MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
PERDEBATAN


__ADS_3

Reno berhasil, Fatih kembali tanpa berucap apapun. Keresahan terlihat jelas di wajahnya. Reno tahu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Jarak antara rumah karyawan dan rumah utama terasa terbentang jarak ribuan mil. Padahal hanya jarak beberapa meter.


Berjalan dengan menundukkan kepala, bebannya hari ini terasa menumpuk di pundaknya. Tentang rasa bersalah, dan tentang cara mengabulkan keinginan istrinya yang tidak biasa. Menarik nafas panjang yang terasa menghimpit, setelah menutup pintu kamar. Anisa masih belum bergerak dari tempatnya tadi ketika dia tinggal. Artinya Anisa belum terbangun sama sekali.


Bibirnya mendarat tepat diatas punggung tangan yang memerah. Puluhan kali dia ucapkan kata maaf dengan lirih, hatinya teriris melihat bekas itu masih ada. Tangannya mengusap lembut surai sang istri. Mencium keningnya lama, menyalurkan rasa penyesalannya yang mendalam. Ibu jarinya mengusap lembut pipi sang istri.


Andai dia tidak kuat menahan mungkin airmatanya sudah tumpah dari tadi. menangis tanpa suara tentu tidaklah mudah, bagaimana kalau suara isakannya didengar Anisa, terus dia terbangun. Fatih tidak akan melakukannya. biarlah dada sesak menahan gejolak yang ingin dia tumpahkan.


Sampai ahirnya rasa damai menyambut. Menghalau penat tubuh yang mulai tak bisa lagi Fatih tahan. Menyusul sang istri ke alam mimpi dalam damai.


Fatih tidak pernah mengajak istrinya ketempat yang di janjikannya. Apa yang dilakukan Fatih sampai Anisa mengurungkan niatnya. Yap, menakut-nakuti dengan cerita buruk tempat itu. semua makanan dan minuman yang dijual di sana tidak halal, tapi semua pengunjung di wajibkan mencicipi. Tentang aroma menyengat dari asap rokok dan minuman beralkohol. Membuat orang yang pertama kali datang berkunjung akan terserang sesak nafas.


Tentang pemandu musik yang hanya memakai baju yang kelewat mini, menjadi santapan liar setiap laki-laki yang datang kesana. Semua hal menakutkan Fatih ceritakan.


Nisa percaya?, tentu saja. Sedikit keuntungan mempunyai istri yang terlalu polos tentang hal-hal yang belum di ketahuinya. Biarkan Anisa mengingat semua hal buruk tentang tempat itu, lebih baik daripada istrinya di jebak seseorang suatu saat nanti.


“Siapa wanita itu Bang?” Seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahunan. Tapi kecantikannya masih nampak jelas. Semua orang akan menilai bahwa wanita yang sedang duduk dikursi Fatih bukan wanita sembarangan, orang yang dengan suka rela menghabiskan uangnya ke salon untuk perawatan wajah dan tubuh. Wanita yang merelakan waktunya berjam-jam di salon demi terliihat cantik di usia senja.


“Kapan Mama datang?” Fatih sudah tahu kalau Nyonya Maura sedang berada di ruangannya saat rapat tadi.


“Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan Bang, Mama tidak suka” Suara sedikit meninggi


“Fatih kira Mama sudah tahu semuanya, apa lagi yang perlu di jelaskan” Karen aFatih yakin orang suruhan wanita didepannya tidak akan melakukan kesalahan sekecil apapaun. Atau melewatkan berita apapun tentang Anisa

__ADS_1


“Bagaimana wanita biasa bisa mengubahmu dalam waktu sekejap” Nadanya mulai gusar


“Dia wanita luar biasa Ma”


“Benar apa yang mereka katakan, wanita itu sudah mengubah kamu terlalu jauh” Bahkan dari cara Fatih membelanya siapapun akan tahu itu. Bahwa laki-laki yang dia didik untuk menjadi pengusaha itu sedang jatuh cinta dengan cara buta menurut versi orang suruhannya


“Namanya Anisa, sebut namanya dengan baik” Seharusnya Fatih tahu sikap mendominasi wanita di hadapannya. Sepertinya dia akan banyak mendebat menyangkut hal tentang istrinya


“Kau bahkan sudah berani membantah Mama” tidak ada niat membantah, harga dirinya mulai terusik ketika ada orang yang mempersoalkan keberadaan Anisa disampingnya.


“Mau apa Mama datang kesini?” Fatih langsung membakkan pertanyaan, dia sudah tahu maksud kedatangan wanita yang sudah banyak berjasa dalam kesuksesan karirnya.


