MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
TANTANGAN WISNU


__ADS_3

Sesekali Fatih memeriksa ponselnya, berharap ada notifikasi masuk dari transaksi sang istri. Menit berlalu, jam pun berputar tanpa menunggunya. Tapi dengan sabar Fatih memegang ponselnya dengan setia. Belum ada pemberitahuan sama sekali.


“Tidak bisa begini, lama-lama aku akan kehilangan istriku” Beranjak dari kasur berjalan ke arah sofa membangunkan Reno. “Kita tidak bisa menunggu terus-menerus. Kita harus berpencar kabari aku kalau kamu dapat kabar” ucapnya menyambar jaket dan kunci mobil di meja.


“Abang mau cari kemana?” Tanya Reno dengan matah yang masih memerah karena baru saja dia terlelap.


“Kemana saja asalkan tidak menunggu disini seperti orang bodoh” Berjalan ke pintu tanpa menoleh.


Fatih membiarkan Reno sendirian. Dirinya memang tidak tahu harus mencari kemana. Paling tidak dia sudah berusaha. Tiba-tiba langkahnya terhenti dia menyadari satu hal. “Atau jangan-jangan dia pulang?” Gumamnya lirih. Berbagai pikiran berkecamuk.


Kalau dia bertanya pada mertuanya tapi mereka tidak tahu apa-apa bukankah sama saja dengan membuka masalahnya dengan NIsa. Apa reaksi Amir kalau tahu dia tidak menjaga adik kandungnya dengan benar. Fatih melanjutkan langkahnya. Memasuki mobil, diam sejenak. Kemudian mobil berjalan dengan perlahan. Matanya memindai setiap tempat yang dia lewati berharap sosok yang sedang dia rindukan ada diantara kerumunan.


Sampai sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Fatih menepikan mobil, hatinya berdebar. Dia berharap pemberitahuan yang tentang keberadaan sang istri. Benar saja, dia hampir melompat karena kegirangan. Ponsel menampilkan detail transaksi sang istri. Dia mengecek tempat yang tertera disana nama sebuah restoran jepang.


Tapi kebahagiaan itu berganti amarah. “Bersama siapa dia kesana” rahangnya mengetat. Fatih tidak yakin kalau Anisa kesana sendirian. Dia mengarahkan mobilnya ketempat yang tertera sesuai dengan petunjuk di ponselnya.


Berdiri di luar sebuah restoran jepang ber nuansa kayu. Dari kaca yang transparan Fatih bisa melihat dengan jelas wajah itu tanpa tekanan. Wajah lepas dengan senyum merekah. Tapi tidak, dengan jelas laki-laki itu masih melihat sedikit mendung disana. Dia bahagia, atau sedihkah?. Pertanyaan yang menggelayut di kepalanya. Dan wanita yang sedang bersamanya sekarang adalah chika. Sahabatnya dari jaman putih abu-abu.


Duduk berhadapan dengan menu yang sudah terhidang didepan mereka, semua yang terjadi di dalam sana tidak luput dari pandangannya. Apakah dia harus menjemput istrinya sekarang atau menunggu mereka keluar?. Lagi-lagi Fatih tidak tahu harus mengambil langkah yang mana.


“Biarkan dia menikmati hidupnya walau sejenak. Abang terlalu mengekang, hidupnya selama ini hanya sekolah, rumah dan Abang. Sesekali biarkan dia menjadi dirinya sendiri, kalau Abang benar-benar cinta. Hari ini Abang akan membuktikannya” Suara laki-laki yang tiba-tiba muncul dari samping kanan, memaksa Fatih untuk mengalihkan pandangan walaupun tanpa dia lihatpun dirinya sudah hafal suara itu.


