
“pak Amir sudah sadar, sejam yang lalu” suara Reno memberitahukan berita yang di dapatnya dari Angga.
“mengapa baru memberitahukan sekarang” Fatih kesal, bagaimana mungkin asistennya ini memberitahukan berita itu saat dirinya sedang terbang menuju kantor pusat.
“menyebalkan” lanjutnya lagi, masih dengan muka masam. Dia baru terbang lima belas menit. Dan Reno tahu berita itu setengah jam yang lalu. Dia memang sengaja baru memberitahu tuannya agar tidak mengganggu jadwalnya ke Kantor pusat.
Urusan kantor pusat jauh lebih penting dari pada urusan kesehatan sahabat atasannya.
Amir sudah ada yang menangani, sedangkan kedatangan Fatih tidak akan berdampak apapun untuk sahabatnya itu. lebih baik Reno menunda berita itu sampai ke telinga sang tuan. Bisa merubah rencana yang sudah matang.
“maaf tuan, dokter Angga memberi tahu saya baru saja” Jawab Reno berbohong.
“cih, belajar lagi kalau kamu memang mau membohongi saya” ucap Fatih, Reno terperangah, bagaimana tuannya tahu kalau dia sedang berbohong.
“pesan itu mungkin sudah sampai setengah jam yang lalu, hanya kamu baru memberitahuku” ucapan atasannya tidak dapat dia bantah. Reno melirik sekilas laki-laki disebelahnya. Wajahnya dingin. Tatapannya lurus pada majalah bisnis yang ada didepannya. Reno masih terdiam mencoba menebak dari mana tuannya tahu tentang kebohongannya.
“sejak kapan boleh menghidupkan HP didalam pesawat yang sedang mengudara” telak, Reno pias. Bagaimana dia bisa alpa tentang itu. dia tersenyum masam. Tatapan sang tuan belum beralih dari majalah ditangannya. Reno merasa malu sekarang.
“maafkan saya tuan, saya tidak ingin kita batal kekantor pusat, saya hanya ingin kekacauan bisa segera diatasi, kalau saya memberi tahu tadi sebelum kita terbang, semua jadwal yang kita susun akan berantakan” jujur jauh lebih baik, tidak ada gunanya membohongi Tuannya .
“lakukan sesuai jadwal sampai pekerjaanmu berjalan lancar, tidak usah pedulikan hati ini. Saya sedang berusaha. Selalu terhalang pekerjaan. Tidak bisakah kamu memberi saya kelonggaran sedikit saja” ucap Fatih lirih seperti berbicara pada dirinya sendiri tapi masih tertangkap jelas di indra sang asisten. Ingin Rasanya dia mengeluh atas pekerjaan yang tidak pernah selesai.
Sekali saja dia ingin memikirkan hatinya. Merasakan getaran indah itu sejenak. Meskipun tidak bisa menatap wajahnya, membayangkan saja membuatnya membuncah bahagia. Fatih menarik nafas panjang. Hatinya menanyakan kabar sang pujaan.
Menari di pelupuk matanya senyum bahagia Anisa melihat abang yang dia sayangi terbangun dari tidur panjangnya. Sinar mata indah, tarikan bibir itu, dan rona pipi merah di pipi itu, mampu menarik sudut bibir Fatih dengan mata terpejam.
__ADS_1
Apakah cinta itu memang seperti ini, membayangkannya saja membuatnya membuncah bahagia, dia takut ketika bertemu nanti tidak bisa mengendalikan diri.
Rasa ingin memiliki itu semakin kuat.
Reno menoleh sejenak, dia melihat senyum sang Tuan, Reno seperti bisa membaca apa yang di pikirkan Fatih. Bacaan di majalah bisnis itu tidak lagi menarik perhatiannya, hayalannya jauh lebih indah dari pada sekedar memikirkan bisnis.
“saya yakin, suatu saat nanti nona Nisa akan bisa menerima Tuan, kalau bisa sabar sebentar saja. biarkan nona Nisa menyambut euforia kesembuhan abangnya. Kita tunggu nanti hasilnya. Kalau memang Jodoh Tuhan punya seribu alasan untuk menyatukan Tuan dan Nona Nisa” ucap sang asisten. terdengar bijak sampai di netra sang Tuan.
“Ternyata kepepet bisa membuat orang bisa menjadi bijak seketika” Fatih membuka mata, menatap asisitennya dengan tersenyum lebar.
Dia ingin terbahak melihat wajah Reno yang sok bijak, karena takut akan kesalahannya. Tapi harga dirinya masih mengambil alih. Reno tertunduk malu, ucapan tuannya sangat benar, dia hanya tidak ingin perusahaan yang sudah dibangun Fatih dari titik nol, runtuh seketika hanya karena urusan hati.
