MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
MELEPAS CINCIN


__ADS_3

Hingga panggilan, tepatnya teriakan yang ketiga ibunya, Nisa baru keluar dari kamarnya. Pemandangan baru pagi ini, laki-laki yang kemarin datang menyematkan cin-cin bersama keluarganya itu sudah duduk manis di ruang makan.


Seketika Nisa menghentikan langkahnya menuju ruang makan. Membuang muka pura-pura tidak melihat rasanya tidak mungkin. Mata mereka sudah terlanjur baradu tadi. Sepagi ini dia sudah mendapat cobaan untuk lebih bersabar.


Dapat Nisa pastikan sekarang laki-laki tidak tahu malu itu akan semakin mendapat pembelaan dari ibunya.


Sarapan hari ini terasa canggung, Nisa mengambil piring dan menyendok nasi dengan asap yang masih mengepul. Nasi goreng buatan ibunya, menunya kali ini. Semua masakan ibunya yang memasak. Bukan niat tidak ingin membantu hanya saja ibunya sering melarang Anisa kalau hanya masakan sederhana seperti ini.


Nisa tahu, laki-laki yang berstatus tunangannya itu sekarang sedang mengawasi jarinya. Sementara aman. Karena benda mungil itu masih masih tersemat disana. Tidak usah bertanya mengapa datang pagi-pagi, karena pertanyaan itu akan membuat ibunya tidak suka. Dia tidak ingin mengundang murka sang penguasa terlalu pagi.


Cukup diam, makan dan nikmati, maka semua urusan akan berjalan lancar pagi ini, tidak akan ada sorotan tajam ibunya jika Anisa menahan diri untuk menanyakan maksud kedatangan anak emasnya.


Terlihat seperti pengguran manusia didepannya. Hanya baju casual dengan celana bahan dan kaos warna hitam, sandal jepit yang menghiasi kakinya sudah menegaskan bahwa pagi ini Fatih tidak ada acara kekantor.


“Aku antar” hanya dua kalimat setelah makanannya tandas di piring, tapi mampu membuat mata Anisa melebar. Gadis yang terbiasa berangkat sendiri tiba-tiba diantar. Apa kata teman-temannya nanti. Fatih mengelap mulutnya dengan tisu, sekali lagi dia meneguk minumannya di gelas yang masih tersisa setengahnya.


“Saya terbiasa sendiri, jadi biarkan semuanya berjalan seperti biasa” tanpa menoleh Nisa menjawab. Mengecek tas takut ada yang tertingal.


“Apa salahnya Nis, orang punya niat baik kok di tolak” seperti dugaan Anisa, selalu mendapat pembelaan walaupun hanya masalah sepele seperti ini.


“Tidak ada bantahan, biarkan Fatih mengantar kamu. itu bentuk tanggung jawab dia sebagai laki-laki” seharusnya Nisa sudah tahu kalau jawaban itu yang akan keluar. Seolah hidupnya makin kesini semakin tidak punya pilihan, cukup menggerakkan kepala keatas dan kebawah maka semua akan senang.

__ADS_1


“Oke terserah” potongnya cepat, karena kalau tidak ceramah pagi itu akan masih panjang lagi. Nisa tidak ingin membuang waktunya hanya karena mendengar pembelaan ibunya untuk Fatih yang durasinya bisa membuat Anisa terlambat.


Mobil itu sudah menyala, Fatih membuka pintu disebelah kemudi. Percayalah Nisa tidak suka diperlakukan berlebihan. Dia hanya melirik tanpa mampu berbuat apa-apa. Mencium tangan dan kedua pipi ibunya seperti ritualnya setiap pagi sebelum berangkat kerja. Setelahnya dia masuk,kemudian Fatih masuk setelah berpamitan pada calon mertuanya itu. Mobil itu berjalan dengan pelan.


“Boleh buka cincinnya, nanti pulang sekolah saya pake lagi” mobil itu melambat, kemudian menepi sampai ahirnya tidak bergerak lagi.


“kenapa” wajahnya meneliti, Anisa tidak siap dengan tatapan mengintrogasi walau tanpa kalimat. “belum siap dengan pertanyaan mereka? ” lanjutnya lagi. Tarikan nafas Fatih sudah menjawab bahwa laki-laki itu keberatan.


“mengertilah, ini tidak mudah. Semuanya serba tiba-tiba, butuh persiapan yang matang untuk menjawab pertanyaan teman-temanku” Anisa mencoba meyakinkan.


“tinggal jawab kamu sudah tunangan apa salahnya” Kepalanya miring bersandar pada setir mobil.


“tidak akan berhenti sampai disitu, pertanyaan susulan itu yang membuatku tidak suka, untuk kali ini saja biarkan aku membuat keputusan ku sendiri, kalian laki-laki tidak akan mengerti seberat apa rasanya menerima pertanyaan yang tentang kehidupan pribadi” pintanya dengan wajah memelas.


“lakukan yang membuatmu nyaman, maaf mungkin caraku pada saat yang tidak tepat” tangan masih memegang setir tatapan menerawang kedepan. Nisa merasa tidak enak tapi gadis itu tidak punya pilihan lain. Hatinya belum benar-benar siap menghadapi teman-temannya.


