
Minggu pagi, Ida dan Indira sudah sibuk bersiap meskipun matahari belum terbit. Kegaduhan terjadi di kamar mereka. mereka berdiri di depan cermin ketika Ibu masuk.
“Ajak kakak Iparmu sekalian” Perintahnya ketika kepalanyamenyembul di pintu.
“Belum bangun Bu, sungkan yang mau bangunin” ida uang jawab. Gadis itu sudah berusaha membangunkan kakak Iparnya tapi takut mengagnggu. Jadilah dia hanya mondar-mandir di depan kamar sang Abang.
“Nggak bilang abangmu, dia kan tadi baru pulang dari masjid” Ibu melihat ketika Fatih baru pulang langsung masuk kamar. Biasanya dia akan duduk di dapur menunggu teh hangat dan pisang goreng buatan Ibunya. Tapi sejak keberadaan Anisa Fatih selalu langsung masuk kamar setiap kali datang dari luar.
“Telat Bu, abang sudah masuk habis itu pintunya di tutup lagi” Itu yang Ida lihat, bahkan kebiasaan abangnya juga jarang menutup pintu sudah berubah.
“Gitu saja nggak bisa, biar Ibu saja” Suara Ibu ketus, sebelum ahirnya melangkah meninggalkan kamar kedua putrinya.
“Bang,,, Boleh Ibu masuk?” Ketukan pintu disertai panggilan. Membaut Fatih terperanjat. Dia yang terbiasa memandang wajah sang istri seperti biasa, bergegas turun dari kasur. Apalagi setelah melihat Anisa merenggangkan badannya.
“Bang,,,ngapain sih,,,” Kembali ketukan itu terdengar, Fatih buru-buru mendekat ke pintu. Membuka kunci sebelum panggilan sang bu lebih keras.
“Bang,, itu suara Ibu ya?” Nisa bersuara dari kasur. Sekarang istrinya sudah duduk sambil mengucek matanya. Fatih hanya mengangguk. Dia kembali berjalan ke pintu.
Nisa masuk ke kamar mandi, terlambat. Ibu sudah berdiri di depan pintu yang terbuka. Menatap bingung pada anak dan menantunya. Otaknya berpikir keras, tapi entah apa yang membuatnya bingung.
Fatih menatap Ibunya sejenak kemudian menunduk.
“Nisa baru bangun, Abang yang tidak membangunkan. Jangan salahkan Nisa. Abang yang tidak becus jadi suami” Suara rendah Fatih penuh penyesalan. Di tatapnya Ibu yang masih mematung.
Ada banyak hal yang Ibu tidak bisa mengerti. Tapi apa. Kebiasaannya dan kebiasaan menantunya di pagi hari bukanlah yang bisa disamakan. Bukan tentang bangun kesiangan, ibu memaklumi mereka karena masih pengantin baru.
“Nisa kalau mau ikut ke CFD di tunggu tuh” di tengah tumpukan tanda tanya yang ada dikepalanya Ibu mengatakan niatnya. Untungnya dia masih ingat.
“Tunggu di bawah, Nisa masih siap-siap” Fatih tahu, dia dan istrinya membuat kesalahan di pagi hari. Ibu adalah orang yang paling tidak suka ada anggota keluarganya bangun kesiangan dengan alasan apapun. Itulah sebabnya, dirinya selalu bangun sebelum adzan berkumandang.
“Ibu sampaikan” Dengan gamang ibu melangkah pergi. Tidak ada senyum seperti biasa. Wajah kecewa tergambar jelas disana. Kalau tidak ada Anisa sudah dari tadi ibu akan mengomel panjang dan lebar. Fatih akan tahu kemana arah pikiran sang Ibu.
“Bu,,,maaf” Suaranya tak kalah menyesal. Fatih tahu Ibunya menyimpan kemarahaan yang sangat besar. Melihat ibu hanya menoleh sekilas bertambahlah rasa bersalah didadanya. Setelah sekian lama, baru kali ini dia melihat wajah kecewa Ibunya.
Berjalan dikeramaian kota, dengan kondisi berdesakan di pusat kuliner di hari minggu. Nisa bisa melihat keindahan taman bunga yang Ibu ceritakan. Berhadapan langsung dengan situs budaya yang terkenal, masjid jamik dan museum. Sayangnya Nisa tidak bisa masuk melihat benda bersejarah disana karena bukanya masih jam delapan.
Ada beberapa kuliner yang membuat perut meronta untuk diisi, dengan harga yang sangat murah menurutnya. Fatih berjalan dibelakang mereka. sesekali melihat sang istri tertawa lebar, terkadang menyimak penjelasan kedua adiknya dengan wajah serius.
