
Memasuki sebuah cafe di pusat kota, ada enam orang laki-laki yang sedang berkumpul disana. Reno salah satu dari mereka. Dengan tampang yang tidak bisa dibilang pas-pasan dan penampilan yang elegan.
“selamat datang tuan CEO kita, dia adalah contoh pengusaha sukses” seorang dari mereka berdiri menyambut dengan penuhdan candaan, suasana santai di sebuah cafe tengah kota . Yang lain ikut menoleh. Mereka adalah perkumpulan pengusaha muda. Dari berbagai macam bidang usaha. Pertemanan yang terjalin dari sebuah asosiasi berlanjut menjadi teman untuk sekedar hangout untuk menghilangkan penat setelah pekerjaan usai.
“ada apa dengan wajahmu, nggak enak banget dilihat. Mana wajah dingin yang selalu berwibawa. Kusut kayak baju belum disetrika” seorang lagi menimpali. Fatih duduk di kursi yang masih kosong.
Reno melihat sang tuan mulai tidak enak hati. Dia yang tahu kemana tuannya sebelum ini. Dia hanya mampu mendesah pelan, dia yakin ada sesuatu yang menggagnggu pikiran tuannnya. Apakah makan malamnya tidak berjalan lancar, atau sang gadis tidak datang sesuai janjinya. Berbagai pertanyaan berkelabat di kepala Reno. Ada sedikit penyesalan dalam dirinya mengapa tidak mengikutinya tadi, setidaknya dia bisa mengatasi hal-hal seperti itu . Ingin menikmati makan malam berdua karena ajakan kencan pertama sang wanita menjadi alasan Fatih tidak membawa Reno. Tapi laki-laki itu tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak ingin menanyankannya sekarang tempatnya tidak memungkinkan.
“kenapa diam, sariawan” Fatih masih terdiam, Dia sebenarnya malas bertemu mereka. Tapi tidak ada salahnya sesekali bersantai seperti ini. Bertemu mereka juga hiburan tersendiri. Terkadang Fatih merasa bosan dengan dunianya yang hanya seputar laporan, meeting cek lokasi, bertemu klien. Candaan dan celetukan mereka kadang menjadi hiburan tersendiri baginya.
Mengambil minuman yang ada di depannya. Jangan di bayangkan minuman beralkohol, tentu tidak. Mungkin teman-temannya akan memesan minuman itu, kecuali ketika ada Fatih. Mereka yang hafal betul dengan kawan yang satu ini, dengan perjalanan yang tidak mudah untuk berada di pencapaiannya sekarang. Maka dia tidak ingin menodai perjuangnnya dengan hal-hal yang dapat merusak dirinya. Itulah prinsipnya, dan teman-temannya menghormati itu.
“itu minuman wisnu, tapi belum diminum sih, orangnya keburu kabur” Tristan menanggapi ketika melihat Fatih gelas dihadapannya dan mendekatkan ke bibirnya.
“oiyah, kemana Wisnu” tanyanya, diantara mereka memang Fatih tidak melihat laki-laki itu. Bukankah di grup chat tadi Wisnu janji akan datang
“panggilan dari rumah sakit ada urgent katanya, dokter memang gitu hidupnya untuk orang banyak” masih Tristan yang menanggapi.
“yang lain itu sudah punya pasangan, kamu kapan, hidupmu itu sudah sukses nunggu apalagi?” Rendra menasehati dia seolah sedang membagi pengalaman hidupnya. Laki-laki ini memang baru saja menikah, hari-harinya sedang diliputi kebahagiaan, atau lebih tepatnya sedang mengalami manisnya madu pernikahan.
“masih berjuang, doain dong” timpal Fatih, mendapat tatapan tidak percaya dari yang lain
“wah kabar bagus nih, teman kita yang satu ini sudah move on rupanya” Rendra paling vokal diantara mereka. Yang lain tersenyum menanggapi, kehidupan Fatih memang yang paling menarik. Tidak pernah dekat dengan perempuan setelah hubungannya Dea, cewek yang diputuskan secara sepihak oleh Fatih ketika di Bali dulu. Diputuskan tanpa alasan hingga membuat wanita itu tidak terima.
