
Seminggu berlalu, Amir di pindahkan ke ruang perawatan VIP, semua alat yang terpasang di tubuhnya sudah tidak terlihat. Hanya jarum infus yang masih menancap disana, untuk mengalirkan cairan dan obat-obatan yang tidak bisa di injeksi langsung.
"Nisa suapin buahnya, mau ya bang?” tawaran sang adik mendapatkan anggukan dari abangnya. Dengan senyum mengembang wanita itu membawa tempat berisi buah kupas. Menyuapi sang abang dengan telaten.
Gawai itu berbunyi. Getarannya terasa sampai Nisa ikut mencari keberadaan benda segi empat itu.
“Halo Ayah...” suara ceria khas Rania terdengar dengan wajah berbinar tampak di layar segi empat itu . Semua yang ada diruangan itu tersenyum.
“hai sayang..” balas sang ayah dengan wajah berbinar
“ayah makan apa...?” tanya sang anak dari sebrang
“makan buah di suapi ounty Nisa...”jawab sang ayah mengarahkan kamera ke Anisa. Wanita itu melambaikan tangan tanpa suara.
“hai ounty...jaga ayah baik-baik yah,,,nanti kalau sudah sembuh suruh jemput Rania” suara riang bocah itu mengalahkan kebahagiaan apapun di dunia ini.
“Pasti, Rania tidak usah takut ayah pasti jemput” jawab sang ounty
“ayah,,Rania sudah mau bobok. Nanti kalau Rania g jawab itu artinya Rania Sudah bobok” ucapnya sambil menguap. Tawa senang terbit dari wajah sang ayah
Semua orang yang ada di ruangan itu ikut tertawa.
Obrolan itu berlangung lama hingga suara dari sebrang sudah menghilang. Bocah itu mungkin sudah tertidur.
***
“Ada surat pemberitahuan dari kampus. Tempat Nona Fira menempuh S2nya tuan” Reno menyerahkan amplop berlogo sebuah kampus ternama di pulau kalimantan.
“jauh juga dia berlari, mungkin dia lupa bahwa suatu saat surat ini akan sampai ke tangan kita” ucap fatih menerima amplop dan membukanya. Membaca sekilas kemudian melipat dan melemparkan lagi keatas meja.
“hari ini pertemuan dengan investor dari jerman jam dua siang, bertemu perwakilan dari perusahaan di Jepang satu jam setelahnya. Semua berkas pertemuan sudah siap” ucap Reno membacakan jadwal sang tuan.
“saya ingin mempercepat urusan yang disini, kita akan pindah ke kantor cabang, saya harus memenuhi janji saya pada gadis itu, bukankah laki-laki harus membuktikan ucapannya, karena itu yang akan menjadi penilaian tersendiri” matanya menerawang, memutar bolpoin ditangannya. Pikirannya lebih jauh lagi berkelana meninggalkan raga yang sedang duduk dengan gagah dikursi kebesarannya.
“mungkin terlalu cepat tuan, kita tunggu sampai pak Amir benar-benar sehat, dan kesalah pahaman antara mereka diluruskan. Nona Nisa akan lebih bisa menerima tuan” ucap Reno yang duduk berhadapan dengan tuannya.
“bagaimana kamu tahu tentang itu, apa kamu mempelajari semua tentang wanita” tatapan penuh selidik untuk sang asisten.
__ADS_1
Reno menatap wajah Fatih walau sekilas, pandangannya fokus lagi pada benda segi empat di tangannya. Disanalah semua jadwal dan laporan berusahaan berada. Dia mengendalikan semua lewat laporan masing-masing pimpinan yang di tugaskan.
“jangan melakukan apa yang tidak disukai nona Nisa, perempuan tidak suka dipaksa. Wanita seperti nona nisa itu unik. Sekalipun tuan membawakan semua kemewahan yang dibutuhkan wanita, dia tidak akan tersentuh. Hatinya sudah dia jaga untuk pacarnya saat ini” jawaban Reno membuat Fatih gusar, ia tidak suka mendengar kata terahir. Mengapa banyak perempuan selalu terjebak dalam kebohongan laki-laki yang bertampang baik.
