
Terkadang berkumpul dan bercerita dengan teman yang sudah lama tidak bertemu bisa menjadi pelipur lara dan pelepas rindu, setelah dibentang oleh jarak dan waktu yang cukup lama. Mengenang kembali sejarah semasa putih abu-abu.
Dengan cerita lucu sesekali mengundang gelak tawa. Rindu kadang menyeruak ke masa itu. Masa semua hal pertama di mulai, pertama tertarik dengan lawan jenis, bahkan pertama kali merasakan debaran karena pesona sang pujaan.
Mereka hanya bertiga memang, tapi cerita seru yang mengalir begitu ramai terdengar seolah sedang mengadakan reuni yang dihadiri satu angkatan. Berebut saling bercerita kenangan yang mengesankan. Tentang guru yang tidak luput dari cerita, dari yang killer, sabar, judes, lucu, bahkan guru yang paling mereka sukai tidak luput dari cerita itu. Teman satu angkatan serta adik kelas pun punya kenangan dengan ceritanya sendiri.
Setelah drama panjang kepergian Anisa yang tidak mendapat ijin sang ibu, dengan segala paksaan ahirnya mereka bertemu.
Bisa saja gadis itu membatalkan pertemuan mereka. Toh, masih banyak hari , karena Wisnu dan Chika akan menetap dikota ini dalam waktu yang lama. Menghindari Fatih adalah alasan kuat Anisa memaksa untuk tetap keluar dari rumahnya.
Bukan ibunya tidak tahu, bahkan wanita yang melahirkannya itu sangat tahu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Dia telah salah menyebut Fatih akan berkunjung ketika memasak tadi. Larangan abang dan kakak iparnya pun tidak di indahkan, bahkan menjadikan alasan Adam dan Rania tidak berpengaruh apapun.
“sekarang aku baru merasa berat banget jadi guru, apalagi kalau ada murid yang nakalnya kayak Wisnu” sebagai guru Nisa berbagi pengalaman.
“kok aku, yang nakal kan banyak, yang lain Nis” Wisnu protes ketika Nisa mencatut namanya, tapi percayalah kenakalan itu juga mendatangkan kenangan yang tidak akan bisa terulang. yang akanenjadi bekal kelak agar anak cucu tidak mengulangi kebodohan berbalut keberanian kala itu.
“hahaha,,,contoh saja Nu” chika menimpali, dengan senyum tertahan diwajahnya melihat kekesalan Wisnu.
“contoh Nu,,,kamu kenapa jadi baper gini sih” timpal Nisa, dengan wajah menahan tawa
“emang seberat apa sih Nis,,,” ternyata Wisnu penasaran. Sekalipun protes yang dilontarkan nya tadi.
“kredilitas kita sebagai guru dipertaruhkan Nu, terus nama baik sekolah juga jadi tercoreng, kalau nakalnya dilingkungan sekolah bisa kita atasi, kalau sudah sampai di luar sekolah bisa sampai ke polisi gimana nggak ribet” semua terdiam.
Ketika sudah dewasa seperti ini mereka baru meyadari bahwa kenakalan itu hanya ego. Tapi tidak berlaku bagi mereka yang masih duduk dibangku sekolah, tindakan mereka dianggapnya sedang mencari jati diri yang sebenarnya. Jadi anggapan wajar dari sebagian orang pun terlontar. bahkan kenakalan mereka kadang dianggap maklum.
__ADS_1
“kadang mau marah kita dianggapnya killer, di diemin tambah menjadi. Kadang aku bingung mesti gimana. Apalagi kelasku baru saja bikin ulah” Nisa mengambil minuman setelah menuntaskan kalimatnya. Tatapannya menerawang setelah kejadian mengantar siswanya ke IGD.
“ah, iya aku baru ingat. Yang kemarin itu habis tawuran apa gimana sih” laki-laki itu menegakkan duduknya dia serius dengan pertanyaan yang dia lontarkan sendiri.
