MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
NASEHAT RENO


__ADS_3

“Apakah aku pantas buat istriku Ren?” Pertanyaan yang di ajukan Fatih membuat Reno mengangkat wajahnya dari berkas yang sedang dia periksa. Di tatapnya wajah itu lekat. “Pernikahan kami baru enam bulan, tapi sudah berkali-kali dia menangis. Mungkin aku bukan laki-laki yang pantas” Bicaranya terdengar seperti menggumam. Tapi Reno mendengar dengan jelas. Karena jarak mereka hanya di batasi meja kerja di ruangan Fatih.


“Saya rasa tidak ada orang yan lebih pantas untuk Nona selain Abang” Sekarang Fatih yang menatap Reno. Dia mencari kejujuran di mata laki-laki didepannya.


“Apa yang membuatmu perpikir begitu” Menegakkan badannya, menunjukkan ke tertarikan pada pendapat Reno.


“Wanita itu mampu membuat Abang jauh lebih sabar, Abang rela Nona Nisa yang mengatur hidup Abang. Bahkan Abang sering merasa takut tidak bisa membahagiakan Nona Anisa. Wujud cinta terbesar adalah ketika kita selalu merasa kurang dengan apa yang kita berikan. Ketakutan itu ada karena perasaan cinta yang dalam” Menatap Tuannya lekat. “ Dari sekian banyak wanita yang pernah dekat dengan Abang. Wanita inilah satu-satunya mampu membuat Abang bertekuk lutut dalam artian yang sebenarnya. Membiarkan dia mengendalikan semuanya. Abang bahkan berani membantah Nyonya Maura. Kebiasaan yang tidak pernah Abang lakukan” Reno ingin meyakinkan bahwa tuannya benar-benar sedang jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Tapi mengapa masih ragu.


“Bagaimana kalau itu hanya obsesi dan rasa penasaran” Mencari pendapat lain, Fatih ingin meyakinkan apa yang dikatakan Ibu angkatnya benar atau tidak.


“Bang, laki-laki yang terobsesi pada perempuan tidak akan sepasrah itu. Perasaan terobsesi dan penasaran hanya sementara. Setelah didapatkan perasaan itu akan memudar dengan sendirinya. Abang berbeda, semakin hari semakin menunjukkan cinta seorang suami pada istrinya. Kami yang bekerja disini merasa lebih santai. Abang tidak mempermasalahkan hal-hal kecil. Bahkan kesalahan besar kami pun Abang terima. Di rumah utama semua pelayan memuji Nona NIsa. Abang sekarang lebih sering tersenyum pada mereka. Abang selalu mengikuti apa yang di katakan istri Abang” Suaranya berapi-api. Reno tidak ingin tuannya terprovokasi omongan Nyonya Maura. “Dan ketika Nona tersiram air panas. Kami melihat seolah Abang yang tersiram bukan istri Abang. Seolah Abang yang merasakan sakit lebih dari rasa sakit yang dirasakan istri Abang” Menarik nafas panjang setelah menuntaskan kalimatnya.


Kadang secerdas-cerdasnya orang kalau sudah kena Virus cinta, lumpuh otaknya. Nggak jalan logiknya. Fokusnya hanya satu wanita yang dicintainya harus nyaman dan bahagia. Dan Reno melihat semua asumsi itu benar adanya. Laki-laki di hadapannya ini meragukan perasaannya sendiri.


“Terus kenapa istriku nangis Ren?” Ya, Tuhan ingatkan Reno kalau laki-laki yang bertanya itu adalah atasannya. Jangan biarkan tangannya lancang memukul kepala Fatih dengan tumpukan laporan di hadapannya.


“Nangis bahagia atau sedih Bang?” Tahan,,,jangan sampai melewati batas. Tangannya terkepal menahan kesal. Anisa menangis saja Reno tidak tahu. Malah di suruh jawab mengapa istrinya menangis.


“Sedih Ren, dia bilang dia tidak pernah bisa membayangkan kalau pada ahirnya kami berpisah”


“Terus Abang mau melepaskannya begitu saja?” Untuk saat ini dia lebih baik di suruh menyelesaikan laporan perusahaan daripada harus menjawab pertanyaan manusia yang sedang kehilangan logika.


“Aku tidak akan mau melepaskannya. Aku juga tidak tahu harus bagaimana kalau perpisahan itu terjadi”


“Ya sudah, nunggu apalagi kejar Bang. Pertahankan. Abang sedang jatuh cinta. Kalian berdua saling mencintai. Ungkapkan, kalau saling diam selamanya tidak akan selesai” Mengeratkan rahangnya menahan gumpalan amarah. Mengapa manusia yang begitu pandai strategi dalam melakukan negosiasi dalam proyek besar tiba-tiba menjadi bodoh dalam urusan hati.


“Kalau nanti aku di tolak, istriku benar-benar minta pisah. Aku harus apa Ren”


“Abang kalau tidur berdua?” Di jawab dengan anggukan.

__ADS_1


“Pelukan?” lagi-lagi dijawab anggukan


“Nyaman?” Kembali kepalanya bergerak kkali ini Fatih eatas kebawah


“Apa Nona NIsa berontak ketika di peluk?” Kali ini Fatih menggeleng.


“Ahir-ahir ini dia senang kalau di peluk” Tatapan Fatih menerawang mengingat percakapan mereka terahir. Ketika Anisa bahkan enggan di suruh tidur hanya karena takut kehilangan rasa nyaman ketika tertidur. Senyumnya terbit sudut bibirnya melengkung.