Seandainya wanita tidak menyerahkan sepenuhnya perasaan itu, sakit tak akan terasa mencekik tatkala penghianatan itu terjadi.
Dalam bayangan Fatih, bagaimana reaksi wanita itu kalau tahu laki-laki yang dia jaga perasaannya ternyata mendua. Berapa liter air yang akan terkuras dari kelenjar matanya karena meratapi kebodohan mereka.
“kita bongkar perselingkuhan pacarnya di depan nona Nisa, selanjutnya tuan akan muncul sebagai sebagai hero. Jangan mendekati wanita yang sedang patah hati. Tidak akan ada gunanya. mulailah mendekati keluarganya. Saya rasa itu tidak sulit. Tuan sudah mengenal mereka semua” penjelasan Reno mendapat tatapan antusias dari Fatih. Sungguh dia kagum dengan isi kepal asistennya saat ini.
“apa kamu melakukan itu agar kita tidak pindah kekantor cabang” Fatih curiga, hatinya merasa bahwa laki-laki dihadapannya ini sedang menahannya untuk tetap bekerja di kantor pusat.
“Saya akui memang iya. Perusahaan ini jauh lebih membutuhkan Tuan dari pada Monica” ucapnya tegas. Dia tidak ingin tuannya menjadi lemah hanya karena urusan perempuan.
“ Dengan membayar biaya perawatan pak Amir saya rasa itu bukan ide buruk, tentunya tanpa sepengetahuan mereka dan jangan membawa nama GLOBAL” kembali ide Reno mendapat senyuman tipis dari tuannya.
“salah makan apa kamu hari ini, sedari tadi ide yang keluar otakmu selalu cemerlang” senyuman itu belum surut ketika kalimat itu meluncur.
“saya sedang menjalan kan tugas, melindungi atasan saya agar tidak melakukan kesalahan karena urusan hati” tatapan Reno beralih sejenak dari benda segi empat ditangannya.
“selama saya bekerja dengan tuan, akhir-akhir ini sudah beberapa kali anda melakukan kesalahan. Mencampur adukkan perusahaan dengan urusan pribadi pada waktu yang bersamaan. Bahkan beberapa kali dalam rapat tuan tidak fokus” tatapannya lurus pada Fatih, tidak tajam hanya saja membuat lawan bicaranya tidak nyaman.
“semoga kamu tidak akan menikah dalam waktu dekat. Saya belum menemukan pengganti”
Fatih tahu, ketulusan laki-laki dihadapannya ini tidak bisa di ragukan lagi.
“melihat rumitnya kisah tuan fatih dan pak Amir, saya ingin menikmati kesendirian dalam waktu lama. Semacam menikmati kebebasan sebelum jadi bucin” ucapnya tegas. Reno tidak bisa menentukan kapan dan kepada siapa hatinya akan bertaut. Seperti Fatih, tidak ada dalam pikiran Reno bahwa tuannya akan jatuh cinta pada gadis sederhana. Jauh dari wanita glamour yang selama ini mendekati sang tuan.
“saya ingin menjodohkanmu dengan Monica, rasanya itu keputusan yang tepat bukan?” ucap Fatih, dia ingin menggoda Reno. Melihat interaksi kedua orang kepercayaannya ini, rasanya sulit. Mereka terlalu formal kalau bertemu. Tidak ada pembicaraan lain, hanya seputar pekerjaan saja, tidak lebih.
“membayangkannya saja saya rasanya ngeri tuan, sepertinya dia wanita yang bisa membaca pikiran orang, bagaimana semua prediksi tentang lawan kita selalu bisa terbaca. Bahkan yang datang dengan tujuan tidak baik pun bisa diketahui hanya dengan melihat ekspresi wajahnya” laki-laki itu bergidig ngeri membayangkan kemarahan monica ketika lawannya ketahuan melakukan kecurangan.
“hahaha....” Fatih terbahak melihat ekspresi Reno
“maaf saya tertawa terlalu keras, sepertinya kamu tersinggung” ucap Fatih dengan wajah masih menahan tawa.
Semua yang dikatakan Reno tentang Monica benar adanya, tidak ada ketakutan dalam diri gadis itu menghadapi kecurangan dalam perusahaan. Siapapun lawannya. Bahkan, sekalipun orang itu punya pengaruh kuat dan disegani. Baginya, tidak ada pemakluman dalam kejahatan.
