MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
RUMAH BARU


__ADS_3

Waspada menurut pendapat anisa dan Fatih tentu tidak sama. Waspada menurut versinya adalah menghindari kontak fisik dengan sang suami, agar dirinya tidak menyesal di kemudian hari. Dan anisa sudah memikirkan apa yang akan di lakukannya nanti ketika mereka tinggal satu rumah.


Waspada menurut versi Fatih, menjaga perubahan sikap Anisa yang tidak bisa ditebak sewaktu-waktu. Terkadang dirinya belum siap. Artinya mulai sekarang, Fatih harus lebih sigap lagi jika anisa tiba-tiba diam tanpa alasan. Dia tidak tahu cara menjaga mood wanita agar tetap bagus. Fatih sudah tahu kalau setelah pernikahan akan beradaptasi dengan kebiasaan Anisa. dan dia pikir tidak akan sesulit ini. semua dugaan dan prediksinya meleset. Instingnya sebagai pebisnis dalam meramal porspek kedepan sudah tidak diragukan lagi, semua orang mengakui itu. Tapi sayangnya itu tidak berlaku dalam pernikahannya.


Susana haru mengantar kepergian Anisa. tangisnya tidak berhenti walaupun sudah berada di dalam mobil, yang akan mengantar mereka menuju bandara.


“Jaga sikapmu, jangan membuat suamimu kesal terus menerus. Manusia sabar ada batasnya, begitupun dengan Fatih. Sesabar-sabarnya suamimu juga ada ambangnya. Layani dia dengan baik berlaku sebagai istri yang melayani suami, sekalipun Fatih tidak minta. Jangan tampakkan wajah anehmu itu ketika suami pulang kantor. Kita tidak tahu apa yang terjadi diluar sana, dan kamu wajib membuat semua membaik setelah di rumah” Panjang lebar nasehat Ibu, hanya mendapat anggukan kepala. Entah itu di terima atau tidak di hati Anisa.


“Jangan jadikan cobaan kami sebagai tolak ukur permasalahan rumah tanggamu, jangan mengaggap semua laki-laki sama. Setiap rumah tangga ada cobaannya sendiri. Itulah cara Tuhan menyayangi kita. Entah harta, keturunan, ataupun suami. Kakak yakin cobaanmu tidak akan datang dari mertua dan Ipar, karena mereka menerima NIsa dengan baik. Jangan berpikir buruk dengan hal-hal yang belum terjadi. Tetap dukung suami apapun itu selama demi kebaikan dan jalannya benar” Nasehat kakak Iparnya juga hanya mendapat anggukan. Fira tidak tahu apakah NIsa akan mendengarkan nasehatnya atau tidak.


NIsa melihat kehidupannya yang membosankan setelah ini, tinggal berdua jauh dari orangtua dan saudara. Apalagi Adam dan Rania, dua mahluk aktif yang selalu membuatnya rindu.


“Mikir apa?” Tangannya di genggam erat. Fatih mencium punggung tangan itu lama. “Masih sedih?” tanyanya, belum ada jawaban. Fatih melihat wajah sendu dengan mata bengkak. Tidak tega rasanya melihat Anisa seperti ini. Tapi dia juga tidak bisa berpisah jauh dari sang istri. Pekerjaanya di kantor pusat benar-benar tidak bisa diwakilkan lagi. Berbagai macam rapat dan pertemuan dengan investor dan rapat pemegang saham sudah menanti.


Menarik kepala Anisa ke dadanya, dia ingin wanitanya tenang.


“Kalau nanti Abang bosan, jangan pukuli NIsa, jangan bentak NIsa. Antarkan NIsa pulang kerumah Ibu, setelah itu kita pisah baik-baik” Tangisnya kembali pecah. Pemikiran tentang hidup berumah tangga belum ada dalam benaknya. Harus seperti apa nanti.


“Sejahat itu Abang dalam pikiranmu” Memeluk Anisa lebih erat, mendekap dalam. Dia mendesah. Tidak tahukah wanita dalam pelukannya, jangankan berbuat kasar, marah saja dirinya tidak mampu. Jangankan memukul, membentak saja tidak ada dalam benaknya.


“NIsa tidak tahu, hanya mengantisiapasi siapa tahu Abang mau khilaf” Menyeka airmata yang tidak sederas tadi. Selalu berpikiran buruk tentang apa yang belum terjadi, seperti nasihat Syafira. Karena kakak iparnya sudah lebih jauh mengenal Anisa. dibalik sikap baik, dan lembuny Anisa tersimpan sebuah kekurangan yang hanya keluarga sendiri yang tahu.


