MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
HANYA BAHAGIA BUKAN RINDU


__ADS_3

Pulang, adalah kata yang paling dinanti oleh mereka yang waktunya seharian di habiskan di tempat kerja. Sebagai penanda berahirnya peran mereka di kantor. Sekedar istirahat melepas penat setelah seharian menguras tenaga dan pikiran.


Sebagian orang melepas penat dengan kembali pada keluarganya atau pergi bersama teman sekedar jalan di keramian menikmati waktu, memanjakan mata dan lidah. Kembali pada pribadi sesungguhnya, mengambil jeda, menghela nafas, atau saatnya mereka menikmati menjadi diri sendiri. Melepaskan sejenak dari tanggung jawab yang telah memberi mereka tempat untuk menuangkan ide. Melepaskan segala tekanan dan beban di pundak.


Senja mulai menampakkan jingga, mereka yang tidak punya beban kerja lebih, terlihat duduk di beberapa coffee shop. Bercanda menghilangkan penat. Tertawa lepas adalah cara terbaik menghibur diri.


Kemacetan mulai terlihat di beberapa ruas jalan ibu kota. Sorot lampu mulai menyala. Berisik suara klakson mobil saling bersahutan. Seolah mereka takut terjebak gelap di tengah jalan.


“Saya siapkan kopi?” Reno bertanya kebiasaan Fatih. Ketika pekerjaan selesai sebelum waktunya pulang menikmati secangkir kopi panas.


“Kita pulang sekarang, istriku sudah menunggu” Beranjak memakai kaos kaki dan sepatu yang sempat terlepas ketika tadi kekamar mandi. Indahnya ketika membayangkan senyum Anisa mengembang menyambut kedatangannya di depan pintu. Wajah manis memakai kerudung warna peach dengan aroma parfum soft yang menjadi pelepas lelahnya. Kebiasaan yang sudah dilakukan selama dua minggu. Dia tidak ingin membuang waktu hanya dengan minum kopi di kantor. Kalau dirumah sudah ada yang menunggunya dengan bahagia. Bayangan Anisa mencium tangannya seperti biasa. Untuk kali ini Fatih ingin bercerita banyak hal tentang pekerjaan dan semangatnya mengerjakan tanggung jawabnya hingga bisa pulang cepat. Dia pun ingin mendengar cerita istrinya seharian. Apa yang dilakukan. Bahagia atau kah merasa bosan menunggunya pulang.


Berjalan dengan langkah tegap, disambut beberapa karyawan yang berpapasan. Senyumnya cerah, dia membayangkan senyum yang sama dari istrinya.


Sebagian orang menatap Reno dengan tanda tanya. Dia menegapkan langkahnya pasti, dengan tujuan segera sampai dirumah. Walaupun dirinya tahu bahwa kemacetan parah pas jam pulang kerja akan menunggunya. Tapi menunda pulang akan jauh lebih menyiksa hatinya yang merindu.


“Tidak ada jalan alternatif Pak? ” Pertanyaan dengan nada tidak sabar diajukan untuk laki-laki yang mengemudikan mobilnya. Jarak rumah dengan kantor seharusnya bisa ditempuh dalam tiga puluh menit. Tapi sesaknya kendaraan dijalan yang membuat kendaraan merangkak perlahan membuat jarak bisa ditempuh dua jam terkadang lebih.


“Saya sudah menawarkan minum kopi, agar tidak terjebak kemacetan parah begini” Reno, dengan hati yang bimbang antara mendukung sopirnya atau menghalau kecemasan mahluk yang sedang jatuh cinta di jok belakang.


“Kalau minum kopi pulangnya lebih lama lagi. Istriku pasti cemas” Tuh, kan. Padahal Reno sudah tahu jawabannya. Masih saja membahas tentang secangkir kopi sambil menunggu kemacetan tidak terlalu parah. Kadang Reno bingung, bagaimana cinta bisa mengubah orang keluar dari kebiasaan yang sudah bertahun-tahun dijalani.


Fatih itu paling malas kalau harus terjebak macet, bahkan saat ini kendaraan yang ditumpangi mereka seolah tidak bergeser.


Biasanya dia akan menghabiskan secangkir kopi dengan melihat laporan atau kadang tidur di kantor menunggu kendaraan mulai terurai dari kemacetan panjang. Walaupun tidak akan sepenuhnya benar-benar membuat jalanan lengang.

__ADS_1


Kebiasaan lain, Fatih tidak pernah duduk di mobil tanpa melakukan sesuatu. Terkadang dia akan mengutak-atik pekerjaannya lewat laptop yang dibawa Reno. Atau bisa menelpon seseorang membicarakan terkait pekerjaan ataupun sekedar berbasa-basi dengan teman komunitasnya. Untuk yang satu ini Reno sering mendapat pertanyaan, ketidak hadiran Fatih dalam beberapa acara kumpul mereka. jadwal hari ini pun Fatih lewatkan bertemu dengan komunitas pengusaha muda seperti kemarin.


Duduk melamun tatapan menerawang, terkadang senyum sendiri sekarang sudah menjadi pemandangan yang biasa buat Reno. Dikantor, Fatih tidak pernah membuang waktu hanya untuk beristirahat. Apapun itu di kerjakan dengan segera. Setelah rapat pun, hasil evaluasinya langsung di kerjakan. Laporannya dia minta hanya hitungan menit. Reno bekerja seperti di kejar waktu. Sekedar meluruskan pinggangnya seperti tidak ada waktu. Saat ini seharusnya dia duduk santai, meluruskan kakinya di sofa sementara Fatih tidur di ruangannya. Sejak kedatangan Fatih, bukan sejak kedatangan Anisa dalam kehidupan tuannya kebiasaan itu hilang.


