
Tiba-tiba wanita itu menunduk dalam, dia bergeser kebelakang pintu, setelah tahu siapa yang datang. Laki-laki yang mengaku teman abangnya. Baginya dia adalah pria asing yang sedang bertamu, jadi dia harus menghormati setiap tamu yang datang.
“silahkan masuk tuan, ibu ada didalam” ucapnya mempersilahkan tamunya yang masih terpaku dengan tatapan yang sama. Suara yang terdengar begitu indah sampai ketelinga laki-laki gagah itu.
“terima kasih,,,” Fatih masuk seorang diri, Reno menunggunya di luar ruangan.
Berdiri disamping ranjang pasien. Tempat sahabatnya terbaring lemah. Menudukkan wajah. Iba, marah dan kecewa dia rasakan bersamaan. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ingatan ketika dia memukul sahabatnya itu menari dibenaknya. Bagaimana dia hampir membunuh laki-laki malang ini beberapa waktu yang lalu. Darah segar mengalir dari bibirnya. Kalau tidak di halangi Reno mungkin laki-laki yang terbaring lemah ini sudah meregang nyawa ketika itu.
Laki-laki menyedihkan, dia datang kekantornya untuk menanyakan keberadaan sang istri tercinta. Bukan jawaban yang dia dapat, justru kemarahan dan pukulan bertubi-tubi yang di terimanya. Pimpinan perusahaan GLOBAL ini berpikir laki-laki malang itu melakukan kesalahan yang sama. Dan Amir hanya diam tanpa melawan, katanya dia pantas mendapatkan itu, benar-benar laki-laki yang sudah dilemahkan cinta. Sampai ahirnya dia sadar bahwa semua yang terjadi hanya kesalah pahaman.
Fatih menarik nafas panjang, dadanya sesak mengingat dia hampir melakukan kebodohan yang sama dengan Syafira adiknya. Seketika rasa bersalah itu menyeruak memasuki relung hatinya. Sekali lagi dia menarik nafas dalam, dengan tatapan masih mengarah pada laki-laki dengan berbagai alat di tubuhnya itu.
“ibu tidak tahu lagi harus bagaimana, hidupnya hanya bergantung pada alat ini” suara Bu Ratih. Wanita yang melahirkan laki-laki yang sedang terbaring lemah dihadapannya.
“saya akan berusaha membantu sebisa mungkin, beri saya waktu. Sekarang saya sedang mencari keberadaan Syafira” tatapan lurus ke wajah sang sahabat. Suaranya lemah, betapa dia ikut prihatin dengan prahara yang menimpa sahabatnya
“terima kasih nak, ibu tidak tahu harus berkata apa, mungkin ibu akan lebih banyak merepotkanmu kedepannya. Bahkan ibu tidak tahu harus minta bantuan pada siapa” suaranya lemah tergurat perasaan tidak enak disana. wanita paruh baya itu menoleh sejenak. Netranya menangkap gurat kesedihan diwajah sahabat anaknya. Dia paham siapa pun yang meihat kondisi anaknya akan merasakan hal yang sama.
Laki-laki tampan itu melirik wanita setengah baya yang berdiri disebelahnya, entah mengapa tiba-tiba dia merasa bahagia mendengar wanita itu mengatakan akan merepotkannya. Bukankah itu artinya wanita ini akan sering meminta bantuan. Dan itu artinya dia akan sering menemui ibu ini dirumah sakit, kesempatan untuk bertemu pemilik mata indah itu akan semakin terbuka lebar.
“tentu saya dengan senang hati akan membantu ibu. tidak perlu sungkan. Kalau butuh sesuatu ibu bisa menghubungi saya” katanya antusias. Bahagia itu seketika menghampiri. Langkah awal yang baik untuk rasa yang mulai mengganggu pikirannya ahir-ahir ini.
Fatih memutar pandangannya, dia mencari sosok yang ada dalam pikirannya sekarang. laki-laki tampan itu bernafas lega, wanita yang dia cari ada di pojok yang lain, menunduk dengan kedua tangan di bawah saling bertautan.
