
Pagi sekali mereka keluar rumah setelah berpamitan pada Ibu, kerumah kakak iparnya dan kerumah Ibu mertuanya, karena pagi ini mereka akan pulang. Nasehat kembali mereka terima, sebagai bekal mengarungi rumah tangga katanya. Maksudnya sama hanya saja isinya yang berbeda.
Anisa hanya menurut kemanapun suaminya membawa, karena tangan mereka saling menggenggam erat, bukan, lebih tepatnya Fatih yang menggenggam erat. Memasuki sebuah restoran, Anisa bingung, karena tidak ada dalam aegndanya hari ini mereka makan.
Setelah kunjungan kerumah ibu mertuanya mereka akan pulang untuk istirahat. Rasa lelah masih Nisa rasakan. Dia ingin tidur seharian, menggantikan tidurnya yang kurang tadi malam.
Dengan tangan yang masih berpegangan, Fatih mencari seseorang. Di edarkan pandangannya keseluruh ruangan. Nampak beberapa orang sedang menikmati sarapan yang tertunda, karena ini sudah hampir jam makan siang.
“Mau ngapain kesini, aku capek pulang saja. Pengen tidur” Rasa lelahnya memang semakin menyiksa. Matanya terasa berat.
“bertemu seseorang, biar setelah ini kamu bisa tidur nyenyak” Baru saja Fatih menyelsaikan kalimatnya. Seorang perempuan menghampiri mereka.
“Abang, irene kangen” memeluk Fatih, tanpa melihat sekelilingnya. Menarik perhatian beberapa pengunjung restoran yang mulai ramai.
“Jangan lupa Abang sudah punya istri” Tegurnya mengingatkan Gadis yang memeluk Irene. Tangan kirinya memebalas pelukan Irene. Dia merasakn genggaman di tangan kanannya mengerat, bahkan sangat erat. Sekarang terasa mencengkram.
“Biarin, Abang jahat, masak nikahnya dadakan. Papa sama mama belum tahu. Kalau mereka tahu habis abang kena marah” ujarnya setengah merengek.
Suara perempuan itu manja. Dan terdengar sakit masuk ketelinga Anisa, dia muak melihat pemandangan didepananya. Kalau mau memperlihatkan ke mesraan mereka kenapa Fatih mengajak dirinya, atau laki-laki ini memang sengaja ingin menyakitinya. Marah, genggaman tanganna semakin erat, bahkan sekarang kukunya yang menancap di tangan Fatih.
Fatih tersenyum, usahanya berhasil. mengetahui istrinya benar-benar cemburu sekarang. Dia bahkan dengan sengaja memeluk Irene lebih dalam. Fatih merasakan gerakan tangan istrinya untuk dilepas. Tapi tidak, Fatih semakin erat memegangnya. Kembali dia merasakan kuku Anisa menancap di kulit tangannya. Lebih keras dari sebelumnya. Mungkin sudah membekas Fatih nanti akan memeriksanya.
“Kenalin istri Abang, kemarin belum sempat ketemu kan” Melepaskan pelukannya.
“Hai kakak Ipar” Kakak Ipar, Adik yang mana lagi pikir Anisa. Bukankah Adiknya hanya dua.
Anisa tersenyum, dipaksakannya bibir itu ditarik.
“Hai, aku Istri dari laki-laki yang kamu panggil Abang” Anisa mengulurkan tangannya dengan penuh percaya diri.
Hampir saja tawa Fatih meledak. Istrinya marah karena cemburu kan, dia tidak salah mengenali nada suaranya. Dia bahagia, wanita ini mengakui statusnya. Di luar dugaanya. Dia pikir Anisa akan acuh, ternyata tidak.
“Aku tahu, senang bertemu. Kapan-kapan kita bertemu berdua saja. Irene akan kasih tahu aib Abang” Jawab Irene yakin. Bahkan wanita ini tidak bisa menangkap kemarahan di wajah Anisa, dengan santainya dia menjawab.
__ADS_1
“Oh, tidak terima kasih. Kalau begitu saya pamit pulang. Kalian kalau mau ngobrol silahkan. Saya masih ada urusan” jawab naisa dengan nada ketus. Dia tidak suka berada diantara mereka.
“Hai, pengantin baru. Duh, tangannya kenceng banget pegangan” Wisnu tiba-tiba datang, Anisa membuka matanya lebar. Dia yakin pertemuan ini sudah mereka rencanakan.
“Jam segini berkeliaran. Nggak kerumah sakit” Nada Fatih seperti tidak suka kehadiran Wisnu.
“Sore Bang, nemeni bocil pengen ketemu Abang sama Nisa disini katanya” jawab Wisnu santai.
“Hai Nis, gimana rasanya nikah sama Abang” pertanyaan Wisnu menyadarkan Anisa dari lamunannya. Apa hubungan mereka. kalau hanya berteman biasa tidak mungkin. Kalau keluarga juga tidak mungkin. Fatih sudah memperkenalkan dia dengan keluarganya. Bahkan, Fira juga menjelaskan kalau ibu dan bapak adalah orangtua kandung Fatih.
“Biasa saja” jawabnya tanpa minat.
“Maksudnya, kami masih menyesuaikan. Baru juga satu hari jadi pasangan” Sergah fatih cepat. Dia tidak ingin. Wisnu beranggapan lain dengan kata biasa yang diucapkan Nisa.
“Semoga kalian bahagia, langgeng sampai kakek nenek” doa Wisnu. Tapi Fatih tidak suka. Bahkan suami Anisa ini tidak menyangka Wisnu ikut Irene.
“Duduk yuk kak” Irene menarik tangan Anisa, mereka berjalan di depan. Fatih dan Wisnu mengikuti di belakang.