“Sudah dua jam kita masih di jalan” Suara Fatih membuat Reno merasa bersalah, tapi apa bolen buat yang ada tempat ini pun juga mengalami kemacetan yang sama.


“Didepan sudah tidak terlalu macet Tuan. sebentar lagi kita sampai” Seperti berbicara pada anak kecil yang sedang merajuk, kesabaran Reno sudah mulai terdidik dengan sempurna.


“Ubah nama panggilanmu Ren, jangan sampai aku mendapat masalah” Segala nama panggilan mendapat teguran. Reno menarik nafas panjang. Mengapa orang jatuh cinta harus membuatnya repot. Dia lebih suka kebiasaan lama. Perubahan ini terlalu cepat baginya. Dia bukan orang yang bisa beradaptasi dengan cepat seperti Fatih


“Baik Bang” Dia sudah memikirkan panggilan itu lama, ternyata lebih pantas itu dari pada panggilan “Mas” seperti yang lain.


“Itu lebih baik” Fatih merasa puas. Paling tidak dia tidak akan mendapat masalah ketika Reno memanggilnya di depan Anisa.


“Siapa yang punya Ide gila itu” Suara Fatih meninggi. Bagaimana bisa mereka mau menjadikan rumahnya sebagai tempat pertemuan. Anisa pasti tidak nyaman dengan kehadiran teman-temannya. Bukan, Fatih tidak mau mereka melihat istrinya. Dirinya tahu isi kepala mereka tidak seperti dirinya. “Batalkan Ren, jangan ada yang datang kerumah” Fatih gusar.


“Mereka tidak pernah mendengarkan saya Bang” Bahkan Fatih tahu itu.


“Oke, minggu depan biar aku yang datang. Membungkam Ide gila mereka” Jawabnya tatapan masih kejendela mengarah pada kendaraan yang masih berjejal di sebelahnya. Hatinya kesal


Lampu kota sudah menyala dua jam yang lalu. Kelip lampu malam dari setiap mobilpun sudah menghiasi jalanan. Klakson tidak berhentin menggema di setiap nyala lampu lalu lintas berganti. Tidak ada kata sabar menunggu kemacetan terurai. Berdiam diri didalam mobil tanpa melakukan apa-apa. Pikiran Fatih sudah di rumah, sejak tadi.


Mobil memasuki halaman rumah ketika adzan maghrib berkumandang, memanggil setiap jiwa yang lelah untuk tunduk berserah diri. Melepaskan penat dan beban di pundak dengan bersujud.


“Kamu langsung ke ruang kerja. Tunggu aku disana. “perintahnya pada Reno. Tanpa menunggu pintu di bukakan Fatih bergegas ke rumah utama. Sedikit berlari untuk mencapai pintu

__ADS_1


Benar saja, wajah itu menunggu dengan binar cerah. Menghampirinya dengan setengah berlari. Fatih menyambut dengan merentangkan tangan. Dia ingin mendekap tubuh Anisa dengan erat. Sudah tidak sabar ingin menghirup aroma manis dan lembut dengan segera.


“Nisa rindu Abang?” Tanyanya ketika wanita itu ada di dalam dekapannya, dia ingin jawaban jujur tanpa penyangkalan. Itu akan membuat hatinya akan bahagia.


“Nggak tahu, tapi Nisa pengen cepet ketemu Abang” jawabnya jujur. Membuat dada Fatih membuncah. Dia sadar hatinya berloncatan, debarannya semakin menggila hanya mendengar jawaban istrinya.


“Apa Nisa tidak sabar ingin bertemu Abang? ”


“Tentu saja, hari ini Nisa masak ayam mentega sama puding mangga kesukaan Abang. Nisa tidak sabar ingin tahu reaksi Abang. Enak apa tidak masakan Nisa” Bukan karena rindu seperti keinginannya. Tapi karena menu baru. Walaupun kecewa tapi Fatih bahagia, paling tidak sudah ada kemajuan. NIsa tanpa sungkan berlari kepelukannya. Mereka saling mendekap erat.


“Apa Nisa tidak sabar ingin bertemu karena puding?” Masih ingin meyakinkan hatinya, bahwa bukan rindu menggebu seperti dirinya.


“tentu saja, ayo Nisa sudah siapkan di meja makan” Menarik tangan Fatih seperti seorang anak kecil yang ingin memperlihatkan mainan barunya pada orang yang dia tunggu kedatangannya.


NIsa mengambil piring dan sendok ke tangan Fatih, secepat kilat Fatih menangkap pergelangan tangan istrinya.


“Ini kenapa merah” Punggung tangan Anisa merah, seperti bekas luka bakar. Fatih ingat betul sebelum berangkat dia tidak melihat tanda itu disana.


“Nggak apa-apa. Hanya sedikit, makan pudingnya, Bang” dia sudah berusaha menyembunyikan bekas siraman air panas itu di tangannya.


Menyambut suami pulang kerja wajah yang dia buat sebahagia mungkin. Nyatanya sia-sia. wajah itu sudah nampak merah menahan amarah.


Note : Maaf baru bisa update, semoga kalian tidak bosan menunggu. entah mengapa ahir2 ini author merasa ragu untuk update, bikin hapus, bikin lagi hapus lagi. tidak yakin kalau alurnya akan diterima,.


apapun itu selamat membaca, semoga berkenan. mohon sarannya ya... terimakasih

__ADS_1


__ADS_2