“Pak Danang?” memanggil sopir yang membawa mereka


“Iya Tuan” jawabnya tanpa menoleh

__ADS_1


“berapa tahun pernikahan bapak”


“Dua puluh tiga Tuan”


“Lama juga ya, apa rahasia awet bapak hingga usia pernikahan yang sekarang”


“Tidak ada Tuan”


“Pernah di marahi istri”


“Sering Tuan”


“Apa yang bapak lakukan kalau di marahi”


“Pak Danang hebat. Terima kasih sarannya”


“Tapi saya yakin Tuan lebih hebat dari saya” Pujinya, dia melihat kesabaran pada diri Fatih.


“Untuk berumah tangga saya tidak punya pengalaman Pak, belum bisa dikatakan hebat. Karena belum apa-apa saya sudah berkali-kali membuat istri saya menangis” Mengusap kepala Anisa di dadanya. Fataih hanya ingin Anisa tahu bahwa dirinya pun sama-sama belajar, menghadapi sifat pasangan yang jauh berbeda dengan kita.


NIsa menyimak percakapan mereka, membayangkan hidup seperti istri Pak Danang, yang sering marah. Mungkin semua wanita memang diciptakan untuk banyak bicara, karena laki-laki tidak akan mendengar jika hanya satu kali bicara. Tapi baginya, berbicara panjang lebar penuh kemarahan belum ada dalam kamusnya. Lebih baik diam, kalau tidak ingin di cap wanita cerewet.


Nisa tidak munafik kalau pelukan Fatih membuatnya tenang, menyandarkan kepalanya dengan nyaman. Sudah berkali-kali Anisa mencoba menyingkirkan pikiran buruknya. Tapi, pikiran buruk itu datang lagi menjelang tidur. Hingga terbawa ketika bangun.


“Pengantin baru memang butuh penyesuaian, kalau sudah terbiasa semua akan berjalan dengan baik. Istri saya juga dulu begitu Tuan” Tuannya laki-laki yang baik setahu Pak Danang, dan dia juga baru tahu kalau ternyata mereka sudah menikah.

__ADS_1


“Semoga saja” jawabnya lemah. Fatih tidak tahu, bagaimana nanti kedapannya dia harus memperlakukan sang istri agar moodnya tidak terjaga.


“Langsung ke rumah Ren” Perintahnya pada Reno setelah turun dari bandara, jemputan sang asisten sudah menunggu dengan mobil dan sopir didalamnya.


“Baik Tuan” menganggukkan kepala hormat


“Apa kabar Nona NIsa” Menyapa, Anisa dengan ramah. Sebagai salam pembuka setelah bertemu dengan istri Tuannya.


“Baik” Jawabnya singkat.


Fatih menggenggam tangan Anisa sepanjang mereka berjalan menuju mobil. Tepat di depan terminal kedatangan Reno membuka pintu. Kemudian menutupnya kembali setelah mereka masuk. Reno duduk di samping sopir. Hari masih siang ketika mereka tiba tadi.


Tidak ada pembicaraan setelahnya, hening hingga mereka memasuki sebuah gerbang rumah yang cukup besar di kawasan elit ibu kota. Fatih kembali menggandeng tangan sang istri ketika memsauki pintu rumah.


Luas, dan indah. Sangat jauh berbeda dengan rumahnya.


Desain minimalis dengan kombinasi warna putih dan abu, serta hitam. Rumah mewah ini terkesan sederhana namun elegan yang terpenting terlihat modern. Menggambarkan karakter sang pemilik, kalem. Mereka enggan menjadi pusat perhatian. Fatih termasuk orang yang stabil dalam menjalani hidup. Tidak terlalu mencolok dengan perubahan sifatnya. Berusaha tenang dalam segala hal. Itulah sebabnya setiap pilihan warna selalu ada keterkaitan langsung dengan kepribadian seseorang.


“Selamat datang di rumah kita” Merangkul pundak sang istri. “Semoga betah” Lanjutnya dengan mencium kepala sang istri. Beberapa orang di pakian yang sama menyambut kedatangan mereka. mulai dari memasukkan barang, hingga yang terlihat hanya mondar-mandir saja.


“Selamat datang Tuan dan Nyonya, semoga pernikahan kalian langgeng, dan semoga Nyonya betah disini” sambutan kepala pelayan dengan kepala menunduk.


"Yang bertanggung jawab disini, panggil saja pak de, dia suka dengan panggilan itu" bisiknya di telinga sangat istri.


" Terima kasih sambutannya" Membalas dengan tersenyum seramah mungkin.

__ADS_1


__ADS_2