“Maaf” serunya dengan nada penyesalan. Kembali tatapan bingung diarahkan untuk Anisa, mengurungkan niatnya untuk menjalankan mobil. Kedua alis Fatih bertaut. Mencoba mencerna kata maaf dari gadis disebelahnya. Benar, pandangannya menangkap bulir bening itu meluncur dari mata indah gadis itu, belum sampai ke pipi karena jari lentiknya mengusap dengan segera.


Nyeri walau tak parah, melihat mata indah itu basah karena air mata. Wanita dengan segala keunikannya, perkara cincin saja harus ada air mata yang mengalir.


Fatih laki-laki, dia bingung harus berbuat apa. Ingin memeluk untuk menenangkan rasanya tidak mungkin. Atau sekedar menggenggam tangan itu untuk mengatakan semuanya baik-baik saja pun belum saatnya. Dia hanya mampu menyugar rambutnya kasar. Menunggu wanitanya lebih tenang. Salahkah dia mengikat Anisa sejauh ini. Memberikan tanda bahwa gadis itu sekarang adalah miliknya. Mengapa tidak menolaknya kemarin ketika Nisa di depan keluarga besarnya.

__ADS_1


“Kalau sekiranya keberadaan cincin itu membuatmu terbebani lepaskan, aku tidak ingin melihat air mata lagi. aku tidak apa-apa. Tanpa cincin itu kamu tetap milikku, bukan” hanya itu yang Fatih lakukan, demi menenangkan gadisnya.


Tarikan dan hembusan nafas panjang berulang-ulang keluar dari bibirnya. Tatapan itu masih meneliti, apakah Anisa lebih tenang setelah kalimatnya barusan.


“Nanti saya pakai lagi, janji. Untuk saat ini biarkan jarinya seperti biasa. Sampai saya siap menghadapi pertanyaan mereka” nadanya lemah menundukkan kepala. Ada rasa tidak nyaman ketika Nisa menyampaikan kalimat itu. Dia tidak ingin menyinggung perasaan Fatih. Tapi tidak ada pilihan lain, dia tidak ingin mengundang pertanyaan apapun. Nisa tidak punya stock jawaban yang cukup. Karena ini terlalu pribadi, dan salah satu hal yang tidak disukainya adalah ketika ada orang yang bertanya menyangkut masalah pribadi.


“Oke santai saja, bisa kita berangkat sekarang” berusaha mencairkan suasana. Setelah melihat keadaan Nisa lebih tenang, dengan anggukan kepala, ahirnya mobil itu berjalan lambat.


“Nanti saya turun di sebrang jalan. Tidak usah berhenti didepan gerbang. Sekali lagi saya tidak ingin siapapun melihat saya diantar” satu lagi permintaan Anisa yang membuat dahi Fatih berkerut.


“Apakah kamu juga tidak punya jawaban untuk itu” Nisa mengangguk, Semakin penasaran saja Fatih dengan gadis disebelahnya, perkara diantar saja pun harus ada jawabannya.


“Bukan apa-apa, mobil ini hanya orang-orang tertentu yang mampu membelinya” Fatih bisa apa selain pasrah dan mengangguk. Tanpa membuka suara jawaban itu sudah mewakili semuanya.


Gadis yang unik, kebanyakan wanita akan memamerkan apapun kemewahan yang mereka miliki, perhiasan, kendaraan. Baju bermerk atau apapun. Tapi tidak dengan Anisa, sedari awal kesederhanaan itu yang menjadi daya tarik Fatih. Berbeda dengan wanita yang pernah mengincarnya. Mereka menginginkan kehidupan Fatih demi mendompleng popularits untuk di tunjukkan di dunia maya.


Jangankan memamerkan, bahkan dengan terang-terangan Anisa meminta ijin untuk menyembunyikan cin-cinnya. Satu lagi bahkan dia tidak bersedia diantar sampai depan gerbang hanya karena mobil Fatih diatas kalangan biasanya. Entah keunikan apalagi yang akan ditunjukkan Anisa padanya nanti.


Melajukan mobilnya dengan segera meninggalkan gerbang sekolah. Hari ini banyak rapat, bergegas pulang berganti baju, setelahnya kembali kerutinitasnya sebagai calon kepala keluarga. Ah, hatinya membuncah demi membayangkan nanti dia akan menjadi kepala keluarga dari gadis yang di idamkannya dari dulu. Disambut dengan senyuman hangat sepulang kantor, melenyapkan segala lelah dan amarah. Seharusnya Anisa tadi mencium tangannya sebelum keluar dari mobil. Bukankah begitu suami istri.


Senyum itu mengembang. Hari ini dan seterusnya Fatih seolah punya semangat untuk lebih giat bekerja. Dia tidak akan lagi merasa bosan dengan meeting dan laporan. Karena ada wajah teduh yang akan menyambutnya setelah pulang mencari nafkah.

__ADS_1


Menjadi laki-laki sederhana, bersikap biasa. Demi menepati janjinya pada calon pendampingnya, atau bahkan demi terlihat biasa di hadapan Anisa, usaha sudah dilakukan. Hasilnya bukan dia yang menentukan. Kembali lagi pada gadis itu, apakah dia menilai semua yang dilakukan Fatih sudah pantas mendapatkan nilai yang memuaskan atau ada hal lain yang harus diperbaiki lagi.


yang jelas sekarang Anisa sudah menjadi miliknya, tidak boleh seorang pun yang mengganggu apa yang telah sah ia miliki.


__ADS_2