MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
MAKAN TANPA BAYAR


__ADS_3

“Selamat datang Pak, lama tidak kelihatan” Basa-basi pembuka penjual Mie ayam. Sekarang lapak ini lebih bersih dan terlihat lebih rapi dari terahir Nisa datang.


Fatih tersenyum menyambut sapaan hangat sang penjual. Terlihat beberapa orang duduk, ada yang sudah menikmati pesanannya ada juga yang masih menunggu. Yang berdiri juga tidak kalah banyaknya.


“Terima kasih Bapak masih mengingat saya, oiya ini istri Saya” Kata istri, membuat bapak penjual mie ayam terpaku. Dia dan istrinya saling bertatapan.


Umurnya sudah tidak muda lagi, anak pertamanya hampir lulus kuliah. Mereka pasangan yang selalu menebar senyum kepada pembeli. Harganya yang murah dengan rasa yang mampu membuat orang ketagihan untuk datang lagi. Bahkan pelanggannya sudah dari berbagai kalangan. Dari yang hanya berjalan kaki sampai yang menggunakan mobil mewah. Semua melebur duduk lesehan jadi satu demi menikmati kelezatan semangkok mie ayam. Tanpa risih mereka saling menyendok, tak peduli pangkat dan jabatan. Tak perlu hirau tentang brand yang mereka pakai. Karena kelezatan dalam setiap sendokan tidak akan memperhatikan semuanya. Apapun itu dalam warung tenda lesehan ini semua tampak sama.


“Kapan nikahnya?” Pertanyaan Pak Mamat membuat sebagian orang mengalihkan pandangan pada dua insan yang duduk berhadapan. Pasangan sempurna, itulah yang terlintas dalam benak setiap pandangan.


“Baru kemarin” Jawab Fatih santai. Senyum bahagia terukir dari bibir istri Pak Mamat.


“Wah, kita kedatangan pengantin baru Pak” Menyenggol tangan suaminya dengan siku. “Cantik, pintar milihnya” lanjutnya lagi. Dia memang tidak bohong, istri pelanggannya memang cantik.


“Inikan Mbak Nisa, kok ibu bisa tidak mengenali ya” Wajahnya tambah berbinar.


“Kirain Ibu lupa sama saya” Jawab Nisa dengan wajah tersipu.


“Nggak lah. Mie ayam biasa banyakin sayurnya. Mie nya jangan terlalu matang kan” Menyebutkan kebiasaan pelanggan uniknya dengan lancar. “Dan satu lagi tidak usah pangsit” Mereka tertawa bahagia. Menularkan kebahagiaan itu untuk mereka yang sama-sama sedang menunggu pesanan.


Pak Mamat dengan cekatan memasukkan mie kedalam panci berisi air panas, berikut sayurannya. Mengangkat dan menghidangkan satu persatu pada mangkok yang sudah di beri bumbu racikan oleh sang istri. Terlihat beberapa Kali Bu Mamat mengelap meja gerobaknya, sambil menunggu mie yang di rebus matang. Mie mentah olahan mereka sendiri hingga rasanya benar-benar menggugah dengan tekstur kenyal. Bukan memakai mie instan seperti kebanyakan.


Semangkok mie dengan aroma rempah menyapa hidung terhidang di meja mereka diantar sang istri.


“Salam buat Ibu sama Mbak Fira. Ibu ikut bahagia buat kalian, selamat ya” Sebelum meninggalkan mereka Bu Mamat berucap dengan binar bahagia.


" Terima kasih" Nisa mengangguk sambil tersenyum, untuk saat ini syarafnya tidak mampu untuk bicara. Aroma sedap sudah memenuhi kepalanya.


“Sini, Abang adukkan” mengambil mangkok mie sang istri kemudian mengaduk dengan perlahan. Beberapa kali mengangkat ke atas hingga kepulan asap keluar dari untain mie. Melakukan hal yang sama dengan mangkoknya setelah selesai dengan punya Nisa.


Beberapa mata menatap iri pada pasangan itu. Ada hal yang mereka ingin tiru dari pasangan seorang Fatih dan Anisa. Perlakuan lembut sang suami meskipun hanya perkara mengaduk mie. Bukan hal yang dibuat-buat. Karena mereka melihat sebuah perlakuan dengan ketulusan.