“Kamu yang mengatur semuanya?” tnanya masih dengan pandangan lurus


“Iya, Mama sudah menceritakan semua. Anisa istri yang luar biasa untuk suami yang sangat kaku. Bahkan mengucapkan cinta saja tidak mampu. Wanita itu tidak butuh harta yang melimpah ruah, cukup perlakukan dia dengan istimewa. Berikan perhatian sekecil apapun karena itu yag akan dia ingat”

__ADS_1


“Aku tidak pernah menyakitinya”


“Dan tidak pernah membahagiakannya”


“Aku mencintainya”


“Dan istri Abang tidak tahu, dia hidup dalam prasangkanya yang abu-abu. Apakah laki-laki yang meminangnya karena cinta atau karena ada desakan. Dan kejadian kemarin di rumah sudah menjelaskan alasan Abang menikahinya”


“Aku membelanya di depana Mama”


“Dan Anisa lagi-lag tidak tahu, yang dia tahu Abang mempercepat pernikahan untuk menghindari perjodohan dengan Irene”


Fatih membeku, nafasnya tercekat. Semua yang dikatakan Wisnu benar. Percakapan yang di tangkap istrinya belum selesai sampai ahir. Bahkan ketika dia lebih memilih istrinya pun Anisa tidak tahu.


“Jadi kamu menyembunyikannya untuk mengambil kesempatan”


“Aku sudah menyentuhnya, tahu apa kamu tentang hubungan suami istri”


“Menyentuh seperti dua orang saudara yang saling menyayangi bukan sebagai suami istri yang saling mencintai”


“Bajingan, dari mana kamu mengarang cerita itu”


“Anisa belum hamil Bang. Padahal sudah enam bulan kan?”


Fatih hendak berjalan masuk, dia kan memaksa istrinya pulang. Sampai kapanpun dirinya tidak akan sudi Wisnu mendekati atau mengambil keuntungan dari keretakan hubungan mereka.

__ADS_1


“Mau menemui Anisa dan memaksanya pulang seperti biasa, saya bisa jamin setelah ini Anisa akan semakin membenci Abang. Lihat saja” Suara Wisnu menghentikan langkahnya. Hatinya panas, dia menahan Amarah yang ingin meledak.


“Berikan dia waktu untuk menikmati hidupnya sebelum Abang mengambil kebebasannya lagi.dia butuh orang untuk mendengarkan keluh kesahnya. Sekarang Abang pulang, pikir lagi. Tanyakan hati Abang, sanggup atau tidak membahagiakan istri Abang. Kalau tidak, lepaskan. Biarkan dia bahagia dengan caranya. Bukan dengan paksaan.


Tangannya mengepal keras, dia sangat siap untuk menghantam Wisnu demi membungkam mulut laki-laki yang sialnya menjadi bagian dari keluarganya sekarang. matanya memerah dan rahang yang semakin mengeras. Di tatapnya mata Wisnu, mereka saling beradu dalam kebencian. Tapi Fatih merasa kalau tatapan Wisnu sebuah tantangan dan ajakan untuk mendaratkan kepalan tangan itu di kepala Wisnu.


“Lakukan Bang, setelah ini lepaskan Anisa untuk saya. Saya rela terluka demi kebahagiaannya. Lakukanlah. Dan pergilah seolah Abang memang tidak menginginkan Anisa” Tantang Wisnu melihat kobaran api kebencian di mata kakak angkatnya.


Fatih melepaskan kepalan tangannya, nafasnya memburu, tidak ada keuntungan apapun baginya kalau dia melukai Wisnu. Dan bisa jadi dia akan kehilangan cinta Anisa.


“Saya tidak percaya Abang mampu membahagiakan Anisa. Kaku, keras kepala, dan sifat pemarah Abang bukanlah sesuatu yang bisa membahagikan Anisa” Lagi-lagi suara Wisnu mendapat sorotan tajam dari Fatih.


“Ternyata banyak hal yang tidak kamu ketahui, karena kamu terlalu sibuk memikirkan cara mendapatkan istriku. Padahal wanita di luar sana masih banyak, mengapa harus Anisa” Tanyanya dengan tatapan tak terbaca.


“Pertanyaan yang Abang sendiri tahu jawabannya, apa perlu saya perjelas. Kalau sebenarnya Abang memaksa menikahi Anisa karena pertemuan kami di rumah sakit. Karena Abang takut Anisa menikah dengan seorang dokter seperti cita-citanya dulu. Saya yang lebih mengenal perempuan itu sebelum Abang mengambilnya dengan cara tidak wajar dari saya. Dan ingat, saya bisa membuat Anisa membenci Abang hanya dengan mengungkapkan alasan sebenarnya Abang buru-buru menikahinya. Abang mengambil dia dari saya, abang sebenarnya tahukan kalau alasan saya mengambil kedokteran juga karena Anisa. setelah semuanya saya dapatkan, Abang tanpa perasaan menikahinya”


“Aku tidak tahu kalau wanita itu adalah wanita yang sama. Aku mencintainya jauh sebelum kamu menyelesaikan kuliah. Aku tidak merebut apapun dari siapapun. Jadi, kalau kamu masih menginginkan istriku. Aku akan memilih mundur jika dia lebih bahagia bersamamu. Tapi ingat jika Anisa lebih memilihku menjauhlah dari hidupnya, menghilang seperti debu yang tertiup angin” Tatapan mereka beradu sama-sama ingin mendapat pengakuan dari satu orang wanita yang sama.


