MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
MEMBOHONGI PERASAAN


__ADS_3

“Aku cinta Kamu”, “I Love You” atau apapun istilahnya, Hanya tiga kata, yang bagi sebagian orang dianggap tidak penting, asalkan ada perhatian, perlakuan manis, melindungi yang terkasih dengan baik. Membuat rasa nyaman bagi keduanya, maka ungkapan itu sudah dianggap tidak perlu. Atau bahkan sebagian orang menganggap itu berlebihan ketika hubungan sudah terjalin lama, hingga mereka hidup bersama dalam ikatan pernikahan dengan hitungan bukan lagi tahunan, tapi puluhan tahun.


Bagi Anisa itu dianggap perlu untuk mengukuhkan statusnya, mengetahui isi hati sang suami pada dirinya selama ini. Hatinya mulai bimbang ketika kata itu tidak pernah terdengar dari mulut laki-laki yang setiap hari wajahnya menghisai harinya. Dimulai ketika dia membuka hingga menutup mata. Baginya, tiga kata itu mempunyai makna yang mendalam. Perhatian, kasih sayang, dan perbuatan manis suaminya hanya dianggapnya sebagai ungkapan rasa tanggung jawab sebagai suami, bukan didasarkan pada cinta.


“Abang sudah mengurus kepindahanmu kekantor pusat, besok kita berangkat, Reno sudah mengurus semuanya. Tinggal nunggu suratnya keluar. Mungkin dalam tiga hari kedepan sudah beres” Memakaikan jam di pergelangan tangannya. Nisa terlihat dengan baju rumahan masih dengan hijab yang menutupi rambut. Bukan Fatih tidak tahu, dia merasa perubahan sikap Anisa sepulang liburan begitu jelas. Dia pikir, kejadian di rumah lamanya bisa mempererat hubungan mereka. tidak ada kecanggungan, dia pikir istrinya tidak akan menjaga auratnya lagi didepannya sebagai suami. Nyatanya, dugaannya salah. Anisa tetap melakukan hal yang sama.


Tidak ada aktifitas rutin sebagi suami istri diatas ranjang, hanya satu kali saja. Setelahnya Fatih tidak menuntut apapun. Membiarkan Anisa kembali pada kebiasaan lamanya adalah pilihan terbaik. Bertanyapun rasanya percuma, jawabannya tetap sama “Tidak apa-apa”. Kalimat beribu makna. Banyak wanita berlindung dari kalimat itu agar terlihat baik-baik saja.


“Kenapa Abang tidak minta ijin Nisa dulu, dari awal abang sudah berjanji tidak ingin mencampuri profesi Nisa. Bagaimana Abang bisa mengambil keputusan sepenting itu sendiri” Melihat bayangan Fatih dari meja rias. Hatinya marah, dari awal Nisa sudah mengatakan kalau masalah pekerjaan Fatih tidak boleh ikut campur.


“Abang tidak akan menghambat karir ataupun mengatur Nisa. Profesi guru memang cita-cita Nisa dari dulu Abang sangat paham. Nisa tidak akan berhenti hanya pindah tempat tidak masalah kan” Ucapnya santai sambil memasang dasi, tepat dibelakang Anisa.


“Seharusnya dibicarakan dulu jangan serba tiba-tiba. Satu hal yang Abang harus tahu kalau Nisa sudah mulai tidak nyaman dengan semua yang serba dadakan. Biarkan Nisa mengambil keputusan sendiri” Dadanya panas, dia marah tapi tidak bisa mengungkapkan. Amarahnya tertahan.


“Suasana hatimu sedang tidak enak, kita bicara lagi nanti. Hari ini jadwal Abang padat, mungkin pulang agak malam” Mengambil jas dan menyampirkan dilengannya. Dia mengecup kepala Anisa, pergi denga tergesa. Meninggalkan Nisa yang melepas kepergiannya dengan kalimat yang tertahan.


“Bang, tunggu Nisa belum selesai bicara” Percuma, suaminya sudah menutup pintu. Nisa tahu suaminya pasti sibuk setelah meninggalkan pekerjaan cukup lama. Seminggu bukanlah waktu yang singkat untuk seorang pemimpin perusahaan seperti Fatih. Tapi dia ingin bicara banyak, hatinya belum terima Fatih meninggalkannya begitu saja, sementara tumpukan kalimat dengan penuh amarah masih mengendap.


Anisa bergegas mengejar keluar, tapi terlambat. Dia hanya melihat belakang mobil sang suami keluar dari halaman rumahnya. Rasa kesalnya membubung tinggi. Dia lampiaskan dengan meremas kedua tangannya sangat kuat.

__ADS_1


“Sejak pulang berlibur, ibu melihat wajahmu kusut, ada apa?” Baru saja Nisa meletakkan gelas minumnya, ketika ibu duduk didepannya.


“Tidak apa-apa” Rasanya Nisa tidak sanggup menyimpan tumpukan pertanyaan itu sampai menunggu suaminya pulang. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Menyusul kekantor hanya untuk mencari keributan terkesan sangat kekanak-kanakan. Itu sama artinya dia mengumbar masalah rumah tangganya didepan orang lain.


“Ibu seperti punya indra ke enam kalau menyangkut anak. Apa yang membuat NIsa sangat marah?”


“Sudah Nisa bilang tidak ada apa-apa” Nadanya mulai naik satu oktaf.