“Abang belum ngasih tahu siapa Aku sama kakak Ipar, kasihan wajahnya bingung dari tadi” Irene membuka pembicaraan setelah mereka duduk.
Anisa hanya diam, dia memang tidak mengerti hubungan mereka. Dia pikir Irene selingkuhan suaminya, mereka sengaja janjian bertemu di luar rumah menuntaskan rindu. Membicaraakan hubungan rahasia mereka kedepannya. Seperti di Novel yang dia baca kan, memang begitu.
“Aku adiknya, kak Wisnu. Adiknya Abang Fatih juga” Apa fatih dan wisnu saudara lain bapak atau ibu?. Berbagai pertanyaan muncul dibenak Anisa.
“Aku kenal Irene waktu dia masih delapan tahun. Kelas dua SD, masih ingusan, masih cengeng. Sekarang sudah dua puluh dua tahun” Fatih puas melihat wajah kesal Irene. Nisa masih setia dengan bungkamnya.
“Abang jangan buka aib dong kan malu” suara irena manja.
“Jadi, waktu pertama Abang datang kerumah, dikenalkan sebagai karyawan Papa. Orangnya baik, ahirnya mama nyuruh Abang jadi asisten. Jadi kemanapun Papa pergi Pasti ada abang. Ahirnya mama nyuruh Abang tinggal dirumah. Kasihan kalau kost. Pas lulus kuliah Abang tinggal sama kita. Kerja sama papa, Sampek mama nyuruh Abang ganti panggilan. Jangan bapak ibu lagi Tapi papa mama. Kak wisnu dulu benci banget sama Abang. Karena papa sama mama lebih sayang abang dari pada Kak Wisnu, Kak Nisa ngerti kan sekarang” Irene mengahiri kalimatnya masih dengan suara khas dan manjanya.
penjelasan panjang lebar Irene sudah mulai membuka ketidak tahuan Anisa. Hubungan yang terjalin diantara mereka. Nisa mengangguk. Hatinya tidak sepanas tadi. Ternyata dugaannya salah tentang hubungan Fatih sama Irene.
“Papa kapan pulang?” tanya Fatih
__ADS_1
“Bulan depan, masih kontrol satu kali lagi” Jawab Wisnu.
“Kasihan Papa pengen cepet pulang, tapi sama dokter nggak boleh. di observasi lagi katanya takutnya ada virus setelah berhasil menjalani operasi transplantsi hati” Ucapan Irene membuat mereka mengalihkan pandangan. Gadis itu tiba-tiba sendu. “sudah empat bulan Bang, operasinya sukses pemulihannya yang lama” tambahnya lagi.
“Biar papa benar-benar sehat dulu, dari pada buru-buru pulang nanti ada apa-apa. Balik lagi biar nggak capek. Jakarta singapure itu jauh loh” memberi semangat, Fatih menepuk bahu irene.
“Dia kan enak juga bang, ngurus tugas ahir ada mama disana. Lancar dia, gara- gara di tunggui”
“Iya sambil ngomel kalau irene malas. Kak Wisnu kayak nggak tau mama” Irene kesal, wajahnya merengut.
“Kan bagus ada yang nyemangati. Habis ini bantu papa di perusahaan, kasihan beliau sudah tua. Punya anak laki nggak bisa di andalkan” Wisnu melirik sinis ke arah Fatih dia tahu dia disindir Abangnya.
“Abang juga ngapain bikin perusahaan sendiri, nggak mungkin papa kecapekan sampai livernya kena” Wisnu protes, tidak Terima dirinya di pojokkan.
“Jangan nyalahkan orang Kak wisnu. Abang pengen punya kehidupan sendiri tau, masak bergantung terus sama papa. Sekarang malah lebih sukses dari Papa, hebatkan” pembelaan Irene mendapat anggukan mantap dari Fatih, jangan lupakan dua jempol yang terangkat sempurna penuh kebanggan.
“Kamu sama kayak mama, belain Abang terus. Aku kakak kandungmu dek” Wisnu benar-benar kesal.
“Nggak belain, tapi emang bilang kenyataan. Tapi kenapa Kak Wisnu milih jadi dokter ya, bukannya bantuin perusahaan Papa” Irene baru ngerti kakak kandungnya punya keinginan lain dari keinginan Papanya.
“Nu, jawab dong. Abang bantu jawab ya” Fatih melihat Wisnu. Dia tahu Wisnu salah tingkah, duduknya tidak tenang. Tatapannya mengarah pada Anisa. Jawaban Fatih sama saja akan membongkar rahasianya selama ini.
“Namanya cita-cita, terserah kakak kan” Wisnu menjawab pendek. Dia memang tidak punya jawaban lain. Tidak mungkin Dia mengungkapkan kebenarannya.
“Kak Nisa Koq diam, lapar ya. Tenang Irene sudah pesan makanan” Tanyanya, melihat Anisa hanya sebagai pendengar.
"lebih ke ngantuk sih. Kakak capek banget. Tadi malam tidur Cuma sebentar” jawaban Anisa membuka mata Fatih lebar, tapi wanita itu hanya santai dia tidak mengerti jawabannya barusan membuat raut Fatih berubah. Dia menahan senyum.
“Santai bang, jangan di gas dulu, ke capean tuh” benarkan, pikiran Wisnu membaca hal lain tentang Nisa yang kurang tidur,
“Otak mu, Dia tidak bisa tidur karena ada abang di kamarnya” Fatih memukul bahu Wisnu. Menyadarkan bahwa bapa yang ada di otak kotornya itu salah.
***
__ADS_1
Hai, sudah terjawab siapa Irene kan. atau ada yang belum paham. oiya, author ijin g up beberapa hari ada project yang tidak bisa di tinggal. tapi author sempatkan nulis kalau ada waktu. Terima kasih... happy Reading