MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
PERKARA PIJAT


__ADS_3

Turun kebawah setelah Siap, berjalan beriringan. Nisa masih bingung tidak tahu harus berbuat apa. Mau memulai pembicaraan dari mana juga dia tidak bisa.


" Nisa masih capek ya?" Tanya Ibu, melihat Anisa menunduk " Tidak usah sungkan, anggap rumah sendiri, bukankah sekarang kamu bagian dari keluarga kami" Suara lembut Ibu hanya mendapat anggukan.


Ibu menarik tangan Anisa agar duduk disebelahnya, Fatih duduk bersebelahan dengan Bapak, mereka berhadapan sementara Ida dan Indira duduk saling berhadapan di sebelah bapak dan Ibu. Meja makan dengan model segi panjang.


Lagi-lagi meja makan dengan ukiran, di tutup kaca di atasnya.


Terdapat irisan buah mangga, jus mangga dan puding rasa mangga di atas meja. Kalau Anisa tidak salah.


" Ayo di cicipi, ini mangga hasil panen Ibu dibelakang, rasanya sangat manis. Ibu juga membuatkan jus dan puding mangga, rasanya enak Nisa pasti suka" mengambil piring menggeser ke hadapan Nisa.


Semua yang ada di meja menatap Anisa tanpa bersuara.


Memasukkan potongan mangga dengan garpu. Manis, Nisa tidak bohong. bisa dipastikan kalau mangga ini matang di atas pohon. Manisnya sempurna, tanpa rasa asam.


" Kita mau makan mangga nunggu kakak datang, percaya deh" Suara Indira mendapatkan anggukan dari kakaknya.


"Semua mangga ini baru di panen kemarin, Ibu taruh di lemari pendingin. dan tidak boleh seorang pun yang boleh makan" Tambah Ida menguatkan argumen adiknya.


" Nisa kan baru datang kesini. jadi dia orang pertama yang harus mencicipi, iya kan Bang" Tanyanya pada Fatih, ternyata tatapan anaknya dari tadi tida lepas dari sang istri. tangannya bertaut di depan wajah. Fatih bahkan tidak mendengarkan Ibunya bertanya.


"Bang, Ibu ngomong tuh" Ayah menyenggol tangan Fatih. sampai laki-laki itu tersentak.


" Iya" jawabnya pendek.


" Gimana rasanya? " Ibu menatap Anisa meminta pendapatnya.

__ADS_1


" Manis bu, Nisa suka" Ialu bernafas lega. ahirnya semua orang bisa mencicipi mangga tanpa larangan.


" Pudingnya juga, ini jus nya di minum rasanya segar" mengambil gelas dan piring kehadapan Nisa.


" Barengan ya, Nisa malu kalau dilihatin" Semua yang ada disana tertawa, keluarga hangat penuh cinta, itu yang Nisa rasakan. Bahkan Ibu mertuanya ada sedikit kesamaan dengan ibunya. Nisa senang, sekarang dia sudah tidak canggung lagi. keluarga itu bercengkrama, cerita tentang kegiatan mereka sehari-hari. suasana pun cair.


Fatih orang yang paling bahagia dengan itu, istrinya mudah berbaur. Dan dia diterima dengan baik dalam keluarganya.


" Gimana rasanya jadi istri Abang, menjengkelkan atau makan hati" pertanyaan itu untuk Anisa tapi tatapan Ibu untuk putranya. " Ya ampun Bang, nggak usah dilihatin segitunya, nggak di apa-apain Nisa" Ibu protes Karena tatapan Fatih belum berubah dari tadi.


Sedetikpun tatapannya enggan beralih dari wajah sang istri. Tawa lepas Anisa memberikan energi buat Fatih, lelah setelah perjalan jauh rasanya menguap melihat wajah bahagia sang istri.


" Abang baik" Jawab Nisa singkat


" Hanya itu, bagian yang menjengkelkan nggak kakak ceritakan sekalian" Indira protes mendengarkan kakaknya menadapat pujian.


