
“Aku dimana…” Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya setelah membuka mata. Fatih melihat sekeliling. Ruangan ini tidak asing. Aroma yang masuk ke indra membuat hatinya seperti di remas. Dia tidak ingin pulang tapi dia rindu tempat ini. semua yang ada di tempatnya sekarang membuat Fatih ingin berlari menjauh. Sudah berhari-hari dia tidak masuk kekamar ini menghindari perasaan hampa. Dia akan lebih tersiksa jika menghirup apa yang ada disini.
Aroma sang istri memasuki indranya, tapi dia tidak akan pernah melihat sosok itu lagi. Fatih tidak berharap banyak. Dalam keadaan lemahnya saat ini dia pun harus merasakan perih yang tak berujung. Perasaan hambar kembali menyergapnya dalam kesendirian.
“Kenapa membawaku kesini…” Tatapannya lurus pada langit-langit kamar. Dia putus asa, perasaan untuk kembali sudah lama dia kubur, hingga hatinya benar-benar siap menerima kenyataan bahwa keadaannya tidak lagi sama. Kepergiannya menjauhi semua yang berhubungan dengan sang istri hanya sekedar ingin membiasakan diri tanpa kehadirannya. Walau pada ahirnya dia tidak akan benar-benar siap.
“Hanya di tempat ini saya bisa meninggalkan Abang dengan tenang. Ada orang yang bisa menjaga abang dengan tulus. Rumah adalah tempat kita pulang setelah jauh berpetualang” Reno masih beridiri di sisi ranjang dengan kedua tangan saling menggengam. Kepalanya tertunduk dalam.
Reno sudah tahu apa yang harus dia lakukan, keputusannya membawa pulang sang tuan tidak akan bisa di terima tapi membawanya kerumah sakit hanya akan membuatnya semakin di dera ketakutan, dan itu bukan jalan terbaik. Reno tahu yang terbaik walaupun keputusan yang diambil penuh resiko.
“Aku tidak suka pulang. Dan siapa yang mengijinkanmu membawaku kesini‼!” Bentaknya, walaupun badannya terasa lemah tapi hatinya marah. Fatih tidak ingin siapapun membawanya ke tempat ini. Reno sudah berani melanggar apa yang dia tidak sukai, inilah yang membuatnya sangat marah.
Tatapannya terlalu tajam seolah ingin membelah tubuh Reno, seandainya bisa saat ini juga dia ingin mendorong kebelakang. Menumpahkan segala kebencian di dadanya. Fatih bangkit dengan gumpalan kemarahan dia bersiap mendaratkan tangannya di wajah Reno.
“Au…” Pekiknya kesakitan. “Siapa yang memasang benda sialan ini di tanganku,..‼‼” Kemarahannya semakin menjadi setelah mendapati tangan kirinya tertancap jarum infus. “Lepaskan…!!!” Suaranya menggelegar mengisi kamar pribadinya.
“Sudah bangun?” Sampai suara lembut datang dari balik punggung Reno, Suara yang sangat dia rindukan. Tapi apakah dia bermimpi mengapa suaranya terdengar sangat jelas.
Wajah teduh dengan senyum manisnya muncul dengan nampan di tangan, sejenak Fatih terdiam. Amarahnya menguap entah kemana. Apakah wanita ini mendengarkan kemarahannya tadi. Fatih menyesal seandainya tahu dia tidak akan menyemburkan limat kasarnya yang dia tumpahkan untuk Reno.
“Makan bubur, sama susu hangatnya” Nisa meletakkan nampan itu di nakas sebelah tempat tidur. Di bawah tatapan Fatih dia mengambil mangkok yang masih terlihat sedikit berasap.
“Abang tidak sakit, jangan berlebihan. Jangan perlakukan aku seperti seorang yang sedang sekarat” Dia gugup, berusaha untuk berdiri. Satu hal yang paling tidak di sukai Fatih adalah terlihat lemah di depan orang lain, apalagi dia istrinya. “Lepaskan benda sialan ini…” Kembali dia memerintah walaupun suaranya tidak sekeras tadi.