Dua insan berbeda generasi itu duduk di sofa, membicarakan banyak hak tentang kondisi Amir, hingga langkah yang akan diambil untuk menjaga kemungkinan terburuk jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Sesekali laki-laki itu mencuri pandang pada wanita anggun yang duduk disebelah ranjang abangnya. Mengusap lembut tangan itu. Dia menangkap gurat lelah dan sedih dari wanita yang mulai dia kagumi. Wanita yang membuat debaran jantungnya tak biasa hanya dengan menatapnya diam-diam seperti sekarang. Senyum tipis terukir di bibir pria matang itu. sejenak pikirannya melayang. Dia tidak memperhatikan suara Bu Ratih yang berbicara padanya.
Kekaguman tidak biasa yang mulai timbul, dia bingung. Ada apa dengan dirinya. Bagaimana dia tidak bisa mengontrol perasaannya ahir-ahir ini. apakah dia terpikat pada pesona sang dara. Hanya dengan memandang wajah itu seketika hatinya merasa damai. Ingin rasanya dia berlama-lama di ruangan ini. tapi itu tidak mungkin. Bisa saja apa yang dilakukannya sekarang akan menimbulkan prasangka kurang baik. laki-laki atletis itu bingung tidak mengerti akan perasaannya sendiri.
__ADS_1
“Nis, antar fatih, dia mau pulang” suara ibunya membuat wanita cantik itu berdiri. Tanpa banyak kata dia berjalan dibelakang pemuda tampan itu. aroma parfum menyeruak masuk ke indranya, wangi menenangkan. wanita itu menunduk. Keduanya diam membisu.
Pintu terbuka, laki-laki itu masih memegang gagang pintu. Di tatapnya wanita yang masih setia menunduk.
“saya permisi” tanpa jawaban. Wanita itu masih bergeming.
“masuklah, tidak usah mengantar keluar. Sudah malam. Udaranya tidak baik untuk kesehatan” suara itu pelan.
Hanya wanita itu yang mendengarnya. Tatapan tak biasa itu masih di arahkan. Segaris senyum terbit di wajah pria tampan. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona. Sekilas memang, namun mampu menggambarkan kebahagiaan yang terpendam.
“masuklah, saya akan menutup pintunya sekarang” ulangnya. Tiba-tiba wajah itu terangkat. Sekali lagi tatapan itu bertemu. Hanya sekilas. Karena Anisa memutus tatapan mereka lebih dulu.
“terima kasih” tidak ada senyuman, hanya suara.
Tapi yang sampai ke indra sang CEO bak nyanyian syahdu pengantar tidur dimalam hari. Sangat menenangkan. kembali dadanya membuncah. Senyuman itu sedikit mengembang. Bahkan memperlihatkan barisan gigi putihnya.
Menutup pintu perlahan, senyuman itu belum surut. Bergegas Reno menghampiri. Dirinya yang dari tadi menunggu sang tuan. Duduk di kursi tunggu pasien yang ada didepan ruang perawatan Amir. Memeriksa beberapa jadwal didalam tablet miliknya. Menyelasaikan pekerjaan yang belum tuntas untuk hari ini.
“apa jadwal saya setelah ini?” pertanda baik, hanya dengan mendengar nada bicara Atasannya dia sudah tahu bahwa hati laki laki di depannya itu sedang dalam mood baik.
Semua pekerjaan malam ini akan selesai dengan cepat. Dirinya butuh istirahat. Mempersipkan tenaganya untuk esok hari. Menarik nafas panjang kembali senyum bahagia itu terukir.
Membacakan jadwal rapat untuk hari ini, sambil berjalan beriringan menuju parkiran mobil. Dua orang laki-laki masih berdiri disamping mobil, membukakan pintu dan menutupnya kembali setelah tuannya duduk dengan tenang di dalam mobil.
Melaju dengan kecepatan sedang, mobil berwarna hitam itu menuju sebuah restoran yang ada di kota ini. ruang VIP sudah dipersiapkan. Masuk menuju ruangan dengan berjalan tegap tatapannya lurus kedepan. Beberapa orang yang dilewatinya menunduk dengan sopan. Terlihat beberapa orang yang menunggunya memegang berkas mengikutinya dibelakang.