“ kenapa masih berjuang, memang ada perempuan yanng tidak tertarik dengan seorang Fatih, jadi ingin tahu seperti apa wanita itu, kalau perlu akan aku berikan penghormatan padanya” laki-laki yang biasa di panggil Bagas itu paling antusias.
“ Fatih itu hanya butuh senyum untuk menalukkan cewek. selesai, terbang nggak tuh cewek kalau sudah disenyumin” lanjut Tristan.
__ADS_1
“yang ini beda, saya lebih suka dikejar daripada yang mengejar. Bikin penasaran” sanggah Fatih
“keluarganya sudah aku pegang tinggal ceweknya saja, entah kenapa dia kayak nggak suka gitu lebih tepatnya kayak benci sama aku” lanjutnya lagi, sambil menyesap minuman yang ada di dalam gelasnya. Tatapannya menerawang membayangkan wajah Anisa dengan penuh kebencian menatapnya.
“ ada cewek begitu, sumpah aku jadi penasaran seperti apa wajahnya” Daniel memegang dagunya, tatapannya menerawang membayang wanita yang sedang diperjuangkan Fatih
“Dia wanita sederhana tapi istimewa” seolah menjawab rasa penasaran Daniel
“woww...ada yang sedang memuji, aku rasa ini bukan hanya tertarik biasa, tapi senior kita ini sudah mulai jatuh cinta rupanya” yah, diantara mereka Fatih memang paling tua, tapi itu tidak pernah menjadikannya jumawa. Baginya pertemanan tidak ada batasan usia, selagi nyambung maka itu bukan penghalang.
“apakah dia model, atau anak pengusaha atau rekan bisnis kita. Katakan siapa” Rendra mencoba mengulik informasi tentang wanita itu.
“jangan bayangkan terlalu tinggi, dia tidak termasuk dalam kategori yang kau sebutkan tadi” tatapan itu diarahkan untuk Rendra, kemudian pandangannya beralih pada minuman di atas meja di hadapannya. Sekali lagi dia menyesapnya. Sebenarnya minuman ini bukan selera Fatih, tapi mau bagaimana lagi dia malas memesan minuman yang lain. Minum bukan karena haus, dia seolah ingin minuman itu bisa menghilangkan kegundahannya.
“Dia guru di sebuah sekolah SMU Negeri” semua mata yang ada di meja itu menatap tajam ke arahnya, kecuali Reno. Fatih bergeming. Dia membalas tatapan teman-temannya satu persatu dengan wajah bingung. Apa yang salah dari ucapannya, atau apa yang salah darinya.
“ Tunggu apalagi kawan, kalau memang dia sudah mengambil seluruh hatimu, ikat dia dengan kencang, jangan sampai lolos” Bagas memberikan saran
“Dia masih membenciku” tatapan Fatih sendu
“apa dia tahu siapa abang” kejar Bagas
“Dia tahu aku pemilik perusahaan, aku dan abangnya bersahabat dari jaman kuliah” terangnya, membuat mereka yang ada dimeja itu saling bertatapan
“Kalau begitu tunggu apalagi, lamar dia. Kalau perlu langsung nikah saja. Jangan lama-lama mikirnya. Ingat umur” Rendra tidak sabar ingin mendengar reaksi Fatih
“rasanya tidak mungkin maksa dia, aku inginnya dia juga mengingankan untuk menikah denganku” suaranya melemah, Rasanya hubungan itu sulit mengikuti saran temannya.