“Berpelukan saja atau lebih?” Kembali Reno mengajukan pertanyaan.


“Mengapa pertanyaanmu lebih pribadi?” tatapanya tajam dengan mata melebar.


“Saya sedang mencari tahu Nona NIsa menangis karena sedih atau senang” Seandainya bisa Reno ingin keluar dari ruangan ini duduk di coffe shop depan kantor, menghabiskan secangkir cappuchino latte dengan penuh penghayatan agar tidak cepat habis. Paling tidak dirinya masih bisa tersenyum ketika ada yang menyapa walaupun senyum basa-basi. Dari pada didalam ruangan ini, rahangnya mengetat dari tadi menahan geram.


“Hanya berpelukan tidak lebih”


“Selama enam bulan?” Kuat banget ini manusia pikir Reno. Kemana perginya setan yang selalu menggoda urusan sy*hw*t. Bahkan setan pun lemah dihadapan Tuannya. Atau setan yang menyerah karena tidak berhasil melemahkan pertahanan mereka.


“Oh, saya pikir karena perusahaan ini salah satu ada yang bergerak bergerak dalam bidang teknologi jadi nanti membuat anaknya bisa dengan aplikasi khusus, begitu” Tumbang sudah kesabaran Reno. Menghadapi manusia jatuh cinta itu terlalu sulit. Apalagi model Tuannya.


“Apa maksudmu?” Tanyanya tajam. Urusan istrinya menangis dia tidak tahu. Giliran Reno bicara pelan malah didengar dengan jelas lengkap dengan maknanya yang bisa ditangkap jelas oleh tuannya.


“Cappuchino latte sedang menunggu saya di pantry, Bang” Berusaha kabur dari pembahasan yang menurutnya hanya menguras emosi.


“Keluar dari sini lembur dua hari kamu nanti. Selesaikan berkas ini sebelum jam lima” iya, iya…Reno hanya mengangguk pasrah.


Tiba-tiba terlintas ide dibenaknya, untuk membuat Fatih menyatakan cinta pada Anisa.


“Bang, Wisnu datang” ucapnya santai. Hanya kalimat berita biasa, tapi Reno tahu dampaknya.

__ADS_1


“Kapan dia datang. Kenapa nggak ngasih tahu. Terus proyek rumah sakit sudah selesai” Tiba-tiba Fatih merasa tidak nyaman dengan berita yang disampaikan Reno.


“Proyek rumah sakit selesai, datangnya hari ini. Pak Gani yang ngasih tahu. Dia yang jemput ke bandara” Masih dengan santai Reno berucap.


“Mau apa dia datang”


“Mengunjungi orang tuanya. Selama tuan wardhana pulang Wisnu baru bisa jenguk” Lanjutnya lagi. Dia berharap Fatih terpancing.


“Apa Nisa tahu?” Reno tersenyum di tahan pancingannya berhasil, umpannya ternyata bisa diterima.


“Mungkin nanti malam datang ke rumah Abang”


“Apa maunya anak itu, cih. Apa dia masih berusaha meluluhkan hati istriku. Tidak akan aku biarkan” Wajah Fatih memerah. Tangannya terkepal di atas meja.


“Saya sempat curiga ke sana Bang. Saya yakin Nyonya Maura cerita semua ke Wisnu. Makanya dia datang. Semacam mencari peluang” Reno mulai memperovokasi Fatih. Reno berharap usahanya akan berhasil.


“Peluang apa maksudmu?”


“Kalau hubungan Tuan sama istri belum ada kemajuan, saya yakin tidak ada seorang pun yang mampu menolak pesona dokter Wisnu. Apalagi istri Abang kan ingin menikah sama dokter, itu sih dulu nggak tahu kalau sekarang. Kondisi hubungan yang tanpa kejelasan akan memberikan peluang bagi orang lain untuk masuk dalam rumah tangga kalian”


“Si banci itu tidak akan bisa melakukannya. Bertahun-tahun menahan perasaan tidak mampu dia ungkapkan sampai bela-belain masuk kedokteran demi istriku, tapi dia terlambat Ren. Nisa sekarang sudah sah menjadi istriku” Dengan bangga Fatih emngucapkannya jangan lupakan senyum yang mengembang oenuh kemenangan.


“Jangan gampang menyebut orang lain banci, takutnya berbalik arah Bang. Kita tidak tahu kan ternyata Wisnu punya kesamaan sama Abang walaupn kalian tidak sedarah”


“Apa maksudmu menyamakan aku sama dia” Wajahnya berkilat penuh amarah


“Sama-sama tidak bisa mengungkapkan perasaan pada wanita yang dicintai”


“Tapi aku menikahinya”

__ADS_1


“Asumsinya Abang menikahi Nona karena obsesi itu yang orang lain tangkap” Reno merasa diatas anging “ bisa jadi nanti dokter Wisnu punya keberanian mengungkapkan cinta di depan semua orang” Tambahnya dengan menatap Fatih diam-diam. hanya ingin memastikan bahwa usahanya tidak sia-sia.


Fatih menggeram, rahangnya mengeras. akan dia lakukan apapun agar istrinya tidak pergi. tekadnya sudah bulat. malam ini akan dia katakan bahwa Anisa adalah miliknya.


__ADS_2