
Wanita mahluk lemah, tidak ada yang bisa menyangkal itu. dalam perlindungan diri pun begitu. Aku pikir tembok beton yang aku bangun, nyatanya hanya pagar es yang aku buat. Hanya karena sentuhan dia mencair dan pertahananku hancur.
Menyesal tentu tidak, aku tidak melakukan kesalahan. Hanya saja, aku membuka pintu itu terlalu lebar, dan tidak bisa menutupnya kembali. Karena orang yang aku waspadai sudah menghuni didalamnya. Dia sudah berada di tempat yang semestinya. Aku takut terluka. Aku takut di tinggal sendiri ketika rasa nyaman itu sudah hadir.
Anisa
***
Duduk berhadapan setelah shalat maghrib berjamaah. Mereka tidak keluar kamar lagi setelah pulang tadi.
“Abang punya peraturan tidak tertulis, masih ingatkan?” Menggeser duduk lebih dekat, tangan mereka saling menggenggam, dengan mukenah masih lengkap.
“Masih, dan Nisa punya peraturan tertulis juga kalau abang lupa” Mengingatkan suaminya. Karena Nisa mulai merasakan banyak kejanggalan setelah kedatangan mereka ke pulau kecil dengan pemandangan pantai yang benar-benar memanjakan matanya dengan senjanya yang indah.
“Abang mau minta sesuatu, bisa di masukkan dalam peraturan tidak tertulis. Dan Nisa tidak boleh marah, harus mau tidak boleh melanggar. Kalau Nisa melanggar Abang juga akan melanggar” kalimatnya berputar. Fatih tidak tahu harus memulai dari mana, dia tahu ini permintaan yang besar buat NIsa, tapi mau bagaimana lagi. Dia harus menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk membuat istrinya meruntuhkan tembok dalam hatinya dengan segera.
“Tergantung permintaannya, kalau aneh Nisa nggak mau” Sumpah, hatinya mulai tidak enak. Nisa mulai merasakan debaran jantungnya meningkat. Melihat wajah suaminya, pikirannya mulai menebak arah percapakan mereka.
“Abang boleh...mmm...,” mengigit bibir bawahnya rasanya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya “lihat Nisa tanpa penutup kepala?” Kalimat itu meluncur dengan terbata, dia pun sama takutnya Nisa akan marah. Tarikan nafasnya terlihat berat setelah menuntaskan kalimatnya. “Abang sedang tidak melanggar peraturan tertulis kan?” Fatih memang tahu, dia hanya tidak boleh bersentuhan secara fisik, bukan melihat lebih, kan.
Menatap sang suami dengan wajah bingung. Seharusnya Nisa sudah bisa menebak. Tapi memang dirinya terlalu payah membaca pikiran laki-laki. Sejak dari pantai tadi suaminya memang bersikap lain. Mulai melewati batas sentuhan seperti biasanya. “Kalau Nisa menolak, apa Abang marah” Tanyanya dengan wajah polos.
“Bukan Abang yang akan marah, seorang istri menolak keinginan suaminya meskipun itu kecil, Allah akan murka Nisa tahukan” mungkin percakapan disini tidak imbang, suami yang terlalu pandai, sedangkan istrinya terlalu polos. Sesekali memanfaatkan keluguan sang istri tidak ada salahnya.
“Tapi ini berat buat Nisa”
“Kita hanya berdua, tidak ada yang lihat”
“Abang laki-laki”
“Kita sudah halal kan?” Kembali tatapan mereka beradu dahi istrinya berkerut “ Dan melihat bagian itu tidak ada dalam peraturan tertulis” Lanjutnya mengingatkan ke alpaan sang istri.
Nisa baru menyadari kebodohannya, seharusnya melihat bagian yang terlarang juga masuk dalam peraturan. Bukan hanya sentuhan yang tertulis disana. Tarikan nafasnya berat, Nisa tidak bisa menolak tapi menurutinya juga tidak mungkin.
“Hanya lihatkan, janji tidak mau lebih?” Mencoba bernegosiasi karena memang sudah tidak punya pilihan. Nisa tidak yakin setelahnya hanya akan melihat saja. Dia tidak ingin terlalu jauh. Meskipun hatinya sudah nyaman, dan mulai yakin dengan laki-laki yang menikahinya. Tapi Sampai sekarang Nisa tidak tahu mengapa pernikahan mereka secara tiba-tiba. Meskipun Nisa tahu Fatih menginginkan dirinya jauh sebelum hari itu datang. Bahkan dia tahu perjuangan untuk mendapatkan dirinya selalu mendapat penolakan, namun tidak meruntuhkan semangat sang suami.