__ADS_1
“apa dia punya pacar” Tanya Tristan
“baru saja putus”
“orangtuanya setuju, abangnya sahabat, nunggu apalagi, aku kenal kamu bang. Jadi kalau menurut saranku nih ya, lamar aja atau nikah langsung. Abang bukan laki-laki yang mau ngajak anak orang sembarangan, kalau abang serius tunjukkan. Soal perasaan gadis itu, saya yakin dia akan berubah pikirang setelah tahu bagaimana sifat abang yang sebenarnya” Fatih terhenyak, yang menasehatinya jauh lebih muda dari usianya, tapi pemikirannya sangat matang. Benarkah dia akan melakukan itu. Memaksa Anisa bersanding dengannya, menjadi pendamping hidupnya dengan paksaan
“abang takut tidak bisa membahagiakannya, masuk kedalam hidupku itu sulit. Bagaimana kalau dia menderita karena di paksa” tatapannya memang ke arah Rendra tapi pikirannya menerawang jauh masuk kedalam bayangan tentang bagaimana penolakan Anisa padanya, mampukah dia melindungi gadis itu nantinya. Mampukah tangan itu menghapus air matanya atau justru dia yang akan membuat air mata itu terjatuh.
“yakinlah semakin kamu takut tidak bisa membahagiakannya, aku yakin kalau hatimu benar-benar serius. Perjuangkan dia, gadis itu sudah mengambil seluruh hatimu. Entah sejak kapan dia berkuasa disana” saran Rendra dengan waja serius.
“Dan aku belum pernah melihatmu selemah ini pada wanita, aku yakin wanita itu benar-benar berharga, meskipun aku belum tahu siapa dia” Tristan yang dari tadi hanya menjadi pendengar, ahirnya bersuara. Menepuk bahu Fatih, semua yang ada di meja itu memberikan semangat dengan pendapatnya sendiri.
Malam mulai beranjak, pertemuan dengan teman-temannya itu sudah selesai. Mereka bubar tanpa menunggu Wisnu. Tapi nasehat mereka masih tertinggal di kepala Fatih. Tiba-tiba dia teringat dengan nasehat Rendra, menikahinya tanpa menunggu Anisa setuju atau tidak. Fatih diliputi ketakukan. Apakah Nisa akan bahagia disampingnya, menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya kelak. Bukan masalah materi, tapi kenyamanan dan kebahagiaan Anisa lah yang menjadi prioritas ketakutan Fatih. Berulang kali nafas panjang dia tarik dan menghembuskannya perlahan. Hatinya semakin gundah, cemas tak berkesudahan.
Semua itu tidak luput dari pandangan Reno, melalui kaca spion yang ada didepannya dia sesekali melirik sang tuan, seolah bisa membaca hatinya. Mobil hitam itu berjalan pelan, tak ingin mengganggu Fatih dari lamunannya. Mobil berhenti, tapi yang di jok belakang belum menyadari kalau mereka sudah sampai di tempat tujuan, seolah tuannya masih hidup didalam angannya.
Sampai ahirnya Reno membuka pintu mobil, Fatih terperangah menatap Reno dengan bingung.
“kita sudah sampai dari tadi tuan” menunduk dengan hormat. Fatih keluar dengan langkah lebar, tergesa masuk kedalam dengan diam. Dia ingin segera sampai didalam kamarnya. Berendam mungkin akan sedikit mengurangi beban pikirannya. Sebelum kaki itu mencapai anak tangga tiba-tiba pikirannya berubah.
“Ren...” memanggil Reno dengan membalikkan badannya cengan cepat
“ya tuan,,,apa ada yang masih harus saya kerjakan” jawabnya sambil mentap tuannya sesaat sebelum ahirnya dia menunduk.
“mau kah kamu membantuku” tiba-tiba pertanyaan itu terlontar, Reno bingung ada apa sebenarnya dengan tuannya bukankah selama ini dia selalu membantunya
“saya pasti akan membantu, tapi ini sudah malam, tuan butuh istirahat. Kita bisa membicarakannya besok pagi. Selamat istirahat tuan” dengan hormat Reno mengucapkannya. Sang asisten tahu ada hal yang sedang mengganjal pikirannya. Tapi dia juga tidak tega melihat wajah lelah tuannya. Untuk saat ini dia juga butuh istirahat. Tidak akan ada permasalahan yang bisa diselesaikan dengan baik kalau keadaan sang tuan terlihat sangat letih.
__ADS_1