Terdengar sangat lucu memang, semua yang dikatakan wisnu itu benar. Alasan sebenarnya dia mempercepat pernikahannya dengan Anisa karena pertemuan mereka di rumah sakit. Fatih tidak ingin kehilangan sosok yang telah melemahkan hatinya. Wanita yang telah menyerap seluruh atensinya. Wanita yang dengan tidak dia sadari telah mengubah banyak sifat buruk dalam dirinya.


“Aku akan mendapatkan hati istriku kembali, dan bersiaplah untuk menjauh” Berlalu setelah menyelesaikan kalimatnya. Bahkan tanpa dia tahu apa yang harus dilakukan untuk menjauhkan Anisa dari Wisnu. Fatih mengakui kalau cinta Wisnu terhadap wanita yang menjadi alasannya mengambil kedokteran sangat tulus. Wanita yang telah mampu mengubah seorang Wisnu yang hanya bisa menghabiskan uang orang tuanya dengan bersenang-senang keluar masuk klub dan berganti-ganti wanita setiap malam, menjadi seorang wisnu yang dengan serius mengambil kedokteran di luar negeri. Meninggalkan dunia gemerlap penuh kebisingan, menjauhi keramaian dengan menyelesaikan kuliahnya dengan gelar membanggakan.


Bagaimana Fatih tahu?. Dia yang membela Wisnu ketika Nyonya Maura tidak memberikannya ijin mengambil kedokteran. Semua orang ingin Wisnu kuliah bisnis melanjutkan perjuangan Papanya. Fatih yang membujuk kedua orang tua Wisnu untuk melepaskannya mengejar gelar dokter. Bahkan Fatih sempat bertanya apakah wanita itu tahu kalau Wsinu mengorbankan cita-citanya demi meuwujudkan cita-cita wanitanya. Dan untuk pertama kalinya seorang Fatih tertegun dengan jawaban Wisnu ketika itu, dia ingin memantaskan diri sebelum wanitanya tahu kalau dia mencintainya dengan tulus. Dan Fatih yang selalu emberikannya semangat ketika Wisnu berkali-kali hampir menyerah dan pulang ke Indonesia.


Sampai hari dimana Fatih tahu kalau wanita itu adalah Anisa, wanita yang sedang berusaha dia taklukkan ketika itu dengan segala upaya tapi gagal. Hingga dia menikahi dengan restu orang tua tanpa Fatih tahu perasaan Anisa. Dia akui kalau Fatih ketakutan ketika itu. dia takut Anisa lebih memilih berlari ke pelukan Wisnu daripada menerimanya sebagai suami. Fatih tidak pernah mengungkapkan perasaan, karena dirinya tidak sanggup jika ternyata Anisa tidak mencintainya, biarlah dia bahagia hanya dengan memeluknya setiap saat.

__ADS_1


Fatih benci setiap melihat tatapan Wisnu pada istrinya. Tatapan memuja seorang laki-laki untuk wanita yang dia cintai. Fatih ingin marah, tapi tidak bisa. Sudah pasti Anisa akan membela Wisnu, sekalipun dia hanya menganggapnya teman. Yah, istrinya memang tidak pernah tahu kalau Wisnu memendam perasaan padanya dan Fatih harap Anisa tidak akan pernah tahu.


Dirinya orang pertama yang mendukung perasaan Wisnu. Menyuruhnya untuk memperjuangkan wanita itu. Yang hanya dengan mendengar ceritanya Fatih bisa menyimpulkan seberharga apa wanita tersebut dalam hidup Wisnu. Bahkan tanpa status yang mengikat mereka pun mampu mengubah seorang Wisnu menjadi jauh lebih baik.


__ADS_2