
Keduanya berjalan bergandengan menuju pantai, yang berjarak dua ratus meter. Setelah Nisa selesai membersihkan diri tadi. Terlihat sebuah tempat dengan alas berwarna putih di atasnya terdapat meja kecil dengan menu yang sudah siap menyambut kedatangan mereka.
“Siapa yang menyiapkan?” Nisa bingung, bagaimana mereka melakukan secepat itu.
“Pelayan restoran sebelah sana” menunjuk bangunnan berukir bambu dengan jejeran kursi yang mendekat ke pantai.
Senja, sudah siap menyambut mereka yang memang datang untuk berburu warna jingga menjelang matahari terbenam. Semilir angin menerbangkan kerudung Anisa. Tatapannya takjub pada cakrawala dengan warna keemasan. Matahari masih tampak sempurna. Sang surya siap menuju keperaduan.
Fatih melepas cangkang kepiting dan memisahkan dagingnya, kemudian meletakkan di piring Anisa.“Makanlah”
Wajahnya berbinar. Ini pertama kalinya makan kepiting tanpa usaha. Saus padang menjadi pilihan mereka.
“Enak, Abang tidak makan?” Tanyanya, dengan mulut menggembung sangat menggemaskan. Kalau saja tangannya tidak penuh dengan saus kepiting Fatih ingin sekali memegang pipi itu.
“Nanti kalau NIsa sudah kenyang” jawabnya kembali meletakkan daging kepiting dipiring Anisa.
“Enakan makan berdua, biar Nisa jadi ngerepotin Abang” Bibirnya berkerut,
“Nih, Abang makan juga” menyuapkan Nasi dengan saus berwarna merah ke mulut, Fatih mengunyah pelan. Dia bahagia melihat istrinya makan daging kepiting dengan wajah ceria.
“Pertama kalinya Nisa makan kepiting ada yang ngupasin” wajah cerah dengan bola bening yang sempurna menatap Fatih.
“Benarkah?” Anisa mengangguk, suaranya tidak keluar karena pipinya menggembung penuh makanan.
Hamparan pasir putih dengan cahaya air laut yang berwarna jingga, memantul bak cahaya bulan denga riak ombak. Angin semilir, menerpa wajah Anisa. Dia wanita penyuka senja. Tapi baru sekarang dia melihat matahari tenggelam dengan sempurna. Hingga sang surya mulai menghilang meninggalkan kegelapan malam. Suara Adzan berkumandang sayup sampai ke indranya.
“Lihat apa?” Acara makan sudah selesai. Fatih mencuci tangan, meninggalkan Anisa sendiri. kemudian kembali, dia melihat Anisa menatap senja dalam diam.
Entah dia yang terlalu menekuri pikirannya atau memang suaminya yang datang tiba-tiba, mengambil tempat duduk disebelahnya. Kaki yang terulur kedepan tangan kebelakang sebagai penopang tubuhnya.
Fatih melakukan hal yang sama, di tatapnya wajah yang menatap jauh kedepan. Baginya wajah itulah keindahan yang sesungguhnya. Sesempurna itu Tuhan, membuat pahatan indah di wajah wanita yang selalu membuat dadanya berdebar. Perpaduan bentuk mata, bibir hidung. Membuat keindahan yang sempurna.
“Nis…” Suaranya lirih, bahkan sangat lirih. Nisa mengalihkan pandangan. Suara Fatih memaksanya menegakkan badan. Mereka berhadapan, mata itu saling beradu. Katakanlah deburan ombak sebagai alunan musik senja. NIsa mulai berdebar, suaminya tidak seperti biasa. Laki-laki itu duduk bersila menghadapnya.
Tiba-tiba mengeluarkan kotak dari saku celananya.
“Maukah kau menjadi istriku” Dengan kepercayaan diri yang berusaha dikumpulkan, Fatih berkata dengan dada yang berdebar hebat. Membuka kotak berisi cincin polos tanpa ukiran tanpa ada hiasan apapun diatasnya.