Ada beberapa makanan unik yang Nisa baru tahu, kaldu sapi dengan campuran kacang hijau. Campur, potongan daging sapi yang dimasak dengan santan di tambah bumbu kacang tanah dengang aroma kuah dengan bumbu yang kuat. Dan masih banyak lagi Nisa tidak bisa menjelaskan semua.
“Fatih kan?” seorang ibu paruh baya menyapanya. Setelah pandangannya bertemu dia mengenali wanita itu. Fatih tersenyum ramah. Kemudian mencium tangan wanita dihadapannya. “Masih sendiri kamu?” wanita bermulut tajam Fatih mengenalnya, dia akan mengeluaran semua yang ada di kepalanya tanpa saringan.
“Saya sudah menikah tante” Sapanya dengan sopan, wanita yang memakai baju olahraga karena kelihatannya habis ikut senam massal tadi, bajunya terlihat basah dibeberpa bagian.
“Baguslah, tante jadi penasaran seperti apa wanita yang bersedia menjadi istrimu” wajahnya mulai sinis. “Untung saja, Lusi tidak jadi menikah sama kamu. suaminya sekarang bekerja diperusahaan luar negeri jabatannya manager. Gajinya tiga puluh juta sebulan. Belum lagi bonus bulanannya. Dibanding kamu sih tidak ada apa-apanya” lanjutnya mulai melancarkan lidah tajamnya. Ayam geprek level paling gila pun kalah dengan pedasnya kalimat wanita dihadapannya.
Fatih hanya tersenyum, dia tahu beberapa pengunjung mulai memperhatikan mereka. Melangkah pergi begitu saja tidak mungkin, ada rasa hormat dan sopan santun yang menjadi taruhan. Fatih memlilih mendengrkan saja.
__ADS_1
“Semoga Lusi bahagia dengan suaminya, saya permisi tante” hendak berlalu tapi urung, karena dia melihat Aisa dan adiknya mendekat dengan beberapa bungkusan makanan di depannya.
“NIsa sudah selesai Bang” Wanitanya berkata dengan wajah polos. Usahanya gagal menyembunyikan Anisa dari ibunya Lusi. Dia yang dulu mendekati ibunya agar mau menjodohkan mereka. pada ahirnya harus gagal karena ibunda Lusi tahu Fatih seorang pengangguran. Setidaknya itu cerita yang didapatkan dari Ibunya.
“Jadi ini istrimu, cantik. Tapi kasihan punya suami pengangguran” Mata Anisa terbuka lebar, kata pengangguran yang masuk ke rungunya membuatnya heran. Ingin dia mengatakan siapa laki-laki yang sedang berada dihadapannya sekarang. bahwa dialah pemilik perusahaan minuman kemasan botol yang sedang di pegang wanita ini.
“Bang,,,,” Anisa menatap suaminya yang masih bisa tersenyum di hadapan penghinanya.
“Kami permisi tante…” Fatih berlalu dengan menggandeng kuat tangan istrinya. Wajah bingung Anisa masih tercetak disana.
“Percuma Kak, mau bicara apapun tetap salah. Dia itu kalau sudah keluar kandang tidak sedikit mulutnya menyebar racun. Apalagi kalau sama keluarga kita. lebih tajam lagi” Indira memberitahu Anisa setelah mereka didalam mobil.
“Mengapa abang diam saja…?” pertanyaan yang masih mengganjal di benak Anisa. Bisa saja kan suaminya mengatakan dengan membalas keangkuhan wanita tadi, biar bisa bungkam.
“Siapapun yang bertemu Abang disini, mereka sedang menunjukkan sifat aslinya. Uang bisa merubah watak seseorang dalam sekejap. Abang lebih suka mereka yang jujur, tidak peduli siapapun Abang, mereka tetap baik. Nisa kebayang nggak kalau Abang bilang yang sesungguhnya?” Fatih membalik pertanyaan itu kepada istrinya.
“Langsung jadi baik kak, kalau perlu dia yang menyodorkan diri jadi istri Abang” mereka berempat tertawa lepas. Rasa kagum itu semakin besar di dadanya. Bangga dengan sikap rendah diri Fatih.
“Dia kan kalau cari menantu yang dilihat ketebalan dompetnya, ukuran rumahnya. Terus jenis kendaraannya. Padahal, rental mobil sekarang sudah keren-keren mobilnya kak” Kata-kata Ida menambah riuhnya tawa mereka. Nisa paham, mengapa suaminya tidak menampakkan siapa dirinya ketika pulang. Nisa yakin orang-orang seperti wanita tadi hanya sebagian contoh kecilnya. Bisa saja yang lain masih banyak.
