MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
BERTEMU MERTUA


__ADS_3

“Sampai mana Bang?” Pertanyaan kesekian setiap kali gawai Fatih berdering, kalau tidak memikirkan sopan santun ingin rasanya dia tidak mengangkat panggilan Ibunya. “Anisa kecapean apa nggak?”. “Itu anak orang jagain baik-baik Bang, bawa mobilnya jangan ngebut, kok belum sampai” Masih banyak lagi pertanyaan yang diajukan. Dari sekian banyak kali Fatih pulang, baru sekarang Ibunya rewel. Beneran Fatih sampai tidak habis pikir, mungkin Ibunya lupa wanita yang dikhawatirkan adalah istrinya sekarang.


“Berhenti sebentar Bu, kasihan Nisa masih tidur. Ini sudah di Pom bensin. Bentar lagi nyampek” Dari sekian rentetan pertanyaan. Hanya itu jawaban Fatih


“Kenapa berhenti, cepetan biar Nisa bisa istirahat di kamar, kasihan itu tiduran di mobil nanti badannya sakit semua, itu posisinya nekuk Bang, nggak bener banget sih jadi laki” Nah, kan harusnya Fatih jawab iya, seperti sebelumnya jadinya nggak ribut. “Nggak usah berhenti Bang, jalan lagi biar cepet nyampek” Tuhan, apa hari ini ibunya memang sedang menunggui HP, lebih dari sepuluh kali dia tanyakan itu sejak Fatih berangkat.


“Bu, kalau Nisa sampai rumah keadaan tidur, terus buka mata kelihatan kalian. Apa tidak malu nanti. Biar bangun dulu, baru Abang jalan lagi” Jawabnya kesal, tapi masih dengan nada rendah. Mana pernah dirinya meninggikan suara dihadapan wanita yang melahirkannya.


“Ah, iya. Kenapa Ibu nggak kepikiran ya. iya deh jangan lama-lama. Tiga puluh menit lagi kan?” Sekarang nadanya terdengar lebih bahagia. Entah apalagi yang akan di lakukan Ibunya tiga puluh menit kedepan. Jangan katakan kalau setelah ini dia akan menghubungi lagi menanyakan sampai mana.


“Iya, bu. Oiya jangan bilang Paman sama Bibi. Jangan terlalu ramai orang Bu. Takut Nisa Malu, biarkan hanya ibu sama keluarga kita nanti” Fatih memohon sebelum Ibunya menutup telepon. Dia sudah bisa membaca, kalau ibunya akan memberitahu keluarga besarnya. Bukan hanya perkiraan Fatih, tapi dia hapal betul kelakuan sang Ibu yang terkadang dianggapnya berlebihan.


“Kok gitu Bang, mereka pengen tahu istrimu. Kalau tidak di kabari nanti mereka marah?” Bantah Ibu dari seberang. Dugaannya benar Ibunya akan menghubungi mereka, kebiasaan dalam keluarga besarnya ketika menyambut anggota keluarga baru.


“Nanti kalau Nisa sudah istirahat, jangan sekarang. Masa keadaan capek disuruh nemui mereka. Kalau Nisa nggak betah terus ngajak pulang gimana” Alasan yang masuk di akal, hanya itu yang bisa dilakukan Fatih agar Ibunya mendengarkannya kali ini.


“Iya juga ya Bang. Untung belum ngabari, kata Bapakmu nanti kalau mau sampai baru di kasih tahu. Ibu batalkan saja” Mengalah, ahirnya Ibu menyetujui ucapan anaknya. Karena yang dikatakan Fatih memang benar. “Iya, sudah hati-hati ya, ibu mau siap-siap dulu” kemudian mengahiri pembicaraan.


Fatih menatap sang istri yang masih terpejam. Damai, dan tenang. Wajah itu yang selalu menghiasi harinya. Betapa beruntung dirinya bisa menatap wajah itu dari jarak sedekat ini. Tangannya mulai mengusap kening, turun ke pipi. Pelan takut Anisa terbangun ketika tangan itu masih disana.


Fatih buru-buru manarik tangannya kembali memegang setir ketika Anisa tiba-tiba bergerak. Merenggangkan badan. Kemudian membuka mata. Mengerjap beberapa kali, kemudian melihat sang suami. Tatapannya beralih keluar jendela. Dia berusaha mengenali sekitarnya.


“Kita sampai mana? ” dengan suara parau sambil menegakkan duduknya.


“Masih di pom bensin”


“Iya, tahu. Kenapa berhenti?”


