
"Kita mau kemana?” Tanyanya setelah keluar dari kamar hendak memasuki lift.
“Kerumah Mama, aku ingin memperjuangkan kita. Hubungan ini tidak ingin Abang tukar dengan apapun” Meremas tangan sang istri kuat. Mencari kekuatan disana. Tapi hatinya sudah yakin bahwa wanita yang sedang menatapnya ini yang akan menjadi kekuatannya. “Apapun yang terjadi nanti jangan tinggalin Abang. Karena Abang tidak akan sanggup”
Anisa seperti mendapati sosok lain dalam diri suaminya. laki-laki yang selalu terilhat ragu, kini berbicara penuh kepastian. Keyakinannya penuh dalam setiap untaian setiap kalimat yang terlontar dari bibirnya.
“Berkunjung kerumah mertua tidak boleh dengan tangan kosong. Nisa nunggu di lobi Abang pesan makanan dulu” sesaat menhentikan langkahnya ketika tiba di lobi hotel.
Fatih menatap istrinya tajam, wanita ini tahu posisi orang yang akan dia kunjungi tapi masih punya sifat sebaik itu, untuk membawakannya oleh-oleh. Dan posisinya hanya orang tua angkat bukan kandung. Tapi istrinya menghormati selayaknya orang tua kandung. Tidakkah mamanya malu seandainya dia tahu wanita seperti apa yang sedang berusaha dia singkirkan dari hidupnya.
Perpaduan gaun hitam dengan hijab silver modtif bunga tulip yang di pakai istrinya menambah anggun auranya malam ini. Fatih dengan kemeja kotak berwarna senada dengan celana bahan berwarna hitam. Bukan undangan resmi hanya kunjungan biasa, jadi mereka ingin terlihat santai.
“Abang panjang umur, baru kami membicarakan kalian” Sambutan suara Irene yang girang sedikit mengurangi ketegangan di wajah keduanya. “Kak Nisa datang nggak bilang-bilang, sayang sekali Irene ada acara sama teman-teman, tapi Irene janji langsung pulang. Abang ngobrolnya yang lama, ya. Papa kangen katanya” Irene dengan kalimat yang sangat cepat dan terpancar kebahagiaan di sana. “Irene berangkat dulu Kalian jangan langsung pulang nanti Irene marah”
Wajahnya dibuat cemberut, tapi dia langsung memeluk Anisa dengan erat.
“Apa kabar Fa…” Suara Tuan wardhana menyambut mereka di ruang tamu. Terdengar hangat sampai ke telinga mereka.
“Baik, Papa apa kabar?” Balas Fatih dengan suara lembut.
“Papa jauh lebih baik sekarang, apalagi mendengar pernikahan kalian. Papa ingin hidup lebih lama tidak sabar pengen lihat hasil karyamu” Candanya, menggoda dua orang di depannya.
“Ini ada oleh-oleh, Nisa yang punya Ide” Menyerahkan bungkusan ketangan Tuan Wardhana
“Ini dari hotelmu Fa?” Di jawab anggukan Fatih, dengan senyum hangat laki-laki itu menyambutnya. Tuan Wardhana meletakkan bungkusan di meja.
“ Saya Wardhana, kamu pasti tahu siapa saya. Siapa namamu Nak” Menunjuk Anisa. Walaupun sudah tahu laki-laki berusia sekitar enam puluh tahunan itu tidak ingin menciptakan kecanggungan.
Fatih memegang tangan sang istri yang masih berdiri dengan menunduk disebelahnya. Tangan itu mulai terasa dingin.
Berusaha mencairkan suasana yang terasa canggung. Laki-laki bertubuh tinggi itu melihat menantunya dengan rasa kagum. Entahlah, dia melihat sesuatu yang istimewa dari wanita muda di depannya.
“Anisa Om?” balasnya dengan emnyambut uluran tangan Sang menantu.
__ADS_1
“Kenapa panggil Om, panggil Papa biar sama dengan Suamimu Nak”
Lain tuan wardhana lain juga istrinya. Nyatanya Anisa tidak melihat aura yang menakutkan dari suami Nyonya Maura. Justru sifat tenang dan ramah yang dia terima.
Seorang wanita dengan tatanan rambut disanggul muncul dengan membawa segelas minuman ditangannya, wanita itu sempat menghentikan langkah sebentar sebelum melanjutkan lagi.
