
“Katakan sebelum Abang berkata “pernah mencintai” dan hanya meninggalkan kenangan. Karena setelah itu hanya akan ada penyesalan melihat dia yang pernah kita cintai bahagia bersama orang lain. Dan lebih sakitnya lagi ternyata dia pernah menunggu kepastian sampai ahirnya menyerah dan memilih bahagia dengan caranya sendiri”
Yang di takutkan Fatih adalah kalimat terahir dari asistennya. Bahkan ketakutan lainnya adalah ketika ada seseorang yang dengan bahagia mengusap air mata istrinya menggandeng tangannya membawa lari dari hidupnya. Tangannya mengepal keras menghantamkan pada tembok kokoh di depannya. Dia mengakui kalau hatinya terlalu lemah hanya dengan membayangkannya saja sudah tidak mampu.
“Aku pastikan kalau laki-laki itu adalah aku, senyum bahagianya harus aku yang ciptakan. Apapun yang terjadi akan aku hadapi. Sekalipun seluruh dunia akan membenciku, aku tidak peduli” Gumamnya dengan tatapan tajam. Sejam yang lalu Reno sudah berlalu meninggalkan dirinya. Dia tidak peduli dengan semua agenda hari ini. semua tanggung jawabnya dia limpahkan pada Reno.
Jam tiga siang menjelang sore dia melangkah menuju parkiran, basemant kantor. Tempat mobilnya terparkir, langkahnya pasti tanpa keraguan. Hari ini semuanya harus jelas. Dia tidak ingin kalah bersaing dengan siapapun. Tangannya melepas kancing jas berwarna hitam satu persatu. Untuk kali ini dia melewatkan senyum dan sapaan beberapa karyawannya yang berpapasan dengannya.
“Pulang sekarang, Tuan” Sapa seorang laki-laki berbadan tegap yang menunggunya di depan sedan mewah berwarna hitam
“Iya, tapi saya yang akan membawanya sendiri” Jawabnya dengan tatapan dingin mengintimidasi. Setelah menyerahkan kunci mobil laki-laki itu mundur dengan kepala tertunduk. Untuk hari ini jangan ada yang membantah, aura yang keluar dari pemilik perusahaan besar ini sedang tidak baik.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, setengah jam perjalanan kalau tidak macet dia akan bertemu istrinya. Wanita yang akan dia perjuangkan dengan segenap jiwa raganya. Dia sangat merindukan senyum cerah yang mulai jarang terlihat. Hanya senyum ramah sebagai sapaan pagi dan sore hari ketika pulang kerja. Tidak ada cerita seru yang Fatih dengar, hanya diam dan tatapan sendu Anisa yang selalu dia dapatkan ketika pelukan hangatnya menjelang tidur.
Wajah cantik itu membulat sempurna ketika melihat laki-laki yang keluar dari mobil. Bukan sopir seperti biasa yang mengantar jemputnya. Tapi wajah laki-laki yang selalu memenuhi benaknya. Wajah yang telah memenjarakan hatinya dengan tidak tahu diri.
Kakinya terpaku di pintu gerbang sekolah. Tidak berani melangkah takut pandangannya salah.
“Mari Bu Nisa, saya duluan” Sapaan beberapa guru yang melewatinya hanya di jawab anggukan dang senyuman ramah.
“Bu Nisa belum di jemput, mau ikut saya” Seorang laki-laki muda memakai baju batik yang sama dengan Anisa menyapanya dengan lembut, jangan lupakan senyumannya yang dia buat sesempurna mungkin.
Senyuman yang telah menyurut amarah seorang laki-laki di didepan gerbang, telinganya dengan jelas menangkap tawaran itu. Dia menghampiri istrinya dengan tergesa. Menggandeng tangannya dengan erat membawanya masuk kedalam mobil. Hatinya panas mendengar suara lembut laki-laki tadi. Suara yang tidak lebih seperti sebuah penghinaan baginya. Kalau bukan memikirkan lingkup sekolah, dia ingin menghantam dengan keras wajah yang tersenyum dengan penuh percaya diri itu. Bukan, lebih tepatnya laki-laki yang tidak tahu diri.
Bagaimana bisa menawarkan tumpangan pada wanita yang sudah beristri, sementara didepannya ada dirinya sebagai suaminya yang sedang menjemput. Dan hatinya lebih panas melihat Anisa membalas senyuman itu walaupun belum sempat menjawab.
__ADS_1
“Abang tidak biasanya jemput Nisa?” Pertanyaan yang sudah tidak bisa dia tahan ahirnya keluar.
“Apa Nisa keberatan Abang yang jemput?” Belum selesai hatinya panas, ditambah pertanyaan istrinya yang menurutnya tidak wajar. “Apa ada larangan suami menjemput istrinya ke tempat kerja?” Tanyanya lagi dengan tatapan tajam pada jalanan.
“Nisa seneng banget abang jemput. Kerjaan Abang sudah selesai?” menngunakan kalimat yang menunjukkan berapa senangnya dia dengan kata banget demi meredam wajah masam sangat suami.
“Aku mempekerjakan mereka untuk meringankan bebanku. Aku bosnya kalau kamu lupa” Amarahnya belum surut.
