
“Abang berjanji akan mencintai istriku dengan sepenuh hati, akan melindunginya dengan segenap jiwa dan raga. Akan memastikan wanitaku merasa bahagia bersama Abang” Ucapnya penuh keyakinan. Belahan jiwanya sudah kembali. Dia tidak akan mengalami kesulitan tidur lagi di malam hari. Rumahnya akan kembali hangat, kebahagiannya sudah terasa sempurna sekarang.
“Abang terlalu mengada-ada” jawab wanita yang ada di dalam dekapannya.
“Darimananya?” Fatih bingung dengan jawaban sang istri. Inilah kalimat yang dia tahan selama berbulan-bulan. Kejujurannya justru dianggap mengada-ada. Apakah suaranya bergetar sehingga terkesan berlebihan, atau terdengar seperti sebuah ke bohongan belaka.
“Berbicara itu hanya perlu menggerakkan bibir dan lidah, tapi prakteknya sulit banget. Perlu menata hati dan pikiran dan waktu yang harus Abang korbankan. Sementara hati pikiran dan waktu abang harus dibagi dengan yang lain. Perusahaan Abang juga membutuhkan semuanya” Mata teduh itu menatap sang suami. mencari penjelasan. Dia ingin mendengarkan ketulusan bukan gombalan seperti anak muda.
“Mulai besok Abang yang antar Nisa ke kesekolah kita berangkat sama-sama. Semoga ini awal yang baik, Abang bisa memberikan banyak waktu buat istriku yang kritis” Mengusap kepala yang tidak tertutup hijab. Anisanya sudah mulai terbuka. Bahkan sekarang Anisa sudah tidak risih lagi membalas pelukan Fatih.
Seperti sekarang tangan kecil itu melingkar di lengan kanannya dengan kepala bersandar di dada Fatih. Duduk di balkon berdua diatas Sofa empuk menikmati pemandangan sore hari ibukota, memberikan kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Ditemani teh hangat dan buah kupas. Jus alpukat untuk Fatih mengingat perutnya yang masih menolak makanan kasar.
“Kata Wisnu, Abang nggak tidur sampai pagi” Tatapannya menerawang ke jalan. Kerlipan lampu mobil yang terjebak macet seperti hiasan taman yang indah pada malam hari. Pijarnya bak bintang yang berderet menampilkan kolaborasi cahaya yang indah.
“Apalagi yang diceritakan Wisnu?”
“Abang kebanyakan minum kopi hitam sampai kerja lembur nggak kenal waktu. Berkali-kali wisnu minta Nisa pulang. Katanya kasihan Abang. Tapi kan Nisa merasa tidak diinginkan. Sampai ahirnya Wisnu cerita bagaimana Abang memperjuangkan Nisa didepan Mama. Nisa terharu, tahu nggak. Tapi Nisa masih marah, karena Abang mengabaikan Nisa waktu keluar dari rumah Mama. Nisa pikir Abang memang bersedia menikah sama Irene”
“Apa Wisnu menceritakan kelemahan Abang sebanyak itu agar istriku membenci suaminya. Apa bedabah itu mempengaruhi Nisa agar menjauh dari Abang. Meninggalkan Abang dengan tega?” pertanyaannya hanya ingin memberi makan rasa penasaran yang menumpuk.
Fatih ingat betul bagaimana ucapan Wisnu terahir terdengar bijak tapi menyakitkan. Dirinya memang tidak mengenal Anisa lama seperti Wisnu. Fatih masih ingin tahu apalagi yang dilakukan Wisnu ketika istrinya jauh darinya.
“Wisnu peduli sama Abang, dia melihat dari sisi dirinya sebagai dokter dan sebagai adik. Berkali-kali Wisnu nyuruh Nisa pulang hanya karena tidak tega melihat keadaan Abang. Maafin Nisa sudah egois, sempat berpikir buruk tentang abang. Tapi Nisa janji mulai hari ini apapun yang terjadi Nisa tidak akan pernah pergi lagi, sepahit apapun hidup kelak kita akan hadapi, berdua saling menguatkan” Merapatkan pelukan kedalam dekapan suaminya. hangat dan damai yang belum pernah dia rasakan. Dia tidak ingin hari ini berlalu. Kesempurnaan hidup ada di depannya sekarang. entah apa yang ingin dia lakukan setelahnya tapi yang jelas. Dia ingin menghabiskan hidup bersama laki-laki yang telah memperjuangkannya dengan tulus.