“Keterlaluan Fatih, apa dia sudah tidak menganggap aku sebagai ibunya. Sudah empat hari disini tapi tidak mengunjungiku. Apa kamu tidak mengajari anakmu itu. mentang-mentang sudah punya istri dia lupa sama kita Pak” Terdengar keributan dari dalam rumah ketika Fatih baru turun dari mobil. Dia hanya menari nafas panjang, menenangkan Anisa yang wajahnya ketakutan. Nisa belum terbiasa dengan keluarganya yang berbicara dengan nada sangat keras.
“Nah, ini dia” Bapak menghampiri Fatih, di tariknya kuping anak angkatnya itu. “ Mengapa tidak mengunjungi kami, keterlaluan”. Laki-laki tua itu tidak peduli dengan wajah kesakitan Fatih
“Ampun Pak. Fatih nanti mau mampir kalau mau pulang sekalian” Memegang tangan yang menarik telinganya, rasa Panas dan sakit menjalar. Tapi Fatih tidak berontak karena dia salah.
“Kalau bukan Fira yang ngasih tahu kalau kamu pulang, mungkin kamu akan tetap melupakan kami” Ucapnya masih dengan nada tinggi.
“Kami minta maaf, tapi lepasin dulu kuping Abang Pak” Fatih merintih. Sampai ahirnya tangan tua itu terlepas merah di kupingnya dengan rasa terbakar. Fatih mengusapnya pelan.
“Kasihan Abang, sakit ya Bang, padahal pengen makan cumi masakan bibi belum kesampaian sudah kena marah. Sabar ya Bang” Indira paling tahu kelemahan dua orang yang masih diliputi kemarahan. Mereka tidak akan lama, setelah tahu makanan kesukaan Abangnya Indira yakin mereka akan melunak.
“Ibu sudah bikinin, itu ada di meja. Ayo makan” Ampuh, caranya melunakkan amarah kedua orang tua Syafira berjalan mulus. Berjalan beriringan menuju meja makan.
“ Abang itu banyak banget yang sayang. Kakak jangan takut. Kalau Abang macam-macam mereka yang akan maju membela kakak lebih dulu” Bisik Indira Pada Kakak iparnya. Nisa hanya membalas dengan senyuman. Nisa tahu, suaminya berhak mendapatkan cinta yang melimpah, karena kebaikan budi, dan sifat rendah dirinya.
“Berangkat sekarang Bang?” Melihat putranya sudah siap dengan satu koper yang ditarik dari atas tangga.
“Iya, biar bisa lihat matahari tenggelam disana Bu,” Tanpa mengalihkan pandangan dari koper yang sedang di tariknya.
“NIsa, jangan lupa bawa obat nyamuk oles. Menjaga-jaga kalau tidak ada yang spray dan elektrik. Nyamuknya lumayan besar meskipun sudah dikasih tanaman penangkal nyamuk.” Jelasnya, Nisa hanya mengangangguk. Tanaman serai dan bunga lavender yang di kenal ampuh mengusir nyamuk, ahir-ahir ini sudah mulai kewalahan. Jumlah binatang kecil penyebab penyakit demam berdarah itu sudah mulai tumbuh dengan baik, menjelang musim pancaroba. Mereka berkembang biak dengan cepat.
“Ida, sama Indira mana Bu” tanyanya.
“Biar kalian berdua saja, mereka Ibu larang ikut. Biar tidak mengganggu”
Nisa menatap Fatih, dirinya kecewa. Rasanya akan lebih seru kalau mereka ikut. Rencana mau mandi air laut dan berburu kerang kandas sudah.
__ADS_1
“Selamat bersenang-senang Kak, kami tidak ikut. Kata Ibu, takut jadi obat nyamuk” keduanya terkekeh geli. Mereka juga heran mengapa sang Ibu tiba-tiba berubah pikiran. Apa boleh buat, mereka tidak bisa membantah, kan.
“Kalau rame kan enak” NIsa masih berharap mereka berubah pikiran.
“Lebih enak berdua, iya kan Bang” Kedua adiknya menggoda Fatih. Seperti biasa, laki-laki itu hanya diam tanpa ekspresi.
Melihat wajah kecewa di wajah istrinya Fatih merasa tidak enak, rencana yang semula liburan ramai-ramai ternyata harus berubah total. Fatih bisa membayangkan jika berada di posisi sang istri, pasti akan canggung nantinya. Apalagi hanya berdua.
“Jangan sedih Kak, Abang jagonya menyelam, suruh dia berburu ikan laut” Indira melihat wajah sendu Anisa tidak bisa berbuat apa-apa.
