
“Bang, Mama mau ngajak Anisa besok ke arisan. Mau Mama kenalkan ke teman-teman Mama” Suara Nyonya Maura dari sebarang membuat Fatih tidak nyaman. Dirinya tidak tahu harus menjawab apa. “Jangan bilang nggak Bang, Mama sudah bilang ke mereka kalau mau bawa menantu Mama. Mereka antusias pengen tahu istrimu” lanjutan kalimatnya semakin membuat Fatih bungkam. Dia menunduk sambil memijat pelipisnya. Jawaban apa yang harus dia katakan.
“Jangan sekarang Ma, tunda dulu” Hanya jawaban itu yang mampu dia keluarkan, tidak mungkin Fatih menceritakan bahwa ANisa sedang tidak bersamanya sekarang.
“Abang berlebihan. Biar istrimu belajar bersosialisasi dengan teman-teman Mama. Nanti mereka akan menjadi temannya juga” Nyonya Maura dengan tekadnya yang sudah bulat.
“Tapi Ma…” Belum selesai kalimatnya Nyonya Maura sudah menuemvurkan kalimat berikutnya.
“Atau jangan-jangan Abang sama ANisa ada masalah, Ya” Tebakannya ternyata membuat Fatih membeku.
“Sejak kejadian kemarin di rumah Mama Anisa belum pulang” Ahirnya Fatih bisa jujur. Dia tidak ingin Ibu angkatnya itu memaksa datang sementara Anisa tidak ada di rumah. Biarlah dia mengungkapkan kebenarannya. Tidak ada yang perlu di sembunyikan dari wanita yang telah merestui hubungannya dengan Anisa.
“Kenapa nggak di cari, kamu sebagai suami itu tugasnya melindungi istri. Kok bisa istri belum pulang dua hari kamunya masih tenang. Bisa jagain NIsa nggak sih, bang?” Sudah Fatih duga reaksi wanita itu. ini sebenarnya belum seberapa. Biasanya nadanya bisa naik dua kali lipat dan kalimatnya bisa lebih panjang lagi.
“Sudah Ma” jawabnya dengan suara datar. Sudah beberapa hari seorang Fatih kehilangan semangat hidup. Hampa tanpa tujuan.
“Ketemu?” Dengan nada penuh selidik.
“Iya”
__ADS_1
“Loh, kok belum pulang, bagaimana ceritanya?”
Fatih menarik nafas panjang, dia berdiri dari kursinya. Berjalan kearah jendela. Andai dia bisa tentu sudah dilakukan. Tapi istrinya terlihat lebih bahagia sekarang, tertawa lepas bersama Chika. Mungkin Wisnu benar. Cintanya telah merenggut kebebasan Anisa. bukankah seharusnya cinta mampu menekan ego. Nyatanya dia telah membawa Anisa jauh dari lingkungan yang dia kenal, menuju ketempat asing hanya untuk mengikuti kemauannya.
“Bang…” Tiba-tiba suara di seberang gawainya merendah. Menarik Fatih kealam sadar. “Wanita itu tidak akan datang sendiri, dia tidak akan tahu diinginkan atau tidak. Seharusnya di jemput. Dengan begitu dia akan merasa diinginkan. Mama tahu sebesar apa cintamu untuk ANisa. tapi caramu memperlakukannya terlalu berlebihan. Mengalah itu sesekali, lihat keadaan, kalau keadaan seperti ini abang diam itu bukan mengalah namanya, tapi membiarkan Anisa berpikiran kalau Abang tidak lagi menginginkan dia sebagai istri” Benarkah begitu?. ANisa menunggunya untuk di jemput pulang. “Mama tunggu kabar Anisa sudah di rumah. pokoknya Mama tidak mau tahu” Tanpa menunggu jawabannya, suara disebrang berganti suara telepon berahir.
Sudah cukup dua hari dia membiarkan rumahnya terasa hampa. Kamar yang biasanya hangat terasa dingin. Dan sudah dua hari juga makannya berantakan dan jam tidurnya kacau. Fatih lelah, hatinya kehilangan semangat. Tapi sekarang dia akan mengikuti saran Mamanya, menjemput istrinya untuk kembali bersama.
Dia baru saja duduk ketika pintu ruangannya terbuka, Reno dengan wajah lelah dan beberapa berkas ditangannya. Fatih hanya melihatnya sekilas kemudian kembali merapikan meja kerjanya dan mematikan komputer. Memasukkan beberapa berkas pada tempatnya. Menatanya kembali seperti semula. Hingga meja kerjanya kembali rapi seperti biasa.
“Mau sampai kapan Abang akan memantau jarak jauh?” Fatih menghentikan tangannya ketika akan meletakkan file terahir di kabinet.
