MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
PERSIAPAN


__ADS_3

Pagi ini terasa lain, pagi yang biasa hening ANisa mendengar keributan dari bawah. Entah apa, tapi itu membuatnya terusik. Matanya masih membuka sedikit. Seperti biasa, wajah suaminya yang dia lihat pertama.


“Sudah bangun?” Tanya Fatih sambil mencium kening sang istri


“Hhhhmmmm…” Merenggangkan ototnya dengan mengangkat kedua tangan ke atas dan meluruskan kaki.


“Sholat dulu, di bawah ada tamu?”


“Se pagi, ini siapa yang datang?” dengan suara serak dan pandangan yang masih silau, b ahkan Anisa masih menggosok matanya berulang.


“Lihat sendiri nanti, mereka menunggu di bawah” Ucapnya santai, Fatih yang sudah terlihat rapi dengan sarung dan baju muslim berwarna putih.


Nisa tergesa, menuju ke kamar mandi. Walaupun masih banyak tanya di benaknya. Tapi dia terdiam. Memang siapa yang bertamu sepagi ini.


Sampai selesai dia melipat mukenahnya. Suara gaduh itu masuk kedalam kamar.


“Ounty,,,,” Suara Rania dan Adam masuk bersamaan.


Anisa berdiri menyambut mereka, merentangkan tangan siap memeluk keduanya. Rania dan Adam menghambur kepelukan Anisa. bergantian mencium keduanya.


“Rania kangen Ounty…”


“Adam juga kangen ounty…” keduanya saling berebut untuk bercerita.


“Ounty juga kangen banget sama kalian”


“Bohong, sejak pergi sama om Abang ounty nggak pernah kangen Rania sama Adam?”


“Oh, ya…siapa yang bilang?”


“Om Abang, katanya ounty sudah jadi milik Om Abang jadi nggak boleh kangen sama Rania lagi”


Anisa memutar pandangan, mencari sang suami. Yang di tatap berdiri sambil menahan tawa. Anisa tahu kalau yang dilakukan suaminya hanya untuk menggoda ponakannya, tapi melihat wajah sendu mereka Anisa tidak tega.

__ADS_1


“Abang,,,” Ucapnya sambil menatap tajam ke arah sang suami.


“Rumah ounty besar, bagus lagi. Rania jadi betah tinggal disini. Jadi pengen pindah sekolah. Iya kan dek..” Minta persetujuan Adamyang di jawab dengan anggukan penuh antusia dari mereka.


“Boleh, nanti Rania tinggal sama ounty. Tapi memang boleh sama bunda?” Tanyanya mencubit kedua pipi Adam dan Rania bergantian.


“Nggak tahu, kan belum bilang”


“Nggak boleh, sekarang ounty punya Om Abang, jadi kalian tidak boleh manja manja lagi sama istriku” Fatih senang menggoda kedua ponakannya. Melihat wajah cemberut Rania dia tertawa geli. Apalagi si kecil Adam juga ikut-ikutan mengerucutkan bibir sambil melipat kedua tangannya.


“Om Abang pelit” Ucapnya menghentakkan kaki dengan kesal “Tadi juga Rania mau bangunin Ounty nggak boleh sama Om Abang. Kenapa sekarang Suami ounty menyebalkan” Wajahnya ditekuk. Ranianya merajuk tapi terlihat menggemaskan. Apalagi Adam juga mengikuti kakaknya.


“Kalian kenapa sudah bangun, Ayah sama bunda Mana?” Mengalihkan perhatian,


“Ada di bawah” Menarik kedua tanga Anisa untuk turun.


Kenapa mereka datang, inilah pertanyaan yang menggelayut di kepalanya. Tapi dia tetap mengikuti dua orang bocah yang menarik tangannya dengan paksa.


