
Semua sudah selesai, undangan dan kerabat benar-benar sudah pulang, rumah sepi. Hanya keluarga inti yang tinggal. Tapi mereka sudah masuk kamar. Lelah seharian mengurus persiapan hingga menjelang acara pernikahan.
Meskipun di gelar secara sederhana, tapi yang namanya acara penting tetap membutuhkan tenaga ekstra. Ada saja hal-hal kecil yang terlupa, hingga mengundang kepanikan Tapi, semua sudah selesai, dan acara berjalan lancar.
Fatih keluar dari kamar mandi, dengan rambut basah terlihat lebih segar. Terlihat lebih tampan pastinya. Tapi Anisa tidak akan pernah mau mengakui itu.
“Mandi dulu, baru tidur” Nasehatnya pada sang istri yang terlihat masih di pembaringan.
“Saya mau menyerahkan ini, silahkan tanda tangan” menyerahkan kertas dalam map berwarna biru.
“Saya baca dulu, selesai mandi kita bahas lagi” Fatih tahu, wajah sembab istrinya. Tapi tidak tahu apa yang menjadi penyebab menangisnya Anisa. Hari pertama sudah membuat kebodohan. Dia mengutuk dirinya sendiri karena tidak tahu apa-apa.
Ini sudah maghrib, acara kumpul keluarga baru benar-benar berahir setelah Adzan berkumandang. Tidak ada yang berniat mengahiri, bercerita dan berkumpul bersama sanak saudara jauh untuk melepas rindu. Tidak akan ada kata bosan bagi mereka, hanya saja memang waktu selalu berputar terlalu cepat.
“Sudah tanda tangannya?” Tanya Anisa, Fatih melihat Anisa sudah keluar dari kamar mandi, sudah memakai baju panjang lengkap dengan jilbabnya. Tidak masalah, Fatih juga belum siap melihat istrinya tanpa penutup mahkotanya.
“belum, shalat berjamaah dulu” Anisa terperangah, bagaimana mungkin Fatih bisa melakukannya.
“untuk apa?” Menatap Fatih dengan bingung.
“Saya Keluar dulu, tunggu sampai pulang” memakai sarung dan peci lengkap, menambah ketampanan wajah itu, terlihat lebih bersih. Tapi Anisa mana mau mengakui itu.
“Sengaja mengulur-ulur waktu?”
“Untuk apa, belum di baca. Takut ada poin yang merugikan saya. Tahukan maksudnya” Anisa kesal, tentu saja tahu. Tanpa mempedulikan itu dia berbalikmenuju meja rias.
“Sekarang kita sholat dua rakaat?” Anisa terperanjat, Dirinya terlalu sibuk melamun tidak tahu kapan Fatih datang, tiba-tiba sudah muncul dibelakangnya. “Sudah sholat maghrib?” tanyanya lagi, bahkan tanpa menanyakan itu dia suda tahu. Sajadah yang terhampar dengan mukenah diatasnya sudah bisa menjawab pertanyaan Itu.
“Untuk apa?” Anisa bingung
“Sholat berjamaah pertama kita sebagai suami istri” jawabnya, sambil berdiri menghadap kiblat. diatas sajadah yang baru saja di gelar didepan sajadah Anisa.
“Emang ada?” ini baru menurutnya, bahkan Fatih jauh lebih tau dari dirinya.
“Ada, sekarang saya akan kasih tahu kamu. Saya mau menjadi imam untuk pertama kali. Karena mulai hari ini, Saya adalah imam dalam kehidupan sebenarnya. Dosamu adalah dosa saya juga, saya yang akan dimintai pertanggung jawaban atas semua perbuatanmu di dunia” jawab Fatih panjang lebar.
Anisa melongo, bahkan dia tidak tahu bahwa laki-laki itu tahu tentang agama. Dia pikir Fatih adalah laki-laki dingin, serakah dan kejam. Yang hanya tahu tentang uang dan untung rugi. Tuhan dan agama nanti saja, pikirnya.
Fatih kembali mencium kening sang istri, dan sekali lagi tangan itu berada di ubun-ubun Anisa, doa kembali Dia panjatkan dengan mata terpejam. Janji yang di ucapkan nya di hadapan Tuhannya, adalah janji untuk menemani istrinya, menanti senja bersama hingga senja itu menghilang mereka akan tetap pergangan dalam cinta yang sesungguhnya. cinta karena Allah.
Anisa terdiam, dadanya menghangat. Dia tidak pernah berpikir akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari suaminya. Rasa haru menyeruak, dadanya membuncah. ada rasa bahagia yang tidak bisa disangkal nya. sungguh dia benar-benar merasa menjadi istri sekarang.
"Terima kasih, sudah mau menjadi istriku, mari kita berjalan bergandengan tangan. berjanjilah apapun yang terjadi tetaplah pegang tanganku. saya bersedia mempertaruhkan semuanya demi kebahagiaan kamu" Ucap Fatih, lirih.