“Aku akan menjemputnya sekarang” Reno mengernyitkan dahi, bukankah itu yang dia sarankan dari kemarin. Mengapa baru sekarang Tuannya berubah pikiran. Di tatapnya punggung Fatih yang berjalan ke kamar mandi. Ribuan tanya mengepung kepala Reno. Siapa yang sudah merubah keputusannya. Yang akan membiarkan Anisa menikmati liburan semester dengan menghabiskan waktu bersama dengan Chika.
Fatih ingin melihat apakah kemarahan istrinya merubah keputusannya untuk tetap bertahan atau meninggalkan dirinya. Mengingat begitu kuatnya keinginan Wisnu untuk merebut Anisa dari tangannya. Dan cara yang dilakukan Wisnu sangat terlihat bagi Fatih. Tapi tidak bagi Anisa. Istrinya tidak pernah menyadari perasaan Wisnu terhadapnya sejak dulu. Tatapannya dan cara menjawab setiap gurauan yang dilontarkan Wisnu terdengar biasa. Tapi tatapan Wisnu pada istrinya masih seperti biasa, tatapan memuja seorang laki-laki terhadap perempuan yang di cintainya.
Marah, benci bahkan terkadang ada keinginan ingin mendaratkan kepalan tangan di wajah adik angkatnya. Suatu waktu dia ingin menarik Anisa pulang paksa dari hadapan Wisnu. tapi tidak pernah Fatih lakukan. Dia ingin anisa mencintainya tanpa paksaan. Tetap merasa nyaman dengan perlakuannya. Dia tidak ingin kemarahannya membuat ANisa menjauhinya dengan penuh kebencian. Dia tidak akan pernah bisa. Fatih tidak sanggup menerima tatapan kebencian istrinya.
“Bang…” Dengan panik Reno menggedor pintu kamar mandi setelah mendengar suara seseorang muntah.
__ADS_1
Fatih menguras semua isi perutnya dikamar mandi. Dari pagi dia sudah menahan untuk tidak sampai tumbang. Kepalanya tiba-tiba terasa berputar setelah didepan wastafel dia tidak sanggup lagi. Dua hari Fatih tidak makan dengan benar. Dia memasukkan kopi pahit dan kental kedalam lambungnya setiap pagi dan malam dangan keadaan perut yang masih kosong. Sebagian waktunya dia habiskan di luar demi mengikuti istrinya.
Ketika matanya sulit terpejam maka cairan hitam itu yang menjadi temannya memikirkan rencana yang akan di ambil. Melepaskannya pada Wisnu atau meraih kembali apa yang sudah susah payah dia raih.
“Bang…buka pintunya” Pukulan keras lebih sering terdengar di pintu. Tapi jangankan menjawab, dadanya mulai terasa panas namun lambungnya belum berhenti mengeluarkan isinya. Dengan mata yang mulai berair Fatih masih menunduk di wastafel.
Dia membuka pintu setelah membersihkan semuanya, wajah panik Reno yang dilihatnya pertama kali. “Aku nggak apa-apa Ren” Ucapnya dengan nafas memburu karena dadanya masih terasa panas. Namun Reno tahu ada sesuatu yang tidak beres yang mencoba Fatih sembunyikan dengan kata tidak apa-apa.
“Abang pucat, mau kerumah sakit?” Reno melihat Fatih yang berjalan tanpa tenaga terpaksa memapahnya menuju sofa. Di lepaskan dasi dan membuka kancing atas serta melonggarkan ikat pinggang sang tuan.
“Jangan, aku mau jemput istriku Ren” Nada suaranya mulai melemah. Bahkan Fatih sudah tidak kuat membuka mata. “Aku harus pergi sekarang” Fatih duduk, kepalanya begitu berat. Sekarang dia merasa kakinya mulai lemas. Jangankan berjalan bediri saja tidak mampu.
“Bagaimana Abang mau jemput Nona, sedangkan berdiri saja abang tidak sanggup” Reno yang ikut duduk disebelahnya merasa Iba. Sebenarnya dia sangat tahu kondisi sakitnya sang Tuan bukan fisiknya saja tapi lebih kepada psikisnya yang mulai kehilangan semangat. Reno sangat tahu, bahwa Fatih bukan orang yang terbiasa dengan kopi hitam. Apalagi sampai menghabiskan bercangkir-cangkir dalam semalam.
“Ren…”Suara panggilan itu memaksa Reno menoleh kepalanya ke samping.Fatih kembali rebah dengan wajah yang memerah. Tangannya terulur memegang kening Fatih.
“Abang demam, kerumah sakit ya” Seperti membujuk seorang anak kecil untuk minum obat.
Tidak ada jawaban yang membuat Reno tiba-tiba panik. Sekarang dia melihat tubuh disampingnya mengigil. Sejauh dia mendampingi Fatih baru sekarang Reno melihat kondisi terlemah dari seorang CEO Global GROUP. Pola hidup sehat yang dilakukan tuannya membuat Fatih selalu terlihat bugar. Dan Reno belum pernah mendengar Fatih mengeluh tentang kondisi kesehatannya.
__ADS_1