
“Yang paling sulit adalah melawan perasaan, sangat menyakitkan ketika tahu bahwa hati sudah nyaman tapi ego tetap menolak. Berpura-pura tidak peduli padahal ingin selalu berdekatan. Setelah ini aku ikuti kata hati. Persetan dengan rasa sakit yang bahkan belum terjadi. Aku akan membuang pikiran negatif. Dan sekarang saatnya mengikuti kata hati. Menjalani kehidupan sebagai suami istri dengan nyaman.”
Pagi yang cerah dengan senyum merekah, terbangun dengan pikiran baik ternyata menyenangkan. Perpura-pura tidur demi rasa nyaman dalam dekapan pun ternyata semenyenangkan ini. Anisa merenggangkan tubuhnya. Kakinya baru saja berpijak di lantai kamar ketika tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya di buka.
“Sudah bangun?” Sapanya mendekati tempat tidur, ada rasa kecewa. Karena setelah shalat seharusnya dia masih tidur memeluk sang istri. Mendekap dengan menggenggam tangan seperti biasa. Tapi hari ini, wanitanya sudah bangun dengan wajah ceria. Yah, Fatih tidak salah melihat senyum yang sudah lama dia rindukan kembali hadir. Mengusap kepala menciumnya kemudian. Apa yang membuat istrinya ceria.
“Ada apa?” wajahnya berkerut, alisnya bertaut menatap wanita yang sudah dua bulan dinikahinya tiba-tba tersenyum setelah sekian lama.
Menggeleng pelan, beranjak ke kamar mandi. Melakukan rutinitas lebih awal. janjinya hari ini, dia ingin melihat perubahan apa yang ada di dalam rumah. NIsa sudah tidak sabar, apakah orang-orang yang menurutnya terlalu banyak, sudah berkurang atau masih terlihat demi melayani sang tuan sekedar memakai jas kerja, kekanak-kanakan menurutnya.
Fatih melepas kepergian sang istri dengan senyum yang tanpa dia sadari, ternyata mood baik anisa menular. Baginya ini pertanda baik, perubahan yang tiba-tiba tentu ada alasannya. Apakah kali ini Anisa mengalami mimpi indah.
Semalaman Anusa tidak tertidur memikirkan tentang hari ini, keputusan yang diambilnya dengan mengesampingkan ketakutan. Menikmati indahnya pengantin baru, kalaupun nanti dia akan terluka, biarlah menjadi misteri. Selama suaminya bersikap baik, dia pun akan bersikap jauh lebih baik.
“Pagi Mbok Sa” Sapanya pada wanita yang hanya terlihat sendirian sibuk di meja makan. Turun ke bawah setelah rapi dengan hijab warna pastel dan kemeja kota di padu rok warna coklat muda, kesukaannya
“Pagi Non, sudah rapi. Kenapa turun sendiri?” tanya wanita paruh paya itu.
“Tuan masih harus mengecek beberapa pekerjaan. Nisa pengen bantu bikin sarapan, pengen tahu apa yang di sukai sama Abang” menyusul Mbok Sa, ke dapur
“Jangan Non, nanti saya di marahi Tuan. Ini sudah menjadi tanggung jawab si Mbok, Non Nisa duduk saja, bilang Mbok mau apa nanti diantar” Wajah Mbok Sa tegang. Bagaimana nasibnya nanti jika tuannya tahu. Sang istri turun ke dapur.
“Tidak akan ada yang marah, Nisa sudah biasa begini di rumah. dirumah Nisa namanya Mbak Mina” jawabnya santai.
“Tapi Non, bagaimana kalau Tuan Marah” Masih dengan wajah cemas.
“Biarkan istri saya melakukan apa yang dia sukai” Fatih muncul dari balik pilar pembatas dapur dan ruang belakang.
Hanya bisa pasrah, wanita dengan rambut terikat satu keatas itu membiarkan Sang Nona muda melakukan apa yang di sukainya
Berjalan ke lemari pendingin, mengambil beberapa buah-buahan dan sayuran mentah. Diiukuti sang suami di belakang.
