MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
TERIKAT


__ADS_3

“cin-cin ini sebagai tanda kalau kamu sudah ada yang mengikat, jadi tidak boleh dilepas ya nak. Ibu berharap semoga kalian berjodoh dunia akhirat” suara ibu Fatih menyela setelah cin-cin itu tersemat.


Nisa memandang jarinya yang tak lagi sama, ada benda mungil yang tersemat menambah cocoknya jari itu dengan panggilannya yang manis.


Yah, Nisa tahu itu dan juga hubungannya dengan Fatih naik satu tingkat lebih serius. Di luar dugaan Anisa, tapi ini harapan semua orang. Acara sederhana tanpa melibatkan orang luar, hanya dirinya beserta keluarga inti.


Ini memang keinginan gadis itu, apapun tentang kehidupan pribadinya kelak dia tidak ingin banyak orang tahu, bahkan kalau suatu saat hal penting seperti pernikahan dia hanya ingin sederhana, melibatkan banyak orang hanya akan melibatkan banyak pendapat. Tentu itu sangat tidak nyaman buat Anisa.


Acara makan di mulai semua menuju meja yang telah rapi dengan menu yang beragam. Kegaduhan terdengar, suara denting sendok beradu dengan piring, sesekali terdengar tawa canda mereka.


Anisa duduk di pojok ruang makan, dia masih belum percaya dengan semua ini. Terlalu cepat, bahkan sangat cepat. Dia tidak pernah menyangka hal ini terjadi sekarang dalam hidupnya.


“dilihatin terus dek jarinya, bagus ya, selera calon suamimu memang tinggi, dia pandai cari yang cocok buat jari kamu” Anisa menoleh kakak iparnya berdiri dibelakangnya. Dengan senyum menggoda dia menatap Anisa.


“Selamat ya, kakak ikut bahagia. Ahirnya kalian naik satu tingkat” pelukan hangat Nisa terima. Dia tidak bahagia tapi tidak juga bersedih. Entahlah seolah emosi yang selalu menguasainya lenyap entah kemana. Bingung, itu yang dia rasakan. Cin-cin yang melingkar bukan hanya sekedar penghias jarinya. Lebih dari itu adalah simbol bahwa mulai hari ini gadis itu sudah terikat dengan laki-laki yang bahkan kehadirannya selalu Nisa hindari.


Semua orang sudah duduk di kursinya lengkap dengan piring yang telah terisi penuh dengan lauk. Makan tanpa bersuara. Nisa mengambil piring dan melakukan hal yang sama. Takut ibunya memerintah, karena itu akan menjadi canggung. Duduk kembali ditempatnya semula. Menyendok makanan kemulutnya tanpa selera.


Ini terlalu tiba-tiba. Nisa belum bisa terima sepenuhnya. Gadis itu merasa setelah ini kebebasannya akan terenggut. Bagaimana nanti menghadapi teman-temannya kalau mereka melihat ada yang lain dengan jarinya. Alasan apa yang akan Nisa buat, ini sangat tidak mudah bukan. Cin-cin di jari manis sebelah kiri dengan berlian warna putih menghias disana. Seorang gadis memakai itu tentu akan menimbulkan berbagai tanya.


Ini bukan berita bagus, juga bukan hal yang bisa di banggakan. Juga bukan hal yang akan Dia pamerkan ke semua orang.


Seandainya bisa, Nisa ingin menyembunyikan ini dari siapapun. Bagaimana kalau Dia hanya akan memakai cin-cin ketika dirumah. Ide yang masuk akal. Baiklah, tentu tidak akan menimbulkan tanya yang dia sendiri tidak yakin mampu menjawabnya. Senyum terukir seolah mendapat ide yang cemerlang.

__ADS_1


“kamu calon istriku sekarang, jangan lepas cin-cin itu kemanapun kamu pergi” suara yang tidak ingin Nisa dengar, sajak kapan dia duduk disebelahnya bahkan Nisa tidak menyadari karena sibuk dengan pikirannya sendiri.