“Tidak apa-apa Nisa bisa menyupai Abang disini” Dengan suara lembut Nisa mengaduk bubur didalam mangkuk, sesekali terlihat kepulan asap keluar.
“Ren,,,” Dengan suara amarah yang tertahan Fatih memerintahkan Reno.
“Lepaskan dok…” Reno memerintahkan pada dokter Ryan yang dari tadi hanya berdiri di sebelahnya tanpa suara.
“Tapi keadaannya tidak memungkinkan, cairan ini harus masuk semua. Tuan dehidrasi parah” Penjelasan dokter Ryan hanya mendapat tatapan tajam. Tidak ppeduli apapun Fatih tidak ingin ada infus.
__ADS_1
“Aku tidak sakit, lepaskan” Perintahnya dengan nada penuh penekanan. Dia tidak ingin menampakkan sisi menakutkan dalam dirinya didepan Anisa.
“Lepaskan dokter Ryan…” Suara Reno menengahi. Dia hapal betul karakter Fatih. “ Tidak ada yang perlu di khawatirkan, berikan saja obat yang harus diminum” lanjutnya tanpa berani menatap lawan bicara.
“Keluarlah…” perintahnya setelah jarum yang menancap di tangannya terlepas.
“Saya permisi Tuan..”Dokter Ryan berlalu setelah menundukkan kepala.
“Seharusnya saya tidak mengundang dokter Ryan, maafkan saya dokter” Reno menunduk hormat sebelum dokter Ryan melangkah keluar kamar. “Saya juga permisi Bang…” Pamitnya, memang apa yang bisa dia lakukan di dalam ketika melihat sepasang suami istri yang saling merindu sedang berhadapan. Bahkan pamitnya pun tidak mendapat jawaban karena tatapan Fatih sibuk dengan semua gerakan istrinya.
“Aku tidak sakit…”Ucapnya lirih, seolah ingin menegaskan bahwa keadaannya tidak seperti yang terlihat.
“Nisa tahu, abang sudah mengulang kalimat itu dua kali,tapi dokter Ryan lebih tahu keadaan seseorang” ucapnya kembali mengaduk bubur yang masih belum siap untuk dimakan.
“Dia hanya melihat tidak merasakan” ucapnya membela diri.
“Dokter Ryan melakukan beberapa pemeriksaan, selain dehidrasi di usus Abang ada virus yang menyebabkan Abang muntah-muntah” Kali ini dia menatap suaminya tajam. Kenapa laki-laki ini tiba-tiba bertindak seperti anak kecil di hadapannya sekarang. apakah memang seperti itu kalau sakit. Atau karena ada sebab lain.
“Dia memperkenalkan diri dan meminta ijin sebelum mengambil darah Abang” Tangannya masih sibuk menyiapkan makanan yang di bawa di nampan.
“Istriku kapan datang?” Jangan sampai istrinya melihat dia lemah di bawa Reno. Tentu saja harga dirinya turun. Tatapannya tajam menunggu jawaban sang istri.
“Abang masih tidur waktu Nisa datang” singkatnya, tanpa menatap sang suami.
Ada kelegaan di wajah Fatih, hatinya senang setidaknya dia tidak melihat kondisinya ketika dipapah Reno masuk ke kamar. Dia merasa sangat lemah ketika hampir terjatuh di kamar mandi kantornya.
Reno membuka paksa pintu di bantu seorang keamanan kantor. Sempat terjadi perdebatan kemana dia harus di bawa. Opsinya hanya rumah sakit atau hotel. Reno tidak memilih keduanya. Rumah sakit tempat yang paling di hindari Fatih. Rahasia terbesar seorang Fatih, dia tidak suka bau obat dan rumah sakit. Dan hotel, karena tidak ada yang bisa menjaganya disana.
Rumah adalah pilihan yang paling ideal, selain melihat wajah pucat dan suhu tubuhnya yang tinggi, Tubuh Fatih juga lemah, hingga harus di papah dua orang.
“Nisa menghawatirkan abang?” Pertanyaan yang dari tadi dia tahan. Sebenarnya Fatih ingin tahu alasan istrinya pulang. Apakah dia juga mencintainya seperti dirinya yang tidak bisa kehilangan.