“Ahirnya kamu datang juga” Sambutan yang tidak enak didengar. Bernada sinis dengan tatapan dingin.
“Bisa ramah sedikt nggak sih Ma. Fatih baru datang sambutanmu tidak enak. Hargai tamu siapapun itu. Apalagi mereka bagian di keluarga kita” Tegur suaminya yang hanya mendapat tatapan sinis.
“Sudah seminggu lebih Mamamu selalu begini. Kamu tahu Fa, dia yang mengambilkan Papa minum. Istriku tidak pernah menyuruh pelayan melayani Papa. Dan yang lebih hebatnya lagi. Dia sudah mau turun ke dapur, itulah yang membuat kesehatan Papa semakin membaik. Istriku mengurangi beberapa kegiatannya di luar. Padahal dulu kalau Papa tegur bisa marah besar dia” Tuan Wardhana tertawa bahagia menceritakan kelebihan istrinya ahir-ahir ini.
Sedangkan wanita itu menanggapi dengan wajah masam seperti biasa. Ada raut tidak suka dengan cerita suaminya tapi dia tidak bisa membantah.
“Apa kabar Bang?” Wisnu bergabung dengan mereka. dengan senyumnya yang mengembang dia menyapa Anisa “Hai Nis, apa kabar. Chika ada disini. Aku ngubungi kamu tapi nomormu tidak aktif, kamu ganti nomor ya?” Tanyanya tanpa basa-basi.
“Nomorku masih yang lama kok belum ganti” Anisa menatap Wisnu bingung. Tapi juga bahagia mendengar Chika ada di jakarta. Dia rindu sahabatnya.
“Dia teman SMA Pa”
“Oohhh,,hidup ini lengkupnya kecil ya. Bisa-bisanya temanmu menikah sama Abangmu” Tuan Wardhana senang dengan kunjungan Anisa. wanita istimewa dalam pandangannya. Tidak heran Fatih memilih wanita yang masih setia dengan tatapannya ke bawah.
“Ada yang mau saya bicarakan terkait kedatangan saya kesini, Pa” Fatih membuka pembicaraan yang menurutnya sudah seharusnya. Ini adalah moment yang dia tunggu. Ada Wisnu juga. Yang harus mendengarkan pengakuannya pada Anisa. dia tidak mau adik angkatnya itu mencari peluang seperti yang di katakan Reno kemarin.
“Mama juga ingin mengatakan semuanya pada kalian. Dan Mama yang akan duluan berbicara” Suara tegas dengan suasana tiba-tiba canggung menyergap ruang utama.
Rumah ini sangat luas, bahkan di bangun dengan ventilasi yang cukup sehingga sirkulasi udara berjalan dengan baik. Tapi mengapa Anisa tiba-tiba merasa ruangan ini pengap, hawanya berubah panas mencekam. Aliran udara itu tidak sampai ke hadapannya. Esak dan mencekam itu yang Anisa kan. Mungkin rasakan. Mungkin inilah saatnya. Perjalanan terahir dengan sang suami sudah sampai pada batas yang tidak bisa dia lewati,
“Berhenti dengan kegilaan Mama, atau nanti menyesal” Ancaman suaminya bahkan tidak dia gubris.
“Sudah waktunya Fatih tahu Pa” Masih dengan pendiriannya.
“Tidak ada yang pernah mendukung ide Mama termasuk aku dan Papa. Jadi jangan lanjutkan Ma. Wisnu mohon” Kali ini Wisnu yang mencoba menghentikan kalimat yang akan terucap dari sang Mama.
__ADS_1
“Dan kamu tidak berhak ikut campur” justru Wisnu mendapatkan ancaman dengan tajam Nyonya Maura, yang mampu menciutkan nyalinya seketika.
“Mama membantumu selama ini bukan tanpa alasan, sekarang sudah waktunya mama menagihnya” Jedah, tidak ada yang bersuara. “Mama mempersiapkan kamu untuk menjadi suami Irene, dan kamu harus tahu diri, Bang”
Kalimat itu bagaikan sambaran petir menghantam dadanya. Fatih melotot tidak percaya. Tatapannya beralih pada wanita yang sedang di genggam tangannya. Bergetar dan dingin, wajah itu semakin dalam menunduk. Tidak bisakah pembicaraan ini tidak melibatkan istrinya. Bisakah kalimat kejam itu hanya dirinya yang mendengar. Rasa percaya diri itu runtuh seketika, tekadnya yang sudah bulat harus menggelinding entah kemana. Kepalanya buntu bukan karena ancaman Nyonya Maura. Tapi dia tidak bisa melindungi perasaan istrinya. Fatih tahu sehancur apa Anisa sekarang.