"Dengerin tuh Bang. jangan usil sama istri nanti kualat lho" Dua orang yang sering menjadi sasaran kejahilan kakaknya ikut bersuara. Semua orang tertawa. Pun dengan Anisa


" Nanti, Mbok Nah habis isya datang" Indira membuka suara setelah diam beberapa saat. kalimat itu ditujukan untuk ibunya, yang memberi perintah untuk menghubungi tukang pijat langgananannya


" Untungnya bisa, kalau tidak Ibu bingung siapa lagi yang bisa pijat se enak Mbok Nah" Ibu masih duduk dengan minum jus mangga.


" Siapa yang mau pijat? " Fatih menjawab dengan cepat, ada yang mengganjal di pikirannya.


" Nisa Bang, kasihan habis perjalanan jauh. Pasti pegel semua badannya" Jawaban Ibu mendapatkan tatapan tajam dari Fatih


" Nisa mau pijat?" tanyanya pada sang istri

__ADS_1


"Ada pijat lulur juga Bang, biar nyenyak tidurnya" Jawa Barat Indira. Dia tadi yang menawarkan Kakak Iparnya Pijat dengan segala cerita tangan ajaib Mbok Nah yang mampu membuat orang tertidur saat di pijat.


Nisa mengiyakan, dia membayangkan badannya di relaksasi setelah menempuh perjalanan jauh. Biasanya dia melakukan itu di salon, kadang sama Fira kadang juga icha yang jadi partnernya.


" Nggak bisa, Nisa tidak boleh dipijat" Fatih bersuara dengan lantang. membuat semua yang ada di meja makan mengarahkan pandangan padanya.


" Abang kenapa, aneh banget. orang mau pijat sampai heboh gitu, atau Abang mau pijat juga. Biar rileks, tidak tegang tuh pikiran" Ida menjawab dengan sedikit candaan.


" Pokoknya kalau Abang bilang jangan ya tidak boleh, kalian saja, Anisa tidak boleh" Membayangkan istrinya di pijat membuat Fatih frustasi, bagaimana tidak semua bagian tidak akan luput dari tangan sang tukang pijat.


"Tapi Nisa nggak apa-apa Bang" Suara istrinya semakin membuat isi kepal Fatih buntu. Dia harus mencegah istrinya di sentuh Mbok Nah, ada sisi tidak rela sekalipun dia wanita yang sudah berumur,.


"Tuh, kakak ipar saja mau. Abang berlebihan" Ida menatap tajam pada Abangnya.


"Biarkan saja Bang, biar badannya enakan habis tidur di mobil, posisinya pasti nggak enak tadi" Kalau Bapak yang bicara Fatih tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun tidak rela dia tetap diam, mengiyakan rasanya tidak mungkin. Tapi tiga peremuan dirumahnya, sekarang ada empat dengan istrinya menganggap diamnya Fatih setuju.


setelah makan malam Fatih duduk dengan gelisah didepan TV, channel berganti tak tentu arah. Saat bapak datang, Fatih mengubah posisinya dari yang tadi berbaring di sofa kini menjadi duduk dengan tegak. Hatinya tidak tenang, membayangkan istrinya sedang di pijat didalam kamar, dia tahu yang melakukannya wanita, tapi tetap ada sisi tidak rela.


" Lihat pertandingan bulu tangkis Bang, Indonesia berhadapan sama Malaysia, sekarang final". Ayah mengambil remote dari tangannya. "Abang kok diluar, nggak nemani Nisa" lanjutnya lagi. Fatih masih diam pikirannya entah kemana. Bahkan dia tidak berminat menonton pertandingan bulu tangkis kesukaannya.


" Abang kenapa duduk disini, temani istrinya, di dalam. Takut sungkan dia kan nggak kenal MBok Nah" Ibu duduk disebelah anaknya. Dia melihat tatapan itu kosong.


" Takut Anisa malu bu. Nunggu sampai selesai" Jawabnya tanpa minat


" Sama suami kok malu, aneh banget sih Bang " Fatih menyesal dengan kata-kata nya. Dia takut ibunya mencurigai hubungannya dengan Anisa.


"Masih baru bu, pasti masih sungkan. Kayak nggak pernah muda saja" Bapak memberikan jawaban yang membuat Fatih mampu bernafas lega.

__ADS_1


Kedepannya dia akan lebih berhati-hati dalam bertindak agar tidak menimbulkan kecurigaan Ibunya tentang hubungannya dengan Anisa.


__ADS_2