__ADS_1
“Nisa istri Abang sekarang” Matanya membulat, Anisa tidak bisa membaca pikiran sang suami. Otak kecilnya di paksa berpikir. Tidak ada yang bisa dia tebak.
“Maukah NIsa menjadi istriku yang sesungguhnya” Tarikan nafasnya cepat, Fatih bingung. Ada banyak untaian kata yang ingin keluar tapi bibirnya tidak bisa.
“Menerima Abang sebagai Suamimu, Abang bukan laki-laki yang romantis, abang bodoh dalam mengungkapkan rasa. Abang tidak pandai merayu. Tapi akan berusah membuat Nisa bahagia” menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan setelah menuntaskan kalimatnya.
“Maafkan Abang memaksa NIsa menikah tiba-tiba, tapi hanya itu yang bisa dilakukan agar Nisa tetap berada disisi Abang. Tidak usah memaksakan diri membuka hati. Tetaplah tinggal disisi Abang. Itu sudah lebih dari cukup dari sekedar rasa cinta” Sekali lagi, tarikan nafas itu kuat.
Nisa masih menatap suaminya dengan bingung, bukankah hukum negara dan agama sudah mengakui status mereka, apalagi. Mengapa suaminya mengatakan keinginannya lagi. Bahkan cincin itu.
“Abang melamar NIsa?” Hanya itu yang NIsa tahu. “Buat apa, bukankah sudah sangat terlambat, kita sudah terikat dalam pernikahan yang sah” Tidak akan ada yang bisa menyangkal hubungan mereka. acara sakral yang dikemas sederhana disaksikan puluhan orang sudah lewat sebulan yang lalu.
“Nisa tidak suka?”
“Bukan, NIsa bingung”
“tinggal jawab ya atau tidak”
“Apa NtIsa punya pilihan?”
“Terus?”
Hening, kedua tangan Fatih menggenggam erat tangan sang istri. Netra mereka beradu. Debaran jantungnya tidak beraturan, Nisa memejamkan mata, ketika wajah Fatih semakin mendekat. Nisa merasakan hangatnya hembusan nafas di wajahnya. Sekarang bukan lagi debaran yang diarasakan, tapi jantungnya seolah ingin melompat keluar setelah benda kenyal itu menempel sempurna. Diam, tidak ada yang bergerak.
Tarikan nafasnya pendek, Nisa membuka mata setelah dia tidak merasakan apapun di bibirnya. Membuka mata, Fatih menunduk. Tapi tangan mereka masih bertaut.
Nisa yakin, suaminya baru saja melakukan hal di luar nalarnya dia hanya terbawa suasana syahdu senja pantai. Sekarang dia menyesali perbuatannya. Fatih melepaskan pegangan tangannya. Nisa semakin yakin bahwa yang baru saja terjadi memang benar sebuah kesalahan yang tidak disengaja.
Nisa salah, tangan Fatih melepaskan genggaman mereka. karena sekarang berpindah memegang kedua pipinya. Fatih mendekatkan wajah mereka kemudian memiringkan wajahnya. Sempurna, benar-benar penyatuan yang pas.
Matanya membuka lebar, dia pikir semuanya akan berahir nyatanya ini baru permulaan. Lebih dalam dan menuntut. Nisa tidak tahu harus apa, yang dia tahu. Nafasnya seolah terhenti. Debarannya lebih keras, Nisa yakin Fatih mendengarnya.
Penyatuan itu terlepas, Fatih menangkup wajah Nisa, mata mereka masih beradu. Jarinya bergerak mengusap kelopak indah yang basah karena perbuatannya. Tarikan nafasnya cepat. Dia ingin lebih, tapi nalurinya masih berfungsi. Dia tidak ingin istrinya merasa tersakiti karena dia yang memaksa.