“Ibu percaya, baiklah ibu tinggal ada urusan sebentar” Berdiri, hendak meninggalkan NIsa sendiri.


“Abang mengurus kepindahan Nisa tanpa persetujuan” air matanya tiba-tiba keluar tanpa komando. Rasa kesal yang tertahan ahirnya keluar. Nisa berharap bisa melegakan amarahnya dengan menceritakan pada Ibu.


“Jadi, Ibu sudah tahu?” Wajahnya bingung dengan dahi berkerut.


“Sudah” Jawaban Ibu seperti tidak ada beban.


“Ibu tidak bicara apapun sejak NIsa datang”


“NIsa tidak tanya, lagian mukamu asem terus. Mana berani Ibu bicara sama kamu”

__ADS_1


“Ini keputusan besar, Ibu lebih dulu tahu dari pada Nisa. Dan tidak seorangpun yang memberi tahu. Mulai dari pertunagangan, pernikahan dan sekarang pindah tempat kerja. Semua keputusan besar itu tidak melibatkan Nisa. Apa sebenarnya tujuan ibu melakukan semua ini” Tidak peduli yang dihadapai wanita yang melahirkannya. Sekarang amarahnya pindah pada wanita dengan gamis abu bunga kecil di depannya ini.


“Kalau Ibu bilang kamu mau ditunangkan sama Fatih apa kamu mau terima, begitupun dengan pernikahan, kamu akan menolak mentah-mentah. Sekarang masalah mutasi pun kamu tetap akan menolak. Jadi apa perlu minta pendapatmu sementara ibu sudah tahu jawabannya”


Tatapan lembut Ibu di wajah putrinya yang mulai menteskan airmata. “Percayalah, semua yang kami lakukan demi kebaikan kamu. ibu lebih mengenalmu dari siapapun dan ini keputusan terbaik, Fatih sudah meminta pertimbangan Ibu jauh sebelumnya”


“Apa yang menjadi pertimbangan Ibu melakukan semuanya sepihak. Hanya berdiskusi dengan satu orang Ibu anggap sudah mewakili jawaban Nisa” Hatinya lebih sakit dari sebelumnya, airmatanya semakin deras.


“Bukan hanya berdua, tapi Abangmu juga punya pendapat yang sama. Kami sangat mengenalmu. Keputusan ini melalui pemikiran dan pertimbangan yang matang.”


“Ibu anggap apa Nisa di rumah ini. Ibu anggap patung yang tidak punya perasaan. Atau hanya dianggap pajangan. Nisa manusia yang punya rasa marah. Tolong pertimbangkan hati Nisa” Suaranya meninggi, hatinya semakin sakit mengetahui bahwa semua keluarganya bahkan memihak suaminya.


“Pendapat Nisa hanya jangka pendek, semua keputusan yang Nisa ambil berdasarka perasaan. Bukan pemikiran yang matang. Kami hanya ingin yang terbaik untuk kalian. Ibu yang melarang suamimu minta pendapatmu, walaupun dia sempat bersikeras. Abangmu juga melarangnya. Kamu akan menolak semua hal yang menyangkut suamimu, padahal kamu sedang membohongi hatimu. Keputusan yang diambil karena emosi hanya akan menyisakan penyesalan”


“Untuk kali ini Ibu tidak mengenali anak sendiri” Masih dengan amrah yang hampir meledak, bagaimana bisa wanita yang melahirkannya menyimpulkan hal yang sangat salah.


“Yah, ibu tidak mengenali Nisa, seorang wanita yang mampu membohongi hatinya, bukan hanya Ibu tapi Nisa juga melakukan kesalahan yang sama. Membohongi hati yang sedang jatuh cinta dengan begitu keras. Ibu melihat semuanya dengan jelas” Kalimat Ibunya bagaikan tamparan keras. Itulah kesalahan yang terlalu fatal menurutnya. Terpikat pada pesona sang suami hingga membuat hatinya lumpuh tak berdaya, hatinya benar benar jatuh cinta pada suaminya. Sayangnya dia merasa cinta itu bertepuk sebelah tangan.


“Jangan jadikan cobaan rumah tangga abangmu sebagai momok yang menakutkan hingga membuat Nisa trauma. Fatih laki-laki yang sangat Ibu percayai untuk bisa menitipkanmu. Jangan menyakiti diri dengan melawan perasaanmu terlalu keras” Memegang tangan Anaknya dengan lembut. “Semua orang sayang Nisa, termasuk suamimu. Dia punya cinta yang begitu besar. Laki-laki yang rela mengubah banyak hal dalam dirinya demi menyesuaian diri dengan wanita yang dicintainya itu adalah pengorbanan terbesar. Karena tidak mudah mengubah kebiasaan secara tiba-tiba” Mengusap kepala Anisa setelah menuntaskan kalimatnya. Kemudian berlalu meninggalkan Anisa sendiri.

__ADS_1


Menyerap semua nasehat ibunya walaupun ada beberapa yang NIsa setujui, tapi satu hal NIsa tidak akan pernah sependapat, bahwa Fatih mencintainya, itu adalah pemikiran Ibunya saja tidak dengan suaminya. setelah tidak sengaja menguping pembicaraan waktu itu NIsa sangat yakin bahwa Fatih melakukan semua tugasnya sebagai suami karena tanggung jawab dan janjinya kepada Ibu. Bukan karena laki-laki itu mencintainya.


__ADS_2