MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
PERKELAHIAN


__ADS_3

Sarapan sudah terhidang di meja makan, Fatih turun dengan baju yang sudah rapi. Duduk di meja makan. Laki-laki itu bukanlah orang yang sulit, makanan apa saja yang di siapkan asistennya dia akan makan tanpa bertanya atau protes karena menunya tidak cocok. Tidak, Fatih bukan orang yang seperti itu. Dia menghargai sang juru masak yang menyiapkan hidangannya dengan baik.


Meraih gelas berisi jus buah didepannya. Menyesapnya tanpa suara. Laki-laki itu memutar kepalanya seolah ada yang sedang dia cari. Reno yang duduk dikursi lain tersenyum seolah mengerti bahwa dirinyalah orang yang di cari setelah tatapan mereka bertemu.


“temani saya sarapan Ren...” ini bukan hal aneh seorang Reno menemani tuannya sarapan sebelum kekantor. Hanya saja dia tidak ingin lancang duduk di meja makan tanpa perintah. Dan Reno paham tuannya akan melanjutkan pembahasan yang tadi malam. Tanpa menjawab Reno pindah tempat duduk didepan Fatih.


“kalau menurutmu bagaimana saran Rendra” langsung pada topik, dan Reno sudah paham kalau ini yang menjadi ganjalan pikiran Fatih sepulang bertemu teman-temannya.


“saya setuju Tuan, tapi sebelum itu terjadi bagaimana kalau tuan bertemu lagi dengan Nona Nisa, sekedar mencari tahu apa yang tidak disukai dari Tuan, atau paling tidak berbicara santai mendengarkan ketidak nyamannannya” percayalah, Reno sudah memikirkan jawaban ini sebelumnya. Karena dia tahu saran dari Rendra sudah mengganggu Fatih sejak pertemuan dengan teman-temannya.


“jadwalkan pertemuan ku dengan Nisa, pastikan wanita itu datang” jawabnya tegas


“kalau masalah tempat saya bisa reservasi tuan, saya akan mendesain makan malam romantis agar Nona Nisa terkesan. Tapi, untuk urusan menghubunginya sebaiknya Tuan sendiri yang melakukannya, agar terkesan serius. Saya yakin Nona akan datang” benarkan Reno. Apa iya Fatih yang mau kencan, Reno yang menghubungi Anisa. Apa tanggapaan gadis itu nantinya.


“Boleh, nanti malam pastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Dan pastikan pekerjaanku hari ini tidak ada yang tertunda. Staf meeting kamu yang tangani. Pertemuan dengan investor rumah sakit biar saya yang menangani, beritahu Wisnu kita akan bertemu dirumah sakit sekalian meninjau lokasi pengembangan” perintahnya. Fatih ingin memastikan pekerjaannya hari ini tidak ada yang tertunda. Pertemuannya dengan gadis itu nanti malam tidak diganggu meeting yang tertunda.


***


Seorang siswa berlari kencang masuk keruang guru dengan Nafas terengah

__ADS_1


“permisi...” dengan tergesa dia mengetuk pintu yang memang sudah terbuka. Semua guru yang ada diruangan itu menoleh dengan tatapan bingung ke arah siswa yang sedang mengatur nafasnya yang memburu.


“Bu Nisa, Refan,,,Refan,,,” Nisa bangkit karena dia tahu dia adalah anak didiknya Nisa sebagai Wali kelas merasa bertanggung jawaab dengan itu.


“Ada apa dengan Refan, bicara yang jelas” tanya Nisa dengan wajah yang tak kalah cemas dari sang pelapor. Hatinya berdegup ketakutan akan hal buruk melanda anak didiknya seketika menghantui guru matematika itu.


“Refan berkelahi dengan sandi bu,,,” dengan suara terbata-bata siswa yang bernama Delta itu menyampaikan. Tanpa menunggu lagi Nisa segera bergegas berlari menuju kelas IPA 1. Terdengar kegaduhan dan jerit suara siswi dari kejauhan. Nisa mempercepat langkahnya, suara gaduh itu semakin jelas terdengar seiring langkahnya yang semakin mendekat ke dalam kelas


“jangan kau sebut lagi namanya dengan lidahmu yang kotor itu, bajingan...!!!” suara umpatan penuh amarah tertangkap indra Anisa. Dia masuk kedalam kelas. Matanya membuka lebar


“Dan kau jangan sok suci keparat...!!!” balasan dari lawannya tak kalah sengit, Nisa melihat dua Orang yang bersengketa itu di pegangi teman-temannya. Kemarahan masih nampak dari keduanya, nafas mereka memburu. Bahkan sesekali berontak ingin melepaskan diri. Keinginan untuk melumpuhkan lawan masih terlihat kuat, mereka ingin menjadi pemenang dalam pertarungannya kali ini.