***
Amir menoleh. Haru menyeruak. Mungkin ini yang dilakukan sang ibu ketika dia koma kemarin. Air mata itu mangalir melalui sudut matanya. Sang ibu tidak melihat, netranya masih lekat menatap lembaran Mushaf berwarna emas di tangannya.
Wanita itu tidak menyadari Amir menatap haru kearahnya, dia duduk di pinggir ranjang seperti kebiasaannya sebelum sang putra bangun dari tidur panjangnya. Sesaat sang ibu mengusap wajahnya lembut, kemudian mencium musaf itu hingga menutupi seluruh wajahnya. dibelainya tangan sang anak lembut.
“sudah tadi bangunnya, bagaimana keadaanmu sekarang?” ucapnya lembut, senyum itu terbit. Hangat dirasakan Amir.
Laki-laki itu ingin mendekap erat wanita yang melahirkannya. Mengucapkan ribuan terima kasih. Sayangnya dia belum bisa menggerakkan badannya. Betapa beruntungnya Tuhan mengirimkan wanita itu sebagai ibunya. Ikhlas dan sabarnya tak akan mampu tergantikan dengan apapun di dunia ini. wanita yang tidak pernah mengeluh dihadapannya dan sang adik.
Amir hanya mampu tersenyum sambil menggerakkan matanya kebawah, sang ibu paham bahwa anaknya sekarang merasa lebih baik.
Bu Ratih bangkit, di membelai Rambut putranya, kemudian, mengecup keningnya. Berlalu, membuka mukenah. Selang makan di mulut Amir sudah dilepas, sekarang dia boleh makan lewat mulut tanpa bantuan alat lagi.
__ADS_1
Mengambil makanan yang ada di meja ruang perawatan. Baru diantar petugas tadi sebelum Amir bangun.
“makan dulu, biar cepat sehat” ucap Bu Ratih pelan. Amir menggeleng.
“di paksa, Rania sudah kangen ayahnya. Dia akan pulang kalau Ayahnya bisa menggendongnya lagi. laki-laki harus kuat, ada Syafira dan Rania yang akan bangga kalau kamu bisa kembali seperti dulu” terdengar klasik memang alasan yang diungkap sang ibu. tidak ada cara lain, mengembalikan semangat anaknya. Orang yang paling dia sayang yang dijadikan alasan. Terlihat kekanak-kanakan. Tapi bu Ratih tahu apa yang bisa membangkitkan semangat anak sulungnya.
Berhasil, Amir membuka mulutnya. Hanya tiga sendok, karena kemudian Amir mendorong mangkok bubur itu menjauh. Bu Ratih mengambil botol minuman yang sudah ada sedotan dari plastik berwarna putih.
“tidak apa-apa asal ada yang masuk pelan-pelan saja. nanti makan lagi ya?” ucap Bu Ratih lembut.
“bu...”suara itu berhasil menghentikan ibunya. Wanita yang membawa mangkuk dan botol air minum itu menoleh sejenak. Meletakkannya diatas meja, kemudian menghampiri sang putra.
Menggenggam tangan Amir, air mata itu kembali mengalir di sudut mata putranya. Ibu jarinya mengusap pelan air bening itu.
“tidak usah dipikirkan, ibu tidak apa-apa. Asalkan kamu sehat itu sudah lebih dari cukup buat ibu” kalimat itu tidak berhasil menghentikan aliran bening di sudut matanya.
“tahu tidak, ibu seperti kembali muda. Ibu seperti mengulang masa dimana merawat kamu waktu bayi. Sangat menyenangkan. Kalau ingat, tidak ingin rasanya ibu menjadi tua” senyuman tulus terbit dari wajahnya. Memaksa senyum yang sama terbit dari bibir Amir.
Kesedihan masih menghinggapi hatinya, bagaimanaa dia sebagai laki-laki satu-satunya dikeluarga kecilnya, tidak bisa melindungi anak, istri, ibu dan adiknya. Justru Amir merasa hidupnya menjadi beban mereka.
“berusahalah untuk sehat, kamu jemput Rania untuk ibu, cucu satu-satunya di keluarga kita. Kamu tahu sendiri bagaimana sayangnya adikmu sama ponakannya. Rania kemarin memanggilmu, rindu katanya” sinar mata Amir berbinar bahagia. Semangat itu kembali menyala.
“belajar menjadi lebih baik lewat cobaan hidupmu nak, jangan untuk ibu, jadilah ayah yang baik untuk Rania. Buat dia bangga sebagai darah dagingmu” lanjutnya lagi. iya ingin membakar semangat anaknya untuk sembuh. Rania sebagai senjata, dirasa cukup ampuh. Wanita paruh baya itu melihat binar bahagia di mata putranya.
“istirahatlah, kalau ada apa-apa ibu ada di sofa” menarik selimut sampai sebatas leher. Mencium kening itu lagi. kemudian berlalu merebahkan diri di sofa. Semua tidak luput dari pandangan laki-laki yang masih terbaring lemah.
__ADS_1