“Abang marah?” Dengan polosnya pertanyaan itu meluncur.
“Kelihatannya bagaimana?” Lagi-lagi Fatih menjawab pertanyaan istrinya dengan pertanyaan.
“Kalau jemput Nisa Cuma buat melampiasakn kemarahan buat apa?. lebih baik Abang balik lagi kekantor. Nisa biar di jemput sopir seperti biasa” untuk apa menjemput kalau harus meluapkan kemarahan padanya. Nisa tidak merasa melakukan kesalahan apapun. “jangan mencampur adukkan masalah pribadi dengan kantor” lanjutnya lagi dengan tangan yang dia lipat di depan dada.
Mobil menepi, Fatih menarik nafas panjang. Dia melihat istrinya di samping. Dengan senyum tulus ahirnya Fatih mengusap kepala Anisa dengan lembut. Tanpa bersuara dia menjalankan kembali mobilnya. Kali ini dia memegang tangan itu dengan erat. Tanpa penolakan pastinya.
Hari ini dia ingin Anisa tahu hatinya, tentang perasaannya. Dia tidak ingin ada yang mendahului.
Mobil berhenti di lobi hotel. Seorang petugas mendekat. Fatih keluar menggandeng tangan sang istri, melewati lobi hotel. Bahkan melewati resepsionis. Jangan lupakan tatapan tajam beberapa orang yang melihat mereka. Baju cokelatnya yang menjadi perhatian apalagi tangannya sedang di gandeng Fatih dengan penampilan yang tidak bisa di bilang biasa. Pikiran liar, mereka yang mulai menebak menatap tajam ke arah mereka.
Anisa yang menyadari tatapan mereka hanya bisa menunduk. Fatih tidak peduli dia terus menarik tangan istrinya melewati beberapa petugas yang menyapanya. Hingga masuk kedalam lift pun masih tanpa suara.
Tiba di sebuah kamar dengan nuansa putih dan sentuhan warna cokelat kayu yang sangat luas. Anisa terpaku dengan tatapan takjub. President suite. Dengan segala fasilitas yang tidak bisa di bilang biasa. Fatih hanya memandang sang istri yang masih takjub.
“Istriku belum pernah menginap di hotel” Tanyanya dengan tatapan memuja, tangannya masuk kedlam saku celananya.
__ADS_1
“Sering, tapi kalau dapat kamar yang mewah seperti ini baru sekarang” Jawabnya jujur. Apapun yang ada di dalam ruangan ini menurut Anisa tidak bisa di jangkau oleh orang seperti dirinya.
“Senang?”
“Hhmm…” dengan anggukan dan wajah sangat puas.
“Mau setiap hari tinggal di tempat seperti ini?”
“Jangan Bang, nggak kuat bayarnya” tatapannya berkeliling ke setiap sudut ruangan.
Fatih tersenyum senang mendengar pengakuan Anisa yang menurutnya terlalu polos. Bagaimana istrinya masih belum tahu apa saja yang dia miliki. Sebanyak apa hasil kerja kerasnya selama ini yang dia kumpulkan hanya untuk menyenangkan wanitanya.
“Mulai hari ini Nisa boleh minta apa saja yang Nisa inginkan. Abang akan mengabulkan” pintanya mendekati sang istri. Tangannya terulur hendak mendakap anisa kedalam pelukannya. Namun langkahnya terhenti melihat tangan Anisa terulur mencegahnya. Senyum itu hilang berganti kerutan di kening.
“Seharusnya kita nggak kesini, Nisa bau keringat seharian dikantor” Berjalan kearah sofa. Dia duduk setelah puas melihat semua yang ada di dalam ruangan.
“Abang sudah menyiapkan semua” Fatih menyusulnya di belakang.
Anisa menatap suaminya heran. Dia tidak bisa mencerna semua kata-kata suaminya. sejak kapan Fatih menyiapkan keperluannya di tempat ini.
“Abang memang sudah merencanakan ini?” Tanyanya penuh selidik.
“Jauh sebelum hari ini” jawabnya tanpa beban.
Sedang Anisa yang masih menatapnya dengan bingung, tidak tahu harus berkata apa. Dirinya tahu uang suaminya sangat banyak. Tapi rasanya sia-sia kalau harus menyewa hotel dengan pelayanan seperti ini. tetntu biayanya akan sangat mahal. Padahal rumahnya sudah sangat nyaman jika hanya untuk istirahat seperti biasa.
__ADS_1
“Uang yang abang keluarkan pasti tidak sedikit, hotel dan rumah itu hanya beda suasana luarnya. Yang merasakan nyaman tidaknya itu hati kita. Bagaimana bisa merasa nyaman jika setiap pelayanan yang kita pakai harus di hitung dengan rupiah. Bukan Nisa pelit bang, di rumah sudah jauh lebih nyaman dari ini asalkan ada Abang” tatapannya lekat pada wajah suaminya, yang membalas tatapan itu dengan senyum.
Sekali lagi wanita di depannya ini membuat debaran jantungnya menggila. Kekaguman itu semakin terpupuk dengan sempurna. Fatih sudah berjanji hari ini di tempat ini dia ingin membuat istrinya tahu bahwa hatinya tidak akan berpaling.