__ADS_1
“Maafin Abang yang tidak tahu cara memperlakukan Nisa dengan baik, maafin Abang juga yang tidak tahu cara mengungkapkan perasaan sampai harus membuat Nisa berpikiran buruk. Terima kasih sudah memberi kesempatan, dan abang berjanji akan membuat Nisa bahagia sampai nanti Tuhan tak mengijinkan kita lagi untuk bersama” Mencium rambut sang istri lama dan dalam, menuangkan perasaannya dalam dekapan yang membuatnya tidak ingin terlepas. inilah hasil kerja keras dan kesabarannya menaklukkan hati wanita yang umurnya terpaut sangat jauh. Apapun itu bahagianya sudah dia rengkuh, hanya tinggal mempertahankan saja karena perjuangannya tak lagi sia-sia.
“Kalau Nisa terlalu kekanak-kanakan abang tegur ya, Nisa masih belajar untuk mengerti Abang” Ucapnya jujur.
“Tidak perlu melakukan apapun untuk mengerti Abang, jadilah seperti yang sekarang. atbang suka NtIsa yang manja, yang selalu bergantung hidup dengan Abang. Karena laki-laki akan merasa berharga ketika perempuan melibatkan suaminya dalam segala urusan. Abang ingin Nisa bergantung sepenuhnya sama Abang” Ada kelegaan yang menghampirinya. Beban dan ketakutannya sudah terangkat.
“Abang tahu?, semua yang ada dalam diri Abang mengingatkan Nisa pada Ayah” tatapannya menerawang jauh pada beberapa tahun silam, rasa nyaman itu sama. Detak yang dia rasakan juga tidak jauh beda. Dalam diri Fatih Nisa menemukan sosok Ayahnya. “Laki-laki yang tidak pernah memarahi Nisa, tidak pernah bersuara tinggi di hadapan Nisa. Selalu menujukkan wajah damai, sekeras apapun kehidupannya diluar sana semua itu Ayah buang jauh ketika sampai di rumah” Dadanya bergetar, matanya menghangat. Sudah berulangkali dia menyangkal tentang betapa banyak kemiripan antara suami dengan ayahnya. Nyatanya hari ini hatinya tak mampu lagi menahan perasaan, matanya mulai memanas
Fatih merasakan isakan pelan istrinya, tak bersuara tapi dia tahu kalau wanita dalam dekapannya ini sedang menangis. Setiap kali Nisa menceritakan Ayahnya,Fatih tidak ingin menyela, dia hanya ingin jadi pendengar. Fatih tahu betapa berharganya laki-laki itu bagi istrinya. Fatih ikut merasakan sesak mengingat begitu cepat Tuhan memanggilnya kembali disaat Anisa masih duduk di bangku SMP. Usia yang begitu masih haus kasih sayang seorang Ayah.
“Apa salah Nisa selalu berharap Ayah datang disaat-saat penting dalam hidup Nisa. Kelulusan SMP, SMA, sampai wisuda sarjana, Nisa selalu berharap Ayah menampakkan diri, tersenyum dari jauh walau hanya Nisa yang bisa melihat. Tapi harapan itu selalu patah, Nisa belum dewasa Tidak mengerti perpisahan. Lebih tepatnya Nisa benci perpisahan” Kembali hatinya seperti di remas. Yang dilakukannya memang konyol, tapi tidak ada seorangpun yang tahu. Dia hanya berharap di dalam hati keinginannya terwujud walau hanya satu kali.
“Tidak ada yang salah, setiap orang punya keinginan. Walaupun terkadang terdengar mustahil, tidak ada yang tahu kan, kalau suatu saat Tuhan akan mengambulkan walau entah kapan. Yang penting bersabar” Membelai surai panjang sebatas punggung. Wangi khas menyeruak kedalam idranya. Inilah saat yang paling dia nantikan. Mendekap erat dalam damai tanpa pembatas.
