MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
LAMARAN


__ADS_3

Bagaiman bisa Fatih menyusul Anisa ketempat dia bertemu teman-temannya. Mempermalukan dan memaksa pulang meskipun tanpa ancaman, karena Nisa tahu tidak ada hal yang bisa mengancamnya sekarang.


melangkah masuk kedalam rumah dengan perasaan kesal yang menggunung, pintu itu memang sudah terbuka ketika mereka datang.


Pemandangan yang menyentak Anisa, ternyata rumahnya kedatangan tamu, wajah asing yang belum pernah gadis itu lihat sebelumnya. Sepasang suami istri sekitar lima puluh tahunan. Dua remaja yang bercengkrama dengan Rania dan Adam. Satu hal yang Nisa heran, mereka terlihat akrab.


Seketika pandangan semua orang yang ada didalam rumah tertuju pada pintu, menatap Anisa dengan intens. Sang wanita berdiri menyambut, pun dengan laki-laki itu yang Nisa tebak mungkin suaminya.


Berjalan pelan menghampiri ruang tamu, dengan wajah bingung. Fatih mengekori dibelakang, semua pandangan mata menatap Anisa, dua orang gadis yang tadi bercengkrama dengan Adam pun berhenti demi melihat dua orang yang baru masuk.


Semakin mendekat hati Anisa semakin bingung. Sang ibu menyambutnya dengan senyuman, demikian juga dengan Fira dan suaminya.


“ini Anisa putri saya” ibunya membuka suara memecah keheningan, masih dengan wajah bingung Anisa berjalan menghampiri wanita yang menyambutnya. Mengambil tangan dan menciumnya takzim. Menghormati yang lebih tua tidak ada salahnya bukan, terlepas siapapun dia.


Tangan Anisa beralih pada laki-laki disebelahnya. Pandangan Anisa penuh tanya. Abang dan Iparnya pun membalas dengan senyum tanpa penjelasan.


Tiba-tiba wanita itu merangkul Anisa sangat erat bahkan hangat, Anisa merasakan ada isakan. Gadis itu semakin bingung.


“Terima kasih karena kamu sudah menerima anak kami, sudah lama moment ini kami tunggu. Ternyata Tuhan mengirimkan Wanita seperti kamu. Bibi tidak Tahu doa kami yang mana yang dikabulkan, rasanya belum percaya kamu terlalu sempurna untuk anak Bibi”. Kalimat pujian itu mengalir dengan tulus. Tidak ada jarak dari keduanya tubuh merapat, berpelukan erat. Usapan di bahu. Kepala Anisa berdenyut dia tidak menolak pelukan itu, seperti ada keharuan masuk kedalam kalbunya.


Dahinya berkerut, Anisa semakin bingung. Dia mencoba mencerna kata demi kata yang terlontar. Mencari makna tapi tidak bisa, anak siapa yang di maksud wanita dalam pelukannya ini. Menerima siapa, kapan. Berbagai pertanyaan semakin menumpuk di kepala Anisa. Sayang, bibir itu masih terkunci rapat.


Wanita itu mengurai pelukannya, memandang Anisa dengan genangan yang masih terlihat, tangan itu mengusap pipinya yang basah dengan satu tangan masih menyentuh pundak Anisa. Pandangan mereka beradu, tatapan bingung milik Anisa dan tatapan haru milik wanita didepannya. Suasana masih hening, tak seorangpun mengeluarkan suara. Semua mata mengarah pada dua wanita beda generasi yang saling berpelukan.


Ingin rasanya Anisa berteriak pada semua yang ada di ruangan ini, meminta penjelasan. Otaknya sudah terlampau lelah diajak berfikir. Masih hening, benar-benar hening. Tidak ada yang membuka mulut hanya untuk sekedar menjelaskan apapun.


“Dia ibuku...” kenapa justru dia yang bersuara, laki-laki menyebalkan yang sudah menjemputnya dengan paksa dengan kata yang membuatnya malu di hadapan chika dan Wisnu. Gerutu Anisa.

__ADS_1


Dia berharap ibunya yang membuka pembicaraan. Menjelaskan semuanya, mengatakan siapa wanita yang tiba-tiba memeluknya lengkap dengan maksud dan tujuannya. Dan ada hubungan apa diantara ibu dan wanita yang di panggil ibu oleh laki-laki keras kepala.