“Dari tadi Nisa belum kekamar mandi kan?, mungkin cuci muka atau apalah. Sekalian shalat dulu” jawabnya santai. Apa yang ada dipikiran istrinya sekarang. Melihat wajah bingung Anisa tidak melepaskan dari pemandangan indah di hadapannya. " Sebentar lagi kita sampai" Lanjutnya, memberitahu sang istri. Fatih akan melihat reaksi Anisa, apakah dia akan gugup atau biasa saja.


Anisa mengubah, jok mobil lebih tegak. merengaangkan badan dengan menarik tangannya ke depan sekali lagi. kemudian bersandar dengan malas. Apa dia tidak mendengar apa yang Fatih. mengusap wajahnya beberapa kali, kemudian menguap lagi.


"Maaf, Anisa ketiduran" Bahkan wanita disampingnya tidak merespon kata-katanya.


" Itu lebih baik, Abang lihat Nisa kecapean. Maafin Abang bawa Nisa jalan jauh" Kadang Fatih ingin membawa Anisa menggunakan pesawat. Tapi dia pikir, akan menyenangkan melakukan perjalanan jauh dengan sang istri. Dia bisa mempersempit jarak diantara mereka dengan waktu yang lebih lama. Fatih juga ingin melihat apakah wanita yang dia nikahi termasuk yang gampang mengeluh atau tidak.


" Bukan itu, Abang bilang mau kasih tahu Nisa dataran yang bisa melihat kota tempat tinggal Abang dari atas. Pasti sudah lewat ya. Abang nggak bangunin Nisa" ucapnya dengan kesal.


Fatih bernafas lega, ternyata yang dia khawatirkan tidak terjadi, Anisa memang wanita yang berbeda. Siapapun pasti akan mengeluh dengan perjalanan berjam-jam dalam mobil.


" Masih belum kita lewati, lima menit dari sini" Menatap lekat wajah sang istri.


"Benarkah, Nisa kekamar mandi dulu" Hatinya senang, dia pikir perjalanannya akan membosankan, ternyata tidak selain dia ketiduran. Pemandangan sepanjang perjalanan tadi membuat Anisa lupa tentang kata bosan. Setiap tempat yang dia lewati selalu ada pemandangan menakjubkan yang memanjakan matanya. dan lebih hebatnya lagi suaminya menjelaskan setiap pertanyaan Anisa dengan detail.


Wanita yang luar biasa buat Fatih, hanya dengan hal sekecil itu mood Anisa membaik. Ingatkan dirinya untuk selalu tersenyum di hadapan sang istri. Karena wanitanya tidak pernah mempersulit dirinya, selain membaca perasaan Anisa pastinya.

__ADS_1


Selesai shalat, Anisa memoleskan pemerah bibir dengan warna yang sama, menyemprot parfum. Tidak ada pasang bedak dan pasang alis seperti wanita kebanyakan.


Fatih melihat wajah istri nya sudah terlihat segar kembali. Sekali lagi dia tahu kalau Anisa bukan wanita yang ribet. hanya dengan dua benda itu wajah segar sang istri terlihat sempurna. apapun itu semua yang melekat pada Anisa baginya sempurna tanpa cela.


Memasang seatbelt kembali, mengecek beberapa barang dan tasnya khawatir ada yang tertinggal.


Fatih sudah siap menjalankan mobilnya katika istrinya terpekik kaget disebelahnya. membuat Fatih membatalkan kakinya menginjak gas.


" Kita belum beli oleh-oleh Bang" Dengan tatapan tajam pada sangat suami. "Apa kata Ibu nanti, ini kunjungan Nisa yang pertama. Kesannya pasti buruk" Anisa bingung, mereka hampir sampai tapi dia lupa pesan Ibu tadi sebelum berangkat.


" Tidak apa-apa, kedatangan Nisa sudah menjadi Oleh-oleh buat Ibu" Fatih tidak bohong setiap kali dia pulang yang selalu dikatakan Ibunya " Bawakan Ibu Oleh-oleh menantu bukan makanan Bang, masak sulit" Bahkan Fatih sampai bosan mendengarnya. Kalau permintaan ibunya terserdia di pusat penjualan Oleh-oleh khas daerah dia akan beli lima bungkus penuh. yang diminta perkara takdir Fatih mana bisa memenuhi itu.


" Tetap saja Bang, Nisa nggak enak" Wajah istrinya tiba-tiba cemberut.


