MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
BAGIAN DARI GLOBAL


__ADS_3

Keributan di luar sekolah itu terdengar kedalam, satpam yang menjaga gerbang pun kewalahan mengatasinya. Seorang laki-laki dewasa berteriak memanggil Anisa. Rasanya terdengar lucu, mereka bukan anak SMA yang sedang patah hati. Tapi kenyataannya, cara yang di lakukan laki-laki itu jauh lebih kekanak-kanakan dari usianya.


Kegaduhan ahirnya sampai ke Kepala sekolah, setelah seorang satpam memberitahu.


Bagaimana tidak terkendalinya laki-laki dewasa itu saat ini.


“Bu Nisa, bisa kita bicara sebentar” Anisa kaget bukan kepalang, spidol yang digunakannya untuk menulis dipapan berhenti seketika. Wajahnya bingung, kalau tidak darurat Pak Jamal tidak akan memanggilnya secara langsung ke dalam kelas, apalagi ini masih jam pelajaran berlangsung.


Sebagai kepala sekolah Pak Jamal merasa ini adalah ranahnya, jadi dia berhak ikut campur.


“Maaf ibu tinggal sebentar ya, kalian silahkan lanjutkan lagi menulisnya jangan ramai, apalagi mengganggu kelas sebelah” perintahnya pada siswa yang ada didalam kelas. Anisa bergegas meninggalkan papan dan meletakkan spidol itu di meja. Meninggalkan papan yang berisi angka dan rumus dengan yang membuat kepala sedikit pening melihatnya.


“iya bu” serempak mereka menjawab dengan tertib.


Anisa berjalan dengan tergesa, hatinya tidak enak. Debaran itu membuat nafasnya memburu.


“Ini menyangkut masalah pribadi, seharusnya ibu bisa menyelesaikannya di luar dengan baik,tidak harus sampai kelingkungan sekolah. Ini lembaga Formal bu, institusi pendidikan. Seharusnya ibu memberikan contoh yang baik untuk siswa di sekolah ini. Untung saja ini masih jam pelajaran. Bagaiman kalau jam istirahat. Bukan tidak mungkin akan menjadi tontonan. Dan nama sekolah kita dipertaruhkan” penjelasan panjang lebar, lebih tepatnya protes dari kepala sekolahnya tidak serta merta membuat Anisa paham apa maksud dari pemaparan panjang lebar tadi.


Tatapannya masih bingung, memang apa yang di lakukan sampai kepala sekolah semarah ini


“Mohon maaf, saya tidak mengerti apa yang Bapak maksud” itu benar, anisa bingung. Dia merasa baik-baik saja dari pagi. Tidak ada masalah apapun yang Dia bawa dari rumah.


“laki-laki itu memanggil nama ibu, diluar gerbang sekolah. Sampai sekarang dia masih berteriak. Saya mohon ibu temui dia, selesaikan masalah kalian baik-baik” Dia mengerutkan Dia sungguh tidak mengerti siapa laki-laki yang menjadi topik pembicaraannya.


“Maaf pak, semua sudah aman, laki-laki itu sudah bisa diatasi” laporan satpam dengan nafas memburu dan keringat yang membasahi sebagian bajunya.


“siapa yang melakukannya” tanya kepala sekolah.

__ADS_1


“Orangnya ada di luar ingin bertemu bapak” tegas suara petugas keamanan sekolah itu menjelaskan.


Nisa berjalan dibelakang pak jamal, sang kepala sekolah berjalan di depannya dengan tergesa.


“Maaf, dengan siapa” masih dengan wajah bingung kepala sekolah berhadapan dengan dua laki-laki tegap dengan seragam warna hitam.


“Saya sudah mengatasi semuanya, maaf mungkin kedatangan kami terlambat. Saya akan pastikan setelah ini laki-laki itu tidak akan berani datang lagi kesini. Kami sudah menempatkan beberapa orang keamanan untuk membantu petugas keamanan sekolah, demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan” tukas salah satu dari mereka dengan tegas.


“Maaf tapi Anda siapa, mengapa bisa tahu tentang keributan” mencoba mencari jawaban pak jamal memindai wajah mereka.


Nisa tahu, bahkan sangat tahu. Seragam dengan logo kecil didada atas sebelah kiri, sudah menunjukkan identitas mereka. Dia hanya menunduk tidak mampu untuk menjelaskan siapa mereka pada pak Jamal. Tapi yang Nisa belum paham, siapa yang membuat keributan sampai kemanan Global turun tangan disekolahnya.


“Silahkan ikut saya. Mungkin Nona bingung” dengan tanda tanya yang masih menggantung di kepalanya, Anisa dan pak Jamal mengikuti dua pria itu dari belakang. Sampai didepan gerbang tanpa sadar Nisa menutup mulutnya. Dia tahu sekarang siapa yang membuat keributan, dan bagaiman sampai pihak keamanan GLOBAL sampai turun tangan.


“Bu Nisa kenal mereka?” sungguh ini sebuah misteri bagi pak jamal, otak tuanya tidak mampu diajak berpikir keras untuk memecahkan teka teki didepannya.


“Saya harap begitu, setelah ini jangan lagi hal ini terulang, saya pamit bu Nisa, selesaikan secepatnya sebelum jam istirahat. Agar anak-anak tidak melihat keributan ini” dengan anggukan kepala Nisa, melepas kepergian kepala sekolah setelah berpamitan


“Aku tidak bisa terima ini semua, kamu hanya milikku Nis, aku yakin di hatimu masih ada aku. Aku masih sayang sama kamu. Kamu melakukan ini terpaksa kan?” tangannya sudah dipegang laki-laki kekar, Membuat Aldo sulit bergerak, ternyata bibirnya masih lihai untuk membual seperti biasa. Buaya tetaplah buaya walau dalam keadaan terjepitpun.