“kamu boleh memanggil Bibi, seperti Fira juga memanggil begitu” wanita yang masih menggenggam tangan Anisa ini menjelaskan. Sekarang senyum sudah mulai terlihat. Sesekali tangannya menyentuh pipi Anisa.


Anisa melihat, sepertinya dia ibu yang baik, anggun tuturnya, wanita penyabar jangan lupakan mata teduh itu. Sinar penuh keharuan terpancar disana.


Hening kembali, bahkan Anisa masih mengunci bibirnya. Otaknya masih sangat lambat berpikir. Panggilan bibi yang dimaksud wanita didepannya ini tujuannya untuk apa. Bagaimana ibunya bisa mengundang orang tua Fatih. Inikah alasan ibunya masak dalam jumlah banyak.


Bagaimana bisa wanita lembut, anggun dan penyayang didepannya ini di panggil ibu oleh laki-laki paling menyabalkan di dunia. Itu julukan yang pantas Nisa pikir. Bagaimana tidak, semua hal tentang ibu dan anak ini berbanding terbalik. Arogannya, sombongnya, suka memaksa, tidak ada miripnya sama sekali. Bagaikan dua kutub yang tidak akan pernah bertemu.


“Jadi, kedatangan kami kesini untuk meminang kamu nak” mata Anisa membuka lebar, hatinya bergetar, kata meminang itu sama saja melamar bukan. Untuk menjadi pendamping laki-laki menyebalkan ini. Oh, katakan kalau Anisa sedang bermimpi sekarang. Gadis itu merasa tertidur setelah lelah membantu ibunya memasak. Tapi tidak, genggaman tangan wanita yang meminta di panggil Bibi ini terasa hangat, dan ini nyata.


Dia duduk bersebelahan. Bahkan pandangan mata itu tak beralih sedetikpun dari wajah gadis didepannya. Ini terlalu memukau.


“Kami tidak akan memaksa, kalau memang Anisa tidak setuju kami bisa apa. Jodoh itu rahasia, kami tidak bisa mengatur jalannya takdir, kami sudah berbicara dengan Abang dan ibumu, mereka menunggu keputusan dari Anisa. Kalau memang Anisa masih ragu atau tidak cocok dengan anak laki-laki kami, tidak apa-apa. Kami minta maaf, mungkin terkesan mendadak, tapi kami yakin kalian sudah mengenal lama. Percayalah Fatih laki-laki yang baik. Itulah sebabnya kami dengan percaya diri datang kemari” penuturan panjang dan lebar dari orang tua Fatih tak mampu menarik Anisa dari kesadarannya. Ayah Fatih pun sama terlihat laki-laki penyabar. Bagaimana mereka bisa punya anak seperti Fatih.


Apa yang harus dilakukannya sekarang, menyetujui rasanya tidak mungkin, mengingat siapa laki-laki yang akan menjadi pendampingnya. Menolak rasanya tidak tega melihat tatapan penuh harap didepannya. Dia juga punya ibu, rasa bersalahnya akan timbul kalau melihat kekecewaan di wajah yang menaruh harapan begitu besar padanya.


Nisa tahu sekarang keputusan ada di tangannya, dia memutar pandangan. Tatapan itu bertemu dengan ibunya mencari pendapat. Senyum dan mengangguk hanya itu. Ah, Nisa sudah tahu kalau ibunya akan melakukan itu, bukankah ini yang dia harapkan. Pandangan berikutnya bertemu abangnya. Hal yang sama Nisa dapatkan, anggukan dengan senyum yang tulus. Mereka bersahat dari kuliah, tentu abangnya akan memihak sahabatnya.


Syafira, kakak iparnya adalah satu-satunya harapannya sekarang pandangan mereka bertemu senyum tulus tapi tidak ada anggukan seolah ingin menyerahkan keputusan padanya.


“Kakak juga dulu dilamar Abangmu tanpa persiapan Nis, tapi kakak menerimanya karena kakak tahu Abangmu orang baik. Terlepas dari itu, semua keputusan ada ditangan kamu” hanya itu yang bisa Nisa terima. Selebihnya hanya diam.


Tatapan itu beradu pada laki-laki menyebalkan yang sialnya dia duduk tepat didepannya. Bukan senyum tulus yang Nisa dapatkan. Tapi senyum penuh kemenangan, dengan mengangkat kedua alisnya seolah ingin menekankan bahwa Anisa tidak punya pilihan.


“Apa Bibi punya anak laki-laki yang lain” semua orang bingung, saling bertatapan. Jawaban Anisa memunculkan tanda tanya dibenak mereka.