"Nanti Nisa bilang maaf nggak bawa oleh-oleh, dengerin jawaban Ibu" Meyakinkan istrinya agar tidak kepikiran. Membeli barang untuk dijadikan buah tangan di daerahnya sendiri bukan ide yang baik. Ibunya bisa membelinya sendiri.


" Abang, gimana sih" wajahnya masih ditekuk. Anisa benar-benar merasa tidak enak. Sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan sang suami. Dia juga yang tertidur terlalu lama.


Abang yang tanggung jawab kalau Ibu mencari oleh-oleh" Masih menatap sang istri berharap wajahnya kembali ceria. " Mau lihat bukitnya sekarang? " Tanyanya


Anisa hanya mengangguk, dia sudah pasrah. tidak mungkin mundur lagi buat cari buah tangan.


Mobil berjalan pelan. Tatapannya masih keluar kaca mobil berperang dengan perasaan tidak enak yang menghantui.


"Tuh, lihat" Suara suaminya membawa Anisa dari lamunan. Mengalihkan pandangan kedepan. Benar saja. dia melihat deratan rumah, dan hamparan sawah terlihat mengecil. Hatinya senang, bisa ada pemandangan begitu di jalan raya. Baginya ini sangat menakjubkan. mungkin bagi mereka yang sering melintas disini sudah menjadi hal yang biasa.


Anisa menunjuk beberapa bangunan yang terlihat menonjol. Fatih dengan sabar menjelaskan. Dia lega sang istri tidak cemberut lagi.


" Jalan lagi? " Tanyanya, setelah dirasa puas Anisa melihat pemandangan. Hanya mendapat anggukan. ahirnya dia kembali menginjak Gas.


Jarak yang semakin dekat, membuat hati Anisa merasa tidak nyaman. Kekhawatiran takut membuat kesalahan atau meniggalkan kesan buruk di hari pertamanya berkunjung masih menghantui.


Sampai mobil memasuki halaman rumah. Luas dengan penataan taman yang indah, Fatih mematikan mesin mobil.


kepanikan Anis bertambah. Terlihat empat orang keluar dari dalam rumah menyambut. Nisa membuka pintu mobil, disambut pelukan hangat Ibu mertuanya. kemudian di susul Bapak dan adik iparnya.


" Bagaimana, capek ya. Nisa sudah makan apa belum. nggak macet kan tadi" Rentetan pertanyaan sang Ibu hanya dijawab dengan gelengan.


" Kok diam, Anisa pusing ya kelamaan naik mobil" Wajah Ibu mertuanya menjadi cemas menatap Anisa yang masih diam.


" Bukan itu, Nisa minta maaf tidak bawa apa-apa" Ahirnya kata itu keluar juga. Nisa menatap Ibu ingin lihat reaksinya.


"Kedatangan Nisa sudah menjadi hadiah istimewa buat Ibu, jangan dipikirkan. Terima kasih mau berkunjung. terimakasih juga Nisa mau manjadi istri Abang" Anisa bernafas lega. Kata yang keluar dari Ibu mertuanya persis seperti dugaan suaminya


" Ayo masuk, mandi dulu atau makan dulu" Melihat kecanggungan di wajah Anisa membuat Ibu tidak tega.

__ADS_1


"Mandi dulu kayaknya Bu" Fatih menjawab dari belakang. " Bahkan Ibu lupa anak sendiri, datang dicuekin" Bapak tertawa geli mendengar ucapan Fatih. Bahkan kedua adiknya juga ikut tertawa geli.


"Apa sih Bang, sudah besar juga" Jawab Ibu ketus. Tapi tidak bisa menyembunyikan rona bahagia di wajahnya. "Diantar ke atas, bawa kekamar nya" Titahnya pada kedua putrinya. Ida dan Indira yang sama bahagianya dengan kedatangan kakak iparnya.


Rumah ini lebih dengan ornamen dan furniture yang terbuat dari kayu. Bahkan hiasan dinding yang berbentuk jendela dengan ukiran yang sangat indah. Anisa takjub, dia tahu ukiran khas Jepara, tapi baginya ukiran ini lebih mencolok dengan ciri khas yang berbeda. Ada sentuhan warna hijau di beberapa bagian.


Dari kursi dan lemari yang terdapat di ruang keluarga semua terbuat dari kayu, sofa dan lemari TV nya juga terbuat dari kayu dengan ukiran yang sangat indah. Anisa yakin keluarga Fatih penyuka seni. Dari pintu masuk depan juga terbuat dari kayu dengan ukiran yang indah.


