
“Ngapain aja hari ini?” Menarik tangan Anisa duduk di sebelahnya. Membawanya kedalam pelukan. Kemudian dia mencium pucuk kepala istrinya lama.
“Masak, tidur, makan, nonton TV. Cerita sama Mbok Sa. Sudah” Jawabnya dengan hati-hati. Anisa tidak ingin Fatih tahu kedatangan Nyonya Muara.
“Hanya itu, apa istriku bosan?” Wajahnyanya enggan berpindah dari pucuk kepala sang istri. Menghirup aroma shampoo sangat dalam. Bukan, bukan tentang aroma kepala yang tertutup hijab itu yang membuat Fatih bertahan mencium kepala istrinya sangat lama. Tapi tentang rasa bersalahnya. Dia tahu semuanya. Tapi, dia ingin Anisa menceritakan apapun padanya. Tentang rasa tidak nyaman perlakuan ibu angkatnya.
Reno sudah memperingatkan Fatih untuk tidak meledak dihadapan istrinya. Reno tahu percakapan mereka. Bagaimana wanita itu menyerang Anisa dengan kalimat pedas. CCTV memang di lepas, tapi setelah kejadian Anisa tersiram air panas Fatih memeritahkan Reno untuk memasang kembali. Tentu saja istrinya tidak tahu.
“Tidak, Nisa senang masak. Sepertinya Nisa sekarang sudah hobi masak. Tidak suka baca lagi” Nisa sudah lama mencoret memasak dar hobinya setelah dirinya tidak mampu membedakan nama-nama bumbu dapur yang diajari ibunya. Tapi setelah kepindahannya kerumah baru mengikuti sang suami. Masak berada di urutan pertama, menggeser Membaca sebagai hobinya yang pertama.
“Mau ikut kursus memasak?” Tawarnya. Dia ingin anisa punya kegiatan di hari sabtu. Dan hari imnggu dia ingin gunakan untuk berdua saja. Menghabiskan waktu sepanjang hari.
“Nanti Nisa pikirkan lagi” Jawabnya lemah. Dia tidak ingin memperdalam keahliannya di bidang itu dalam waktu dekat. Mungkin dia akan memikirkannya nanti. Menunggu jadwal mengajarnya yang mulai padat.
“Apa ada sesuatu yang membuat istriku tidak nyaman? ” Seharusnya Fatih langsung bertanya tentang kedatangan wanita itu. nyatanya dia tidak bisa, mengetahui istrinya yang tidak menceritakan apapun. Seharusnya Fatih tahu, bahwa wanita yang dinikahinya ini adalah wanita yang baik. Tapi justru nyonya Maura sudah memanfaatkan kebaikan Itu untuk hal-hal yang buruk.
“Tidak ada, hari ini Nisa ingin memeluk Abang yang lama. Mau kan?” Tanyanya, tanpa menatap suaminya.
__ADS_1
Fatih memeluk tubuh ramping itu dengan erat. Bahkan sangat erat. Dadanya sesak menahan perasaan bersalahnya. Dia tidak ingin mencecar Anisa dengan pertanyaan. Hari ini, biarkan dia memberikan rasa nyaman untuk Anisa.
Jika suatu saat pernikahannya dengan Fatih harus berahir Anisa tidak bisa berbuat apa-apa. Sepertinya wanita itu mengetahui banyak hal. Alasan mengapa Fatih menikahi dirinya. Anisa ingin mengingat hari ini, adalah hari terdamai dalam hidupnya. Suatu saat dia akan mengenang masa indahnya dengan sang suami. Kalaupun suatu saat statusnya akan berubah menjadi mantan suami, paling tidak anisa pernah merasa menjadi wanita paling bahagia. Bisa memeluk Fatih, dan mencium aroma tubuh laki-laki itu dengan tenang.
“Kalau suatu hari nanti takdir tidak menyatukan kita. Nisa rela, paling tidak Nisa sudah pernah tahu rasanya di peluk Abang, terus tidur bareng. Nisa akan mengenang masa-masa indah kita. Bahwa Nisa pernah menjadi wanita yang Abang inginkan dan abang perjuangin. Nisa pernah merasa sangat berharga di mata Abang. Abang juga gitu, jangan ingat buruknya Nisa ya” Melingkarkan tangan itu semakin erat. Kepalanya dia tempelkan di dada bidang suaminya. Anisa mendengar detak jantung suaminya dengan jelas.
“Abang akan berdoa, semoga Tuhan mentakdirkan kita selalu bersama. Menyambut masa tua. Bermain dengan anak dalam kesederhanaan seperti yang Nisa mau” Fatih mengerti keresahannya.
Seharusnya Fatih menyuruh penjaga mengusir wanita itu sebelum bertemu istrinya. Nyatanya dia ingin Anisa menerima Nyonya Maura. Agar mereka lebih akrab.