Nisa menarik nafas berat dia tidak ingin berdebat sekarang, energinya sudah habis untuk saat ini. Dia ingin membiarkan laki-laki ini berbicara semaunya. Itu akan lebih baik daripada semua orang melihatnya berdebat dengan Fatih. Sekarang bukan waktu yang untuk mengencangkan urat leher demi membungkam mulut laki-laki disebelahnya.


“Apakah kamu bahagia, calon istriku” pertanyaan yang tidak ingin Nisa jawab, kembali menyendok makanan ke mulut, mengunyah pelan dengan tatapan lurus entah kemana. Kemudian mendorongnya dengan air hingga masuk kelambung. Kata calon istri itu mendadak menyerap habis selera makannya. Menghilangkan rasa dari lauk di piringnya sehingga yang terasa hanya hambar.


“Ah, seharusnya aku menyematkan benda itu dari dulu, kalau tahu benda sekecil itu bisa menyerap emosimu yang besar. Calon istriku terlihat lebih sabar sekarang” imbuhnya lagi.


Nada pelan tidak ingin terdengar siapapun. Tidak ada yang memperhatikan mereka. Abangnya sibuk berbincang dengan Ayah Fatih, ibunya pun sama, obrolan yang diselingi tawa sesekali. Terlihat raut bahagia di semua orang.


Syafira sibuk menyuapi Adam dan Rania. Dua gadis itu, mereka dengan anggunnya duduk berdua, tanpa berbicara menyantap hidangan yang ada di piring yang mereka pegang. Gadis yang anggun. Anisa tidak sempat memperhatikan, sibuk dengan keterkejutannya. Mereka berdua sangat manis. Mengapa keluarga itu bisa punya anak laki-laki yang jauh dari karakter mereka.


“Namanya indah dan Indira, dia adikku kalau kamu ingin tahu, nanti kenalan. Mereka anak-anak yang baik” seolah mengerti arah pandang Anisa pada dua gadis itu. Tanpa diminta laki-laki itu menjelaskan.


“kasihan mereka punya kakak yang menyebalkan” tanpa sadar Nisa berucap, itu yang ada dipikirannya dari tadi. Mereka seolah melihat semua anggota keluarga itu damai, mengapa punya anak sombong dan suka memaksa.


“Karena mereka adikmu” tanpa menoleh Nisa menyanggah ucapan Fatih. Dia sibuk mengaduk piringnya, lauk yang diambilnya tak lagi menggugah seleranya. Rasanya untuk menelanpun sulit. Selera makannya hilang. Nisa seolah masih hidup dalam mimpi. Semua serba tiba-tiba. Dan dia tidak punya pilihan.


Tidak ada sanggahan yang tertangkap rungunya. Anisa memilih diam dia tidak lagi tertarik untuk melihat cin-cin di jari manisnya. Fatih menikmati hidangannya dengan tenang.


“Terima kasih atas suguhannya, kalau tidak ingat kapastias lambung rasanya ingin saya habiskan semua, terlalu enak untuk dilewatkan” Ayah Fatih berucap yang disambut tawa semua orang.


Acara makan sudah selesai. Semua orang kembali ketempatnya. Duduk di ruang tamu dengan kursi yang sudah dibuat melingkar, sehingga semua bisa terlihat. Dan terlibat dalam obrolan hangat selepas makan tadi. Sekedar beramah tamah untuk calon anggota keluarga baru, diikat oleh hubungan dua insan yang berbeda latar belakang dan karakter.

__ADS_1


Obrolan berjalan ringan, mulai dari masalah hidangan, menceritakan kesibukan. Hingga Adam dan Rania pun tidak luput dari pembahasan mereka. Nisa seperti menjalani wawancara ringan, tentang pekerjaannya pun tidak luput dari pertanyaan.


Acara sudah selesai, semua orang berpamitan lengkap dengan pujian rasa masakan dan cara penyambutan yang tak luput dari ucapan terima kasih yang diulang.


