
Pesan itu sudah terkirim setengah jam yang lalu, namun belum terbaca si penerima. Hari ini Nisa memberanikan diri untuk mengirim pesan terlebih dahulu pada Fatih. Ada hal penting yang harus dia bicarakan menyangkut ibunya. Wanita yang melahirkannya itu terlalu ekspresif menyangkut Fatih, terlalu berharap lebih tentang mereka. Nisa tidak mau ibunya kecewa ketika harapannya tidak terwujud. Lebih tepatnya mustahil untuk diwujudkan.
“aku akan menjemputmu jam delapan” balasan yang diterima Nisa. Gadis itu memutar bola matanya keatas.
“tidak usah, kita bertemu di sana” balasan yang dia kirim. Nisa tidak mau ibunya melihat Fatih menjemputnya kerumah. Itu tidak akan berdampak baik untuk dirinya. Dia tidak mau wanita yang melahirkannya itu berpikiran lebih tentang mereka.
“tidak baik seorang gadis keluar naik motor malam-malam sendirian” jawaban yang dikirim Fatih semakin membuat Nisa kesal
“saya akan bawa mobil kalau kamu merasa terganggu dengan motorku” Nisa gusar, perkara kendaraan saja dipermasalahkan.
Senyum bahagia tergambar disana. Ini pertama kalinya gadis itu mengajaknya bertemu. Harus dirayakan. Dia tidak ingin mengecewakan Nisa, sebisa mungkin dia akan bersikap wajar seperti keinginan sang pujaan. Membawa kendaraan sendiri adalah ide bagus. Tanpa Reno untuk kali ini.
***
Berdiri menyambut Anisa, Fatih sengaja datang lebih dulu, sudah dia katakan bahwa dia akan membuat kesan yang baik untuk kencannya kali ini. Karena Nisa yang memintanya terlebih dahulu.
“selamat malam Nisa” sapanya setelah Nisa berdiri dihadapannya. Laki-laki itu segera menarik kursi yang akan di tempati Nisa.
“terima kasih” dia duduk dengan raut wajah yang tidak bisa dikatakan ramah menurut pandangan Fatih.
Tangan Fatih terangkat, dia memanggil pelayan yang berdiri tidak jauh dari tempatnya setelah duduk dihadapan Nisa.
“kamu mau pesan apa” tanyanya melihat buku menu yang di terimanya. Nisa hanya membolak-balik tanpa minat. Entah mengapa nafsu makannya hilang ketika berhadapan dengan laki-laki ini.
“ocean blue saja” kalimatnya mendapat tatapan tajam laki-laki dihadapannya ini
“tidak makan?” tanyanya lagi dengan nada bingung. Bukankah Nisa mengajaknya bertemu untuk makan malam, tapi mengapa gadis itu terlihat tidak suka dengan pertemuan ini
“saya sudah kenyang” semakin terangkat wajah Fatih. Ditatapnya lekat Anisa
“bagaimana bisa, belum makan sudah kenyang” kedua tangan Fatih di tautkan dengan tegak tegak di depan wajahnya, menopang dagu dengan tatapan bingung
“saya mengajak anda bertemu bukan untuk makan malam, tapi untuk membicarakan tentang ibu” suara tegas Anisa semakin membuat Fatih tidak mengerti tentang wanita didepannya ini.
Setelah menunjuk beberapa menu, pelayan itu mencatat. Kemudian pergi setelahnya.
“ada apa dengan ibu, apa beliau sakit” khawatir, itu yang dirasakan Fatih.
__ADS_1
“tidak, lebih tepatnya belum sakit” menjawab sekenanya. Nisa tidak ingin berbasa-basi, karena memang ini tujuannya datang menemui laki-laki ini.
“apa maksudmu ibu akan sakit nantinya? ” tatapan itu lekat, dengan dahi berkerut Fatih mencoba menelusuri pikiran Anisa.
“iya, kalau anda sering datang kerumah” to the point. Nisa menatap Fatih tajam.
“Apa hubungannya” memang begitu bukan, apa hubungan kedatangannya dengan kondisi kesehatan ibunya. Bukankah dia selalu mendapat sambutan baik setiap kali bertandang kerumah ibu gadis dihadapannya ini.
“secara langsung memang tidak ada, tapi nanti itu akan sangat berpengaruh. Dan saya yakin Anda mengerti maksud saya” Nisa tidak mungkin mengatakan betapa ibunya mengagumi laki-laki dihadapannya ini yang menurutnya adalah laki-laki yang sangat ideal. Ah, ada rasa tidak suka setiap mengingat perbincangan terahirnya dengan sang ibu.