Anisa mendengarnya, tapi semua sudah dia antisipasi. Dia tidak yakin yang diucapkan Fatih saat ini benar adanya. atau hanya bualan untuk menutupi kebusukannya.
__ADS_1
****
Hari sudah malam ketika Fatih kembali masuk kedalam kamar setelah berbincang dengan Amir. Dia melihat istrinya masih duduk menunggunya. fatih tahu apa yang ditunggu sang istri.
“Saya tidak suka bikin peraturan tertulis, peraturan saya akan menyesuaikan dengan keadaan” Apa-apaan. Ini kan tidak bisa ditebak kalau begitu.
“Terus?” Tanyanya bingung
“Semua kesepakatan ini sudah saya baca, jangan khawatir. Saya tidak tidak akan pernah meminta hak saya sebagai suami kalau Nisa tidak menginginkannya. Sekarang tidurlah, kamu lelahkan. Saya tidur di sofa” sekali lagi Nisa terperanjat kaget. Semua hal yang melekat dipikirannya tentang Fatih tidak terbukti.
Dia pikir akan menjalani malam pertama dengan pemaksaan dan deraian air mata. Tapi laki-laki ini mengalah bahkan untuk tempat tidur. Kembali rasa haru menyeruak masuk. Benarkah hatinya akan tetap mengeras setelah melihat perlakuan lembut suaminya.
Pertama kali tidur dalam satu ruangan dengan orang lain, apalagi laki-laki tidak serta merta membuat hati Anisa tenang, dia membolak-balik badannya berulang. Kantuk tak jua datang. Bagaimana bisa terlelap. Rasa lelah yang tadinya datang, hilang begitu saja.
Fatih melihat pergerakan istrinya di atas kasur. Ruangan yang gelap, tapi dia masih mampu mendengar suara kasur bergeser dan sosok diatasnya berkali-kali berganti posisi.
“Apa tidurmu selalu begitu” tanyanya. Dia belum mengantuk. Ada perasaan aneh ketika tidur dengan perempuan dalam satu kamar sekalipun orang yang sudah bersatus istrinya, ini pertama baginya.
“Tidak, saya tidak biasa tidur ada orang lain di kamar” jawabnya, Nisa meringkuk di bawah selimut. Setelah mendengar pertanyaan suaminya. Dia tidak berani bergerak lagi. Sampai kantuk itu datang menghampirinya, entah jam berapa.
“Maaf, saya benar-benar minta maaf. Suatu saat kamu akan mengerti mengapa pernikahan kita dipercepat. Dan aku berjanji akan membuatmu bahagia berada disampingku. Membuatmu jatuh cinta. Kita berdua akan hidup bahagia. Aku berjanji” Fatih menghampiri ranjang istrinya, memegang tangan Anisa yang terulur.
Menggegamnya kuat, sekuat janji yang di ucapkan pada istrinya yang tertidur dengan wajah damai. Fatih memandangnya dalam temaram. Dia tersenyum bahagia. Walau Anisa tidak mendengar. Setidaknya dia sudah berjanji. Dengan segenap jiwa raganya, mengorbankan hidupnya untuk membuat wanita di depannya ini merasa menjadi wanita paling sempurna di dunia.
Fatih tertidur diranjang yang sama dengan istrinya, tangan itu masih menggenggam dengan erat. bahkan tak terlepas meskipun dirinya sudah terlelap. Mengarungi mimpi. Dan Dia berharap pernikahan yang baru saja di alaminya bukan mimpi.
Fatih terbangun dengan mata merah, wajahnya bingung melihat istrinya berteriak sambil duduk. Jangan lupakan selimut yang dipegang Anisa sampai di dadanya.
“Ada apa” Fatih terduduk. Sambil mengucek matanya.
“Kenapa kamu ada di kamarku” teriaknya dengan wajah ketakutan
“Apa maksudmu” wajah Fatih masih bingung.
“Bagaimana kamu ada disini. Beraninya tidur di kasur ku. Dan memegang tanganku dengan tidak tahu diri” Nisa masih berteriak. Dia benar-benar marah sekarang.
“Pelankan suaramu. Malu kalau didengar yang lain. Ini masih jam tiga” jawab Fatih setelah lampu dihidupkan.
“Nisa, buka pintunya. Ada apa?” suara panik sang ibu, dia segera berlari ke kamar anaknya. Setelah mendengar teriakan Anisa. Biasanya kalau tidak ada tikus ya kecoa yang bisa membuat Anisa ketakutan.
“Tuh, kan. Ibu sampai panik, suaramu pelankan. Mereka pikir saya ngapa-ngapain kamu” Fatih ikut panik mendengar suara khawatir mertuanya dari luar.
