MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
MEMPERJUANGKAN CINTA


__ADS_3

“Akan ada masanya kesabaran memiliki batas, hingga pada ahirnya akan ada kata menyerah pada keadaan. Apakah berjuang atau melepaskan itu adalah keputusan ahir. Apakah akan ada air mata atau senyum bahagia nantinya. Tapi memperjuangkan apa yang kita yakini adalah sebuah keputusan ter baik yang pernah ada”


Makanan sudah tertata rapi di meja ketika wanita itu keluar dari kamar mandi. Bathrobe dan handuk di kepalanya masih terpasang namun tatapannya milirik takjub pada berbagai hidangan yang mengeluarkan aroma yang menggelitik lambungnya.


“Apa pesan room service” langkahnya mendekat.


Fatih tidak melepaskan tatapan pemujaan itu dari istrinya. Wajah yang lebih segar dengan senyum yang menawan walau hanya samar taidak mampu menyamarkan kecantikan yang luar biasa di matanya.


“Belum makan kan?” Menepuk sofa di sebelahnya.


“Mahal banget pasti ini”


“Bagian dari pelayanan, nikmati saja” menarik tangan istrinya untuk duduk di sebelahnya.


Semua yang dikatakan suaminya benar, tentang dia sudah menyiapkan semua. Bahkan Anisa terbelalak kaget ketika mendapati beberapa baju dan gaun yang tergantung di lemari hotel. Lengkap dengan hijab. Dia yang awam tentang pelayanan hotel kelas atas hanya bisa diam. apakah baju yang tergantung disana juga bagian dari pelayanan dia tidak tahu.


“Iga bakar dan sop iganya juara” menunjuk menu yang ada di meja. Fatih tahu kebiasaan Anisa dia akan marah kalau melihat makan berlebihan. Jadi Fatih hanya memesan menu dalam satu porsi kecil tapi beragam. Dia ingin istrinya menikmati semua hidangan yang ada di meja. “ Untuk kali ini jangan memikirkan apapun, Abang ingin istriku menikmati ini semua tanpa beban” Ucapnya lirih.


Benar saja, daging iga bakarnya empuk, dan rasanya luar biasa. Anisa mencicipi sop iganya juga sangat sempurna menurutnya. Lidahnya lebih suka makanan lokal, walaupun dia tidak menolak dengan makanan luar. Tapi untuk mengisi perutnya yang kosong dia memulai dengan sop iga. Sedangkan suaminya menikmati steik salmon dan dan nasi putih dengan tambahan sate padang.


“Abang mau nyoba iga bakar?” mengambil daging berwarna cokleta itu dengan garpu dan mengarahkan ke mulut suaminya.


Fatih membuka matanya lebar tapi dengan cepat dia membuka mulut tidak ingin membuat istrinya kecewa. Hatinya bahagia, bukan karena rasa makanannya. Tapi karena ini pertama kalinya istrinya menyuapi dirinya sejak hari pernikahan mereka.


“Enak?” Wajah Anisa tampak berbinar dengan melihat wajah Fatih yang terlihat senang. Fatih sudah tahu rasa makan di hotel ini, semua menu sudah pernah mampir kelambungnya. Tapi memakan makanan dari tangan istrinya rasanya jauh lebih nikmat. Anisa masih mengambil potongan daging dari dalam sop iga. Lagi-lagi dia mengarahkan sendok itu kemulut Fatih. Lagi-lagi dia mengangguk tersenyum menanggapi pertanyaan sang istri.

__ADS_1


Seandainya mampu, Fatih ingin menghentikan waktunya sejenak untuk saat ini di moment ini. karena dia tidak akan tahu apa yang akan terjadi setelah ini. hatinya sangat bahagia melihat perubahan besar pada Anisa. tatapan wanita itu sangat lembut. Tidak ada wajah sendu seperti beberapa saat yang lalu. Dia ingin melihat Anisa bahagia berada di sampingnya sampai nanti.


“Sayang Nisa” Dekapannya lebih erat.


Setelah makan sore itu mereka berbaring diatas ranjang. Posisi kesukaan Anisa. bahunya menempel di dada sang suami.


“Nisa juga sayang Abang” memegang tangan sang suami yang melingkar manis di perutnya.


“Abang mau seperti ini sampai nanti. Hanya ada kita berdua melewati suka, tangis bahagia dan senyum sempurna menua bersama” wajahnya mencium rambut sang istri yang masih belum kering sempurna. Walaupu Fatih sudah membantu Anisa menggunakan Hairdryer


Fatih tidak mendengar jawaban apapun. Istrinya tidak bereaksi, bahkan tidak ada pergerakan. Apakah dia tidur?”


“Nis…” Suaranya pelan tepat di telinga sang istri. Hanya ingin memastikan kalau lawan bicaranya masih belum terlelap.


“I love you” Bisikan itu tepat ditelinga sang istri. Fatih sudah tidak bisa menahannya. Inilah tujuannya mengajak Anisa ke hotel dia ingin mengungkapkan perasaannya dengan suasana yang berbeda. Walau tanpa bunga tanpa cin-cin seperti kebanyakan orang. Tapi perasaannya jauh lebih besar dari itu semua.


Fatih merasakan tubuh istrinya membeku, sesaat diam tak bergerak. tapi detakan jantungnya berlomba bersamaan.