“baku hantam dengan teman sekelasnya, teman-temannya enggak ada yang tahu yang pemicu apa. Sampai mereka di skors satu minggu pun masih tutup mulut” wajah bu guru cantik itu terlihat berat. Nafasnya ditarik dengan panjang menghalau himpitan pikiran tentang nasib anak didiknya.
“kalau anak cowok yang bersiteru apalagi kalau bukan rebutan cewek, kamu tenang saja Nis, sebentar juga mereka akur lagi” chika menimpali.
“iya juga sih” lebih baik bagi Nisa tidak memikirkan nasib muridnya. Baginya sekarang ada masalah yang jauh lebih pelik dari itu. Fatih yang semakin jauh masuk dalam hidupnya. Mengambil kendali terhadap ibunya.
“Eh, tapi aku masih penasaran sama kamu dan bang Fatih. kalian ada hubungan” seketika mata Nisa menatap tajam Wisnu. Kemudian bola matanya melirik chika. Seolah ingin mengisyaratkan bahwa temannya itu tidak boleh tahu.
Giliran wisnu yang melirik chika seolah ingin menarik kembali ucapannya.
“sumpah aku nggak ada hubungan Nu, kamu jangan salah paham” terlihat dari kedua temannya itu Nisa tidak suka dengan pembahasan yang sekarang.
Keceriaan itu lenyap berganti raut malas.
“cerita Nis, aku penasaran. Seorang Anisa dekat lagi dengan laki-laki. Tapi, bagus juga sih. Dari pada kamu masih berharap sama laki-laki banci sekelas Aldo” hanya chika yang tahu tentang Aldo. Tidak dengan Wisnu. Laki-laki itu mengernyitkan dahinya. Berusaha mencerna. Begitu banyak hal yang wisnu tidak tahu tentang Anisa. Bahkan kedekatan dengan Abangnya saja sudah meninggalkan tanda tanya besar di benak Wisnu
Menarik nafas panjang. Anisa tidak ingin menceritakan apapun tentang Fatih. karena menurutnya memang tidak ada hal yang penting . selain keberadaannya yang selalu membuat moodnya hilang. Menarik nafas sepanjang yang akan diceritakannya nanti.
“aku bertemu waktu abang koma. Dia sahabat bahkan satu-satunya orang yang sering berkunjung kerumah sakit. Seketika ibu menganggap dia bak dewa yang turun dari langit dan mendapatkan posisi terbaiknya di keluargaku. Hidupku berubah sejak saat itu. Aku membencinya, bahkan sangat membencinya. Ibu semakin gampang marah, selalu Fatih yang mendapat pembelaan. Kamu tahu nggak chik, seolah aku itu harus tunduk dan patuh padanya. Dan yang lebih menyebalkannya lagi. Dia seolah berada di semua tempat. Seperti penguntit lebih tepatnya. Semakin hari aku tidak dapat menyembunyikan kebencian itu, dan anehnya dia seolah sengaja ingin melihat ibu memarahiku. Lebih parahnya lagi ibu menganggapnya anak. Semakin aku benci, laki-laki itu semakin mengikatku dengan hal-hal tidak masuk akal” kalimatnya di tutup, meja yang tadinya riuh suara tawa sekarang hening. Semua pasang mata dan rungu teman-teamnnya fokus mendengarkan cerita Nisa.
“Kalian kenapa melihatku begitu” sekarang Anisa yang menatap mereka dengan bingung.
__ADS_1
“Aku tidak melihat ada yang salah Nis. Justru aku mendukung ibu. kayaknya laki-laki itu punya perasaan sama kamu” itu yang chika tangkap dari cerita Nisa. Katakan dia terlalu cepat menilai. Tapi apa namanya jika seorang laki-laki yang tiba-tiba menerobos masuk kedalam kehidupan seorang gadis. Dan berhasil mengambil hati keluarganya.
