
Hati selalu menemukan pembenaran untuk menyetujui rasa benci, tak perlu alasan lebih untuk mencari kesalahan pada suatu yang tidak kita sukai, karena dengan sendirinya keburukan itu akan muncul. Dan tidak perlu mencari alasan untuk hal yang kita sukai, bahkan keburukannya pun menjadi indah dihadapan.
Tidak ada satupun alasan bagi Nisa untuk menyukai semua hal yang ada dalam diri Fatih. Semua kebaikan yang dilakukannya menjadi keburukan dihadapannya. Mata hatinya tertutup oleh rasa benci, karena pikirannya sendiri. Nisa bukannya tidak mengakui pahatan sempurna wajah laki-laki itu, tapi baginya wajah itulah yang membuat seorang Fatih menjadi pribadi yang buruk di matanya.
Dia sudah pernah tertipu oleh satu laki-laki baik, dan ternyata dia baru tahu kalau laki-laki itu bajingan setelah menyandang jabatan baru diperusahaannya. Itu baru jabatan saja sudah membuat seorang laki-laki berubah. Bagaimana dengan Fatih yang notabene seorang pemilik perusahaan dengan tampang bak artis papan atas, bukan tidak mustahil kan kalau Fatih mengejarnya dengan tujuan ingin mempermainkannya, kemudian mencampakkannya suatu hari nanti. Kembali pada wanita yang sekelas dengannya atau bahkan putri dari pengusaha Tanah air dengan jumlah perusahaan dan kekayaan yang tidak bisa dihitung dengan kalkulator.
Berhenti berfikir, fokus pada pekerjaan karena Nisa yakin Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang sepadan dengannya. Laki-laki sederhana yang mencintainya dengan tulus. Tinggal dirumah sederhana membangun rumah tangga dengan buah hati yang lucu hingga senja datang, cinta itu akan tetap bersemi diantara mereka. Menghabiskan sisa usia dengan penuh kebahagiaan. Sesederhana itu keinginannya, dan Nisa yakin Tuhan akan mempertemukannya segera.
“aku minta maaf Nis, bisakah kita memulainya dari awal. Hatiku masih kamu pemiliknya. Aku memang laki-laki bodoh yang menyia-nyiakan berlian sepertimu” Bunyi pesan yang kesekian ratus kalinya. Tapi selalu Nisa abaikan. Setelah meminta pertemuan demi pertemuan yang Nisa abaikan.
Baginya kesempatan itu sudah hilang untuk bajingan seperti Aldo. Usaha laki-laki itu patut di acungi jempol. Mengirim bunga dan berbagai macam hadiah yang dikirim disertai ucapan maaf yang tak terhitung jumlahnya. selalu ada di laci meja kerja Anisa. Gadis itu tidak tahu bagaimana Aldo melakukannya. Tapi tidak ada satupun yang membuat Nisa tersentuh. Hatinya sudah mati. Berbulan-bulan laki-laki itu melakukannya tapi tidak pernah menyerah sampai sekarang.
Waktu bekerja telah usai, pulang adalah pilihan terbaiknya untuk saat ini. Demi menghindari peremuan dengan sang mantan. Hatinya tidak siap. Bahkan hanya untuk sekedar memberi maaf. Memasuki rumah di sambut senyuman indah sang ibunda. Nisa mencurigai senyuman itu. Baginya itu bukanlah hal yang biasa, sesuatu sedang terjadi dengan ibunya. Kalau bukan dapat arisan pasti dapat barang diskon yang tidak disangka-sangka, memang apalagi yang membuat wajah seorang ibu bahagia.
“bersihkan dirimu, ibu tunggu di meja makan. Hari ini ibu membuat es buah kesukaanmu dengan toping buah durian ibu membelinya tadi di swalayan depan” benar dugaan Nisa. Ibunya habis berbelanja bulanan kira-kira hadiah apa yang di dapat dari super market. Ah, biarlah, baginya dia bahagia melihat senyuman indah di wajah wanita kebanggaannya itu.
“duduklah, ini esnya mau ditambahi durian” senyuman itu membuat dahi Nisa berkerut. Tak bisa di pungkiri senyuman itu menular. Nisa ikut tersenyum bahagia meskipun dia tidak mengetahui apa yang membuat ibunya se bahagia itu hari ini.
“Ibu, ada apa, dari tadi kayaknya bahagia banget. Baru dapat arisan atau dapat diskon besar ya?” rasa penasaran di hati Nisa tidak bisa disembunyikan lagi tatapan selidik dia arahkan untuk ibunya
“lebih dari itu, ibu sangat senang hari ini”semakin membuat Nisa penasaran
“apa ibu mau cerita” tatapannya semakin mendekat. Rasa penasaran itu semakin menyiksanya
__ADS_1
“Mamanya Aldo tadi kesini” masih dengan senyuman cerah. Nisa terkejut, apa hubungannya kebahagiaan ibunya dengan kedatangan ibunya Aldo
“terus apa yang membuat ibu bahagia, apa wanita itu memberikan barang berharga”
“tidak, memangnya ibu mau menerima” pertanyaan semakin menggelayut di hati Nisa
“terus...???” dia tidak bisa berlama- lama, menyimpan rasa penasarannya harus segera di tuntaskan.
“Dia meminta ibu untuk membujukmu kembali sama Aldo. Karena Aldo sudah kehabisan cara meluluhkan kamu nak, laki-laki itu putus asa. Makanya dia menyuruh ibunya datang kesini” Anisa semakin bingung. Tangannya berhenti menyendok es dihadapannya.