“Jangan memaksa Tuhan mengabulkan keinginan Abang. Karena Dia tahu mana yang terbaik untuk umatnya” Anisa harus mulai belajar ikhlas. Walaupun akan sangat sulit, tapi dirinya akan belajar dengan kuat, agar ketika takdir tidak berpihak padanya, hatinya tidak akan terlalau jatuh cukup dalam. Dan luka yang dideritanya juga tidak semakin besar.
“Versi Tuhan dan Versi manusia itu berbeda Bang, di luar sana Tuhan sudah menyiapkan yang jauh lebih baik untuk Abang” ucapnya dengan memejamkan mata. Membayangkan dia harus berpisah dalam keadaan hatinya yang mulai nyaman rasanya tidak sanggup.
“Harusnya Nisa tidak menuruti kata hati, nyatanya wanita itu memang lemah hanya karena perlakuan manis. Nisa pikir kita akan baik-baik saja”
“Kita akan baik-baik saja. Abang janji, tidak akan terjadi hal buruk dengan kita”
__ADS_1
“Jangan berjanji ketika sedang bahagia ataupun emosi. Kebanyakan tidak bisa menepati. Laki-laki yang dipegang kata-katanya Bang, kalau sudah satu kali berbohong, terus apalagi yang bisa kami percayai” NtIsa sudah siap menyambut alur terburuk dalam hidupnya. Dia tidak ingin bersikeras dengan apa yang tidak Tuhan kehendaki.
“Kalau ada yang membuat Nisa tidak nyaman, katakan. Abang akan lakukan apapun agar NIsa selalu disamping Abang”
“Tidak ada” Tidak mungkin Nisa bertanya tentang alasan suaminya menikahinya tiba-tiba. Mencari tahu tentang wanita yang datang kerumahnya tadi siang. Wanita yang telah membuka hati Anisa kalau dirinya tidak tahu apapun tentang suaminya. wanita itu memegang kendali mutlak atas Fatih. Nisa yakin Fatih akan menuruti semua yang dikatakan Nyonya Maura. Dari cara bicaranya yang penuh percaya diri, seolah ingin mengatakan Bahwa Fatih berada dalam kendalinya. Seolah menginsyaratkan bahwa hubungan dirinya dengan Fatih tidak lebih hanya diatas kertas. Bukan hubungan yang melibatkan hati dan perasaan. Dia harus bersiap kapan saja wanita itu memerintahkan suaminya untuk meninggalkan dirinya.
Anisa tidak ingin jujur tentang kedatangan Nyonya Muara hanya agar hubungan Fatih dengannya tidak rusak. Dirinya tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan suaminya jika mengetahui bahwa wanita itu menemuinya dengan menunjukkan rasa tidak suka. Marah, senang atau bahkan acuh. Biarlah itu menjadi urusan Fatih dengan Nyonya Maura.
“Sudah ngantuk belum?” mengusap bahu Anisa pelan. Sudah jam delapan malam, tapi mereka masih duduk di depan TV yang menyala. Deretan acara yang ditampilkan tidak menarik perhatian Fatih. Dia lebih suka menghirup aroma istrinya dengan memejamkan mata. Meresapi setiap helaian rambutnya yang halus dalam penutup kepala.
“Belum, NIsa masih pengen meluk Abang” Anisa enggan melepaskan tangannya dari tubuh suaminya.
“Kan masih bisa sambil tiduran” Fatih mengangkat kepala istrinya. Kemudian mengecup keningnya lama.
“Nanti Nisa ketiduran”
Fatih menghembuskan nafasnya berat. Dia tahu, pasti Anisa berpikir bahwa apa yang dikatakan Ibu angkatnya itu benar, tentang alasan dia menikahinya tiba-tiba. Fatih tidak tahu cara mengungkapkan cinta kepada wanitanya. Dia hanya memperlakukan Anisa dengan baik. Selalu menunjukkan rasa cinta itu setiap hari. Membuat Anisa nyaman berada di dekatnya. Ternyata itu belum cukup, Anisa masih belum tahu apa-apa tentang perasaannya.
__ADS_1
Dia memang sukses dalam berkarir, bertemu orang setiap hari. Bernogosiasi tentan harga. Meyakinkan orang tentang bisnisnya. Hingga Global mencapai puncak kejayaan seperti sekarang. tapi dia bodoh hanya menaklukkan hati Anisa. Fatih terlalu hati-hati menjaga perasaan wanitanya. Dia takut salah hingga membuat Anisa menjauh. Apakah dengan berucap kata cinta setiap hari akan membuat Anisa akan percaya bahwa Fatih benar-benar jatuh hati pada guru SMA ini. Hah, tapi bagaimana memulainya. Pasti nanti akan canggung. Kalau Nisa terima bagus, bagaimana kalau istrinya menjauh.
Bagaimana cara menebak hati wanita, mencari tahu apa keinginanya. Bahkan dalam mesin pencarian pun tidak pernah dia sukai. Fatih menilai cara-cara yang dijelaskan disana terlalu berlebihan. Dan Reno tidak bisa diandalkan untuk masalah cinta.