“kamu nggak kenal dia chik, menyebalkan sekali kalau kamu penasaran” bertambah gusar Anisa. Dia berharap dapat dukungan dari teman-temannya, justru kebalikan yang dia terima.
“oke, katakan aku bodoh. Kalau memang tidak ada perasaan, seharusnya setelah abangmu sembuh dia tidak akan muncul lagi sampai sekarang, kecuali ada alasan kuat yang membuatnya justru masuk lebih dalam lagi” kata-kata chika mendapat anggukan dari Wisnu.
“aku pernah ngalamin yang begitu Nis. Kita sama, pernah dihadapkan pada kondisi dimana semua keluargaku memihak dia, semua kesalahan di rumah karena aku. Kata-kata yang paling menyebalkan yang sering aku dengar dari papa mama “coba tiru abangmu, dia bisa sukses seperti sekarang karena kerja keras nggak kayak kamu, menyebalkan kalau ingat itu” tatapan wisnu menerawang seolah ingatan itu kembali berputar di kepalanya.
“Masak sih kenapa bisa sama ya, emang dia abang kandungmu, setahuku kamu saudara Cuma berdua sama Ines” merasa mendapat kesamaan, ingin mencari tahu tentang kehidupan laki-laki menyebalkan itu. Siapa tahu bisa di buat senjata untuk melemahkannya.
“sebenarnya....” kalimat itu menggantung tatapan Wisnu tajam telat dibelakang Anisa, karena memang posisinya membelakangi pintu masuk.
“cih, masih dendam rupanya, laki-laki nongkrong dengan perempuan kelihatan feminim sekali. Sudah waktunya kembali bertugas pak dokter, sekedar mengingatkan. Terkadang bernostalgia itu bisa bikin lupa waktu” suara itu yang tidak ingin Nisa dengar. Suara yang telah menyedot habis tawanya, berhasil merusak moodnya saat ini juga. Meninggalkan rasa benci yang tak berkesudahan.
“Tampan...” percayalah itu suara chika, lirih memang tapi mampu mengalihkan tatapan tajam Anisa pada sahabatnya itu. Tatapan seolah ingin menguliti chika dengan kejam.
“terima kasih” dengan bangga fatih memberikan senyuman terbaiknya. Nisa memejamkan mata. Ingin rasanya dia menyumpal mulut chika dengan saos ekstra pedas di hadapannya. Mendengar suara Fatih, Nisa tahu bahwa laki-laki itu sekarang berada diatas angin. Fatih tidak melihat wajah geram Anisa, pasti akan terlihat menggemaskan baginya, mendengar suara geramnya saja sudah mambuat Fatih menahan senyum.
“ wanita ini calon istriku kalau kamu ingin tahu” kalimat Fatih mampu membuka mata Chika dan Wisnu bersamaan. Tatapan selanjutnya beralih ke Anisa. Wajah yang hampir menangis menahan malu. tatapan minta jawaban atas lontaran kalimat barusan.
Bagaimana laki-laki ini dengan percaya diri mengatakan itu, ingin rasanya anisa menghilang dari tempatnya sekarang. kesekian kalinya Fatih mempermalukannya mengatakan hal yang belum dia setujui bahkan tidak akan pernah dia setujui.
“berhenti mengatakan hal yang tidak masuk akal Tuan CEO yang terhormat, sampai kapanpun saya tidak akan pernah setuju” sekali lagi mereka terbelalak melihat keberanian Anisa. Wajah anggun itu memerah menahan amarah pun dengan matanya yang sudah menggenangkan bulir bening.
“katakan itu dirumah sekarang, dihadapan ibu dan abangmu. Bukan berlari menghindar” suara berat mengintimidasi, memaksa Anisa berdiri dengan penuh amarah. Mengambil sling bagnya dan berlalu dengan keyakian bahwa dia tidak akan pernah mau menjadi calon istrinya.
__ADS_1