Fatih masih menautkan tangannya tegak di depan dagunya, tatapan itu masih lekat. Kepalanya di penuhi pertanyaan yang dia sendiri tidak mampu mencerna. Tujuan Anisa mengajaknya bertemu hanya ingin membahas hal yang menurutnya konyol. Melarang dirinya bertandang kerumahnya, padahal ibu dan saudaranya selalu tampak hangat setiap dirinya berkunjung. Ada apa dengan wanita ini.
Pelayan datang membawa menu sesuai pesanan Fatih, menu pembuka dan menu utama serta penutup dengan dua porsi. Dahi Nisa berkerut, pesanannya memang ada. Tapi bagaimana laki-laki ini bisa memesan menu dengan porsi double.
“makanlah, nanti kita lanjutkan lagi”
“apa anda akan menghabiskan ini semua” Nisa heran, badan yang begitu atletis bagaimana nafsu makannya begitu besar.
“kamu yang akan memakannya, kita makan berdua. Saya tidak suka makan hanya dilihat saja” jawabnya tanpa menoleh. Diraihnya sendok dan garpu yang disamping piring makanan pembuka.
“makan malam sesekali tidak akan menggagalkan dietmu” kembali kalimat itu meluncur tanpa beban. Anisa semakin kesal, dirinya tidak pernah diet. Bagaimana laki-laki dihadapannya ini bisa menyimpulkan seenaknya.
Menjawab, rasanya percuma. Lebih baik dia makan saja sebelum perintah berikutnya dia terima. Sifat pemaksa Fatih mulai tidak disukai Anisa. Gadis itu mulai sedikit banyak paham tentang sifat Fatih, mungkin karena dia seorang CEO. Dengan segala kebiasaan yang selalu tak terbantahkan, semua ucapannya adalah perintah yang akan mendapatkan anggukan kepala patuh dari bawahannya.
Menyebalkan, Nisa merasa terjebak bertemu dengan laki-laki ini. Bahkan sekarang dia merasa tidak ada lebihnya dengan bawahan sang CEO. Mengiyakan semua ucapannya walau hatinya menolak dengan keras. Bahkan parahnya dia harus meredam rasa bencinya ketika berhadapan dengan Fatih. Dosa apa yang diperbuatnya di masa lalu sehingga dirinya bisa terjebak dengan laki-laki diktator ini.
“kenapa tidak dimakan, mau ganti menu?” suara itu lagi, semakin membuat Nisa kesal. Diam, itu yang dilakukannya sekarang demi meredam gejolak amarah di hatinya. Kedatangannya hanya ingin meminta Fatih berhenti datang kerumahnya itu saja. Tapi mengapa dia harus terjebak makan malam seperti seorang yang sedang berkencan.
“jangan menunjukkan amarahmu ketika sedang menghadapi makanan, itu rejeki seharusnya bersyukur. Bukan begitu ibu guru” lihatkan, sekarang dia membawa profesinya. Semakin besar rasa benci Anisa pada laki-laki ini.
Tanpa bersuara Nisa menyantap makananya dengan sedikit tergesa. Dia ingin secepatnya menyelesaikan urusan dengan Fatih. dia sudah menanggalkan harga dirinya demi obrolannya dengan sang ibu kemarin. Menghalangi Fatih datang kerumahnya adalah cara agar ibunya tidak berpikir terlalu jauh tentang mereka.
Suasana romantis restoran ini tidak mampu meredam hati Anisa, baginya ini kesalahan besar mengajak Fatih bertemu. Seharusnya dia yang mendominasi, tapi mengapa dirinya dikendalikan. Sangat menyebalkan...!
“jadi bagaimana dengan kesehatan ibu, kalau ada yang tidak beres aku bisa membawanya kedokter” pembicaraan di mulai setelah semua makanan itu tandas.
“ibu tidak butuh dokter, beliau hanya butuh ketenangan dan sebab itu saya meminta bertemu. Kehadiran Anda di rumah saya ahir-ahir ini sudah mengusik ketenangan ibu saya” ucapnya tegas.
__ADS_1
“tapi saya tidak melihat itu, justru ibu sangat bahagia kalau aku datang, wajahnya berbinar, dia memintaku untuk menyebutkan makanan kesukaan” jawabannya pasti dengan tenang. Memang itu yang terlihat bukan. Tidak ada wajah tertekan atau terganggu ketika Fatih datang.
