya kembali kerumah menyambut hari bahagia bersama anak dan istrinya. Apalagi sejak kehadiran si bayi montok. Adam namanya, ibunya sering mengajak Nisa menjenguk cucunya.
“ibu kok masak banyak, ada acara apa?”
“kakak sama abangmu mau berkunjung, ini kan hari minggu” Nisa tahu bahkan sangat tahu kalau sekarang hari minggu. Karena hari ini dia libur.
“memang biasanya begitu, tumben ibu sibuk. Biasanya kak Fira bawa makanan kesukaan ibu” jawab Nisa dengan nada heran.
“Hari ini, Fira minta ibu yang masak kangen katanya. Sudah lama juga kan kakakmu tidak makan masakan ibu”
“minggu kemarin ibu bikinin opor, kita berdua yang antar kan” masih belum percaya dengan jawaban ibunya.
“yang ini lain, sudah kamu shalat dulu. Habis ini bantuin ibu” Nisa beranjak sebelum mendapat perintah kedua kalinya. Karena gadis itu tahu nadanya tidak akan rendah lagi.
Selesai sholat Anisa bergabung dengan ibunya di dapur. Ada hal aneh lain yang dirasakan Anisa. Gadis itu disuruh memotong buah kota-kotak kecil. Bukankah di rumah ini hanya beberapa orang mengapa buahnya banyak. Anisa menatap bingung sang ibu. Wanita itu tak kalah sibuk mengaduk masakan dengan aroma rempah yang menggiurkan. Semua masakan dalam porsi besar menurut Anisa. Jika hanya abangnya yang akan berkunjung tentu makan ini akan terlalu banyak.
“Abang bawa pasukan berapa ibu masaknya sampek banyak gini” rasa ingin tahunya cukup tinggi. Sedari tadi dia hanya bungkam sambil memotong buah semangka.
“Cuma berempat, nanti kalau ada lebihnya bisa di bawa pulang” tetap tidak bisa diterima secara logika menurut Anisa. Jumlah makanan ini seperti ibunya ketika ada acara arisan atau acara keluarga dirumahnya.
“sebanyak ini. Terus es buah siapa yang minta. Abang sukanya puding vla, Rania juga” mengejar jawaban ibunya karena Nisa tidak puas, seolah ada yang sedang disembunyikan wanita itu.
“nanti bikin puding vla juga. Tapi es buah ini kesukaan Fatih. itu kata abangmu” Nisa tersentak. Tangannya berhenti memotong. Tatapan tajam ke arah ibunya. Begitu istimewanya laki-laki itu sampai ibunya harus repot-repot membuat es buah sebanyak ini.
“jadi semua masakan ini ibu bikin bukan karena abang dan Rania mau datang, tapi karena laki-laki itu. Ibu keterlaluan” sang ibu menutup mulutnya dia sadar telah salah ucap. Menatap mbak Minah dengan tatapan penuh tanya. Yang di tanya hanya menggeleng pelan. Secepatnya dia meguasai keadaan. Berjalan pelan mendekati anaknya di meja.
“laki-laki itu yang sudah banyak membantu kita Nis, ibu tidak enak. Dia laki-laki yang baik tidak pantas kamu membencinya” nah, ini lagi. Dari mana ibunya tahu kalau Nisa membenci Fatih. apa saja yang laki-laki angkuh itu ceritakan pada ibunya. Nisa menyesal menerima ajakan makan malam. Kalau tahu laki-laki itu akan memanfaatkan kesempatan itu, dia tidak akan sudi. Pantas saja dia tidak menjawab ketika diminta untuk menjauh. Harusnya...seharusnya...dan masih banyak lagi kata seharusnya yang muncul dibenak Anisa.
Bagi Anisa Fatih tetaplah laki-laki licik. Bahkan dalam otak gadis itu juga terpikirkan bahwa keberhasilan Fatih tidak lebih karena kelicikannya menjalankan bisnis.
“sudah Nisa bilang dari awal bu, jangan terlalu menerima kebaikan orang. Karena Nisa yakin tidak ada orang yang benar-benar tulus membantu. Pasti ada apa-apanya” nadanya lemah. Nisa tidak tega melihat ibunya yang harus menanggung semua beban keluarganya, bahkan Nisa tidak tahu sampai kapan. Karena Nisa yakin Fatih tidak akan berhenti sampai disini.