__ADS_1


Tapi tidak bagi Nisa, dia akan menerima lamaran ini asalkan bukan Fatih laki-laki itu. Dia ingin laki-laki lain yang lebih baik. Tidak peduli dengan fisik, yang penting sekarang Nisa bisa terbebas dari Fatih.


“Tapi, anak laki-laki Bibi hanya satu” jawaban penuh kebingungan dari ibunya Fatih. Anisa kecewa. Hilang sudah kesempatan dia terlepas dari Fatih.


Anisa sekarang tahu, keputusan apa yang harus diambil. Tekadnya sudah bulat, melihat senyuman itu dia seolah mendapat kekuatan. Dengan satu tarikan Nafas panjang.


“Kami setuju dengan lamaran ini. Dan kami menerima Fatih sebagai menantu dirumah ini” bukan, itu bukan suara Anisa. Tapi suara abangnya yang mengambil alih. Sekali lagi senyum penuh kemenangan tercetak di wajah Fatih.


Bagaimana abangnya bisa melakukan itu sementara dia sudah bulat untuk menghancurkan senyum pongah didepannya. Mempermalukan di depan semua orang. Seperti yang dilakukannya tadi didepan chika dan Wisnu.


“Anisa bagaimana Nak, kamu tidak keberatan bukan” suara lembut dan mata teduh itu kembali menghujam Anisa, tegakah dia menghancurkan binar itu. Menghancurkan harapan dan kebahagiaan seorang ibu dihadapannya. Menggantikan dengan kecewa hanya karena dia membenci anaknya. Berat, memang berat. Nisa tidak punya pilihan. Dengan mata terpejam dia mengangguk tanpa suara.


Dia tidak mengerti dengan keluarganya sendiri, bagaimana mungkin mereka seolah tunduk dan patuh sama Fatih. Apakah laki-laki itu mengancam. Kalau itu yang terjadi baiklah. Toh pernikahan itu masih lama bukan, ini hanya lamaran. Masih ada waktu untuk membatalkan semuanya. Tidak akan ada pernikahan kedepannya.


“Alhamdulillah...” serempak suara bahagia itu menggema, memecah keheningan di ruang keluarga itu. Semua tampak lega mendengar jawaban Anisa. Semua orang tersenyum bahagia, Nisa yang masih terdiam seolah merutuki kebodohannya telah mengangguk. Mengiyakan permintaan abangnya walau hatinya masih ragu.


Anisa masih menunduk, seolah lantai rumahnya jauh lebih menarik dari pada orang-orang yang ada di dalamnya. Ini tanpa persiapan, bahkan bajunya terlihat kurang sopan. Baju santai yang Dia kenakan karena memang tujuannya hanya untuk bersantai di kafe bersama teman-temannya. Dia tidak pernah berpikir bahwa dia akan kembali kerumah dijemput Fatih dengan paksa.


“cin-cinnya bang” Wanita itu berdiri meraih kotak segi empat berwarna maroon dari tangan Fatih. Semua orang memanggil abang pada laki-laki ini, seolah itu adalah panggilan kesayangan.


Mendengar kata cin-cin seketika wajah Anisa terangkat, dia masih dalam kebingungan. Bagaimana ada cin-cin. Seharusnya acaranya selesai setelah Anisa mengangguk bukan.


Fatih berdiri diantara ibu dan Anisa membuka kota buludru kecil mengambil cin-cin dan siap memasangkan ke jari Anisa. Anisa sangat gugup, membiarkan Fatih memegang tangannya untuk memasangkan lingkaran emas di jarinya bukan hal yang dia harapkan.


“Ibu yang masang Bang, Abang belum boleh menyentuh Anisa. Keburu amat” suara tawa berderai memenuhi ruang keluarga. Fatih yang salah tingkah hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia salah tingkah dilihat semua mata didalam ruangan itu.


Nisa mengulurkan tangannya, sekarang cicin itu sudah tersemat dengan indah di jari manisnya. Entah mengapa hatinya tidak mau tapi tidak juga bisa menolak.

__ADS_1


Semua orang berharap, tapi Anisa meragu. Apakah dia bisa menjalani ini semua. Dijalani mungkin akan lebih melegakan. Apapun nanti keputusannya Nisa tidak bisa menentukan jalannya takdir. Biarkan kuasa Tuhan yang menentukan.


__ADS_2