"Kak, ko ngelamun ayo masuk kamarnya sebelah sini" Suara Ida menyadarkan Anisa. satu lagi, pegangan tangganya juga terbuat dari kayu, dengan ukiran di bagian tengah benar-benar desain yang menakjubkan. Semua Furniture berwarna coklat khas kayu.


Kembali Anisa dihadapkan pada pintu dengan ukiran yang sama dengan pintu masuk ruang utama, pintu terbuka lebar didalamnya terdapat semua furniture yang terbuat dari kayu Kamar dengan nuansa hitam putih, dan beberapa bagian dengan sentuhan warna peach. sangat indah. Dirinya tidak pernah berpikir kalau keluarga sang suami penyuka semua hal yang terbuat dari kayu. Bahkan laki-laki itu tidak pernah menceritakan apapun tentang rumah dan keluarganya.


" Lemari baju sebelah sini, terus kamar mandinya sini kak" Dua kakak beradik itu dengan antusias menunjukkan pada Nisa.


" Kami tinggal dulu kak, habis mandi ditunggu dibawah" mereka pergi. setelah mendapatkan anggukan dari Nisa.


Duduk di pinggir ranjang, yang terbuat dari kayu dengan ukiran yang indah, ranjang dengan tiang pancang di keempat sisinya, sebagai penyanggah. kelambu berwarna putih sudah terpasang dengan indah,


"Kamar yang indah" gumamnya dalam hati. ruangan dengan ukuran empat kali lima bagi Anisa ini termasuk luas dari pada kamarnya sendiri. Meja rias dengan kaca yang lagi-lagi dengan ukiran yang indah berwarna putih. Anisa seperti kembali ke jaman kolosal, betapa tidak, semua ornamennya benar-benar seperti berada di negeri dongeng.


Suara pintu terbuka, Anisa mengalihkan pandangannya. Fatih, berjalan perlahan setelah menutup pintu. membawa dua koper yang berisi pakaiannya sendiri juga pakaian sang istri.


Membuka jendela yang lagi terbuat dari kayu dengan teralis dari besok dibagian dalam. Dua daun jendela didorong keluar, udara segar masuk.


Hari sudah sore ketika mereka sampai,


" Kamu tidak betah? " Hal yang ditakutkan Fatih ketika membawa istrinya pulang.


Anisa menggeleng, dia melengkungkan bibirnya keatas.


Fatih bernafas lega, setidaknya dia tidak terlalu khawatir. Dia tidak ingin membuat Anisa merasa tidak nyaman tinggal di rumahnya.


"Nisa mandi dulu" Ucapnya, berjalan mendekati koper kemudian membukanya, dan mengambil beberpa helai baju dan kerudung. Ada yang mengganjal, dia baru menyadari satu hal.


" Siapa yang bantu Abang packing? " Tanya nya dengan suara rendah


"Tidak ada" Fatih bingung, Melihat wajah istrinya menunduk Fatih semakin tidak paham kemana arah pembicaraan mereka.


" Abang juga yang memasukkan.... " Anisa tidak melanjutkan kalimatnya, dia menarik nafas. Bagaimana Fatih bisa melakukan semuanya. membayangkan Fatih memegang pakian yang menurutnya pribadi sudah membuatnya malu.


Fatih paham, melihat rona merah diwajah sang istri, padahal tadi ketika memasukkan dirinya tidak berpikir apapun, bahkan melihat bentuk dan ukurannya saja tidak. mengambil sesuai dengan lipatan Dan memasukkan ke dalam koper tanpa merubah bentuk.


Melihat Anisa menunduk dia tahu Anisa pasti malu, pasti wanita itu berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.


harusnya Fatih berbicara pada istrinya sebelum masuk ke bagian itu, tapi karena memang dari awal dia tidak membicarakan niatnya untuk berkunjung. Jadilah semua baju Anisa tanpa terkecuali dirinya yang packing ke dalam koper.

__ADS_1


"Maaf" Tidak harus bersalah kata maaf itu diucapkan bukan, dia tahu istrinya pasti malu. " Tapi Abang, nggak lihat bentuknya" Anisa berlari cepat ke kamar mandi. Tidak ingin mendengar kalimat suaminya yang hanya membuat wajahnya semakin memanas


Fatih menyesali ucapannya, seharusnya perkataan maaf sudah cukup tidak harus di tambah kalimat dibelakangnya. Dirinya memang tidak peka. Fatih merutuki kebodohannya.


__ADS_2