Pertarungan mempertahankan harga diri sebagai laki-laki demi mempertahanakan masing-masing karena mereka anggap benar. Tidak ada yang mengerti apa yang membuat mereka bertengkar begitu hebat. Yang mereka tahu setelah terdengar pukulan keras mengenai bibir sandi, terdengar jeritan siswi setelahnya, bahkan mereka berlari berhamburan keluar kelas dengan wajah ketakutan.


“apa yang terjadi” Nisa bertanya dengan panik, ketakutannya bertambah melihat darah yang mengucur dari pelipis Refan. Tatapannya beralih ke sandi kondisinya tidak jauh lebih baik. Darah mengucur dari bibir. Nisa tidak tahu apakah dari dalam mulutnya atau tidak. Sandi menyeka bibirnya beberapa kali.


“kami tidak tahu bu, mereka saling pukul bahkan kami tidak tahu masalahnya” siswa yang biasa di panggil Bayu menjawab.


“bawa ke UKS sekarang” perintahnya.

__ADS_1


Inilah tantangannya menjadi guru. Nisa harus menghadapi murid yang sudah menginjak usia dewasa yang kadang kelakuannya masih seperti anak-anak. Entah apa yang mereka ributkan, yang Nisa tahu itu bukan menunjukkan gambaran seorang siswa yang baik. Dia harus bertindak sebagai orang tua mereka disekolah. Menasehati, membimbing dan mengarahkan adalah tugasnya. Reputasi seorang walikelas dipertaruhkan disini. Berhasil atau tidaknya dia memimpin sebuah kelas dilihat dari seberapa baik perilaku, bagaimana prestasinya dan bagaimana kondisi siswa siswinya yang dipercayakan pada Nisa.


Menjadi seorang guru bukan hanya sekedar mengajar dan mendidik, lebih dari itu. Seorang guru punya tanggung jawab yang besar terhadap moral dan perilaku anak didiknya. Berat memang, tapi tugas itu sangat mulia. Kebahagiaan seorang guru itu bukan hanya materi yang mereka dapatkan setiap bulannya lewat slip gaji yang tidak seberapa. Prestasi dan keberhasilan siswanya dalah kebahagiaan yang tidak dapat dinilai dengan uang. Mereka akan menangis haru tatkala melihat anak didiknya mengangkat tinggi sebuah piala dengan senyum mengembang membawa nama sekolahnya dalam ajang perlombaan.


Bangga mereka rasakan ketika bisa berhasil mengantarkan anak didiknya menjadi orang sukses.


“maaf bu Nisa, sandi hanya mengalami luka ringan sebaiknya Refan dibawa kerumah sakit, lukanya cukup dalam sepertinya butuh dijahit”seorang petugas UKS menjelaskan kondisi anak didiknya. Nisa lemas, bagaimana dia akan menjelaskan pada wali murid nanti. Mereka akan menyalahkan sang guru karena dianggap lalai.


“bawa ke mobil” tegasnya dengan tergesa Nisa menuju ruangannya mengambil tas dan perlengkapan lainnya. Beruntung hari ini Nisa bawa Mobil karena ketika berangkat tadi langit gelap, hanya untuk berjaga-jaga takut hujan.


“bagaimana keadaan mereka bu” beberapa rekan guru menghampiri Nisa menanyakan kondisi keduanya dengan panik.


“Refan harus dibawa ke IGD bu, lukanya cukup dalam” jawab Nisa tergesa mengambil tasnya.


“Kondisi sandi gimana?” kepala sekolah itu sama cemasnya dengan mereka


“sandi baik-baik saja pak, lukanya bisa ditangani di UKS” jawab Nisa denagn nada cemas


“Hati-hati bawa mobilnya ” pesan kepala sekolah lagi

__ADS_1


“saya permisi pak” pamitnya, mendapat anggukan dari teman-teman dan kepala sekolah.


Ada yang menatap Nisa dengan wajah prihatin. Kelas IPA I yang dipercayakan pada Nisa bukan kelas anak-anak yang suka bikin ribut. Entah bagaimana hari ini bisa terjadi hal yang tidak mereka inginkan, dan kejadian itu membuat kaget semua guru dan staff yang mengajar disana.


__ADS_2