Belum pernah Mbok Sa melihat pemandangan sang tuan ikut turun ke dapur. Tapi biarlah, baginya ini perubahan besar. Seorang wanita yang dengan wajah manis dan tertutup hijab yang justru bisa merubah sang tuan. Dari sekian banyak wanita, dengan wajah dan penampilan seperti bintang sinetron yang menjadi tontonannya tiap malam. Tidak ada satupun dari mereka mampu meluluhkan hati Fatih.
“Mau bikin apa?” Fatih mendekati Anisa duduk di meja makan berhadapan dengan sang istri yang nampak serius memegang pisau dan buah di tangannya.
“Ngupas buah, Nisa Cuma bisanya gitu” Ah, Fatih lupa. Mertuanya sudah menceritakan semua padanya. “Tapi tidak apa-apa. Nanti NtIsa belajar masak sama Mbok Sa” Jawabnya dengan penuh semangat.
__ADS_1
Kemajuan yang bagus, setidaknya hari ini Fatih akan mendapat senyuman itu sepanjang hari.
“Oiya, kemana mereka semua?” Masih dengan melanjutkan pekerjannya Nisa bertanya.
“Ada di ruang belakang. Abang sudah pastikan mereka tidak akan kesini. Hanya Mbok Sa. Sesuai permintaan Tuan putri” Godanya, membuat senyum, dan wajah semerah tomat terlihat jelas.
“Reno?” Lanjutnya lagi
“Sebentar lagi dia datang” Tangan yang mengupas buah itu berhenti. Di tatapnya sang suami tajam.
“Nggak ada tempat lain buat Reno di rumah sebesar ini? ”
“Kamu kan sudah kenal Reno, apalagi yang salah”
“Bukan masalah kenal tidaknya, dia kan laki-laki. Bagaimana kalau tiba-tiba Nisa pengen buka hijab” Ah, iya. Fatih menepuk jidatnya sendiri. Bagaimana dia bisa tidak berpikir sejauh itu.
Mbok Sa, hanya melongo melihat perdebatan mereka, apakah wanita berhijab itu tahu bagaimana suaminya kalau marah. Bahkan sebelum ini Mbok Sa belum pernah mendengar seorangpun membantah ucapan Tuannya. Dan sekarang, apapun yang belum pernah terjadi sekarang ada di depan matanya. Seorang Fatih tidak berkutik di depan wanita ini.
Wanita dengan wajah natural, berbicara sesuai dengan yang ada di kepalanya tanpa memikirkan siapa laki-laki yang diajak bicara, jangan lupakan wajah menantang itu, tidak ada raut gentar sedikitpun. Dan lihat, Tuannya hanya mengabulkan semua keinginan wanita itu. tidak pernah tertarik dengan wanita yang datang kerumah tapi kali ini dia terlihat begitu patuh.
Tidak ada seorangpun yang bisa memerintahnya, tapi wanita didepannya sudah berulang kali memerintah Tuannya sejak kedatangan mereka. Bahkan Reno, yang tidak pernah ada satu orangpun mempermasalahkan keberadaannya, sekarang diusik, dan Fatih tidak keberatan. Kekuatan apa yang dimiliki wanita ini.
“Ah, tidak apa-apa. Maafkan saya Nona, saya permisi” dengan katakutan hendak berlalu.
“Tunggu Mbok, Nisa ada perlu. Duduklah” perintahnya di iringi tatapan tajam sang Suami
“Tidak Nona, saya berdiri disini saja” Mana berani dia duduk bersebelahan dengan majikannya. Bermimpi pun di tidak pernah.
“Saya mau cerita panjang, nanti capek berdiri. Nggak apa-apa duduk disebelah saya” Lanjutnya menggeser kursi disebelah.
“Maaf Nona, saya tidak berani” Ucapnya dengan dada berdebar. Wajahnya menunduk tapi matanya melirik Fatih, tapi laki-laki itu menatap penuh senyum kearah istrinya, seolah seluruh dunia tersedot kesana. Pusat perhatian tuannya sudah berpindah pada wanita muda di depannya.
Berdiri menghampiri Wanita itu, kemudian membimbingnya duduk di kursi tepat disebelahnya. dengan canggung Mbok Sa duduk, dengan wajah yang menunduk semakin dalam.
“Jangan lihat Abang, lihat Nisa saja” menangkup wajah Mbok Sa, mengarahkan wajah itu kepadanya.