“itu karena anda terlalu percaya diri.” Wajah penuh amarah mulai nampak
Fatih berpikir keras, tatapannya tajam menelisik ke arah Anisa. Dia ingin mancari tahu apa yang sebenarnya gadis ini inginkan. Tapi Fatih menangkap kekhawatiran disana. Yah, dia benar. Ini bukan masalah dengan ibu, tapi dengan gadis di depannya ini. Baiklah,,, senyum usil mulai terbit dari bibirnya. Menggoda Anisa adalah hobi Fatih ahir-ahir ini.
“apa ibu berharap aku jadi menantunya”kalimatnya mendapat tatapan tajam dari Anisa. Gadis itu tidak menyangka laki-laki dihadapannya mampu menebak dengan tepat.
“sudah saya bilang jangan terlalu percaya diri” berusaha tetap tenang dia tidak ingin gugup sehingga menambah keyakinan Fatih.
“kalau itu yang ibu harapkan aku akan mewujudkannya sesegera mungkin. Bukankah kakak iparmu sudah kembali, apalagi yang ditunggu. Secepatnya aku akan melamarmu” ucap fatih dengan penuh keyakinan. Dengan senyuman masih terpampang di wajah tampannya.
“saya harap anda tidak melanjutkan rencana itu, ibu saya tidak pernah berharap anda menjadi menantunya” nadanya meninggi. Dia merasa dipermainkan, bagaimana mungkin dia akan bersanding dengan laki-laki yang tidak sesuai dengan kriterianya..
“oh ya...saya akan bertanya langsung pada ibu” dengan senyum jahil yang semakin melebar, entah mengapa dia selalu bahagia melihat wajah kesal Anisa, menurutnya gadis itu semakin menarik dan lucu dengan wajah kesalnya.
“jangan,,,jangan lakukan itu, kalau tidak saya akan semakin membenci anda” tiba-tiba wajah cantik dihadapannya menjadi gugup. Nisa ketakutan, bagaimana kalau Fatih benar-benar melakukannya. Habis dia akan di paksa menikah dengan Fatih. Tuhan, mengapa jadi begini,,, bathinnya.
Tidak ada hasil apapun dari pertemuan mereka, Nisa yang datang dengan semangat menggebu bahwa misinya akan berhasil, harus pulang dengan kecewa. Justru dia mendapatkan hasil yang yang tidak pernah diharapkan. Anisa merasa terpojok bahkan dengan terang-terangan Fatih mempermainkannya. Dia muak melihat senyum usil dari wajah Fatih. ucapannya seolah menjadi bumerang bagi dirinya
“saya rasa, tidak ada lagi yang perlu di bahas. Saya pamit pulang” dengan nada kecewa ahirnya berpamitan. Tidak ada gunanya berlama-lama. Toh, hasilnya tetap nihil.
“aku antar” Berkata sambil berdiri. fatih siap melangkah
“tidak perlu, saya bawa mobil sendiri” Fatih sudah menduga jawaban itu yang akan dia terima
“tidak perlu satu mobil, aku akan mengikuti dari belakang” kembali tatapan tajam itu diarahkan untuk Fatih.
“apa Anda menganggap saya lemah, sehingga naik mobil saja harus di kawal” nada sinis. Nisa merasa terhina dengan ucapan Fatih.
“kejahatan zaman sekarang itu tidak mengenal tempat dan waktu, apalagi ini sudah malam. Dan kamu perempuan. Itu menjadi sasaran empuk para pelaku kejahatan” jawaban santai dari Fatih, bahkan niat baiknya tidak mendapatkan apreseasi.
Betapa tidak sukanya gadis dihadapannya ini terhadap dirinya. Fatih tidak tahu alasan gadis itu tidak menyukainya sampai sekarang
Mobil merah melaju dengan kecepatan sedang, dibelakangnya sedan hitam mengikuti. Tatapan Fatih lurus mengikuti pergerakan mobil didepannya. Dia tidak kehilangan jejak. Rasa ingin melindungi Anisa semakin dalam. Entahlah, pesona gadis itu semakin kuat mengikatnya. Dia tidak ingin membuang waktu, Fatih sudah memikirkan caranya untuk segera memiliki Anisa seutuhnya. Bukankah keluarga abangnya sudah bahagia sekarang. Tidak ada alasan lagi untuk mengulur waktu.
Segera dia akan melaksanakan niat baiknya.
__ADS_1