Pemandangan luar biasa yang dia rindukan, bagaimana tidak ada Ibu dan Kakak iparny. Abang dan dua ponakannya yang sudah lama tidak bertemu datang berkunjung. Dengan tergesa dia berlari, memeluk wanita yang telah melahirkannya. Rindu yang sudah lama dipendam ahirnya terbayar sudah. Kehadiran mereka memberikan kebahagiaan tersendiri untuk Anisa.


“Gimana pernikahan kalian, baik-baik saja kan Nak?” merenggangkan pelukan kemudian menangkup ke wajah sang putri dengan kedua tangannya.


“Kami baik-baik saja, ibu tidak usah cemas” Senyumnya mengembang sempurna. Anisa tidak berbohong, hubungannya baru saja menghangat. Dia sangat bahagia. Segala keraguan dalam hatinya sirna. Ketakutan tentang kegalalan hubungannya dengan sang suami tak lagi menyesakkan.


“Jadi, Cuma kangen sama Ibu, sama Abang nggak?” Suara Amir, kakak kandungnya yang dia panggil Abang. Memaksa dia melepaskan pelukannya. Dan beralih memeluk kakak laki-lakinya. Kerinduan yang sama. Entah doa yang mana yang di kabulkan Tuhan, hari ini setelah kejadian pahit kemarin seolah kebahagiaan itu tumpah ruah menjadi satu laksana hujan yang menghamburkan air deras, tak lagi berupa rintik saja.


“Nisa juga kangen Abang” menenggelamkan wajahnya di dada Amir. Dia merasakan usapan lembut di kepalanya yang masih tertutup hijab.


“Nisa kangen Kak Fira” pelukannya beralih pada kakak iparnya. “ Kak, Abang sudah benar-benar berubah kan?” Bisiknya tepat di telinga ibu Rania dan Adam itu. Senyum tulus tercetak di wajah sang kakak ipar, disertai anggukan yang membuat Anisa bernafas lega. “Nisa ikut senang melihat kalian lebih bahagia sekarang” Lanjutnya dengan menatap wajah kakak iparnnya yang terlihat benar-benar bersinar.


“Abangmu jauh lebih baik sekarang, bahkan kalau ada perjalanan keluar kota kakak selalu dibawa” Mengusir kecemasan di awajah Anisa. tapi memang itu yang terjadi. Tidak ada lagi kejadian pahit di dalam rumah tangganya. Syafira beruntung memiliki suami seperti Amir. Walaupun pada awalnya dirinya tidak yakin dengan suaminya, tapi sekarang dia tidak pernah menyesal dengan keputusannya memaafkan sang suami dan memberikannya kesempetan kedua.


“Usaha Abang gimana?” Tanyanya.

__ADS_1


“Alhamdulillah, lancar. Rencananya kami mau umroh sekeluarga. Sayangnya tidak bisa hanya Ibu yang berangkat. Sebenarnya kasihan tapi kakak tidak bisa nemani gimana dong?” Fira menceritakan rencananya yang harus batal dengan wajah menyesal.


“Loh, emangnya kenapa. Bukankah rencananya sudah matang, kenapa di rubah lagi?” Nisa tahu semua itu Ibu menceritakan bagaimana bahagianya dia akan berangkat ke tanah suci sekeluarga. Tapi soal pembatalan ini Anisa belum tahu, rasa penasarannya menggelayut.


“Kakakmu hamil muda jadi tidak memungkinkan. Bukan batal dek, di tunda” Suara Amir menjawab rasa penasaran Anisa. Dengan wajah bahagia dia mendekati dua orang yang sangat di sayanginya.


Bahagia Anisa mendengar kalimat yang keluar dari Abangnya. Sungguh, ini berita bahagia yang dia dengar sampai membuatnya harus menutup mulut karena tidak percaya. Dengan segera dia memeluk erat tubuh kakak Iparnya. “ Selamat kak, Adam mau punya adik lagi. Nisa ikut bahagia” Ucapnya dengan mengeratkan pelukan.


“Terima kasih ya, kakak juga senang lihat kalian berdua sudah bisa saling menerima. Jangan di tunda. Kami menunggu kabar baik kalian” Bisiknya di telinga Anisa.