“Makanlah pelan-pelan, ini sudah dingin” ucap Fatih lagi. mendorong mie ke hadapan sang istri


“ Terima Kasih, Abang juga makan ” jawab sang istri menatap suaminya. Fatih tersenyum dengan menganggukkan kepala. Ingatkan mereka tentang berpasang-pasang mata yang menatap iri. Seorang jomblo yang menghabiskan mangkoknya sendirian dengan tatapan tanpa kedip. Indahnya pengantin baru, bathinnya.


Mangkok mereka sudah tandas, saat seorang remaja masuk membantu pasangan itu menyiapkan pesanan pelanggan.


“Mbak Nisa bisa bareng sama Pak Fatih” Tatapannya heran ketika melihat dua insan itu terlihat akrab. Kebetulan mengantar pesanan di sebelah tempat duduk Fatih.


“Mereka sudah nikah Din” Jawab Bu Mamat dari jauh.


“Oalah...selamat ya” Ucapnya bahagia kemudian berlalu setelah menganggukkan kepala


“Bu, makasih ya Mienya masih sama. Malah makin enak” Nisa berdiri, diikuti suaminya.


Berjalan menjauh, sambil bergandengan tangan. Kali ini Fatih memegang tangan Anisa erat. Di tatapnya wajah suaminya dengan bingung.


“Bang bayar dulu” Bisiknya. Nisa tidak melihat suaminya menghampiri Bu Mamat seperti yang lain setelah selesai makan.


Fatih menarik tangan Istrinya dengan langkah cepat.


“Lari Nis, ayo cepetan” Benar-benar tidak habis pikir Nisa dengan kelakuan suaminya. Tapi dia tidak punya pilihan. Kakinya tetap berlari karena tangannya di tarik kuat. Perkara tidak bayar makan dua porsi mie dia harus berlari kencang.


“Pak Fatih tunggu” Dina, anak Bu Mamat mengejar mereka.

__ADS_1


“Bang, kasihan Dina ngejar kita. Bayar dulu bikin malu saja” dengan nafas ngos-ngosan Nisa mencoba menghentikan suaminya.


“Yang cepat larinya, Biar tidak kena Nis,,,cepetan” Dengan suara panik Fatih menarik tangan sang istri lebih kuat lagi.


Tiba-tiba Nisa menghentikan larinya ketika hampir sampai di parkiran, dia tidak tega melihat Dina mengejarnya.


“Keluarga mereka butuh makan Bang, masak bayar segitu tidak mampu. Biar Nisa yang bayar” sekarang mereka benar-benar berhenti. Fatih memegang kepalanya frustasi.


“Seharusnya kita larinya lebih cepat, kamu pasti nyesel Nis” ucapnya Fatih sambil mengatur nafas.


“Dari pada bikin malu, keterlaluan” Wajah Anisa penuh amarah. Bagaimana bisa pemilik perusahaan besar seperti Fatih tidak mampu membayar semangkok mie ayam.


“Mbak tunggu” Dina ada di hadapan mereka dia menunduk mengatur nafas dengan memegang lutut. Keringat bercucuran hingga tampak baju belakangnya basah


“Maafkan suami saya Din, dia memang keterlaluan. Kalau dia tidak mau bayar, biar saya yang bayar. Laki-laki tidak modal” gerutunya menatap tajam sang suami. Yang ditatap hanya datar tanpa ekspresi.


“Mbak Nisa salah sangka, Saya mau mengembalikan ini” Menyerahkan segepok uang berwarna merah. Sekarang Anisa yang bingung, bagaimana mungkin dia yang makan, penjualnya ngasih uang.


“Banyak banget, nggak usah Din. Ini kebanyakan” Tolak Anisa, merentangkan kelima jarinya didepan segepok uang di tangan Dina.


“Iya ini memang kebanyakan Mbak, Pak Fatih yang naruh uang ini dibawah mangkok. Harga mie ayam saya tidak se mahal ini. Saya kembalikan” Meraih tangan Anisa


“Tidak usah ini buat kamu, tambahan biaya kuliah. Ambillah” Dengan cepat Fatih mencegahnya. Mendorong tangan Dina dengan kuat sebelum uang itu sampai di tangan sang istri.


“Sudah cukup Pak Fatih bantu kami, yang pertama saja belum kami bayar. Saya tidak enak, itu kan gaji Pak Fatih selama sebulan. Saya tidak mau membebani Pak Fatih lagi” Tatapan sendu Dina, rasa bersalahnya semakin menumpuk. Bahkan sampai sekarang uang yang dikasihkan Fatih pertama kali belum di bayar. Bagaimana mungkin dia menerima bantuan laki-laki tinggi itu lagi. Tidak akan mungkin terbayar dalam waktu dekat.