“Mulai sekarang, jangan panggil Tuan dan Nona, saya tidak suka. Panggil saya mbak NIsa dan suami saya Mas Fatih, atau Mbok boleh panggil Abang seperti ibu saya. Mulai hari ini, Mbok jangan sungkan ataupun terlalu hormat. Ini rumah si Mbok juga, bebas mau duduk dimana mau ngapain saja Nisa tidak keberatan. Kita duduk makan di meja bertiga juga biasa saja, santai Mbok. Kalau si Mbok sungkan. Boleh anggap Nisa Anak sendiri” Tentu saja perintah Nyonya mudanya mendapat tatapan tidak percaya.
__ADS_1
“Maaf Non, apa tidak berlebihan itu namanya”
“Tentu tidak, saya di rumah memperlakukan Mbak Mina juga begitu. Kita saling menghargai dan menghormati dengan cara yang wajar Mbok, jangan berlebihan. Panggilan Tuan dan Nona itu seolah membangun jarak dan status sosial. Mulai hari ini dan seterusnya kita semua keluarga. Mbok harus mau, kalau tidak nanti Saya minta Abang cari yang lain.” Ancamnya dengan wajah serius, walaupun Nisa tidak akan pernah melakukannya.
“SI Mbok usahakan Non. Eh, anu…Mbak”
“Jangan di usahakan. Harus bisa” tegasnya.
“Tapi jangan sekarang, mulai besok saja” mencoba bernego, karena menurutnya ini keputusan yang teramat berat. Dan pertama kalinya wanita tua itu diperlakukan seperti keluarga sendiri, dianggap ada walaupun hanya sebatas itu. bagi Mbok Sa itu sudah kemajuan yang sangat luar biasa.
“Tapi Non, Bagaimana kalau Nyonya Maura tahu, Mbok bisa di pecat nanti”
“Nyonya Maura?” Nama yang asing baginya. Menatap Fatih bingung.
“Lakukan semua yang di minta istri saya Mbok, sudah saya katakan sekarang dia Nyonya di rumah ini"
“Tapi Tuan…”
“Jangan takut, Nyonya Maura urusan saya”
Perbincangan dua arah antara Fatih dengan Mbok Sa, membuat dahi Anisa berkerut. Dia tidak tahu siapa yang di maksud dengan panggilan Nyonya.
“Bang, siapa?” Dengan wajah bingung meminta penjelasan.
“Nanti abang jelaskan, mau ketemu Reno dulu” lanjutnya mengusap kepala sang istri yang masih di penuhi tanya. Dia berlalu meninggalkan meja makan.
“Mbok?” satu-satunya harapan Anisa, yang masih tersisa.
“Dia yang mengatur semua tugas dan tanggung jawab pelayan disini. Tata cara memperlakukan Tuan. Kalau sampai ada yang melanggar, dia tidak segan menyuruh tuan untuk memecat kami tanpa pesangon” Penjelasan si Mbok masih membentuk tanya yang semakin menggunung
“Maksud saya siapa dia?”
“Kurang tahu, Tuan manggil Mama” lebih lanjut penjelasan si mbok masih membuat NIsa merasa tidak puas. “ kalau hubungan dengan Tuan saya kurang tahu. Biar Tuan yang menjelaskan”
Ini yang dia maksud Anisa. itulah jawaban diinginkannya. Ada hubungan apa wanita yang mereka bahas tadi dengan Fatih. Mengapa wanita itu seolah berkuasa atas suaminya.
Fatih tidak pernah menceritakan apapun tentang wanita yang namanya asing di telinga Anisa, bahkan ketika menemui keluarga suaminya pun tidak ada yang bernama Maura.
__ADS_1
Anisa mencoba mengingat siapa tahu Fatih pernah membahas itu sebelumnya. Tapi ingatannya memang payah, dia menyerah karena memang Fatih tidak pernah menyinggung apapun tentang wanita yang takuti Mbok Sa.
kembali melanjutkan mengupas buah, walau pikirannya sudah tidak fokus lagi. moodnya menurun, semangat untuk belajar masak sudah lenyap, sebelum dia tahu siapa yang mereka maksud.