__ADS_1
Setahu Fatih, hanya satu yang menjadi ketakuan monica, telpon dari ibunya yang memintanya menikah. Ribuan alasan dilontarkan monica, meyakinkan wanita yang melahirkannya untuk tidak memaksanya memikirkan tentang laki-laki.
Tidak ada larangan dalam perusahaan yang mengatur karyawannya tentang pernikahan, asalkan semua pekerjaan sesuai dengan target, tetap menujunjung tinggi kejujuran. Tidak ada syarat lain yang mengatur urusan pribadi karyawannya. Dengan catatan, tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan urusan pekerjaan.
Keluar dari ruang rapat dengan langah tegap, tungkai panjang sang CEO diikuti monica dan Reno dibelakangnya. Rapat dengan investor dari dua negara berjalan dengan lancar, dan menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan ke dua belah pihak. Masuk kedalam ruangan dan menuntupnya kembali.
Hanya ada mereka bertiga didalam ruangan luas ini. membahas hasil rapat, dan evaluasi hasil kesepakatan yang tadi. Monica sebagai negosiator, lagi-lagi dapat diandalkan dengan baik.
Prediksinya tentang porspek usaha itu bisa terbaca beberapa tahun kedepan. Fatih dan Reno mengakui itu. sejauh ini wanita yang bertubuh mungil itu masih bisa diberikan kepercayaan penuh, itulah mengapa fatih tidak pernah ragu mempercayakan kekuasaan kedua kepada monica.
“saya bangga dengan kalian, setelah ini kita bisa melakukan rapat internal dengan devisi yang menangani proyek ini. untuk itu saya percayakan ini semua pada moninca, karena Reno tidak bisa selalu ada dikantor. Dia akan ikut saya urusan diluar” ucap fatih
“saya mengerti, terima kasih atas kepercayaanya” ucap monica hormat. Membereskan beberapa berkas yang sudah ditanda tangani sang tuan.
“kalau begitu, saya permisi untuk bertemu dengan masing-masing devisi” berdiri hendak berlalu
“tunggu sebentar,,,” suara Fatih mampu menghentikan langkah monica yang hendak keluar.
“Reno ingin menyampaikan sesuatu” lanjut sang tuan lagi
Gadis itu berdiri menunggu apa yang akan di sampaikan Reno, tatapannya lurus tanpa senyuman kearah laki-laki yang memakai jas hitam itu.
“ternyata otak mu tidak sekecil badanmu” Reno kelabakan sendiri dengan ucapannya. Bagaimana kalimat itu bisa meluncur begitu saja. tatapan tajam dari wanita yang mematung itu mampu membuat nyalinya menciut. Fatih tertawa, tapi Reno tidak siap akan berkata apa hanya bisa melongo dia tidak punya niat berbicara dengan monica sebelumnya, sampai sang tuan mengatakan itu tanpa bertanya dulu padanya.
“terima kasih, saya akan menganggap ini pujian meskipun ada unsur body shaming disitu” monica berlalu dengan hati yang kesal. Bagaimana Reno bisa mengatakan itu padanya.
Reno tampak seperti orang bodoh sepeninggal monica. Laki-laki itu menatap tajam sang tuan yang masih tertawa penuh kemenangan, dia seperti mendapat hiburan tersendiri.
“Kalau mau menjatuhkan saya didepan perempuan, harus ada pemberitahuan lebih dulu” tatapan Reno kesal, tapi percayalah kekesalannya tidak akan sampai ke hati
“setidaknya saya masih beruntung, tumpukan kertas tebal ditangannya tidak mampir di kepala saya” Reno kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
“kalau Tuan senang, saya tidak bisa mencegah” tatapan Reno sinis.
“sesekali ajak makan siang, sepertinya dia mulai didesak untuk menikah”.
“saya tidak mau dijadikan pengantin dadakannya, saya butuh wanita yang tidak bisa membaca isi kepala saya tuan , maaf. Semoga wanita itu mendapatkan laki-laki yang sama” keduanya terbahak.
__ADS_1
Terkadang memang butuh penyegaran setelah melalui banyak rapat yang memeras otak hari ini.