Anisa menatap ke dua orang didepannya dengan bingung, kadang matanya terarah pada suaminya. Terkadang berganti menatap Dina.


“Sudah saya katakan tidak usah di bayar. Allah sudah mengganti saya dengan yang lebih besar. Kamu cukup selesaikan kuliahnya dengan baik. Setelah itu bahagiakan Bapak dan Ibu” Fatih berdiri tegak kedua tangannya berada dalam saku celana. Kemudian tatapannya beralih pada Anisa, dia tahu istrinya sedang bingung.


"Tapi pak, ini kebanyakan. Ibu juga sungkan kalau bapak bantu kami terus. Saya kembalikan. Untuk yang kemarin kasih kami waktu" Mengulurkan uang ke hadapan Fatih.


"Ambillah, anggap do'amu sudah dikabulkan lewat Abang. tidak usah dikembalikan, dia tidak akan menagihnya. saya yang jamin" Sekarang Anisa paham, maksud suaminya mengajaknya lari. jika dari awal dia tahu mungkin dia akan berlari lebih kencang hingga Dina tidak mampu mengejar.


" Tapi mbak, ini terlalu banyak"


" Bagi dia itu sedikit " Nisa meyakinkan Dina. dia tersenyum menyambut tatapan calon sarjana tehnik di depannya.


"Tapi Mbak, pak Fatih ini juga pendatang, dia ngekos disini. Kasihan, kita senasib. Sama-sama mencari peruntungan di kota orang" Nisa menatap tajam suaminya. Bisa-bisanya dian mengarang cerita sedemikian rupa. Dan wanita ini juga percaya begitu saja.


Fatih mengedipkan matanya, menyuruh Anisa mengiyakan ucapan wanita berbadan kurus didepannya.


"Ambillah, tidak usah sungkan. Dan saya pastikan tidak ada hutang piutang. semua itu hak kamu, yang Allah titipkan melalui suami saya" Kembali Anisa mendorong tangan Dina yang terulur dengan lembaran rupiah ditangannya.


"Saya malu mbak, bagaimana nanti kalau bapak sama ibu tanya saya mau jawab apa" Ujar Dina dengan wajah memohon.


"Anggaplah hadiah dari saya, karena kamu sudah berhasil menyelesaikan skripsi" Timpal Fatih. Dia tidak ingin berlama-lama. Waktunya sekarang menghabiskan malam dengan sang istri. "Kalau begitu saya permisi" Menarik tangan Anisa berjalan menjauhi Dina.


"Datanglah ke warung tenda saya, untuk kalian, gratis" Dina berteriak sambil melambaikan kedua tangannya ke udara. pandangannya fokus pada punggung dua orang yang menuju parkiran.


Anisa dan Fatih melambaikan tangan tanpa menoleh bersamaan.


Indahnya membuat orang lain tersenyum, ada kebahagiaan dan kepuasan tersendiri setelah berbagi.


"Abang banyak bohongnya" Anisa membuka pembicaraan saat didalam mobil

__ADS_1


"Bohong yang mana"


"Abang tidak cerita yang sebenarnya sama mereka"


"Buat apa?" Tidak perlu semua orang tahu siapa dirinya. karena membantu orang bukan dengan menunjukkan identitas.


"Agar keluarga Dina tidak merasa bersalah, mengira Abang memberikan gajinya untuk mereka." protes sang istri. Dia tidak tega melihat wajah bersalah Dina tadi.


"Apa abang perlu memberi tahu mereka, kalau gedung dibelakang tempat mereka jualan adalah kantor Abang, apa perlu juga Abang kasih tahu kalau abang pimpinannya. itu riya namanya." Ucapnya dengan tatapan masih fokus kedepan.


"Kenapa, waktu pertama kita ketemu Abang menunjukkan identitas seorang pemilik perusahaan besar di hadapan Nisa, niat banget riya" Membalikkan ucapan sangat suami. mengingatkanya tentang pertemuannya, ketika Fatih mengajaknya menikah dulu.


"Karena cuma kamu yang tidak tertarik melihatku, semua perempuan yang melihat Abang, mereka akan terpesona. Mencari cara agar bisa dekat. Kamu, jangankan tertarik melihat saja tidak. Perempuan aneh" Fatih tersenyum geli. mengingat wanita disebelahnya, adalah satu-satunya wanita yang terang terangan menolak lamarannya ketika itu.