“Entah kebaikan apa yang pernah Abang lakukan, sampai Tuhan mengirimkan wanita seperti Nisa dalam kehidupan Abang. Wanita luar biasa yang sudah membuat Abang jatuh cinta teramat dalam. Bahkan bernafaspun rasanya sesak karena Abang terlalu bahagia”
“Tapi sayangnya, Nisa mencintai seorang pembohong”
“Oh, ya…”
“Abang membohongi Nisa berkali-kali. Selalu mengatakan masakan Nisa enak sampai menghabiskan dengan lahap. Padahal, pernah NIsa memberikan garam terlalu banyak. Bahkan pernah juga Nisa tidak memasukkan bumbu sama sekali. Abang memakan semua hidangan tak bersisa. Kenapa abang pintar sekali berbohong? ”
“Benar kata Reno, selain cinta itu buta. Cinta juga membuat lidah mati rasa” Fatih tahu, tentang itu semua. Beberapa kali dia makan dengan rasa garam yang kuat dan beberapa kali tanpa rasa sama sekali. Baginya bukan hanya tentang rasa makanan, tapi dia melihat perjuangan di balik terhidangnya sebuah makanan di meja makan. Apalagi ketika mengingat istrinya pernah tersiram air panas sampai tangannya melepuh. Tak sampai hati dia mau menegur. bukan tentang rasa makanan, tapi tentang perjuangan sangat istri yang bersusah payah turun kedapur. pekerjaan yang tidak pernah dia lakukan ketika masih belum menikah dengan dirinya.
__ADS_1
“bagi Abang semua yang di masak istriku adalah makanan paling enak, lebih enak dari restoran bintang lima sekalipun”
“Kenapa begitu?”
“Karena ada cinta dalam setiap hidangan yang tersaji”
Nisa tidak percaya kata itu meluncur begitu saja, dia menatap suaminya. tapi memang benar. Anisa tidak menemukan kebohongan. Tatapan mereka bertemu. Mengalirkan debaran yang tak biasa, rasa canggung tapi tidak ingin mengalihkan pandangan. Sampai ahirnya…
“Bang,,,” menepuk bahu suaminya pelan. Bibir mereka bertemu, hingga membuat debaran itu semakin menggila. Fatih tidak bisa berhenti, dia memulainya terlebih dulu. Bahkan tepukan dia dadanya tidak dia hiraukan.
“Abang mesum…” wajah Nisa memerah. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Ada suami mesum sama istri sendiri?” Tanyanya sambil menahan tawa. Melihat wajah malu-malu sang istri membuatnya semakin gemas. Salahkan atnisa yang terlalu pemalu, dan Fatih yang tidak bisa menahan diri melihat bibir merah itu menantangnya. Hingga dia tidak bisa mengendalikan diri.
Sekali lagi, mereka mengulang. Kali ini Fatih membawa istrinya diatas pangkuannya. Tidak ada penolakan, bahkan sekarang terasa lebih nyaman. Tangan Fatih memegang leher sang istri dan sebelahnya lagi berada di rahang sampai ke telinga. Sementara sang istri melingkarkan tangan di lehernya.
“Bang…makan malam…” Suara dari pintu menghentikan mereka. Mbok Sa berdiri kaku. “ Maaf…saya…hanya…” Ucapnya terbata. Dia tidak percaya dengan pemandangan didepannya. Dia segera pergi dengan tergesa.
“Nisa malu Bang…” Menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. mungkin setelah ini dia yang akan malu bertemu Mbok Sa. Ketahuan berciuman walau dengan suami sendiri bukan hal yang patut di banggakan. Apalagi Mbok Sa, yang setiap pagi mereka akan bertemu di dapur. Bagaimana dia harus bersikap nanti sudah terlanjur malu.
“Oh, ya…Abang justru senang. Biar Mbok Sa bisa ngadu sama Mama kalau kita sudah baik-baik saja” Ucapan Fatih mampu mengangkat wajah sang istri. Melihat wajah bingung istrinya Fatih tersenyum senang. “Mbok Sa itu sudah senang sama Nisa, makanya dia ingin kita seperti pasangan lain. Dia yang mengadukan semua sama Mama, bagaimana hubungan kita yang kaku. Semua yang kita lakukan Mbok Sa laporkan sama Mama. Sampai Mama bikin sandiwara itu. hanya untuk melihat apakah pernikahan kita karena cinta atau karena ada hal lain” Penjelasan Fatih bisa Nisa terima dengan baik.
Sekali lagi dia memeluk suaminya erat. Dan di balas belaian lembut dari sang suami.
__ADS_1