MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
HILANG ARAH


__ADS_3

Semua orang di kediaman Fatih kalang kabut mencari keberadaan Anisa, ketakutan nampak jelas di wajah Reno dan Mbok Sa. Seharusnya hari ini mereka bersantai. Fatih sudah bilang kalau hari ini dia akan menghabiskan waktu di rumah bersama Anisa. jadi, semua pelayan dan pengawal di perintahkan untuk tidak berada di rumah utama.


“Apa ada pesan sebelum Nona pergi?” Pertanyaan untuk Mbok Sa. Karena dialah pelayan yang di tugaskan Fatih di rumah utama. Pelayan yang paling dekat dengan Anisa.


“Dia bilang, mau beli makanan untuk Tuan Fatih, Pak”


“Kalau begitu dia bawa HP?” Mbok Sa menggeleng pelan. Dia mengangkat tangannya yang menggengam dompet hitam milik Anisa.


“Dia meninggalkan ini di meja dapur” Dengan wajah sedih Mbok Sa menjelaskan.


“Bagaimana kita mencarinya, dompet dan HPnya tertinggal. Kita tidak bisa melacaknya. Mbok Sa punya petunjuk lain?” Wanita paruh baya itu menggeleng lemah. Dia tidak pernah melihat Anisa keluar sendirian. Pulang dan pergi ke sekolah diantar sopir.


“Sepeda motor matic siapa yang di pakai Nona?” Mbok Sa bingung, dapat dari mana majikannya itu sepeda motor. Semua orang yang ada di kediaman itu baru tahu kalau Anisa bisa mengendarai sepeda motor.


“Yono, dia pasti tahu sesuatu” Reno bergegas menuju ruang belakang. Tempat pelayan dan semua pengawal dan tukang kebun. Dan Yono adalah orang yang bertugas mengurus kolam dan taman belakang. Laki-laki itu tidak menginap kebetulan rumahnya dekat dengan kediaman Fatih. Setiap pagi dia datang dan pulang sore hari.


“Siapa yang mengijinkan kamu meminjamkan sepeda motor untuk Nona” Tanpa basa-basi Reno menarik kerah baju laki-laki berbadan kurus itu.


“Sa,,,saya hanya menuruti perintah Nona Nisa, kalau saya tidak kasih bukankah itu tidak sopan. Dia istri dari Tuan Fatih tidak ada hak bagi saya untuk menolak” Reno mendorong tubuh pria itu kebelakang. Yono benar, dia tidak mungkin menyangkal permintaan Nisa.


“Apa yang dia katakan sebelum pergi?” Tanyanya dengan nada tinggi.


“Dia Cuma bilang mau pergi sebentar buat beli makan siang dan akan kembali sebelum Tuan pulang” Laki-laki itu menunduk. Dia tahu ini salah, tapi mencegah majikannya pergi dia tidak akan bisa.


“Ini sudah setengah jam, dia belum kembali dan dia tidak membawa dompet dan HP, kalau terjadi apa-apa, kamu orang pertama yang akan menerima kemarahan Tuan Fatih” Tatapan Reno tajam, dia melihat tangan tua itu bergetar, dia menghela nafas panjang sebelum ahirnya berbalik.


Reno sudah mengutus sopir dan dua orang pengawal untuk berpencar mencari Anisa, dia menunggu kabar. Tapi tidak ada satupun yang mengabari artinya diantara orang yang dia utus tidak ada satupun yang menemukan Anisa.


Reno berdiri tegak dengan wajah penuh ketakukan ketika mobil sedan berwarna hitam itu memasuki gerbang, dia sudah siap dengan kemungkinan terburuk. Kemarahan atau bahkan pukulan mungkin itu yang akan dia terima.


“Bagaimana Ren” Dengan wajah panik Fatih melangkah mendekati Reno yang diam mematung.

__ADS_1


“Belum ada kabar Tuan”


“Apa ada petunjuk?”


“Nona NIsa meninggalkan dompet dan HPnya di meja dapur” Jawab Reno tanpa berani mengangkat wajah.


“Ikut aku, biar aku yang nyetir” Fatih bergegas dengan langkah panjang. Menyisakan Reno yang masih melongo di tempatnya. “Cepetan‼!” Fatih memanggil setelah mengetahui Reno tidak bergerak di tempatnya.


Bukan, ini bukan tuannya. Laki-laki yang akan marah besar ketika dia gagal melakukan sesuatu. Bukan malah mengajaknya keluar dengan suara datar tanpa bentakan. Reno berperang dengan pikirannya sendiri mengamati menyetir sesekali tatapannya berkeliling menyusuri setiap jalanan yang dia lalui.


“Bagaimana aku bisa menemukanmu” Gumamnya dengan nada putus asa. Fatih sudah berkendara cukup jauh mencari keberadaan Anisa. tapi tidak ditemukannya sosok itu.


Ponsel Reno berdering, bukan nada tapi pesan yang masuk.


“Kita ke taman dekat SMA Harapan Bangsa, Bang.” Ucapnya setelah membaca pesan dari Orang suruhannya. Reno memerintahkan sopir Anisa agar terus mengawasi tanpa mendekat.


Reno tidak akan memberi tahu Fatih tentang Foto itu, kalau tidak dia tidak bisa memprediksi reaksi atasannya. Dirinya pun tidak tega melihat foto Anisa.


Tanpa pikir panjang Fatih memutar balik kendaraannya. Tempat itu adalah tempat yang setiap hari NIsa lewati ketika akan mengajar. Satu arah dengan sekolah SMA. Fatih merasa dirinya orang paling bodoh, bagaimana dia tidak kepikiran ke tempat itu. tempat itu adalah satu-satunya tempat yang Nisa hafal jalannya.