Nisa membuka mukenah perlahan, dia menatap laki-laki yang memakai peci didepannya. Tidak punya alasan untuk menolak. Dia masih punya harapan suaminya membatalkan semuanya.
Fatih menatap tajam, lidahnya kelu. Dia membeku setelah hijab itu terlepas sempurna. Wajah didepannya benar-benar tanpa penutup kepala. Rambut hitam legam dengan ikatan diatas. Tangannya terulur. Dia memegang penjepit rambut, dan melepaskannya perlahan. Geraian surai hitam dengan aroma segar menyeruak. Jantungnya tidak normal, detakannya tidak beraturan. Wajahnya tiba-tiba menghangat, seperti di terpa angin pantai di siang yang terik. Dirinya dengan jelas melihat wajah itu, dengan leher putih jenjang terpampang nyata di depan matanya.
__ADS_1
Jiwa lelakinya meronta ingin lebih, tapi Fatih tidak tahu caranya meminta. Melihat bagian atas kepala Anisa saja dia butuh perjuangan dan keberanian untuk berbicara. Dan ini sudah merupakan hal yang luar biasa menurutnya. Fatih menutup kembali kepala istrinya dengan jilbab yang tersangkut di bahu. Fatih berbalik, tidak ingin khilaf. Rasa ingin memegang bagian yang dilihatnya tadi begitu kuat, bukan hanya memegang bahkan dia ingin melakukan lebih. Dia meneguk salivanya berkali-kali, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering.
Nisa masih diam, dia tidak mengerti mengapa Fatih memasangkan jilbabnya kembali. Bukankah tadi suaminya meminta itu. Bahkan Nisa sudah menanggalkan rasa malu dan harga dirinya. Pertama kali dilihat laki-laki tanpa penutup di kepalanya bukanlah hal yang mudah.
“Kita tidur berdua, Abang tidak suka tidur di sofa” Tanpa menoleh kalimat itu terucap. Hari ini perminataannya terlalu banyak. Fatih memanfaatkan moment ini dengan baik. Dia harus mewujudkan keinginannya. Dia yakin akan berhasil, karena suasananya mendukung. Untunglah NIsa tidak bisa melihat wajahnya ketika dia mengucapkan itu. Fatih menggigit bibirnya kuat, dan matanya terpejam sangat rapat. Mengumpulkan keberanian dengan permintaan lebihnya kali ini benar-benar tidak mudah.
“Nisa belum bisa. Kalau nanti tidak bisa tidur bagaimana” tangannya memasang kembali mukenah yang sempat terlepas. Dia hanya bisa menatap punggung suaminya.
“Abang temani, sampai Nisa pulas” Bukan, maksudnya Fatih hanya ingin lebih dekat dengan istrinya. Dia ingin membicarakan banyak hal sepanjang malam. Di tidak ingin menutup mata, sebelum melihat wajah sang istri yang terlelap. Menghirup wangi itu lebih dekat. Dia ingin merasakan aroma yang menenangkan itu sepanjang malam.
Hening tanpa suara. Hanya deburan ombak yang masih terdengar di kejauhan. Mengantarkan tiap helaan nafas mereka dalam pikirannya sendiri. Aroma khas pantai masih tercium walau tidak terlalu kuat masuk ke indra.
Malam merangkak semakin kelam, binatang malam saling bersahutan. Deburan ombak mulai syahdu siap mengantarkan ke alam mimpi. Tapi bisakah begitu, bagi kedua insan yang berbaring Saling memeluk tanpa pembatas. Bukan hanya pembatas, tapi tidak ada penghalang apapun, bahkan baju mereka sudah berserakan di lantai.
Pelukan itu begitu erat, seolah kalau di lepaskan Anisa akan menghilang dari dekapannya. Fatih merapikan rambut sang istri yang menutupi wajahnya. Dia bahagia, bahkan sangat bahagia sampai matanya tidak bisa terpejam. Wanita dalam dekapannya sudah menjadi miliknya secara utuh.