“Saya membiarkan Anda bertemu Nona Nisa untuk minta maaf, cepat lakukan” bentak dua orang disebelah Anisa. Wajahnya tanpa senyum, wajah tegas mengintimidasi lawannya. Tapi, bukan Aldo namanya kalau menyerah hanya dalam waktu sekejap. Urat malu dan nyalinya sudah berkembang dengan baik sejak meminta kembali pada mantan pacarnya.


“Tidak apa-apa, biarkan Dia bicara, saya juga perlu menyelesaikan semuanya.” Rasa ingin tahu menggelitik Anisa, apa yang Aldo tahu tentang dirinya ahir-ahir ini. Sepekan setelah Anisa berstatus tunangan Fatih, laki-laki ini muncul dengan tidak tahu malu.


“Aku tidak terima kamu tunangan dengan laki-laki lain. Kamu milikku sampai kapanpun. Kamu pasti terpaksa melakukan ini semua” untunglah percakapan ini dilakukan di gerbang sekolah, sehingga kemungkinan kecil teman-temannya tahu.


Jadi Aldo sudah tahu, dari siapa. Benar-benar stalker sejati, hanya keluarga intinya saja yang tahu. Apakah hidupnya tidak punya pekerjaan selain menguntit hidup Anisa. Ini menakutkan dan perlu di waspadai.

__ADS_1


“Kita sudah selesai, dan tidak akan pernah kembali. Kalau kamu sudah tahu sebaiknya


Kamu menjauh, aku sudah melepaskan kamu untuk wanita itu, saya harap kamu melakukan hal yang sama. Aku bukan perempuan yang tepat. Sekali lagi aku katakan bahwa aku wanita kolot, pikiranku kampungan tentang gaya pacaran seperti yang kamu katakan didepan wanita itu kalau kamu lupa” permintaan sederhana yang tidak akan mampu dilakukan Aldo. Rasa malu menjalarinya, mengingat tajam lidahnya ketika itu.


“terpaksa atau tidak aku yang akan menjalani dan tidak akan merugikan siapapun, termasuk kamu, jadi mari kita menjalani hidup sesuai dengan kapasitasnya, terlalu mencampuri hidup orang itu tidak ada untungnya bukan. Fokus pada tujuan hidupmu itu jauh lebih baik. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa” sebisa mungkin menahan diri untuk tidak terpancing omongan Aldo. Sedari tadi Nisa ingin meledak. Ternyata tidak mudah menahan amarah sambil berdiri.


“Sampai kapanpun aku tidak akan rela. Aku akan datang untuk mengambil apa yang menjadi milikku” suara Aldo meninggi. Tangannya meronta. Beruntung laki-laki yang memegang dengan sigap mengeratkan pegangannya.


“itu dulu sebelum kamu mempermalukan aku di depan wanitamu, kalau kamu lupa”kejadiannya cukup lama, Anisa tidak ingin mengingatnya lagi. Tapi kali ini mengingat kejadian itu sangat menguntungkan untuk memukul telak ucapan Aldo. Menyadarkan laki-laki itu bahwa, tajam lidahnya seolah menjadi bumerang untuknya kali ini.


Nisa puas, tentu saja melihat wajah pucat dan tundukan kepala mantan pacarnya. Mengingat kata “mantan”membuat Anisa malu, bagaimana bisa dirinya pernah berhubungan dengan Aldo yang tebal muka.


“saya kira ini sudah selesai, bawa dia” perintah dua laki-laki disebelah Anisa. Dua orang yang diperintahkan itu memabwa Aldo dengan paksa, tidak peduli teriakan dan makian yang meluncur deras dari bibirnya. Seolah menghilangkan hakikatnya sebagai laki-laki yang harus menjaga harga diri.


Satu masalah selesai, tinggal satu lagi yang perlu Nisa urus, mengapa ahir-ahir ini hidupnya seperti sangat rumit.


“Bagaimana Anda bisa tahu di sekolah tempat saya mengajar ada keributan. Apakah tuanmu memata-mataiku sedemikian rupa” sikap tenang yang di tunjukkan didepan Aldo lenyap, berganti kesal tak terbendung. Tangannya bersedakap didada, dengan tatapan tajam


Untuk dua laki-laki kekar didepannya.


“Maaf nona, saya hanya menjalankan Tugas” sudah diduga sebenarnya kalau kalimat itu yang akan keluar, bukan jawaban itu yang Nisa inginkan tapi lebih kepada alasan tuannya melakukan itu lengkap dengan penjelasan.


“Saya tahu, apakah tuanmu tidak punya pekerjaan lain selain menguntit kehidupan orang lain” selain CEO perusahaan besar, ternyata Fatih juga memata-matai orang lain.


“Nona bukan orang lain, tapi bagian dari GLOBAL group. Jadi mulai hari ini dan seterusnya, keselamatan Nona adalah tanggung jawab kami” berbicara dengan mereka rasanya percuma, seperti berbicara dengan Robot yang sudah diprogram untuk menjawab pertanyaan.


Memutar bola mata malas Anisa berlalu, hatinya masih kesal. Tapi kelasnya sudah menunggu karena tadi sempat terjeda.

__ADS_1


__ADS_2