Sontak perkataan Fira membuat tubuhnya menegang, entah mengapa dia selalu merasa risih jika ada yang membicarakan hal yang terlalu pribadi. Termasuk masalah anak. Bukan masalah memiliki anak yang dia takutkankarena Anisa pun ingin memilikinya suatu saat nanti. Tapi yang membuat dia tegang adalah prosesnya menuju kesana, tentu dia harus melewati hubungan suami istri. Tapi mengingat pengalaman pertamanya ANisa masih sering gugup jika membayangkan.


Hubungannya dengan sang suami benar-benar sudah membaik, bahkan tidur dipelukannya sampai pagipun sudah menjadi kebiasaan mereka. tapi untuk melakukan yang lebih dari itu Anisa selalu merasa gugup, bahkan sampai sekarang dia masih bersyukur Fatih masih belum melalui batas itu.


Katakan dirinya tidak bisa memenuhi keinginan suami, tapi memang dia belum siap. Bahkan ketika Fatih menciumnya di balkon, Anisa hampir kehabisan nafas karena debaran jantungnya yang luar biasa sampai dia harus menahan nafas.


“Dek…” Suara Fira membawa kesadarannya kembali. “Kamu kenapa, kok pucat gitu” tapi memang benar, Anisa bukan orang yang mampu menyembunyikan ekspresi. Dia menunduk. Anisa menyadari semua tatapan orang tertuju padanya.


“Nisa sakit?” Fatih berdiri menghampiri istrinya. di tariknya bahu sang istri untuk menghadapnya. Benar saja, wajahnya pucat bahkan Fatih merasakan tubuh istrinya bergetar hakus. “ Duduk, biar Mbok sa bikinin teh hangat” Lanjutnya menraik sitrinya duduk di kursi makan.


“Nisa nggak apa-apa Bang, hanya bahagia dengan kabar kak Fira hamil” Ucapnya dengan wajah masih tertunduk malu. Tidak berani menatap wajah mereka takut ada yang bisa membaca kebohongannya terutama ibunya. Wanita itu tidak pernah bisa Anisa bohongi.


Semua yang ada di ruangan itu menarik nafas lega, tapi belum benar-benar lega untuk Anisa.


“Makanya Fa, jangan diforsir. Kecapean dia” Mulut lancang Amir membuat wajah Anisa semakin merah dia menyembunyikan itu dengan menunduk lebih dalam lagi. Dan Amir sangat bahagia melihatnya. Dia seolah mendapat hiburan sendiri. Apalagi melihat sahabatnya yang mulai salah tingkah. Dia tertawa keras.


“Mas…” Teguran lembut Syafira menghentikan tawanya.


“Maaf, Mas tidak bisa menahan diri” Sekarang bukan lagi tawa keras hanya kekehan kecil, namun masih mendapat tatapan tajam dari sang istri.


“Kalian mau datang kok nggak bilang dulu, ada apa?” Fatih mengalihkan pembicaraan setelah melihat wajah istrinya yang bersemu merah.


“Loh, bukannya kalian yang mau ada acara. Kita di undang Nyonya Maura. Keluargamu baru nyampek nant sore, Bang” Ucap Ibu menjelaskan..

__ADS_1


Dahi Fatih berkerut, memang ada apa. Mengapa tiba-tiba ada undangan mendadak. Benaknya mencoba menebak. Tapi Fatih tidak berpikiran apapun. Tatapannya beradu dengan sang istri yang sama diliputi tanya.


“Permisi Bang, ini contoh undangan yang mau di cetak. Silahkan dipilih” Seorang pekerja di rumahnya menyodorkan album yang berisi sample undangan yang perusahaan oercetakan ternama. Barulah Fatih dan Anisa paham, tapi bagaimana Nyonya Maura bisa mengurus secepatnya. Lagi-lagi Fatih mengakui kecepatan pikiran Ibu angkatnya memang luar biasa.


__ADS_2