“Jangan lupa, ini kasih Pak Yono sama istrinya. Sampaikan salam Ibu” Menyodorkan tempat berisi makanan. Yang di maksud ibu, adalah oarnga yang menjaga rumah mereka.
“Kami berangkat Bu” Keduanya berpamitan. Kemudian bergegas masuk kedalam mobil. Setelah Fatih memasukkan koper mereka terlebih dulu. Mobil berjalan perlahan meninggalkan halaman rumah.
Menuju ke pantai sembilan, seperti janjinya pada sang istri. Anisa terdiam Fatih menatap penuh iba. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
“Nisa suka makan seafood?” Tanyanya memecah keheningan.
“Suka” Jawabnya singkat, tanpa mengalihkan pandangan dari jendela.
“Apa yang paling Nisa suka?”
“Semua, terutam kepiting dan udang, hanya saja Nisa tidak bisa membuka cangkangnya” Itu jawaban jujur, tapi yang dia heran. Mengapa tidak ada rumah makan yang menyediakan menu kepiting yang sudah di kupas.
“Oke, kita pesan itu nanti. Biar Abang yang kupas buat Nisa” Fatih menciba menghibur.
“Benarkah?” Berhasil, Anisa mengalihkan pandangannya dengan wajah berbinar ke wajah Fatih. Keduanya tersenyum. Cangkang kepiting mampu mengemabalikan mood Nisa.
Setelah menempuh perjalanan darat lema belas menit kini mereka harus menaiki kapal sekitar sepuluh menit lagi untuk mencapai ke pantai sembilan.
Bagi Nisa, ini pertama kalinya dia naik perahu yang hanya muat tiga mobil dan beberapa sepeda motor saja. Tapi itu meberikan pengalaman yang dia akan pernah dia lupakan. Apalagi, Fatih yang selalu menggenggam tangannya jika perhau bergoyang di terpa angin. Ketika wajah panik Anisa terlihat. Fatih akan lebih erat menggenggam tangan itu.
Semua fasilitas itu sudah Fatih siapkan jauh sebelum keberangkatannya dengan privat trip. Semua transportasi pakai yang eksklusif.
Ahirnya perahu bersandar di dermaga. Sebuah Mobil Jeep sudah menunggunya. Karena menuju ke tempatnya harus menempuh perjalanan yang lumayan. Jalannya tidak seramah jalanan Ibu kota. Beberapa kali terlihat tanjakan. Tapi jalannya sudah lumayan bagus. Kondisi aspalnya terlihat baru.
Mobil berhenti di sebuah rumah klasik bergaya jaman kolonial, rumah yang masih mempertahanakan bentuk aslinya dengan cat yang berwarna kuning muda. Masih terlihat sangat terawat. Halaman ditanami jenis tanaman palem, orang menyebutnya mawar jambe dengan daun yang cukup lebat. Kerikil tertata dengan rapi. Pohon mangga besar terlihat di sudut halaman
Nisa masih memandangi bangunan dengan pagar hanya sepinggan orang dewasa. Pantainya memang tidak terlihat, tapi suara deburan ombaknya jelas tertangkap di telinga. Benar-benar sempurna untuk sebuah rumah hunian yang damai.
“Sudah sampai, kita turun” Suara suaminya menyadarkan Nisa dari lamunan. Mobil mereka sudah parkir di halaman, seorang laki-laki paruh baya setengah berlari kearah mereka ketika Fatih mulai menurunkan barang dari bagasi.
“Maaf, tidak dengar suara mobil Tuan, saya di belakang tadi” Buru-buru mengambil koper dari tangan Fatih.
“Tidak apa-apa pak Yono. Ini ada titipan dari Ibu” Menyerahkan rantang berisi makanan, sekaligus Fatih menyampaikan salam dari Ibunya. Laki-laki yang sudah mengabdi selama lima tahun ini memang sangat patuh. Bukan karena alasan imbalan jasa yang di terimanya. Tapi Fatih sudah membantu keluarga mereka keluar dari keterpurukan. “Oiya pak. Kenalkan ini Nisa istri saya” Pak Yono mengulurkan tangannya. Disambut hangat Oleh Anisa.
“Salam kenal, saya Pak Yono. Yang menjaga rumah ini” Senyum ramah tampak dari keduanya.
__ADS_1
Kemudian masuk beriringan setelahnya. Fatih menunjukkan kamar mereka. ranjang dan sebuah sofa. Tanpa ornamen polos tanpa hiasan dinding. Cat berwarna gading kamar yang tidak terlalu luas, tapi cukup bersih dan nyaman.