“Hus,,, bicara apa kamu. Ibu senang melakukan ini semua. Dia pemuda yang baik. Abangmu juga bilang begitu. Kalau kamu tidak percaya nanti kalau abangmu datang tanya sendiri. Atau tanyakan kakak iparmu, dia yang lebih tahu tentang Fatih” ucap ibunya lembut, dia menyesal menyebut nama Fatih. Padahal laki-laki itu sudah melarang ibunya memberi tahu tentang kedatangannya hari ini. Bahkan Fatih dengan tegas tidak ingin merepotkan sang ibu. Tapi yang namanya orang tua, makanan adalah sambutan terbaik bagi mereka yang akan berkunjung.
__ADS_1
“hati-hati bu, kadang yang terlihat tidak seperti kenyataannya. Menurut Nisa Dia bukan laki-laki baik. Jangan sampai ibu tertipu. Bisa menyesal nanti” ucapnya tegas. Percuma berdebat dengan anak gadisnya terlebih lagi ini menyangkut Fatih. Tidak akan ada kata sepakat. Dengan masih terdiam sang ibu berjalan ke dapur. Membantu mbak Minah melanjutkan memasak.
Wanita paruh baya itu sudah berbicara banyak tentang Anisa tadi malam sepulang mereka makan malam. Bahkan Fatih mengutarakan keinginannya untuk memperistri Anisa. Senang bukan kepalang sang ibu. Bukannya tanpa alasan karena di setiap doanya dia berharap Anisa mendapatkan jodoh laki-laki terbaik seperti Fatih. Insting seorang ibu tidak akan salah. Dari beberapa kali pertemuan, ibu tidak menangkap adanya hal buruk dari Fatih. itulah sebabnya, Fatih ingin mengutarakan niatnya didepan Amir sebagai kakak kandung sekaligus wali dari Anisa.
“abangmu datang pagi, tapi Fatih datangnya jam sepuluh pagi. Masih ada urusan katanya”ucap ibu setengah berteriak dari arah dapur. Nisa mengupas buahnya di meja makan.
“Nisa tidak bisa ikut bergabung, jam sepuluh ada janji sama wisnu dan chika” Nisa tidak berbohong. Setelah tadi malam masuk ke dalam kamar, gadis itu mendapat pesan dari chika, yang mengajak bertemu di cafe biasanya. Karena Wisnu ada waktu minggu pagi. Setelahnya dia harus jaga siang dirumah sakit. Dan Nisa sudah menyanggupi itu. Mereka bertemu jam 10 di cafe tengah kota.
“Tidak bisa gitu Nis, hargai tamu. Dia sudah meluangkan waktunya untuk datang kesini masak ditinggal. Kurang sopan nak” menatap Nisa penuh harap. Jarak antar dapur dan meja makan hanya terhalang tembok sepinggang orang dewasa. Semua kegiatan ibunya dapat dilihat Nisa dengan leluasa.
“Dia tamu ibu bukan Nisa” putusnya tanpa menatap wajah ibunya. Tidak ada alasan bagi Nisa bertemu Fatih. laki-laki itu harus menepati janjinya untuk menjauh dan tidak punya ikatan apapun.
“kalau datang kerumah ini ya tamu kamu juga, jangan bikin ibu malu” dengan suara yang naik satu oktaf. Ibunya mulai jengah dengan kelakuan anak bungsunya ini.
Fatih benar, tantangannya adalah menaklukkan hati Nisa. Gadis itu tidak pernah bercerita apapun pada ibunya tentang perasaannya pada Fatih, apa yang menyebabkan dia tidak suka. Padahal laki-laki itu sangat sopan,baik, tutur katanya lembut, bahkan dia tahu menempatkan diri ketika berhadapan dengan orang.
“hargai nak, ada Rania sama Adam kamu nggak kangen mereka” katanya mencari celah untuk mencegah Anisa keluar rumah hari ini.
“Rania datangnya pagi kan, jam sepuluh bisa Nisa tinggal. Paling siang sudah pulang. Nggak lama, mumpung wisnu bisa bu” nisa bersi kukuh untuk menghindari pertemuannya dengan Fatih.
“Kenapa ibu membela laki-laki itu, Nisa anak ibu bukan Dia. Lama-lama nggak tahu malu dia” gerutu Nisa, wajahnya cemberut. Sejak kehadiran Fatih dikeluarganya entah mengapa ibunya sudah banyak berubah, sering marah dan tidak selembut dulu. Dan selalu Fatih yang mendapat pembelaan.
Rasanya Nisa ingin keluar dari rumah itu. Kadang pikiran itu muncul ketika ibunya marah karena membela Fatih.