Katakan wanita memang payah dalam membentengi diri. Ketika hendak tidur tadi Fatih memagang tangannya erat karena melihat Nisa mulai gelisah. Membolak-balik badannya berkali-kali. Tiba-tiba NIsa merasakan punggungnya hangat. Sebuah tangan kokoh melingkar di tubuhnya, suara serak suaminya membuat tubuhnya menegang.
“Tidurlah, kalau begini pasti bisa kan? ” Nisa memang tidak bergerak lagi setelahnya. Tapi debaran jantungnya yang tidak baik. Bahkan tarikan nafasnya mulai pendek. Dan tanpa aba-aba, Fatih membuka penutup kepalanya lagi. Badannya semakin bergetar. Yang dia takutkan ahirnya terjadi. Pembatas itu hilang setelah sang suami yang awalnya mencium rambutnya berulang tiba-tiba memutar badannya hingga mereka berhadapan setelahnya.
Fatih sudah berusaha memperingati hatinya berkali-kali untuk tidak melakukan lebih, tapi dia tidak bisa. Dia laki-laki normal. Hormonnya bekerja dengan cepat ketika aroma tubuh itu tercium. Otaknya tidak bisa di kendalikan. Awalnya hanya sentuhan bibir sekilas. Tapi semakin dalam. Sesuatu dalam dirinya menuntut lebih. Otaknya memerintahkan itu. bukankah dia melakukan dengan pasangan halal, tidak akan ada yang marah, meskipun hatinya menolak tapi otaknya lebih berkuasa saat ini. hatinya kalah, dan dia menyerah.
Hampir menyerah ketika melihat Anisa menetaskan airmata ketika penyatuan mereka diawal tadi. Dia bahkan sempat berhenti dan mengusap air mata istrinya dengan ibu jari. Tapi lagi-lagi hatinya sudah benar-benar kalah. Hingga dia menuntaskan semuanya sampai tengah malam. Ketika melihat wajah penuh keringat itu terlihat lelah dengan mata yang mulai meredup, Fatih berhenti. Dia tidak tega untuk melanjutkan, walau rasanya belum ingin.
“Maaf, tapi abang tidak khilaf. Abang sadar, sekarang NIsa sudah menjadi milik abang seutuhnya. Tidak ada yang bisa menyangkal itu” kembali mendaratkan ciuman di kening sang istri
“Habis ini jangan lagi Bang. Sakit banget” Suaranya parau. Antara lelah dan mengantuk melebur menjadi satu.
Menjauhkan dekapannya, ingin melihat wajah sang istri. Matanya tertutup. Nafasnya belum beraturan seperti helaan nafas seorang yang habis lari marathon. Sama dengan dirinya, tapi dia tidak lelah. Kalau saja menuruti nafsu Fatih tidak ingin berhenti kalau saja tidak melihat istrinya yang mulai kelelahan. “Abang janji, tapi jangan lama-lama” Dia tidak akan sanggup untuk itu. apapun yang ada pada istrinya sudah menjadi candu baginya.
Hening, hanya suara binatang malam dan deburan ombak yang masih terdengar
“Bang…” Suara parau dalam dekapan hangat sang suami.
“Hmmm…” Suara, berat berbisik tepat di telinga sangat istri.
“Jangan tinggalin Nisa”
“Tidak akan pernah, Abang janji” merapatkan pelukannya lagi. Nafasnya mulai beraturan. Fatih menaikkan selimut hingga sampai batas leher sang istri dan sampai batas dadanya sendiri.
__ADS_1
“Bang,…”
“Hmmm…”
“Besok NIsa bangun duluan ya, mau bikinin abang kopi” bisa-bisanya kepikiran bikin kopi disaat matanya sudah benar-benar rapat. Dengan suara yang mulai melamah.
“Oke”
“Jadi kenapa di sebut pantai sembilan” Rasa penasarannya ingin mendapatkan jawaban. Dia yang dari baru sampai tidak ada tanda yang menunjukkan angka sembilan.
“Kalau dilihat dari udara, pantainya membentuk angka sembilan” kalau dari bawah nggak kelihatan
“Bang…”
“Hmmm…”
Satu menit dua menit tidak terdengar lagi suaranya. Nafasnya mulai teratur dan halus. Hingga menit ke sepeluh. Benar-benar tidak ada suara. Fatih suka tidur dengan posisi ini, meskipun dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan tangannya besok.