“Tidak bisakah Mama melihat Anisa, sebentar saja” mohonnya. Walaupun pada ahirnya akan sia-sia. Siapa yang bisa melawan seorang Nyonya rumah yang angkuh ini.
“Nisa nggak apa-apa Bang, Nisa seharusnya tahu dari awal. Nisa rasa ini bukan urusan Nisa. Jadi Nisa mundur, saya mohon maaf sudah menghancurkan impian kalian” Matanya sudah berair, sebisa mungkin dia menahan diri agar tidak runtuh di hadapaan suaminya. hatinya sakit, meskipun dirinya sudah menyiapkan diri untuk hal yang buruk, tapi tetap saja rasa sakit itu sudah terlanjur menusuk hatinya.
Anisa pergi setelah melepaskan tangan suaminya. Dia tidak sangggup untuk mendengarkan penjelasan lebih jauh. Bahkan Fatih tidak berusaha mencegahnya, ataupun tidak menyangkal ucapan Nyonya Maura. Dimana janji yang katanya mau berjuang, ingin menghabiskan sisa hidup bersamanya hingga ahir. Dimana kata cinta yang baru beberapa jam yang lalu dia bisikkan tepat ditelinganya. Selemah itukah suaminya dihadapan Nyonya Maura. Atau memang suaminya mengetahui rencana itu dari awal. kemudian menyeretnya masuk kedalam kehidupannya dan memaksa dengan pernikahan. Inikah alasan pernikahan yang terkesan tiba-tiba?.
“Antar Nisa
Nu, kamu disini Bang, selesaikan masalahmu. Mama keterlaluan” umpatan dan kemarahan Tuan Wardhana tidak mendapat tanggapan apapun.
“Baik, kalau Mama meminta imbalan atas kebaikan Mama selama ini, akan Saya berikan. Ambil semua yang sudah mama beri buat saya, tanpa terkecuali. Dan satu hal yang harus Mama tahu sampai kapanpun saya tidak akan melepaskan Anisa. saya rela kehilangan semuanya tapi tidak dengan istri saya. Semoga Mama bernafas lega. Setelah ini” Kemarahannya sudah tidak tertampung.
Dia sakit melihat air mata di wajah Anisa. saatnya melawan. Singkirkan sopan santun yang selama ini dia junjung tinggi.
“Bagus, tunggu apalagi” Bukannya takut justru wanita itu menantang tatapan Fatih
“Maksud Mama?”
“Tunggu apalagi, sana kejar istrimu Bang. Peluk dia, lindungi dia. Jangan sampai dia menangis karena Abang” Fatih menatap Mamanya tidak percaya. Wajah garang itu menahan senyum bahagia. “Mama merestui kalian” Ucapnya rendah. Fatih tersenyum bahagia.
“Jadi…”
“Ini rencana Mamamu sudah sana Bang. Papa nggak ikutan. Tidak tega. Sana kejar Anisa” tanpa pikir panjang laki-laki itu berlari menyusul sang istri. Sayang terlambat dia tidak melihat mobil Wisnu di garasi. Dia tidak tahu kemana laki-laki itu membawanya.
“Mama keterlaluan, kalau ada apa-apa Mama harus tanggung jawab” Beralih pada istrinya yang memandang pintu dengan senyum bahagia.
“Umurnya tidak muda lagi, mau bilang cinta saja sulit. Kalau nggak begini caranya mereka selamanya hidup dalam kecurigaan satu sama lain Pa” Tarikan nafas lega dengan bahagia bercampur. “Eh, tadi Abang bawa oleh-oleh. Mama makan dulu pa, ternyata pura-pura jahat menguras tenaga” Tanpa rasa bersalah wanita itu membawa bungkusan ke dalam. Tuan Wardhana melepas kepergia istrinya dengan gelengan kepala.
__ADS_1