“jangan bilang ibu menyuruh Nisa kembali sama Aldo, sampai kapanpun Nisa nggak akan mau” berganti nada serius, baginya tidak siapapun yang akan membuatnya luluh dengan laki-laki penghianat itu.
“tentu saja tidak, apa ibu terlihat seperti ingin membujukmu kembali sama laki-laki lemah itu”
“terus apa yang membuat ibu sangat bahagia”
Tangan tua itu begitu semangat menyendok es kemulutnya, jangan lupakan senyum yang tidak berhenti mengembang. Nisa baru tahu bahwa dari dulu ibunya tidak pernah mendukungnya dengan Aldo. Tapi mengapa tidak pernah mengatakannya secara langsung, mungkin Nisa akan mempertimbangkan. Tidak mungkin dia menjalin hubungan kalau ibunya tidak merestui.
“apa selama ini ibu tidak merestui hubungan Nisa dengan Aldo” tatapan penuh selidik, gadis itu tidak ingin melihat kebohongan di wajah sang ibu.
“Dari awal ibu tidak ingin mencampuri urusan pribadi anak-anak ibu, kalian sudah dewasa. Sudah bisa menentukan jalan hidup kalian sendiri. Apapun keputusan yang kalian ambil silahkan. Tapi jangan lupa, semua perbuatan itu ada pertanggung jawabannya. Ibu hanya menasehati ketika kalian sudah terlalu jauh dari jalur yang semestinya” wajah keibuan itu nampak kembali, tatapan bijak sebagai seorang ibu. Tapi itu tidak mampu menjawab pertanyaan Nisa.
“mengapa ibu bahagia Nisa putus dari Aldo” kembali ke topik awal. Penyebab senyum mengembang ibunya.
__ADS_1
“Karena ibu yakin, mungkin ini jalan dari Tuhan agar kamu membuka kesempatan untuk hubungan yang lain” jawaban yang semakin membuat gadis itu bingung
“Maksud ibu, mungkin Tuhan sedang menyiapkan laki-laki yang jauh lebih baik dari Aldo. Laki-laki yang mampu membimbingmu, melindungi, laki-laki dewasa dengan pemahaman agama yang kuat dan yang penting sabar menghadapi mu” lanjutnya lagi
“apa ibu menginginkan Nisa menikah, atau ibu akan menjodohkan Nisa?” ketakutan itu tiba-tiba menyergapnya. Bagaimana kalau ibunya benar-benar melakukan itu
“ibu tidak sepicik itu, kebahagiaan kamu dan abangmu lebih utama dari Ego ibu. Ada beberapa teman arisan ibu yang ingin menjodohkanmu dengan anaknya. Tapi ibu tolak, untuk urusan hati ibu serahkan sepenuhnya sama kalian” cukup lega, jawaban ibunya mampu menghilangkan ketakuan dalam diri Anisa.
“kalau bisa, jangan membenci Aldo, kalaupun dia pernah melakukan kesalahan tidak usah mendendam terlalu lama. Kalian kan bisa berhubungan baik meskipun hanya berteman. Bertemu baik-baik, pisahnya juga baik-baik nak. Yang ibu khawatirkan laki-laki itu akan melakukan hal diluar nalar. Namanya hati kalau sudah kecewa kadang kita tidak bisa mengontrolnya” ucapan bijak sang ibu belum mendapatkan persetujuan di hati Nisa. Baginya berbaikan dengan Aldo tidak akan pernah ada dalam kamus untuk saat ini. Meskipun kejadian itu sudah berbulan-bulan.
Kebenciannya pada Aldo sudah memudar, tapi berteman tidak mungkin Nisa lakukan. Dia yakin Aldo akan berharap lebih dari hubungan pertemanan mereka kelak. Biarlah mereka berjalan bagai dua orang asing yang tidak saling mengenal. Itu jauh lebih baik untuk menjaga hati agar tidak terlalu berharap lebih.
“kamu tidak sedang dekat dengan seseorang kan” ini bukan pertanyaan lebih pada interogasi dari seorang ibu untuk anaknya
“Nisa belum kepikiran bu, soal jodoh Nisa serahkan sama Tuhan saja” jawaban santai, menyendok es buah ke mulutnya dengan perlahan. Memang apapun yang di masak sang ibu selalu nikmat bagi Nisa.
“ibu berharap, kelak kamu mendapatkan jodoh seorang laki-laki seperti Fatih su...”
“uhuk,..uhuk...” Nisa menepuk dadanya karena sesak. Tenggorokannya panas karena tersedak es buah. Perkataan ibunya bagai godam menghantam Nisa.
“pelan makannya nak...” menuang air ke gelas kaca. Mengulurkan ke hadapan Nisa. Gadis itu meraihnya dengan mata memerah. Nafasnya masih tersengal.
“Nisa sudah kenyang bu, Nisa masuk dulu” apapun tentang Fatih tidak menarik bagi Nisa. Bahkan sekarang ibunya sudah mulai berpikiran aneh. Tidak bisa dibiarkan. Nisa harus mencegah semuanya.
__ADS_1
“masih sore nis, temani ibu nonton tv dulu” tanpa mendengarkan ibunya Nisa berlalu. Hatinya tidak terima ibu kandungnya memuja laki-laki itu di hadapannya.
“aneh sekali anak itu” gumamnya pelan. Wanita paruh baya itu tidak bisa membaca keadaan. Dia tidak melihat perubahan ekspresi di wajah Anisa setiap dirinya membahas Fatih.