Dia ingin mengatakan pada seluruh dunia bahwa wanita yang berada dalam dekapannya adalah istrinya sekarang. Rasanya seperti mimpi wanita yang sulit di tundukkan benar-benar tidak berdaya dalam rengkuhannya. Matanya masih terbuka, tak ada kantuk yang dirasakan. Berdiri, berjalan keluar.
Angin malam menerpa tubuhnya. Duduk sendiri di teras rumah dengan nuansa remang di taman rumah, hanya diterangi lampu yang temaram. Dia mengingat lagi peristiwa yang baru saja dia alami. Benar-benar seperti mimpi, tapi dia tidak mau. Fatih ingin semuanya nyata. Dia tidak ingin tidur. Ketakutan tentang esok yang hanya akan menyadarkan bahwa peristiwa yang baru aja dia lewati hanyalah mimpi.
“Ren, tolong urus semuanya. Besok lusa saya pulang dan pastikan semua berjalan seperti perintah saya. Jangan ada kesalahan” Menutup gawainya setelah mnedengar jawaban Reno.
Kembali ke dalam kamar, menatap wajah teduh itu tanpa bosan. Mengusap rambut, kemudian pipi. Kembali Fatih memeluk tubuh yang sudah lelap. Bahkan tidak terganggu dengan ciuman di kening dan pipinya berulang. Cincin dia pasangkan di jari manis sang istri. Kemudian mencium tangan itu setelahnya.
Entah berapa lama di menatap wajah sang istri hingga ahirnya dia juga ikut terlelap. Mereka tidur dengan pakaian lengkap setelah Fatih memasangkan baju Anisa, bukan apa-apa. Dia tidak ingin hilaf dengan memaksa sang istri terbangun di tengah malam, demi melayani keinginannya. Dia juga tidak ingin melihat istrinya bangun tanpa helain kain di tubuhnya. Dia tidak bisa menjamin bahwa hatinya bisa menang melawan otaknya lagi.
Fatih ingat pesan istrinya untuk bangun lebih dulu, jadilah kembali ke atas kasur dengan kembali tidur disamping sang istri. Tatapannya masih ke wajah Anisa. masih terlelap. Mengembalikan posisi tidur seperti tadi malam. Lengan kanannya sebagai bantalan. Di usapnya kening itu berulang, merapikan helaian rambut yang menutup wajah. Tangannya bergerak turun ke pipi. Dia bisa meihat surai hitam indah sang istri sekarang. Jangan lupakan aroma segar yang tercium sampai kei indranya. Dia sudah menciumnya berulang, rasanya tidak ingin berhenti. Aromanya bagai sentuhan lembut yang menyentuh kalbu. Membangkitkan dopamin dalam dirinya.
Wanita dalam dekapannya menggeliat, Fatih memejamkan mata. Dia tidak ingin membuat istrinya kecewa ketika melihatnya terbangun lebih dulu.
“Jam berapa?” Suaranya parau, di mengusap wajahnya berulang. Kemudian mengusap mata, hingga ahirnya membuka sempurna. “Abang sudah bangun?” karena belum terdengar jawaban.
Fatih pura-pura menggeliat, mengeratkan pelukan. Dia menatap wajah sang istri ingin tahu reaksinya. Tatapan mereka bertemu, senyum terukir dari keduanya. Sekarang dia bisa bernafas lega, setidaknya NIsa sudah bisa membuka hatinya lebih dari kemarin. Dia tidak ingin kejadan tadi malam membuat Anisa melaakukannya dengan terpaksa.
“Bang…”
“Hmmm…”
__ADS_1
“Terima kasih” masih dengan suara parau, Nisa membalas pelukan sang suami. Mereka berhadapan. Anisa menyembunyikan wajahnya di dada Fatih.
Tidak ada hal yang lebih membahagiakan baginya selain balasan dekapan dari sang istri, Fatih tersenyum. Kembali ciumannya mendarat di pucuk kepala sang istri, hangat dan damai dia rasakan pagi ini. dia tidak kemana-mana. Dia tidak ingin apapun untuk saat ini. dia ingin mendekap wanitanya sepanjang hari. Jangan lupakan ucapan terima kasih Anisa yang sampai merdu hingga ke indranya, mengalahkan suara merdu penyanyi idolanya.