"Dan Nisa semakin benci laki-laki sombong" Melingkarkan tangan di dada. wajahnya menahan amarah, terlihat dari tautan garis di keningnya yang berkerut. Tapi itu sangat menggemaskan bagi Fatih. Dia tersenyum sesekal melirik kesamping.


"Kita kemana lagi" Setelah menyetir cukup lama, Fatih baru bertanya tujuan mereka.


"Terserah" Fatih menatap tajam sang istri. Dia bukan laki-laki yang pandai membaca pikiran wanita. Apalagi untuk mencari tahu arti kata keramat yang baru dikeluarkan istrinya.


"Tapi seru tadi kejar-kejaran. Sampai lupa kapan terakhir Nisa olah raga. Tahu gitu kan tadi Nisa larinya kencang, terus kita sembunyi di parkiran, biar tidak ketahuan" Lagi-lagi Fatih menatap istrinya. Ada mahluk unik bernama wanita yang senang diajak lari malam hari. Padahal dia pikir tadi Anisa marah setelah mengeluarkan kata "terserah"


Tadi Fatih menyangka Nisa akan marah karena kecapean. Ternyata tidak sama sekali. Fatih tersenyum bahagia, istrinya benar-benar wanita yang sederhana. tidak sesulit seperti perempuan kebanyakan. Dia bisa melakukan apapun tanpa harus melibatkan identitas suaminya.


Kondisi ekonomi sang suami tidak serta-merta membuatnya ingin dilayani seperti perempuan yang pernah mendekatinya dulu. sejauh ini belum pernah mendengar Anisa mengeluh atau protes atas ketidaknyamanan atas sikap dan tingkah laku sang suami.


Diam, semua orang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tatapan Fatih lurus kedepan. Dalam hatinya sudah bertekad tidak ingin membuat sengsara sang istri.


Dia ingin menjamin semua hal, mulai dari ekonomi dan rasa nyaman. Apapun yang terjadi Fatih akan menjadi orang pertama yang akan melindungi dan membela Anisa.


Fatih menoleh setelah beberapa saat tidak mendengar suara disebelahnya. Ternyata istrinya tertidur dengan kepala bersandar menyamping. wajahnya tepat mengahadap Fatih.


Damai ketika menatap wajah lelap itu, Dia betah berlama-lama dalam pesona wanita berhati lembut ini.


Setelah mobil terparkir didepan rumah. ketika tahu istrinya tertidur Fatih berniat untuk pulang. Dia ingin Anisa tidur dengan nyaman. tidur sambil bersandar di jok dalam waktu lama akan membuat leher Anisa kaku ketika bangun nanti.


Niatnya urung membawa Anisa masuk, malah dengan senyum bahagia dia manatap wajah itu cukup lama.


Menggendong sangat istri masuk setelah cuku menatapnya tadi. dia tidak ingin membangunkan istrinya.


Membuka pintu yang tidak dikunci karena Ibu tahu kalau mereka belum pulang.


"Nisa kenapa?" Tanya sang ibu bingung melihat Fatih menggendong putrinya.


"Kecapean Bu, kasihan. Permisi mau bawa Anisa kekamar" Berlalu membawa sang istri dalam gendongan, kemudian meletakkan perlahan di kasur.


Sekali lagi ditatapnya wajah lelap itu dalam damai, senyum kembali terukir. Tangannya terulur mengusap lembut pipi sangat istri. Kalau sudah begini apapun bisa dilakukan Fatih tanpa penolakan.


"Selamat tidur sayang, Jangan takut menghadapi dunia. karena kita akan selalu bersama hingga senja menjelang. Akan Abang pastikan bahwa hidup kita akan lebih indah, pelangi akan selalu mewarnai harimu. Tanpa awan hitam" Membisikkan kata perlahan di telinga sangat istri. Kemudian mengecup keningnya cukup lama. Ternyata jatuh cinta setelah halal jauh lebih indah, walau dirinya masih harus berjuang membuat istrinya jatuh cinta. Tidak apa-apa. Melihat senyum sang istri setiap hari adalah booster nya untuk menghadapi harinya yang tidak mudah.


****


Selamat membaca, semoga suka ya...


sebenarnya saya tidak yakin Bab ini takut tidak berkenan, sampai harus di revisi berkali-kali. Maaf kalau kurang berkenan atau terlalu alay. 🤣

__ADS_1


__ADS_2