Anisa berbalik tatapan mereka bertemu, secepat kilat tangannya menutup mulut sang suami. Anisa menggeleng pelan. Hingga matanya tertutup rapat. Ada air yang keluar dari sudut matanya. Dadanya berdebar keras, nafasnya terasa sesak setelah mendengar pengakuan sang suami. Bukankah kalimat itu yang selama ini dia tunggu, hingga ahirnya di mendengarnya mengalun dengan ringan dari bisir sang suami. Itu dulu, tapi sekarang. suara itu seperti suara yang menakutkan untuknya. Dia tidak ingin mendengarnya lagi. Hatinya belum siap. Cukup Fatih menyayanginya. Dia tidak ingin masuk terlalu dalam ke kehidupan Fatih.


“Kamu menolakku, kenapa” bahkan Fatih mengusap air mata itu dengan Ibu jarinya. Benarkah Anisa menolaknya. Kalau iya, berarti dugaannya benar. Kalau wanita dalam dekapannya ini tidak mencintainya. Dia sudah mengumpulkan keberanian itu hanya untuk mengucapkan tiga kata. “Anisa tidak mencintai Abang?” Dia hanya ingin memastikan.


Anisa merasakan hembusan nafas itu mengenai keningnya, nafas memburu menahan marah dia tahu. Tapi dia tidak bisa masuk kedalam hiidup suaminya.


“Jangan berbicara yang tidak bisa Abang bisa lakukan. Kita akan sama-sama sakit. Biarlah seperti ini sampai Nisa siap melepaskan Abang” Hatinya teriris dari setiap kata yang dia lontarkan. Dia punya keinginan yang sama untuk menghabiskan masa tua bersama laki-laki yang berstatus suaminya sekarang sebelum kedatangan Nyonya Maura. “Ini kesulitan terbesar yang akan kita hadapi, dunia akan memandang rendah Abang kalau kita memaksa bersama. Semua orang akan merendahkan Abang. Karena dianggap mensejajarkan kedudukan seorang Fatih dengan Anisa” lanjutnya setelah menelan ludah yang terasa sakit di tenggorokan.

__ADS_1


“Abang tidak peduli dengan ini semua, Abang hanya mau NIsa tetap ada disamping Abang. Kita berdua akan melewati semua, tidak peduli dengan apa kata mereka. Abang akan tetap memilih Anisa jika harus ada pertaruhan dan pengorbanan”


“Abang akan kehilangan semua, kerja keras abang bertahun-tahun akan sia-sia hanya karena NIsa”


“Abang tidak peduli. Walaupun semua orang menghujat Abang,menghina Abang. Asalkan Nisa masih mau memeluk abang. Semua tidak akan ada artinya bagi Abang” ucapnya penuh keyakinan.


“Sulit Bang, akan banyak yang abang pertaruhkaan. Nama besar, jasa Nyonya Maura, keluarga Abang. Kedudukan Abang di perusahaan pasti juga akan kena imbasnya”


“Ganti baju ikut sekarang juga Abang akan selesaikan semuanya. Abang hanya mau kita bukan yang lain, percayalah Abang tidak peduli dengan semuanya. siapapun yang tidak mau menerima Anisa sebagai istri Abang dia juga tidak bisa menerima Abang” Fatih menatap istrinya penuh keyakinan.


“Abang yakin bisa. Sudah siap dengan kemungkinan terburuk kalau ternyata mereka akan mengambil semua kalau Abang masih mau mempertahankan NIsa.” Dirinya tidak tahu sebesar apa pengaruh Nyonya Maura dalam perusahaan suaminya. tapi Anisa tahu betapa besar pengaruh wanita itu dalam kehidupan sang suami. us


“Sejak Abang memilihmu menjadi istri, Abang sudang siap dengan konsekwensi terburuk kalau memang itu yang harus Abang terima” Tatapannya penuh keyakinan. Bahwa dia yang akan menghadapi kerikil tajam yang menghalangi kelanjutan masa depannya dengan Anisa.


“Kita mau kemana?” Tanyanya setelah keluar dari kamar hendak memasuki lift


“Kerumah Mama, aku ingin memperjuangkan kita. Hubungan ini tidak ingin Abang tukar dengan apapun” Meremas tangan sang istri kuat. Seolah mencari kekuatan. Tapi hatinya sudah yakin bahwa wanita yang sedang menatapnya ini yang akan menjadi kekuatannya. “Apapun yang terjadi nanti jangan tinggalin Abang. Karena Abang tidak akan sanggup”


Anisa seperti mendapati sosok lain dalam diri suaminya. laki-laki yang selalu terilhat ragu, kini berbicara penuh kepastian. Keyakinannya penuh dalam setiap untaian kalimat yang terlontar dari bibirnya.


“Berkunjung kerumah mertua tidak boleh dengan tangan kosong. Nisa nunggu di lobi Abang pesanan makanan dulu” sesaat menhentikan langkahnya ketika tiba di lobi hotel.


Fatih menatap istrinya tajam, wanita ini tahu posisi orang yang akan dia kunjungi tapi masih punya sifat sebaik itu, untuk membawakannya oleh-oleh. Dan posisinya hanya orang tua angkat bukan kandung. Tapi sitrinya menghormati selayaknya orang tua kandung. Tidakkah mamanya malu seandainya dia tahu wanita seperti apa yang sedang berusaha dia singkirkan dari hidupnya.


***makin seru ya... jangan vote like dan komen biar author semangat.

__ADS_1


__ADS_2