“Nisa anak ibu, tapi ini semua demi kebaikan kamu. semua ibu di dunia ingin yang terbaik untuk anaknya” sanggah sang ibu dengan nada lemah
“Memaksa Anisa bertemu Laki-laki itu tidak ada kebaikannya” masih dengan nada ketus
“Namanya Fatih, kamu nyebut namanya saja kayaknya Enggan”masih dengan nada selembut mungkin. Untuk saat ini ibunya tidak ada keinginan untuk berbicara dengan nada tinggi.
Matahari sudah menampakkan dirinya, jingga di ufuk timur disambut suara ayam menambah bingarnya pagi ini. Cerah tanpa awan, angin bertiup meliukkan dedaunan bak penari indah dengan gerakan lambat.
Semua peralatan masak sudah disusun lagi ketempatnya. Dapur sudah bersih. Pertanda acara memasak sudah selesai. Hidangan tertata rapi di meja makan. Semua penghuni mempersiapkan diri. Berbenah demi menyambut tamu.
“Assalamualaikum Eyang,” suara anak perempuan umur delapan tahun memenuhi rumah sederhana itu, tidak ada orang. Nadanya yang riang seketika sirna.
__ADS_1
“ounty, eyang...” anak kecil itu memanggil semua penghuni rumah.
“Rania sudah datang,,,maaf eyang ganti baju tadi di kamar habis masak, bau” ucap sang eyang dengan nada riang. Memeluk cucunya erat. Mencium pipi kanan dan kiri berulang. Itulah kebiasaannya ketika bertemu setelah Rania mencium tangan eyangnya.
“Assalamualaikum bu” sang mertua menjawab dengan mata penuh binar. Fira mendekati mereka berdua, mencium tangan sang mertua dengan takzim. Kemudian mencium pipi kanan dan kiri. Bagi ibu Ratih Syafira bukan hanya sekedar menantu, dia sudah dianggap sebagai anak sendiri. Tidak ada jarak diantara mereka. Bahkan terkadang orang mengira Amirlah menantunya. Begitu dekatnya dia dengan sang menantu.
“Adam jam segini masih tidur” tanya sang ibu pada anak laki-lakinya yang menggendong cucunya. Adam terlelap dalam dekapan ayahnya.
“tidur lagi tadi dijalan, bangunnya kepagian. Tidak enak badan kayaknya bu” jelas Amir, sambi berjalan membawa tas berisi keperluan Adam. Bayi montok yang menggemaskan siapa saja yang melihatnya pasti ingin menciumnya
“Sini gendong eyang, sayang” mengambil Adam dari gendongan Ayahnya. Sesekali menenangkan karena adam bergerak
“lucu bibirnya, gerak-gerak” mencium gemas Adam yang terlelap dengan bibir bergerak seperti sedang minum s*s*.
“Eyang, ounty mana” tanya Rania, tujuannya ikut karena dia memang ingin bertemu Nisa
“Di kamar, panggil sana. Belum tahu paling kalau Rania datang” setelah berdebatannya tadi, bu Ratih yakin Nisa akan keluar kalau ada Rania.
“ibu taruh Adam dulu ya, kamu sarapan dulu. Makanannya sudah siap” sang ibu mengajak anak dan menantunya masuk kedalam.
“Maaf bu Fira nggak bantu”
“Tidak apa-apa, ada mbak Mina sama Nisa yang sudah bantu ibu” berlalu meninggalkan mereka di meja makan.
Membawa adam dalam gendongannya. Sambil sesekali mencium gemas pipi chubby cucunya.
Fira takjub melihat banyaknya makanan yang tertata di meja makan. Beberapa menu lengkap dengan es buah dan puding vla.
Membuat lambungnya meronta minta diisi. Mereka memang tidak makan sebelum berangkat. Sesuai titah sang tuan rumah untuk sarapan di rumahnya.
"Makan yang banyak sayang, biar adam tidak kekurangan asupan" perintah Amir sambil membelai kepala istrinya yang tertutup hijab maroon. Tatapan itu masih penuh cinta, tidak pernah berkurang.
"Kalau Fira gemuk gimana" tanyanya menatap wajah sang suami. tujuh bulan setelah melahirkan berat badan Syafira turun drastis, karena Adam A*I ekslusif.
"Mas, akan tetap sayang bagaimanapun bentuknya, sudah makan saja, mau mas suapin"
__ADS_1
" Enggak usah, malu dilihat ibu nanti" jawab sang istri dengan pipi yang merona tiba-tiba.