“Ini masih langkah awal, bibi harap kalian bisa secepatnya naik kepelaminan. Tidak baik terlalu lama di fase ini. Setan sekarang semakin canggih cara kerjanya” suara tawa kembali terdengar di ahir kalimat.


Ibunya Fatih berucap sambil menggenggam tangan Anisa. Masih aliran hangat yang sama Nisa rasakan.


“Nisa masih bingung ya, ini memang terlalu mendadak. Anak nakal itu ngasih tahunya tiba-tiba entah apa yang ada di otaknya. Tapi bibi bahagia ternyata calonnya seperti kamu. Sebelum kamu datang tadi bibi sudah mendengar banyak tentang kamu dari Fira. Tidak ada yang perlu bibi khawatirkan. Sekarang Nisa yang belum siap, tapi bibi yakin kedekatan kalian selama satu tahun sudah cukup untuk saling mengenal dengan baik” Nisa tersentak. Matanya membuka lebar. Maksud kata kedekatan satu tahun itu apa, kepala Nisa berputar. Mencari jawaban, mungkin ada yang dia lewatkan selama satu tahun yang di maksud. Tidak ada, benar-benar nihil. Nisa tidak pernah merasa ada kedekatan apapun selain pemaksaan yang dilakukan Fatih secara bertubi-tubi.


“Saya juga baru tahu mbak, kalau bukan Fatih yang cerita tentang hubungan mereka. Kami pikir satu tahun lebih dari cukup untuk membuat mereka ahirnya lebih serius” itu suara ibunya.


Bahkan untuk urusan kedekatan pun Fatih berbohong dengan mereka. Kedekatan seperti apa yang Fatih ceritakan.


Nisa menatap tajam laki-laki yang berdiri di belakang keluarganya itu. Dia berdiri tepat dibelakang ibunya. Senyum yang sama terukir di bibirnya, dengan alis turun naik.


“Anak jaman sekarang, semua serba kejutan memang” kembali ibunya Fatih menimpali. Dengan senyuman yang terbit di wajahnya. Tulus, itu yang Nisa rasakan. Bahkan wajah penuh harapan itu masih tercetak jelas.


Yah, ini memang kejutan. Benar-benar kejutan sampai Nisa tidak bisa berpikir dari saking terkejutnya. Apalagi yang Fatih karang cerita untuk keluarganya. Seandainya tidak ada orang lagi, Nisa ingin bertanya dengan nada keras, apa maksudnya dia membuat cerita seolah mereka sangat dekat.


Nisa sempat berkenalan dengan dua adik Fatih sebelum mereka pulang, anak-anak yang manis seperti dugaannya. Dan tentu saja dengan pujian terhadap Abangnya yang setinggi langit seperti dugaan Anisa. Tidak lantas membuat hati Anisa bisa menerima cerita mereka.


“Dira yakin kalian cocok, sama-sama penyabar dan penyayang. Mungkin Tuhan mengirimkan kalian untuk berpasangan. Abang itu memang menyebalkan kadang-kadang tapi percayalah dia kakak terbaik di dunia. Iya kan dek” menyikut perut Gadis disebelahnya yang di panggilnya adek. Dengan sigap gadis itu mengangguk, menyetujui pendapat kakaknya.

__ADS_1


“Nanti kakak akan terkejut dengan sifat aslinya” timpal gadis itu lagi. Tentu, Anisa banyak menerima kejutan. Bahkan, hari ini pun dia di buatkan kejutan yang membuat dia ingin melemparkan sandal kemukanya. Bisa-bisanya mengarang cerita tentang kedekatan satu tahun.


Jodoh, memang misterinya tidak bisa tertebak. Dengan siapa dan kapan kita tidak tahu. Bahkan Anisa harus menyetujui memakai tali pengikat yang melingkar di jari manisnya sekarang. Dari laki-laki yang tidak pernah dia inginkan sama sekali.


__ADS_2