Ada delapan orang dalam ruangan itu. monica terlihat paling sibuk dengan berkas dan OHP serta layar putih sebagai penangkap gambar yang sudah disiapkan untuk menjelaskan detail pertemuan hari ini.
Monika menjelaskan dengan memperlihatkan video di layar transparansi sebagai penangkap gambar. Menjelaskan beberapa hal. Semua orang terdiam. Hanya monica yang bersuara.
__ADS_1
“kecurangan itu dilakukan sejak dia belum menjabat sebagai direktur keuangan, saya sudah memegang beberapa bukti kecurangan sebelum dan sesudah beliau menjabat.” Terangnya.
Enam orang yang ada diruangan ini adalah petinggi yang datang langsung dari kantor pusat karena undangan rapat membahas tentang kekacauan itu.
Kecuali direktur keuangan yang baru. tentu saja karena dia yang menjadi objek pembahasan kali ini.
Semua mata mengarah ke Monica kecuali satu orang. Pimpinan tertinggi itu tatapannya menerawang jauh, senyuman tipis masih terlihat. Menundukkan wajahnya demi menyembunyikan itu. dia tidak ingin kehilangan wibawanya di hadapan para petinggi perusahaannya yang rata-rata berusia di atasnya. Kecuali monica dengan Reno yang masih belia.
“saya akan terbang ke kantor pusat besok, kita adakan rapat terbatas dengan para pemegang saham dan petinggi GLOBAL. Membongkar kecurangan penghianat itu dihadapan mereka” suaranya tegas. Semua mata tertuju pada sang pimpinan. Mereka bingung tapi tidak mampu berkata apapun.
Apa yang terjadi dengan tuannya hari ini, bahkan dia tidak mendengarkan penjelasan monica.
Benar-benar diluar kebiasaan.
“maaf tuan, rapatnya kita adakan tiga hari lagi, karena besok lusa Pak Albert akan melakukan transaksi pembelian Villa mewah untuk selingkuhannya, saya sudh menjelaskan tadi. Bahkan saya sudah menempatkan orang kepercayaan untuk mengkuti beliau hingga kita bisa mendapatkan bukti autentik” penjelasan monica mendapatkan tatapan bingung dari laki-laki itu.
“oh ya,,, mengapa saya tidak mendengarnya. Apakah saya melewatkan sesuatu” semua orang yang ada didalam ruangan itu bingung. Benar-benar diluar kebiasaan tuannya. Biasanya dia akan berkonsentrasi penuh pada setiap jalannya rapat.
Kecuali Reno, laki-laki itu menunduk dalam menyembunyikan malu dan marah yang bercampur.
“itu karena pikiran anda sedang tidak disini tuan” gumamnya dalam hati. Entah apa yang terjadi dengan sang atasan ahir-ahir ini.
Rapat selesai di tutup dengan makan malam, mereka terdiam hanya suara dentung sendok beradu dengan piring yang terdengar sesekali. Rapat selasai semua orang beranjak pergi.
Hanya menunggu Fatih untuk keluar terlebih dulu.
Berjalan beriringan keluar dari ruang rapat. Seseorang menarik tangan Reno. Dia menoleh laki-laki tua petinggi senior GOLBAL.
“jaga tuanmu dengan benar, sesuatu sedang terjadi padanya. Apakah dia punya masalah keluarga?” Reno menggeleng. Ingin rasanya dia mengatakan kalau ke anehan tuannya itu terjadi sejak kunjungan pertama kerumah sakit menjenguk sahabatnya.
__ADS_1
Tapi Reno tidak ingin mempermalukan laki-laki yang sudah berjasa dalam hidupnya.
“baik Tuan, saya akan menjaga tuan Fatih dengan lebih hati-hati” hanya itu yang dikatakan Reno. Memang apalagi. Bahkan dia tidak tahu mengapa tuannya bersikap aneh.