“Mama ingin mendengar penjelasan dari kamu, tentang semua yang terjadi. Mulai dari pernikahnmu yang terkesan mendadak, hingga perubahan besar di rumah utama. Wanita itu yang merubahnya, kan? ” Tarikan nafasnya kuat dan cepat. Dia sudah menahannya ketika turun dari pesawat.


“Jangan mengalihkan pembicaraan. Tidak ada yang perlu di khawatirkan tentang Papa. Justru keadaanmu yang perlu di khawatirkan. Bagaimana bisa seorang pimpinan tertinggi CEO Global Group bisa takluk hanya dengan wanita biasa. Seharusnya kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari dia.” Suara meninggi dengan mata yang menyala. Langkahnya mengikuti Fatih berjalan ke sofa yang ada di dalam ruang kerja Fatih.


“Mama hanya belum mengenalnya” Jawabnya santai, duduk sambil membuka kancing jas warna hitam. Ada rasa tidak nyaman ketika seseorang mulai memandang buruk istrinya.


“Baik, Mama akan datang kerumah bertemu langsung dengan wanita itu. sehebat apa dia sampai kamu lebih memilih dia daripada keluargamu sendiri”


“Saya rasa tidak ada satu hal pun yang Mama lewatkan tentang Anisa, jadi untuk apalagi mama menanyakan hal yang Saya rasa sia-sia. Jawabannya sama” Fatih mulai bosan bosan, dirinya baru saja rapat berjam-jam. Seharusnya istirahat, sekarang ada orang yang mengintrogasinya tentang Anisa. sesuatu yang sangat tidak disukai.


“Kamu terlalu melindunginya. Mama akan datang kerumahmu sekarang” Beranjak mengambil handbag berwarna hitam yang ada di meja kerja Fatih.

__ADS_1


‘Dia ngajar sekarang” Menjawab tanpa minat, tatapannya malas pada wanita dengan blous warna hitam berapadu maroon.


“Mama sampai lupa kalau dia hanya seorang guru. Apa istimewanya dia. Mama jadi penasaran” Fatih menangkap nada mencibir, tentu saja amarahnya mulai tersulut. Menahan amarah itu sangat sulit, sebisa mungkin dia tidak menumpahkan pada Nyonya Maura. Rasa hormat masih di junjung pada wanita yang sudah menganggapnya anak.


“Nanti Saya bawa kerumah, sekalian jenguk Papa, sekarang Mama pulang istirahat pasti capek setelah perjalanan jauh” Tidak ada cara lain agar Fatih tidak mendengar ibu angkatnya ini menghina istrinya lebih jauh.


“Kamu mengusir Mama?” memicingkan mata kearah Fatih.


“Saya juga butuh istirahat Ma, masih ada dua rapat lagi tolong mengertilah” Dengan jelas Fatih mengatakan. Karena kalau tidak, wanita didepannya ini pasti akan meledak.


“Baiklah Mama tunggu kamu di rumah. Sendirian, jangan bawa wanita itu” Berlalu sebelum mendengar Fatih membelanya lagi.


"Dia istriku sekarang, sebenci apapun Mama tidak akan mengubah keadaan bahwa wanita yang kita bahas sekarang adalah bagian dari Global" Jawabnya menantang tatapan tajam Nyonya Maura.


"Mama sudah tahu, tapi Mama belum bersedia bertemu dengannya. Dan jangan sebutkan bahwa wanita itu bagian dari Global, dia hanya orang luar yang kebetulan sedang mengikatmu dengan pernikahan" Tidak ada yang mau mengalah, merasa benar dengan pendapatnya sendiri.


"Tidak ada pernikahan kebetulan, semua dipersiapkan dengan matang, ada surat nya kalau Mama ingin tahu"


"Mama tunggu kamu sendirian di rumah" ucapnya bersikeras.


"Papa ingin bertemu Anisa" Fatih merasa dialah pemenangnya sekarang. Namanya tidak akan bisa berkutik kalau Fatih menyebutkan Suami wanita itu yang lebih berkuasa.


Nyonya Maura pergi dengan hati kesal. dia menghentakkan kakinya kasar sambil berlalu.

__ADS_1


Walaupun banyak informasi yang di terimanya, Nyonya Maura bukanlah orang yang bisa berpuas diri. Dia hanya ingin memastikan sosok wanita itu dengan nyata. Ke istimewaan apa yang dia miliki sampai Fatih berani menantangnya secara terang-terangan.


__ADS_2