__ADS_1
“Reno ngasih tahu kalau Abang sakit” Mengambil sesendok bubur dari mangkok, mengarahkan ke mulut sang suami. “Makan dulu, setelah itu minum obat, abang perlu banyak istirahat” Tanpa ekspresi Nisa menyuapkan makanan ke mulut suaminya.
Sebenarnya dia ingin sekali marah, mengumpat dan berteriak di telinga Fatih. Mengapa sampai bisa di terkena tipes. Dia sudah dewasa, bukan lagi bocah kecil yang harus di kasih tahu untuk menjaga kebersihan makanan dan minuman yang masuk ke lambung.
“Nisa marah?” Matanya mengerjap seperti seoarng anak laki-laki yang takut di marahi oleh ibunya karena melakukan kesalahaan.
“Abang sudah besar, tidak pantas di marahi” Nadanya mulai terdengar kesal. Bukannya membuka mulut suaminya malah bertanya hal yang tidak penting.
Satu sendok bubur sudah masuk ke mulutnya, Anisa masih menunggu Fatih menelan sampai habis sebelum melanjutkan ke suapan ke dua. Tiba-tiba dia melihat Fatih menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi, menumpahkan kembali makanannya disana. Meletakkan mangkok dan menyusul suaminya ke kamar mandi.
“Nisa panggil dokter Ryan lagi ya, biar di pasang infusnya” Anisa berbicara dari luar pintu. Tidak bisa masuk karena suaminya melarang dia ikut ke kamar mandi.
“Tidak usah, Abang hanya kurang tidur. Nanti juga baik sendiri” dia membaca ke khawatiran di wajah istrinya. Fatih bahagia bahwa wanitanya masih mencemaskan keadaannya. Untuk saat ini dirinya tidak butuh apapun hanya ingin membayar kebersamaan yang hilang selama tiga hari baginya itu sudah lebih dari cukup.
“Tidak ada penyakit tipes yang bisa di sembuhkan dengan tidur, tubuh Abang butuh cairan. Panasnya masih tinggi. Kalau Abang masih keras kepala bukan tidak mungkin nanti bisa di bawa ke kerumah sakit” berjalan di belakang suaminya, karena tangannya di tarik paksa.
Tanpa menjawab Fatih menyingkirkan semua peralatan makan yang ada di atas kasur, menaruhnya diatas nakas. Kemudian dia menarik tangan istrinya keatas kasur setelahnya dia membaringkan tubuhnya memeluk ANisa dari belakang. Ini adalah posisi tidur yang sudah dia rindukan. Menghirup aroma istrinya hingga terlelap.
“Badan Abang panas, setidaknya minum obat turun panas dulu”
“Abang bukan anak kecil yang harus minum pil pahit” Tidak mempedulikan protes istrinya bahkan dia menahan bahu Anisa yang hendak berdiri.
“Tapi…” Kalimatnya terputus setelah suaminya mencium pucuk kepalanya. Hatinya berdebar seperti biasa. Ada rasa nyaman yang tiba-tiba masuk. Rasa yang tidak dia dapatkan setelah kepergiannya dari rumah.
“Pernah dengar metode skin to skin, kita sedang melakukannya sekarang. cara paling ampuh menurunkan demam dengan cara alami” ucapnya semakin mengeratkan pelukan di tubuh istrinya.
“Tapi Abang harus sembuh, karena setelah ini kita perlu bicara”
“Tidurlah,,,Abang ngantuk” menarik selimut sampai di bahu mereka. Anisa tdak habis pikir dengan jalan pikiran laki-laki yang sedang mendekapnya erat. Baginya lebih baik membujuk Rania minum obat daripada suaminya sendiri, keras kepala dan tidak mau dibantah.
Diam, hening. Tidak ada yang bersuara setelahnya. Bahkan ANisa sendiri diserang kantuk yang luar biasa. Rasa nyaman dan kurang tidur beberapa hari, membuatnya terlelap. Tidak ada yang perlu dia khawatirkan ketakutannya ternyata tidak berdasar, suaminya masih laki-laki hangat seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Bairlah dia akan menunggu keadaannya membaik. Setelah keadaannya membaik dia akan membicarakan semuanya.
__ADS_1