“kamu ngapain disini, siapa yang mengijinkanmu masuk ke kamarku” Masih dengan nada ketakutan.
“Hah” Fatih bingung mendengar pertanyaan istrinya. Dia berjalan menghidupkan lampu kamar.
__ADS_1
“Jangan pura-pura bingung, jawab!!!” Suara Anisa dengan nada tinggi.
“Kita sudah menikah, kamu istriku” Jawab Fatih frustasi. Bagaimana Anisa bisa lupa.
“Hah, tidak mungkin. Bukannya Cuma mimpi" Anisa menatap sekeliling, bahkan dia memegang kepalanya yang terasa berat.
“Lihat jarimu. Lihat kamar ini. Bahkan hiasaannya belum dilepas” Baru pertama jadi suami, kelakuan istrinya membuat Fatih sakit Kepala.
“Jadi ini beneran. Terus wanita itu sungguhan?” ada rasa nyeri yang tiba-tiba menusuknya rasanya sakit. Anisa tertunduk. Air matanya kembali tumpah.
“Nis, buka pintunya” suara teriakan di pintu. Membuat Fatih beranjak turun. Dia membuka pintu. Wajah ibu mertuanya muncul dengan raut cemas. “Anisa tidak apa-apa” Tanyanya pada Fatih, setelah pintu terbuka.
“Nisa hanya mimpi buruk. Dia terbangun tadi. Maaf sudah mengagetkan Ibu"
“Kebiasaan anak itu. Pasti sekarang Nangis” Ibu mertuanya paham kebiasaan sang istri. Benar Anisa sekarang menangis, tapi bukan karena mimpi buruk. Fatih mengangguk sambil tertunduk.
“Ibu tinggal dulu, kamu yang sabar ya. Kelakuannya masih belum berubah. Segala mimpi sering dia bawa ke dunia nyata” Ibu mertuanya tidak perlu tahu bahwa Anisa mengalami kisah nyata yang dianggapnya mimpi buruk.
“Iya, Bu. Terima kasih nasehatnya”
“Ini bukan nasehat, peringatan dini dan tantangan menikah dengan anak saya” ucap mertuanya sambil tersenyum. Kemudian berlalu.
Fatih menarik nafas berat. Dia menutup pintu perlahan menghampiri Istrinya dan duduk di sisi ranjang.
“Apa hubunganmu dengan wanita itu, aku benci laki-laki yang belum selesai dengan masa lalunya. Tapi sudah membuat cerita baru. Atau memang ini tujuanmu menikahiku. Menutupi hubunganmu dengan wanita itu” Wajah Anisa merah, antara marah, kecewa dan sakit hati menumpuk jadi satu.
“Kamu cemburu?” dari sekian rentetan pertanyaan Anisa justru jawaban itu yang di terima Ni matanya membuka lebar. Dia benci laki-laki itu sekarang
“Aku tidak cemburu, wanita mana yang tidak sakit hati setelah harga dirinya di injak-injak” jawabnya sambil terisak, suaranya pelan penuh penekanan. Khawatir Ibunya datang lagi.
“Seorang istri yang membicarakan wanita lain, yang tidak ada hubungannya dengan kita, apa namanya kalau tidak cemburu” jawab Fatih santai.
“Anda bilang tidak ada hubungan. Setelah berpelukan di depan keluarga besar memanngil nama dengan mesra, apa masih bisa dibilang tidak ada hubungan. Atau hal yang begitu wajar bagi kalian” Anisa benar-benar tidak suka jawaban santai suaminya.
“Pelankan suaramu, Ibu baru saja turun kamu tdak mau kan kalau pagi-pagi begini semua orang terbangun. Dan mengira kita sudah....” Fatih tak melanjutkan kalimatnya, dia bingung harus membuat istilah apa tentang kegiatan itu. “ Nanti saya kenalkan, kalian pasti cocok. Sama-sama memiliki jiwa bocah yang terjebak dalam tubuh orang dewasa.” Lanjutnya lagi
“Saya tidak akan pernah sudi berkenalan dengan wanita itu. Murahan” jawab Anisa masih dengan kemarahan yang menggunung.
“Itu peraturan tak tertulis saya yang pertama, kalau kamu tidak mematuhinya, kontrak yang semula enam bulan dalam surat perjanjian itu, akan saya perpanjang menjadi satu tahun” Fatih sudah membaca surat kesepakatan tertulis yang di buat istrinya.
Bahkan Anisa menyetujui pernikahan mereka hanya enam bulan. Tapi dia sudah berjanji akan membuat Anisa jatuh cinta padanya sebelum tenggang waktu itu berahir.
***
Sebagai permintaan maaf author up dua bab hari ini. Happpy reading...
__ADS_1
Ada yang pernah ngalamin seperti Anisa, pengalaman author setelah menjadi istri kaget ada orang lain di kamar... lelah membawa Amnesia