“Kita pulang sekarang?” kecanggungan menyergap, Fatih membiarkan istrinya berjalan di depan. Ada rasa penyesalan yang dia rasakan. Lagi-lagi dia melanggar janjinya untuk tidak memaksa Anisa. Tapi otaknya tidak bisa diajak untuk berhenti. Bukankah seharusnya dia berhenti di percobaan pertama. Tapi rasa manis itu seolah menuntutnya untuk kembali menyatukan keduanya.
“Maaf” ditatapnya wajah Anisa yang masih menunduk ketika mereka sudah berada didalam kamar. Bisakah kata maaf mengembalikan semuanya. Salahkan dirinya yang tidak bisa mengendalikan perasaan. Melihat bibir dengan rona merah di bawah sinar senja yang temaram. Terlalu terbawa suasana hingga Fatih tidak bisa mengendalikan diri.
__ADS_1
“Tidak ada yang perlu di maafkan” Mereka hanya berdua di dalam kamar, rasa canggung itu terasa kental.
“Nisa Marah?” tidak ada jawaban, Fatih melihat kepala sang istri menggeleng. “Kenapa NIsa diam?”
“Apa?” memangnya dirinya harus bagaimana. Menyesal juga percuma semuanya terjadi. Diamnya kali ini karena menyembunyikan rasa malu yang luar biasa.
“Kenapa NIsa diam waktu abang cium” Ya Tuhan, ingatkan laki-laki untuk tidak membahas apa yang sudah mereka lakukan. Wanita tidak akan pernah suka. Rasa malu itu semakin menebal. Apa penting membahas pertemuan bibir mereka tadi.
“Nisa Harus apa?” Untunglah yang jadi lawannya, mahluk dewasa yang terjebak dalam tubuh anak remaja yang masih polos
“Biasanya bagaimana?” Sekarang Fatih yang salah tingkah, apa yang harus dia jawab.
“Pernah lihat Film romantis?
“Pernah”
“Kalau adegan seperti tadi biasanya gimana?” Malah membalik pertanyaan. menjadikan film sebagai panduan rasany sangat memalukan tapi mau bagaimana lagi, Fatih tidak mungkin menjelaskan detail dalam obrolan mereka
“Nisa pejamkan mata, telalu malu lihat adegan begitu, sampai selesai Nisa buka mata lagi”
Inikah yang mertuanya ceritakan bahwa NIsa tidak seperti orang dewasa, jiwa kekanak-kanakaan masih terlalu kental dalam dirinya. Tapi, apakah ukuran dewasa seorang perempuan diukur dari kemampuan dirinya mempraktekkan adegan romantis seperti di film.
Apapun yang Fatih dengar itu semua diluar perkiraannya. Wanita yang dia nikahi benar-benar polos, bahkan untuk adegan pembuka dalam sebuah hubungan pun dia tidak mengerti. Bukan salah NIsa, setiap orang punya kebiasaan unik dalam menjiwai perannya.
Fatih duduk disamping sang istri, kembali dia memegang kedua pipinya. Dia akan mengulang, hingga Nisa bisa mengimbanginya. Dari yang pertama hingga kedua tidak ada penolakan, kan. Itu artinya Nisa setuju.
“Bang, maghrib” Nisa kembali merasakan hembusan hangat di wajahnya, hingga ingatannya kembali sebelum sebelum kembali terlena.
Wajah Fatih pias, tinggal sejengkal lagi bibir itu akan kembali beradu . Ternyata orang jatuh cinta juga bisa lupa waktu. Padahal dia mengajak Anisa pulang untuk shalat.
Melepaskan pagangannya, beranjak ke kamar mandi dengan langkah cepat. Kalau bisa ingin rasaanya dia menghilang. Apakah mesum dia nampak seperti laki-laki mesum?. Bagaimana kalau setelah ini Nisa akan membencinya karena tidak bisa mengendalikan diri. Fatih hanya ingin NIsa menjadi miliknya secara utuh, hanya dengan cara itu istrinya akan memberikan hatinya. Dia ingin meruntuhkan dinding keraguan di hati Anisa.
****
maaf, author kesulitan bikin adegan begini... jangan salahkan author..
selamat membaca semoga suka
__ADS_1