Suasana yang ramai oleh pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar taman membuat Fatih kesulitan menemukan keberadaan Anisa. Banyaknya pembeli di area pedagang juga membuat Fatih tidak bisa menemukan keberadaan istrinya.


Tanpa bersuara, Reno menunjuk ke tengah taman. Nampak seorang wanita berhijab sedang duduk dengan menundukkan wajah. Tangannya menopang badannya di kursi, sesekali tangan itu menyeka pipi.


Anisa terlihat seperti seorang yang putih ada, tatapannya lurus. sesekali wajahnya menunduk.


Fatih segera berlari, tanpa melihat sekitar. Dia tidak peduli dengan pandangan orang. Dia tidak peduli jika akan menjadi pusat perhatian di keramaian. Dia ingin segera memeluk Anisa, menenangkan. Fatih tidak tahu apa yang terjadi dengan istrinya.


“Nis…” Panggilnya dengan suara pelan mencoba meredam perasaan bersalah. Melihat Anisa duduk dengan tatapan menerawang seperti orang yang kehilangan arah. Dia merasa gagal menjaga istrinya.


“Abang…” Berdiri menghambur kepelukan suaminya.

__ADS_1


“Nisa tidak tahu harus ngapain, Nisa bingung Bang” Tangisnya pecah, sedari tadi Anisa sudah mencoba menahan air itu tumpah. Tapi gagal, setelah melihat sosok yang memang dia tunggu kedatangannya.


“Kenapa keluar nggak bilang, kan bisa ngajak sopir” Memeluk istrinya dengan erat.


“Nisa mau beli makan buat Abang, tapi nggak bawa dompet. Mau pulang tidak tahu lewat mana?” Suara tangisnya pecah. Anisa memeluk suaminya erat. Dia luapkan perasaan takut dan bingungnya di dada bidang sangat suami. Damai, walau pada ahirnya segala rasa itu melebur dalam deraian air mata yang tak terkendali.


“Tidak apa-apa. Abang bawa dompet mau beli apa?” Mengendurkan pelukannya dia mengusap wajah Anisa yang berderai air mata.


Tatapan mereka beradu, kembali perempuan itu masuk kedalam pelukan suaminya.


“Nisa pikir akan siap ketika hari ini tiba, nyatanya Anisa tetap tidak sanggup. Anisa tidak bisa apa-apa tanpa Abang” Ucapnya lirih, Fatih mengerutkan alisnya. Ucapan wanita dalam dekapannya ini terasa janggal. Apa yang terjadi hari ini?


“Kita cari makan dulu, setelah itu Abang akan mendengarkan cerita Nisa” Ucapnya mengusap lembut punggung Anisa. Fatih tidak mungkin mengecam istrinya dengan pertanyaan, melihat Anisa yang masih belum bisa menguasai dirinya. fatih meredam rasa penasaran itu dalam-dalam.


Walaupun Fatih bingung, tapi dia harus tetap tenang. Anisa bukan wanita yang gampang di tebak.


“Kunci sepeda motornya mana, biar Reno yang bawa pulang. Nisa naik mobil sama Abang” menadahkan tangan meminta kunci motor.


NIsa meraba setiap saku di bajunya, tapi dia tidak menemukan apapun.


“Masih ada di sepeda, Nisa tidak sempat mencabut tadi, antri makanan takut nggak kebagian. Tapi lupa bawa dompet mana antrinya panjang. Baksonya dikasihkan ke orang” Mata teduh itu masih berembun. Fatih terenyuh mendengar cerita istrinya. Dia tidak bisa membayangkan perasaannya ketika tahu tidak bawa uang. Pasti sangat malu. Membayangkan itu Fatih memejamkan matanya.


“Kita beli apa yang Nisa mau” mereka bergandengan tangan menyusuri pedagang kaki lima yang berjejer mengelilingi taman. Hari minggu memang waktunya memanjakan lidah dengan kuliner lezat di pinggir jalan.


Sebagian orang datang membawa keluarga menikmati hari laibur dengan duduk di sektiar taman yang ditumbuhi pohon rindang.


Anisa membeli berbagai makanan yang sudah ada di list kepalanya sebelum Fatih datang.


Fatih rela menemani istrinya antri walaupun panas dia tidak hiraukan asalkan anisa bahagia, apapun akan dilakukannya. Padahal di sebrang jalan ada restoran yang menyediakan makanan yang sama dengan yang ditawarkan pedagang asongan. Entah mengapa Anisa memilih makanan di tempat mereka.


“Ada lagi? ” Tangan Fatih penuh dengan gantungan plastik berisi makanan. Tapi dia masih menawaran Anisa untuk menebus rasa bersalahnya.

__ADS_1


“Hitung ada berapa?” Mengangkat tangan suaminya yang lebih mirip gantungan di pedagang sayur. Wajahnya tersenyum puas setelah melihat semua makanan yang dia mau tergantung indah di tangan suaminya. jangan bayangkan hanya satu tangan yang terisi. Ke dua tangan dan sepuluh jari suaminya sudah terisi penuh. “Nanti kalau Nisa beli lagi tangan Abang nggak cukup” berjalan melingkarkan tangannya di lengan Fatih.


“Pulang?” Tanyanya, yang di jawab anggukan kepala. Langkahnya ringan, seringan bebannya yang sedikit terangkat melihat senyum di wajah sang istri.


__ADS_2